Connect with us

News

Hari ini Gorontalo Ketambahan 16 Kasus Corona Baru

Published

on

GORONTALO-Jelang perayaan Hari Raya Idul Fitri 1441 H, pasien terkonfirmasi positif virus Corona di Gorontalo naik signifikan. Terdapat 16 kasus baru yang dilaporkan positif oleh Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 dr. Triyanto Bialangi, Rabu (20/5/2020).

Ke enam belas kasus baru tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan 109 sampel yang dikirim ke Balai POM Gorontalo. Dari jumlah tersebut 18 orang dinyatakan positif 2 pasien lama dan 16 sisanya kasus atau pasien baru.

Triyanto menyebutkan pasien baru yang terkonfirmasi positif diantaranya HL, seorang perempuan berusia 46 tahun. Pasien adalah warga Kelurahan Moodu, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo. Yang bersangkutan kata Tri memang sudah masuk ke Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS) pada 16 Mei 2020, dengan keluhan sesak, nyeri tenggorokan, dan panas.

Selanjutnya, pasien 30 dengan inisial ASD (35), laki-laki warga Desa Luwoo, Kecamatan Telaga Jaya, Kabgor. Pasien 30 adalah tenaga kesehatan yang bertugas di RSAS.

“Pasien tinggal di hotel Damhil karena bertugas di ruang Isolasi. Keadaan Pasien saat ini dalam keadaan baik,” ujar Trianto.

Berikutnya pasien 31 SA, laki-laki, umur 56 tahun, Kelurahan Ipilo, kota timur, Kota Gorontalo. Pasien Masuk Rumah Sakit pada dengan keluhan nyeri ulu hati dan mual. Pasien 31 pernah berkontak dengan pasien 22.

Pasien 32 merupakan anak dari pasien 22 dengan insial ARU, laki-laki, 17, warga Kelurahan Padebuolo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo.  Ini karena pengembangan dari tracking yang kami lakukan. Alhamdulillah belum ada gejala yang berarti.

Berikutnya lagi pasien 33 inisial RSU, perempuan, 24 tahun, Kelurahan Padebuolo, Kecamatan Kota Timur, Pasien adalah keponakan pasien 22.

“Pasien 34 FS, perempuan, 12 tahun, Kelurahan Padebuolo, tetangga dari pasien 22. Selanjutnya pasien 35 IU, perempuan, 33 tahun, Kelurahan Padebuolo, keponakan pasien 22.”

Pasien 36 AH, laki-laki, 26 tahun, Kelurahan Ipilo, Kota timur. tetangga dari pasien 28 yang sebelumnya terkonfirmasi positif.

“Pasien 37 AS, laki-laki, 43 tahun, Kelurahan Padebuolo, Kota Timur, Kota Gorontalo. tetangga pasien 22. dan pasien 38 LRM, laki-kali 29 tahun, Kelurahan Padebuolo, Kota Timur. Tetangga dari pasien 22”

Pasien 39 VS, perempuan, 48 tahun, Kelurahan Padebuolo, Kota Timur, Kota Gorontalo, pasien 40 SYH, perempuan, Kelurahan Padebuolo, Kota Timur, Kota Gorontalo, Pasien 41 SK, perempuan, 15 tahun, Kelurahan Padebuolo, Kota Timur.

“Pasien ini Merupakan tetangga pasien 22 yang sebelumnya terkonfirmasi positif”

Selanjutnya Pasien 42 NB, perempuan, 61, Kelurahan Ipilo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo. Riwayatnya pernah kontak dengan pasien 22. “Pasien 43 HP, Laki-laki umur 66 tahun, Kelurahan Ipilo, Kota Timur. Merupakan teman dari pasien 22.

Pasien 44 WN, Perempuan, 37 tahun, Desa Pentadio, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Merupakan hasil tracking kontak pasien 09. Hasil swabnya PCR, positif.

