Connect with us

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

Rektor UNG Eduart Wolok: Belasungkawa untuk Mahasiswa Geologi Korban Musibah di Bulawa

Published

on

UNG – Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), menyampaikan duka cita yang mendalam atas musibah yang menimpa mahasiswa Jurusan Geologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), yang tengah menjalankan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN) Terintegrasi MBKM di Desa Dunggilata, Kecamatan Bulawa, Kabupaten Bone Bolango.

UNG telah segera menurunkan tim tanggap darurat ke lokasi kejadian untuk memberikan penanganan awal, dukungan langsung kepada para korban, serta pendampingan bagi keluarga.

Dari laporan awal yang diterima:

  • Sembilan mahasiswa terseret arus sungai saat berada di lokasi kegiatan.

  • Dua mahasiswa (perempuan) dinyatakan meninggal dunia.

  • Satu mahasiswa (perempuan) masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.

  • Satu mahasiswa lainnya berhasil selamat dan saat ini dalam kondisi stabil setelah mendapatkan perawatan intensif di RS Tombulilato.

Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab institusi, UNG telah menyiapkan berbagai bentuk dukungan medis, rehabilitasi bagi korban luka dan trauma, serta pendampingan psikologis bagi keluarga maupun rekan korban.

UNG juga terus melakukan koordinasi intensif dengan tim SAR, TNI/Polri, dan instansi terkait lainnya guna memastikan seluruh proses pencarian dan penanganan berjalan maksimal.

Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh sivitas akademika UNG dan masyarakat luas, agar para korban mendapatkan pertolongan terbaik dan semua proses berjalan lancar tanpa hambatan.

Atas nama keluarga besar Universitas Negeri Gorontalo, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya.

Advertorial

Sejajar Perguruan Tinggi Terbaik Nasional! S1 Kesmas dan D3 Farmasi UNG Raih Akreditasi Unggul

Published

on

UNG – Komitmen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam meningkatkan kualitas serta standar mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan kembali membuahkan hasil manis. Dua program studi di lingkungan Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG, yakni S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Farmasi, resmi mengantongi predikat Akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes).

Capaian prestisius tersebut menjadi catatan positif sekaligus milestones penting bagi FOK UNG dalam memperkuat penjaminan mutu pendidikan, khususnya pada disiplin ilmu kesehatan di Kawasan Timur Indonesia. Predikat Unggul ini menjadi legitimasi resmi atas kualitas proses pembelajaran, keunggulan tata kelola program studi, hingga efektivitas pengembangan kompetensi mahasiswa dan lulusannya.

Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, M.Pd., menyampaikan apresiasi tinggi atas raihan yang dicapai oleh kedua program studi tersebut. Menurutnya, keberhasilan meraih predikat akreditasi tertinggi ini merupakan buah dari dedikasi dan sinergi kolektif seluruh elemen sivitas akademika FOK UNG yang secara konsisten menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan.

“Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen seluruh sivitas akademika dalam menjaga mutu pendidikan, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat tata kelola program studi, serta menghasilkan lulusan bidang ilmu kesehatan yang kompeten, profesional, dan siap berkontribusi bagi masyarakat,” ujar Hartono.

Hartono menegaskan bahwa raihan predikat Unggul tidak boleh membuat pengelola program studi berpuas diri atau menganggap proses peningkatan mutu telah selesai. Sebaliknya, capaian ini harus dijadikan pijakan serta momentum krusial untuk memperkokoh budaya mutu dan memicu lahirnya berbagai inovasi akademik di lingkungan FOK UNG.

Ia berharap prestasi nasional ini dapat menyuntikkan energi baru bagi pengelola Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Farmasi untuk terus melangkah maju serta meningkatkan daya saing institusi.

Apresiasi senada disampaikan Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Pimpinan tertinggi UNG tersebut menilai bahwa Raihan Akreditasi Unggul dari LAM-PTKes menegaskan mutu dan standar kualitas kedua program studi tersebut kini telah berada di level teratas dan sejajar dengan kampus-kampus bereputasi tinggi di Indonesia.

“Akreditasi Unggul merupakan pengakuan bahwa kualitas kedua prodi tersebut telah sejajar dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Capaian ini adalah buah dari dedikasi berbagai pihak yang terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di UNG,” tegas Eduart.

Eduart menambahkan, pengakuan akreditasi ini semakin memperkuat langkah UNG dalam menghadirkan ekosistem pendidikan tinggi yang berkualitas, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta memiliki daya saing global.

Keberhasilan S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Farmasi FOK UNG dalam meraih standar tertinggi ini diharapkan tidak sekadar menjadi kebanggaan institusi semata, tetapi menjadi pemantik motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk mempertahankan standar mutu pelayanan pendidikan secara optimal. Dengan pijakan akreditasi Unggul ini, FOK UNG siap memperluas kontribusi nyata dalam melahirkan SDM kesehatan yang unggul bagi masyarakat Gorontalo dan Indonesia.

Continue Reading

Advertorial

Mantapkan Pendidikan Profesi Dokter! FK UNG Hadiri Forum Dekan FK LPTKNI pada KONASPI XII di Bali

Published

on

UNG – Penguatan dan akselerasi penyelenggaraan pendidikan profesi dokter menjadi salah satu fokus utama dalam Forum Dekan Fakultas Kedokteran di lingkungan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Negeri Indonesia (LPTKNI). Forum tersebut diselenggarakan secara paralel dalam rangkaian Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali, pada 2–4 Oktober 2026.

Mengusung tajuk “Sharing Session Persiapan Pelaksanaan Pendidikan Profesi Dokter”, forum ini mempertemukan para pimpinan Fakultas Kedokteran dari lingkungan LPTK se-Indonesia untuk saling berbagi pengalaman, memetakan kesiapan kelembagaan, serta merumuskan strategi pengembangan pendidikan profesi dokter yang memenuhi standar mutu pendidikan kedokteran nasional.

Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) turut ambil bagian aktif dalam ajang bergengsi tersebut. Kehadiran FK UNG diwakili langsung oleh Dekan FK UNG, Dr. dr. Cecy Rahma Karim, Sp.G.K.

Ajang KONASPI XII sendiri diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) sebagai tuan rumah, dengan mengusung tema besar “Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045: Inovasi, Kolaborasi, dan Pendidikan Berkelanjutan.” Kegiatan nasional ini diikuti oleh 1.694 peserta dari 12 LPTK se-Indonesia, menjadikannya ruang diskusi strategis untuk mempertemukan pemikiran, praktik baik, dan gagasan arah pembangunan pendidikan nasional.

Forum Dekan FK LPTKNI menjadi wahana vital untuk menyelaraskan persepsi mengenai penyelenggaraan pendidikan profesi dokter, khususnya dalam menjawab tantangan peningkatan mutu pendidikan tinggi serta dinamika kebutuhan sistem kesehatan nasional.

Dalam sesi berbagi tersebut, para dekan mencermati berbagai aspek krusial persiapan pendidikan profesi, mulai dari kesiapan tata kelola institusi, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) pengajar, kelengkapan sarana dan prasarana laboratorium, pengembangan jejaring RS pendidikan/klinik, hingga penguatan sistem penjaminan mutu (quality assurance). Pertukaran pengalaman antarfakultas ini diharapkan menjadi acuan bersama dalam membangun model pendidikan dokter yang andal dan berkelanjutan.

Bagi FK UNG, keikutsertaan dalam forum ini memiliki arti sangat strategis, terutama dalam mendukung penguatan sistem pendidikan kedokteran di kawasan Indonesia Timur. Keterlibatan pimpinan fakultas pada forum level nasional ini membuka peluang emas untuk memperluas jejaring kelembagaan sekaligus menyerap berbagai referensi best practices dari institusi kedokteran lainnya.

Langkah ini juga mempertegas komitmen FK UNG dalam melahirkan lulusan dokter yang tidak hanya unggul secara kognitif-akademik, tetapi juga siap diterjunkan secara klinis untuk menjawab pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.

Ke depan, sinergi yang terbangun dalam Forum Dekan FK LPTKNI diharapkan tidak berhenti pada tataran diskusi di BNDCC, melainkan berlanjut pada tindakan konkret berupa kerja sama kelembagaan, pertukaran program, serta optimalisasi tata kelola pendidikan profesi dokter di masing-masing universitas.

Melalui momentum KONASPI XII ini, FK UNG terus mengokohkan posisinya dalam jejaring pendidikan tinggi nasional, memastikan bahwa agenda pengembangan pendidikan kedokteran di Gorontalo senantiasa berjalan seiring dengan agenda transformasi pendidikan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Continue Reading

Advertorial

Solusi Pascapanen Kelautan! Peneliti UNG Olah Buah Mangrove Jadi Pengawet Alami Ikan Cakalang

Published

on

UNG – Tanaman mangrove selama ini dikenal luas sebagai benteng alami pemecah gelombang yang melindungi kawasan pesisir dari abrasi sekaligus menjadi habitat vital bagi berbagai biota laut. Namun, di balik fungsi ekologisnya yang krusial, buah dari tanaman mangrove ternyata menyimpan potensi besar yang sangat prospektif dalam pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan.

Potensi ilmiah tersebut berhasil diungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yakni Risky S. Maulanan, Lukman Mile, dan Fernandy M. Djailani. Ketiganya merupakan akademisi dari Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) UNG.

Dalam risetnya, tim mengeksplorasi pemanfaatan ekstrak buah mangrove jenis Rhizophora mucronata sebagai bahan pengawet alami guna mempertahankan kualitas kesegaran fillet ikan cakalang (Katsuwonus pelamis).

Hasil penelitian tersebut telah resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Applied Environmental Science Vol. 2 No. 2 Tahun 2025 dengan judul “Effectiveness of Water Extract of Mangrove Fruit Flour (Rhizophora mucronata) as a Natural Preservative in Skipjack Fish Fillets (Katsuwonus pelamis)”.

Gagasan Riset: Menghubungkan Ekosistem Mangrove dan Perikanan Tangkap

Gagasan riset ini lahir dari pengamatan terhadap dua potensi komoditas unggulan Daerah Gorontalo, yakni kelimpahan ekosistem mangrove di sepanjang pesisir serta besarnya volume produksi perikanan tangkap, khususnya ikan cakalang.

Ikan cakalang merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Meski demikian, sebagaimana produk hasil laut segar pada umumnya, kualitas cakalang sangat rentan mengalami penurunan mutu secara cepat (perishable). Aktivitas dan kontaminasi mikroorganisme pembusuk menjadi faktor utama yang mempercepat kerusakan mutu fisik maupun organoleptik ikan, sehingga dibutuhkan teknologi penanganan pascapanen yang aman dan efektif.

Di sisi lain, buah Rhizophora mucronata diketahui kaya akan kandungan senyawa bioaktif. Hal inilah yang mendorong para peneliti untuk mengekstrak buah mangrove tersebut menjadi bahan pengawet alami pengganti zat kimia sintetis.

Dalam prosedur penelitiannya, buah mangrove terlebih dahulu dikeringkan lalu diolah menjadi tepung. Tepung tersebut kemudian diekstraksi menggunakan pelarut air melalui proses pemanasan konstan pada suhu 70°C selama 30 menit. Ekstrak cair yang dihasilkan lantas dimanfaatkan untuk merendam potongan fillet ikan cakalang.

Tim peneliti menguji beberapa variasi durasi perendaman, yakni 10 jam, 12 jam, dan 14 jam. Selanjutnya, tingkat kualitas fillet ikan dianalisis melalui uji organoleptik (penampakan, aroma, tekstur), derajat keasaman (pH), serta pengujian Total Plate Count (TPC) untuk menghitung jumlah populasi mikroorganisme setelah perlakuan.

Kandungan Senyawa Alami Penekan Bakteri Pembusuk

Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak tepung buah Rhizophora mucronata terbukti positif mengandung senyawa bioaktif golongan alkaloid dan triterpenoid. Kedua kelompok senyawa ini dikenal memiliki aktivitas antibakteri kuat yang mampu merusak sel serta menghambat perkembangbiakan bakteri pembusuk pangan.

Bukti efektivitasnya terlihat jelas pada data pengujian TPC di laboratorium. Pada fillet ikan cakalang kontrol (tanpa perendaman ekstrak), jumlah koloni bakteri tercatat cukup tinggi, yakni sekitar $27,09 \times 10^3$. Namun, setelah perendaman dalam ekstrak mangrove selama 10 jam, populasi bakteri berhasil ditekan secara signifikan menjadi $15,39 \times 10^3$.

Penurunan populasi mikroorganisme paling drastis ditemukan pada durasi perendaman 12 jam, di mana angka TPC menyusut hingga mencapai $8,38 \times 10^3$. Sementara itu, pada durasi perendaman 14 jam, angka TPC kembali tercatat berada di level $10,82 \times 10^3$. Data statistik ini mengonfirmasi kapasitas ekstrak buah mangrove dalam menahan laju pertumbuhan populasi bakteri pada daging ikan.

Uji Organoleptik dan Fisik Fillet Ikan

Selain aspek mikrobiologis, analisis mutu pangan juga menekankan pada karakteristik fisik dan organoleptik yang dinilai langsung oleh konsumen, seperti penampakan, aroma, serta tekstur daging.

Dari kriteria aroma, fillet ikan cakalang yang diberi perlakuan perendaman ekstrak mangrove mampu mempertahankan karakteristik aroma khas ikan segar hingga durasi 14 jam. Peneliti menjelaskan bahwa keberadaan senyawa antibakteri dalam ekstrak berhasil menekan pembentukan senyawa volatil berbau busuk hasil degradasi mikroba.

Meski demikian, peneliti menggarisbawahi pentingnya presisi waktu perendaman. Pada parameter tekstur dan penampakan visual, terjadi perubahan fisik antara sampel kontrol dan sampel yang direndam selama 10, 12, maupun 14 jam akibat pengaruh proses oksidasi kimia alami.

Sementara itu, tingkat keasaman (pH) fillet ikan berada pada kisaran 5,46 hingga 6,04 dan menunjukkan tren kian menurun seiring lamanya durasi perendaman, yang mengindikasikan seluruh perlakuan berada dalam kondisi asam terukur.

Berdasarkan kalkulasi komprehensif indikator organoleptik, aroma, dan tekstur, durasi perendaman selama 10 jam direkomendasikan sebagai waktu paling optimal. Walau demikian, parameter TPC dan aroma membuktikan bahwa ekstrak ini tetap efektif menahan laju pembusukan hingga kurun waktu 14 jam.

Inovasi Berbasis Kekayaan Lokal Gorontalo

Temuan dari para akademisi FKTP UNG ini membuktikan bahwa pemanfaatan ekosistem mangrove dapat diperluas dari sekadar fungsi konservasi lingkungan menuju inovasi teknologi pangan yang aplikatif.

Integrasi antara potensi vegetasi pesisir dan komoditas perikanan Gorontalo ini membuka peluang besar bagi lahirnya teknologi pengawetan pascapanen yang aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Peneliti menambahkan bahwa penerapan secara massal di tingkat nelayan maupun industri masih memerlukan studi lanjutan terkait formulasi konsentrasi, aspek keamanan pangan, hingga analisis kelayakan ekonomi.

Inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa solusi atas tantangan pascapanen perikanan tidak selalu bergantung pada bahan kimia impor atau teknologi mahal, melainkan dapat digali langsung dari kekayaan hayati lokal yang tumbuh di pesisir Gorontalo.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler