<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cagar alam pohuwato Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/cagar-alam-pohuwato/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/cagar-alam-pohuwato/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jun 2025 09:01:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>cagar alam pohuwato Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/cagar-alam-pohuwato/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cagar Alam Jadi Ladang Maut: Longsor Renggut Nyawa Penambang Ilegal di Pohuwato</title>
		<link>https://barakati.id/cagar-alam-jadi-ladang-maut-longsor-renggut-nyawa-penambang-ilegal-di-pohuwato/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=cagar-alam-jadi-ladang-maut-longsor-renggut-nyawa-penambang-ilegal-di-pohuwato</link>
					<comments>https://barakati.id/cagar-alam-jadi-ladang-maut-longsor-renggut-nyawa-penambang-ilegal-di-pohuwato/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2025 08:32:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten pohuwato]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[cagar alam pohuwato]]></category>
		<category><![CDATA[penambang ilegal]]></category>
		<category><![CDATA[TAMBANG EMAS ILEGAL]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=25823</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/cagar-alam-jadi-ladang-maut-longsor-renggut-nyawa-penambang-ilegal-di-pohuwato/">Cagar Alam Jadi Ladang Maut: Longsor Renggut Nyawa Penambang Ilegal di Pohuwato</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/cagar-alam-jadi-ladang-maut-longsor-renggut-nyawa-penambang-ilegal-di-pohuwato/">Cagar Alam Jadi Ladang Maut: Longsor Renggut Nyawa Penambang Ilegal di Pohuwato</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-start="205" data-end="577"><button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Pohuwato - Malam kelam menyelimuti tanah Gorontalo saat sebuah longsor mematikan menghantam kawasan pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Popaya, Kecamatan Dengilo, Kabupaten Pohuwato. Tragedi terjadi pada Selasa malam, 10 Juni 2025, menewaskan satu orang penambang dan memunculkan kembali ironi buruk eksploitasi ilegal di kawasan lindung. Dalam suasana gelap, tanah berguncang dan longsor secara tiba-tiba, menimpa sejumlah penambang yang tengah beraktivitas dengan menggunakan alat berat excavator, di wilayah yang semestinya dilindungi sebagai kawasan cagar alam Dengilo. “Ada yang tertimbun longsor di lokasi PETI di wilayah cagar alam Dengilo,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya. Korban tewas dalam kejadian ini adalah Heri Inaku, warga Desa Tabulo Selatan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo. Heri sempat ditemukan dalam kondisi kritis, namun nyawanya tidak tertolong. Jasadnya telah dibawa pulang ke kampung halaman untuk dimakamkan. Yang paling mencolok dari tragedi ini adalah lokasi kejadian. Kawasan Cagar Alam Dengilo merupakan wilayah yang seharusnya steril dari segala bentuk aktivitas ekstraktif. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Mesin-mesin berat leluasa mengoyak tanah, merobohkan pepohonan, dan membuka lubang-lubang maut, tanpa pengawasan dan tanpa rasa takut akan hukum. Kegiatan tambang ilegal ini berlangsung terang-terangan. Excavator digunakan untuk menggali dan mengangkut material emas dari perut bumi, padahal tak satu pun izin resmi atau dokumen legal mengesahkan aktivitas tersebut. Mirisnya, penegakan hukum seolah lumpuh. Tidak ada operasi pemberantasan, tidak ada tindakan tegas. “Ini bukan kejadian pertama, dan sayangnya mungkin bukan yang terakhir. Tambang ilegal sudah seperti penyakit kronis di Pohuwato,” ujar salah satu aktivis lingkungan. Kepala Desa Tabulo Selatan, Suryanata Yusuf, memberikan pernyataan berbeda. Ia mengatakan bahwa penyebab kematian Heri Inaku diduga karena serangan stroke saat bekerja di lokasi tambang. “Setelah saya koordinasi dengan pihak keluarga korban, penyebab kematiannya diduga karena mengalami stroke saat mencari emas,” jelasnya. Namun fakta bahwa Heri tewas di lokasi tambang ilegal di kawasan cagar alam tetap menjadi sorotan utama. Apapun penyebab kematiannya, keberadaan tambang ilegal di wilayah konservasi tetap menjadi pelanggaran hukum serius yang tak bisa diabaikan. Saat dikonfirmasi, Kapolsek Paguat mengaku belum mengetahui adanya kejadian tersebut. “Saya baru dengar informasinya, Pak. Untuk lebih lanjut saya akan coba kroscek dulu ke anggota saya,” ujarnya singkat, Rabu (11/06/2025). Kematian Heri Inaku menambah daftar panjang korban di lokasi-lokasi PETI Pohuwato. Tragedi ini bukan hanya soal nyawa yang hilang, tapi juga soal kelumpuhan hukum dan pengabaian terhadap lingkungan hidup. Kawasan lindung telah berubah menjadi ladang tambang liar, dan undang-undang yang seharusnya melindungi hutan dan manusia, seolah kehilangan makna. Publik kini menantikan langkah konkret dari pemerintah daerah, aparat kepolisian, dan instansi terkait. Apakah tragedi ini akan menjadi peringatan terakhir, atau sekadar tambahan daftar panjang luka lingkungan yang tak kunjung sembuh?", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p data-start="205" data-end="577">Pohuwato &#8211; Malam kelam menyelimuti tanah Gorontalo saat <strong data-start="279" data-end="362">sebuah longsor mematikan menghantam kawasan pertambangan emas tanpa izin (PETI)</strong> di Desa Popaya, Kecamatan Dengilo, Kabupaten Pohuwato. Tragedi terjadi pada <strong data-start="439" data-end="469">Selasa malam, 10 Juni 2025</strong>, menewaskan satu orang penambang dan memunculkan kembali ironi buruk eksploitasi ilegal di kawasan lindung.</p>
<p data-start="579" data-end="821">Dalam suasana gelap, tanah berguncang dan longsor secara tiba-tiba, menimpa sejumlah penambang yang tengah beraktivitas dengan <strong data-start="706" data-end="742">menggunakan alat berat excavator</strong>, di wilayah yang semestinya dilindungi sebagai <strong data-start="790" data-end="820">kawasan cagar alam Dengilo</strong>.</p>
<p data-start="579" data-end="821"><em data-start="825" data-end="901">“Ada yang tertimbun longsor di lokasi PETI di wilayah cagar alam Dengilo,”</em> ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.</p>
<p data-start="956" data-end="1218">Korban tewas dalam kejadian ini adalah <strong data-start="995" data-end="1009">Heri Inaku</strong>, warga Desa Tabulo Selatan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo. Heri sempat ditemukan dalam kondisi kritis, namun nyawanya tidak tertolong. Jasadnya telah dibawa pulang ke kampung halaman untuk dimakamkan.</p>
<p data-start="1263" data-end="1635">Yang paling mencolok dari tragedi ini adalah <strong data-start="1308" data-end="1327">lokasi kejadian</strong>. Kawasan Cagar Alam Dengilo merupakan wilayah yang seharusnya steril dari segala bentuk aktivitas ekstraktif. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Mesin-mesin berat leluasa mengoyak tanah, merobohkan pepohonan, dan membuka lubang-lubang maut, tanpa pengawasan dan tanpa rasa takut akan hukum.</p>
<p data-start="1637" data-end="1961">Kegiatan tambang ilegal ini berlangsung <strong data-start="1677" data-end="1696">terang-terangan</strong>. Excavator digunakan untuk menggali dan mengangkut material emas dari perut bumi, padahal tak satu pun izin resmi atau dokumen legal mengesahkan aktivitas tersebut. Mirisnya, penegakan hukum seolah lumpuh. Tidak ada operasi pemberantasan, tidak ada tindakan tegas.</p>
<p data-start="1637" data-end="1961"><em data-start="1965" data-end="2097">“Ini bukan kejadian pertama, dan sayangnya mungkin bukan yang terakhir. Tambang ilegal sudah seperti penyakit kronis di Pohuwato,”</em> ujar salah satu aktivis lingkungan.</p>
<p data-start="2181" data-end="2371">Kepala Desa Tabulo Selatan, <strong data-start="2209" data-end="2228">Suryanata Yusuf</strong>, memberikan pernyataan berbeda. Ia mengatakan bahwa penyebab kematian Heri Inaku diduga karena serangan stroke saat bekerja di lokasi tambang.</p>
<p data-start="2181" data-end="2371"><em data-start="2375" data-end="2503">“Setelah saya koordinasi dengan pihak keluarga korban, penyebab kematiannya diduga karena mengalami stroke saat mencari emas,”</em> jelasnya.</p>
<p data-start="2515" data-end="2764">Namun fakta bahwa Heri tewas di <strong data-start="2547" data-end="2594">lokasi tambang ilegal di kawasan cagar alam</strong> tetap menjadi sorotan utama. Apapun penyebab kematiannya, keberadaan tambang ilegal di wilayah konservasi tetap menjadi pelanggaran hukum serius yang tak bisa diabaikan.</p>
<p data-start="2805" data-end="2895">Saat dikonfirmasi, <strong data-start="2824" data-end="2844">Kapolsek Paguat</strong> mengaku belum mengetahui adanya kejadian tersebut.</p>
<p data-start="2805" data-end="2895"><em data-start="2899" data-end="3002">“Saya baru dengar informasinya, Pak. Untuk lebih lanjut saya akan coba kroscek dulu ke anggota saya,”</em> ujarnya singkat, Rabu (11/06/2025).</p>
<p data-start="3074" data-end="3430">Kematian Heri Inaku menambah daftar panjang korban di lokasi-lokasi PETI Pohuwato. Tragedi ini bukan hanya soal nyawa yang hilang, tapi juga soal <strong data-start="3220" data-end="3281">kelumpuhan hukum dan pengabaian terhadap lingkungan hidup</strong>. Kawasan lindung telah berubah menjadi ladang tambang liar, dan undang-undang yang seharusnya melindungi hutan dan manusia, seolah kehilangan makna.</p>
<p data-start="3432" data-end="3670">Publik kini menantikan langkah konkret dari <strong data-start="3476" data-end="3538">pemerintah daerah, aparat kepolisian, dan instansi terkait</strong>. Apakah tragedi ini akan menjadi peringatan terakhir, atau sekadar tambahan daftar panjang luka lingkungan yang tak kunjung sembuh?</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/cagar-alam-jadi-ladang-maut-longsor-renggut-nyawa-penambang-ilegal-di-pohuwato/">Cagar Alam Jadi Ladang Maut: Longsor Renggut Nyawa Penambang Ilegal di Pohuwato</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/cagar-alam-jadi-ladang-maut-longsor-renggut-nyawa-penambang-ilegal-di-pohuwato/">Cagar Alam Jadi Ladang Maut: Longsor Renggut Nyawa Penambang Ilegal di Pohuwato</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/cagar-alam-jadi-ladang-maut-longsor-renggut-nyawa-penambang-ilegal-di-pohuwato/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