“untuk Pasien 44 sementara dalam persiapan dirujuk ke RS MM Dunda Limboto,” ujar Triyanto Bialangi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kriminalitas

Oknum Pendemo Yang Tonjok Anggota Pengamanan Polisi di Mamuju Kini Buron

Published

on

Ketegangan mewarnai jalannya sebuah aksi unjuk rasa yang mendadak berubah menjadi arena tindak kekerasan di sela-sela aksi unjuk rasa Ikatan Pelajar Mahasiswa Pitu Uluna Salu (IPMAPUS) Mamuju di depan Kantor Balai Wilayah Sungai Sulawesi V Mamuju, Sulawesi Barat, pada Selasa (2/6/2026) siang. Niat awal untuk menyampaikan aspirasi justru dinodai oleh aksi premanisme oknum demonstran. Seorang personel kepolisian yang tengah menjalankan tugas pengamanan dan pengendalian massa dilaporkan menjadi korban pemukulan. Ironisnya, alih-alih berani mempertanggungjawabkan perbuatannya, sang pelaku langsung mengambil langkah seribu dan diduga kuat melarikan diri ke kawasan hutan di sekitar lokasi kejadian.

Insiden ini bermula ketika eskalasi massa di lapangan mulai memanas dan tidak terkendali. Barikade petugas yang berusaha mendinginkan suasana justru mendapat provokasi fisik. Di tengah pusaran kericuhan tersebut, pelaku melayangkan pukulan kepada petugas. Memanfaatkan kepanikan dan padatnya kerumunan, individu tersebut berhasil menerobos perimeter pengamanan dan berlari menuju area pepohonan lebat yang berada tak jauh dari titik demonstrasi.

Pihak penegak hukum merespons cepat tindakan anarkis ini. Tim gabungan langsung diterjunkan untuk menyisir area pelarian. Ciri-ciri fisik dan identitas pelaku saat ini telah berada di tangan penyidik.

“Kami sedang melakukan pengejaran. Identitas pelaku sudah kami kantongi dan diduga kuat melarikan diri ke arah hutan di sekitar lokasi kejadian,” demikian pernyataan dan kutipan tegas dari pihak kepolisian setempat terkait operasi perburuan yang sedang berlangsung.

Tindakan kekerasan dalam demonstrasi yang berujung pada pelarian ke area pelosok bukanlah fenomena baru. Berdasarkan data yang dihimpun, insiden demonstrasi berskala regional kerap dimanfaatkan oleh provokator untuk memancing kerusuhan. Ketika situasi memburuk dan aparat mulai mengambil tindakan tegas, para pelaku umumnya memanfaatkan kontur geografis daerah setempat—seperti kawasan hutan, bukit, atau perkebunan—sebagai tameng dan rute pelarian darurat dari jerat hukum.

Hingga naskah berita ini diturunkan, aparat masih terus mempersempit ruang gerak di area hutan tersebut. Penjagaan di titik-titik keluar masuk kawasan juga diperketat. Warga sekitar diimbau untuk tidak bertindak main hakim sendiri, namun segera melapor kepada pos polisi terdekat apabila melihat keberadaan sosok dengan gerak-gerik mencurigakan di sekitar pemukiman mereka.

Continue Reading

News

MURKA BESAR! Donald Trump Kehabisan Kesabaran, Lontarkan Peringatan Keras ke Benjamin Netanyahu

Published

on

Washington – Retaknya kongsi politik antara Washington dan Tel Aviv kini tak lagi bisa disembunyikan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan kehilangan kesabarannya dan secara terbuka menumpahkan amarah kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Pemicu utamanya adalah eskalasi konflik yang terus berlarut-larut tanpa adanya peta jalan penyelesaian yang jelas, yang dinilai mulai merugikan posisi geopolitik AS.

Ketegangan ini mencapai puncaknya ketika Trump merasa saran dan tekanan dari Gedung Putih kerap diabaikan oleh pemerintahan sayap kanan Israel. Alih-alih meredakan situasi, manuver militer yang terus diperluas oleh Netanyahu dianggap justru memperburuk krisis kemanusiaan dan memicu kecaman global yang ujung-ujungnya membebani diplomasi Amerika Serikat di panggung internasional.

Dalam sebuah pernyataan tegas yang mencerminkan rasa frustrasinya, Trump menuntut agar operasi militer tersebut segera diakhiri.

“Selesaikan ini dengan cepat. Dapatkan kemenangan Anda dan segera selesaikan, karena orang-orang terus terbunuh. Anda harus menghentikan ini dan kembali ke kehidupan normal,” demikian kutipan pernyataan teguran keras Trump yang ditujukan langsung kepada kepemimpinan Netanyahu.

Kemarahan Trump ini bukanlah tanpa alasan yang terukur. Mengutip analisis dari CNN International dan Reuters, sikap keras kepala Netanyahu dalam menolak berbagai skema gencatan senjata telah menciptakan friksi internal di tubuh pemerintahan AS. Kebijakan Israel saat ini dianggap mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah dan berisiko menyeret Washington ke dalam konflik terbuka yang lebih luas.

Lebih lanjut, laporan dari Al Jazeera menyoroti bahwa tekanan domestik di Amerika Serikat juga semakin menguat. Basis pemilih dan para senator mulai mempertanyakan efektivitas miliaran dolar bantuan militer yang mengalir ke Tel Aviv, sementara di sisi lain, Israel dinilai gagal merumuskan strategi pasca-konflik yang bisa diterima oleh komunitas internasional.

Langkah Trump yang secara vulgar menunjukkan amarahnya ini menjadi sinyal paling terang bahwa “cek kosong” perlindungan politik dan militer AS untuk Israel bisa saja segera dicabut jika Netanyahu bersikeras menempuh jalannya sendiri. Mata dunia kini tertuju pada Tel Aviv, menanti apakah teguran level tinggi ini akan mengubah kalkulasi perang Netanyahu atau justru semakin memperlebar jurang pemisah antara dua sekutu lama tersebut.

Continue Reading

Kriminalitas

TUNTUTAN KONTROVERSIAL! Empat Oknum TNI Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Hanya Dituntut 2,5 Tahun BUI

Published

on

Sumber foto : Suara.com

Jakarta – Ruang sidang Pengadilan Militer kembali menjadi sorotan tajam publik. Empat anggota TNI yang menjadi terdakwa dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus akhirnya mendengarkan tuntutan dari Oditur Militer. Namun, alih-alih memberikan kelegaan, angka tuntutan yang dibacakan justru memicu gelombang kekecewaan yang mendalam.

Oditur Militer secara resmi menuntut keempat oknum abdi negara tersebut dengan hukuman pidana penjara masing-masing selama 2,5 tahun (dua tahun enam bulan). Tuntutan ini dinilai sangat ringan dan tidak sebanding dengan penderitaan korban yang harus menanggung luka fisik dan trauma seumur hidup.

Dalam persidangan yang digelar secara terbuka, Oditur Militer membacakan berkas tuntutannya dengan meyakini bahwa para terdakwa terbukti melakukan penganiayaan terencana.

“Para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penganiayaan berat yang direncanakan. Oleh karena itu, kami memohon agar majelis hakim menjatuhkan pidana penjara masing-masing selama 2 tahun 6 bulan,” demikian kutipan pernyataan Oditur Militer di muka sidang yang dibacakan tanpa keraguan.

Mencederai Rasa Keadilan dan Sorotan Impunitas
Keputusan Oditur Militer yang hanya menuntut 2,5 tahun penjara langsung memantik amarah dari tim kuasa hukum korban dan berbagai kelompok masyarakat sipil. Hukuman tersebut dianggap sebagai bentuk formalitas belaka yang melanggengkan budaya impunitas di lingkungan peradilan militer.

“Tuntutan ini sangat mencederai rasa keadilan bagi korban yang mengalami cacat permanen. Ini bukti nyata masih kentalnya impunitas di peradilan militer,” kecam perwakilan kuasa hukum Andrie Yunus yang hadir mengawal jalannya persidangan.

Sejalan dengan kekecewaan tersebut, laporan investigasi dari Tempo.co membeberkan bahwa Andrie Yunus mengalami kerusakan kornea mata yang parah dan luka bakar derajat tiga di area wajah hingga leher akibat serangan cairan kimia korosif tersebut. Korban bahkan telah menjalani lebih dari lima kali operasi rekonstruksi yang memakan biaya ratusan juta rupiah.

Di sisi lain, catatan menunjukkan tren memprihatinkan terkait putusan peradilan militer di Indonesia. Sepanjang tiga tahun terakhir, mayoritas kasus kekerasan berat yang melibatkan oknum prajurit TNI terhadap warga sipil kerap berujung pada vonis di bawah 3 tahun penjara. Fakta ini semakin memperkuat argumen para aktivis hak asasi manusia yang mendesak adanya reformasi total dalam sistem peradilan militer agar prajurit yang melakukan tindak pidana umum dapat diadili di peradilan sipil.

Kini, nasib keadilan bagi Andrie Yunus sepenuhnya berada di tangan Majelis Hakim Pengadilan Militer. Publik dan para pegiat HAM terus mengawal ketat kasus ini, menanti apakah ketukan palu hakim nantinya akan memberikan keadilan substantif, atau justru memperkuat bayang-bayang kelam peradilan militer yang kerap berpihak pada korpsnya sendiri.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler