<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>edukasi lingkungan Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/edukasi-lingkungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/edukasi-lingkungan/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Jan 2026 12:41:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>edukasi lingkungan Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/edukasi-lingkungan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Klarifikasi Penting! UNG Tegaskan Penelitian Mikroplastik Tak Ganggu Nelayan Torosiaje</title>
		<link>https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje</link>
					<comments>https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2026 12:41:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten pohuwato]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[klarifikasi berita]]></category>
		<category><![CDATA[mikroplastik]]></category>
		<category><![CDATA[mitigasi sampah]]></category>
		<category><![CDATA[nelayan Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[pemberdayaan pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[publikasi internasional]]></category>
		<category><![CDATA[riset ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[riset perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[sampah pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[teluk tomini]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Torosiaje Jaya]]></category>
		<category><![CDATA[ung]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Negeri Gorontalo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=29189</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/">Klarifikasi Penting! UNG Tegaskan Penelitian Mikroplastik Tak Ganggu Nelayan Torosiaje</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/">Klarifikasi Penting! UNG Tegaskan Penelitian Mikroplastik Tak Ganggu Nelayan Torosiaje</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Pohuwato - Tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menegaskan kembali bahwa penelitian awal mengenai keberadaan mikroplastik pada ikan di wilayah Torosiaje Jaya dan perairan Teluk Tomini bertujuan untuk mengantisipasi dampak sampah pesisir, bukan untuk merugikan masyarakat nelayan. Penjelasan ini disampaikan menyusul munculnya kesalahpahaman akibat pemberitaan sebagian media yang tidak mengutip secara utuh hasil penelitian. Studi tersebut telah dipublikasikan dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries edisi Januari 2026 oleh tim yang terdiri atas Syam S. Kumaji, Dewi Wahyuni K. Baderan, Hasim, Zuliyanto Zakaria, Djuna Lamondo, dan Femy Mahmud Sahami. Syam S. Kumaji selaku peneliti utama menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Torosiaje Jaya atas ketidaknyamanan yang timbul. Ia menegaskan bahwa penelitian ini merupakan langkah ilmiah awal untuk menarik perhatian pemerintah pusat dan daerah agar pengelolaan sampah di kawasan pesisir, khususnya Torosiaje, dapat ditangani secara serius dan berkelanjutan. “Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pola distribusi ikan yang kemungkinan terpapar mikroplastik, bukan untuk menyimpulkan kondisi keseluruhan ikan di Teluk Tomini,” jelas Syam. Syam menambahkan, penelitian tersebut hanya melibatkan 12 spesies ikan dengan total 15 individu yang diambil dari tiga titik pengambilan sampel: wilayah pulau, perairan pemukiman, serta area tambatan perahu. Pengambilan sampel dalam jumlah terbatas tersebut merupakan bagian dari pendekatan studi pendahuluan. Lebih lanjut dijelaskan, bagian ikan yang diuji di laboratorium hanyalah saluran pencernaan, bukan daging ikan. “Saluran cerna merupakan bagian yang biasanya dibuang saat ikan dibersihkan sebelum dikonsumsi masyarakat,” ujarnya. Syam menegaskan, penelitian ini tidak berhubungan dengan kualitas daging ikan yang dikonsumsi masyarakat, sehingga tidak berdampak pada mata pencaharian nelayan Torosiaje. Penelitian lanjutan dengan cakupan lebih besar akan segera dilakukan untuk memperdalam hasil awal tersebut. Selain riset ilmiah, tim UNG juga mulai merancang langkah mitigasi pengelolaan sampah pesisir. “Kami berharap model pengelolaan yang dikembangkan bisa menjadi contoh efektif, bukan hanya untuk Torosiaje, tapi juga bagi wilayah pesisir lainnya di Indonesia, bahkan dunia,” pungkas Syam. Dengan adanya klarifikasi ini, tim peneliti UNG berharap masyarakat dapat memahami tujuan sebenarnya dari penelitian dan terus mendukung upaya akademik dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p><strong>Pohuwato</strong> &#8211; Tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menegaskan kembali bahwa penelitian awal mengenai keberadaan mikroplastik pada ikan di wilayah Torosiaje Jaya dan perairan Teluk Tomini bertujuan untuk mengantisipasi dampak sampah pesisir, bukan untuk merugikan masyarakat nelayan.</p>
<p>Penjelasan ini disampaikan menyusul munculnya kesalahpahaman akibat pemberitaan sebagian media yang tidak mengutip secara utuh hasil penelitian. Studi tersebut telah dipublikasikan dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology &amp; Fisheries edisi Januari 2026 oleh tim yang terdiri atas Syam S. Kumaji, Dewi Wahyuni K. Baderan, Hasim, Zuliyanto Zakaria, Djuna Lamondo, dan Femy Mahmud Sahami.</p>
<p>Syam S. Kumaji selaku peneliti utama menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Torosiaje Jaya atas ketidaknyamanan yang timbul. Ia menegaskan bahwa penelitian ini merupakan langkah ilmiah awal untuk menarik perhatian pemerintah pusat dan daerah agar pengelolaan sampah di kawasan pesisir, khususnya Torosiaje, dapat ditangani secara serius dan berkelanjutan.</p>
<p>“Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pola distribusi ikan yang kemungkinan terpapar mikroplastik, bukan untuk menyimpulkan kondisi keseluruhan ikan di Teluk Tomini,” jelas Syam.</p>
<p>Syam menambahkan, penelitian tersebut hanya melibatkan 12 spesies ikan dengan total 15 individu yang diambil dari tiga titik pengambilan sampel: wilayah pulau, perairan pemukiman, serta area tambatan perahu. Pengambilan sampel dalam jumlah terbatas tersebut merupakan bagian dari pendekatan studi pendahuluan.</p>
<p>Lebih lanjut dijelaskan, bagian ikan yang diuji di laboratorium hanyalah saluran pencernaan, bukan daging ikan. “Saluran cerna merupakan bagian yang biasanya dibuang saat ikan dibersihkan sebelum dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.</p>
<p>Syam menegaskan, penelitian ini tidak berhubungan dengan kualitas daging ikan yang dikonsumsi masyarakat, sehingga tidak berdampak pada mata pencaharian nelayan Torosiaje. Penelitian lanjutan dengan cakupan lebih besar akan segera dilakukan untuk memperdalam hasil awal tersebut.</p>
<p>Selain riset ilmiah, tim UNG juga mulai merancang langkah mitigasi pengelolaan sampah pesisir. “Kami berharap model pengelolaan yang dikembangkan bisa menjadi contoh efektif, bukan hanya untuk Torosiaje, tapi juga bagi wilayah pesisir lainnya di Indonesia, bahkan dunia,” pungkas Syam.</p>
<p>Dengan adanya klarifikasi ini, tim peneliti UNG berharap masyarakat dapat memahami tujuan sebenarnya dari penelitian dan terus mendukung upaya akademik dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/">Klarifikasi Penting! UNG Tegaskan Penelitian Mikroplastik Tak Ganggu Nelayan Torosiaje</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/">Klarifikasi Penting! UNG Tegaskan Penelitian Mikroplastik Tak Ganggu Nelayan Torosiaje</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Napas Teluk Gorontalo Terancam? Ini Seruan Guru Besar UNG untuk Perempuan Pesisir</title>
		<link>https://barakati.id/napas-teluk-gorontalo-terancam-ini-seruan-guru-besar-ung-untuk-perempuan-pesisir/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=napas-teluk-gorontalo-terancam-ini-seruan-guru-besar-ung-untuk-perempuan-pesisir</link>
					<comments>https://barakati.id/napas-teluk-gorontalo-terancam-ini-seruan-guru-besar-ung-untuk-perempuan-pesisir/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2025 01:42:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi berkelanjutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekowisata bahari]]></category>
		<category><![CDATA[kawasan konservasi perairan]]></category>
		<category><![CDATA[kearifan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan tata ruang laut]]></category>
		<category><![CDATA[kesejahteraan pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[konservasi laut]]></category>
		<category><![CDATA[Pemberdayaan Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pengelolaan lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[pengendalian sampah laut]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[Prof Femy Mahmud Sahami]]></category>
		<category><![CDATA[Teluk Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Negeri Gorontalo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=28799</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/napas-teluk-gorontalo-terancam-ini-seruan-guru-besar-ung-untuk-perempuan-pesisir/">Napas Teluk Gorontalo Terancam? Ini Seruan Guru Besar UNG untuk Perempuan Pesisir</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/napas-teluk-gorontalo-terancam-ini-seruan-guru-besar-ung-untuk-perempuan-pesisir/">Napas Teluk Gorontalo Terancam? Ini Seruan Guru Besar UNG untuk Perempuan Pesisir</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb2" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb2.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("UNG - Teluk Gorontalo bukan sekadar bentangan laut biru yang memanjakan mata. Di balik keindahannya, tersimpan kekayaan hayati sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi ribuan masyarakat pesisir. Namun, di tengah upaya pelestarian Kawasan Konservasi Perairan (KKP) tersebut, ada satu kekuatan yang kerap luput dari sorotan — perempuan pesisir. Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Prof. Dr. Femy Mahmud Sahami, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa perempuan pesisir memegang peran strategis sebagai pilar utama keberlanjutan ekosistem laut. Menurutnya, keterlibatan aktif perempuan pesisir bukan lagi opsi, melainkan keharusan dalam pengelolaan kawasan konservasi yang efektif. Lebih dari Sekadar Pengelola Rumah Tangga Dalam kegiatan Peningkatan Pelibatan Perempuan dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Teluk Gorontalo yang diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar, Prof. Femy mengungkapkan bahwa peran perempuan selama ini sering kali dipandang sebelah mata. “Perempuan pesisir bukan hanya pengelola rumah tangga. Mereka adalah penggerak ekonomi, penjaga pengetahuan lokal, sekaligus pendidik generasi masa depan. Kedekatan mereka dengan laut menjadikan perempuan pesisir aktor kunci dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam,” tegas Prof. Femy. Dalam keseharian, perempuan pesisir menjadi benteng ketahanan keluarga. Mereka mengolah hasil tangkapan, menjaga pangan rumah tangga, berdagang di pasar, hingga menurunkan pengetahuan tradisional tentang musim tangkap dan pemanfaatan laut yang bijak kepada anak-anak mereka. Potensi Strategis dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi Prof. Femy menilai perempuan pesisir memiliki potensi besar untuk berperan dalam aspek teknis maupun kebijakan pengelolaan KKP. Ia menyebutkan beberapa peran strategis yang bisa dilakukan, antara lain: Monitoring dan pengawasan. Perempuan dapat menjadi “mata” bagi kelestarian kawasan pesisir. Edukasi dan advokasi. Mereka bisa mengampanyekan gaya hidup ramah lingkungan di tingkat komunitas. Ekowisata bahari. Keterlibatan perempuan dalam pengelolaan wisata berkelanjutan mampu memperkuat ekonomi lokal. Pengendalian sampah laut. Perempuan dapat menjadi penggerak utama kebersihan di wilayah pesisir. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya perspektif perempuan dalam perencanaan tata ruang laut. Keterlibatan mereka dalam penyusunan kebijakan zonasi akan membuat aturan lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal dan tetap berpihak pada kelestarian ekosistem. Memadukan Pengetahuan Lokal dan Ilmu Sains Poin penting lainnya yang disampaikan Prof. Femy adalah pentingnya sinergi antara pengetahuan lokal dengan pendekatan ilmiah dalam menjaga kawasan konservasi. Menurutnya, pelibatan perempuan secara setara akan membuat pengelolaan KKP lebih adaptif dan berkelanjutan. “Ketika perempuan dilibatkan, tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Ini bukan sekadar bentuk keadilan sosial, tetapi langkah strategis untuk memastikan sumber daya laut tetap terjaga bagi generasi mendatang,” ujarnya. Ia juga menambahkan, pemberdayaan perempuan pesisir tidak hanya berdampak pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mampu mendorong diversifikasi usaha berbasis konservasi. Hal ini akan memperkuat ekonomi lokal sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir menghadapi tantangan lingkungan dan ekonomi yang semakin kompleks.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">UNG &#8211; Teluk Gorontalo bukan sekadar bentangan laut biru yang memanjakan mata. Di balik keindahannya, tersimpan kekayaan hayati sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi ribuan masyarakat pesisir. Namun, di tengah upaya pelestarian Kawasan Konservasi Perairan (KKP) tersebut, ada satu kekuatan yang kerap luput dari sorotan — perempuan pesisir.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), <strong>Prof. Dr. Femy Mahmud Sahami, S.Pi., M.Si.</strong>, menegaskan bahwa perempuan pesisir memegang peran strategis sebagai pilar utama keberlanjutan ekosistem laut. Menurutnya, keterlibatan aktif perempuan pesisir bukan lagi opsi, melainkan <strong>keharusan</strong> dalam pengelolaan kawasan konservasi yang efektif.</p>
<h2 class="mb-2 mt-4 font-display font-semimedium text-base first:mt-0">Lebih dari Sekadar Pengelola Rumah Tangga</h2>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Dalam kegiatan <em>Peningkatan Pelibatan Perempuan dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Teluk Gorontalo</em> yang diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar, Prof. Femy mengungkapkan bahwa peran perempuan selama ini sering kali dipandang sebelah mata.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Perempuan pesisir bukan hanya pengelola rumah tangga. Mereka adalah penggerak ekonomi, penjaga pengetahuan lokal, sekaligus pendidik generasi masa depan. Kedekatan mereka dengan laut menjadikan perempuan pesisir aktor kunci dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam,” tegas Prof. Femy.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Dalam keseharian, perempuan pesisir menjadi benteng ketahanan keluarga. Mereka mengolah hasil tangkapan, menjaga pangan rumah tangga, berdagang di pasar, hingga menurunkan pengetahuan tradisional tentang musim tangkap dan pemanfaatan laut yang bijak kepada anak-anak mereka.</p>
<h2 class="mb-2 mt-4 font-display font-semimedium text-base first:mt-0">Potensi Strategis dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi</h2>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Prof. Femy menilai perempuan pesisir memiliki potensi besar untuk berperan dalam aspek teknis maupun kebijakan pengelolaan KKP. Ia menyebutkan beberapa peran strategis yang bisa dilakukan, antara lain:</p>
<ul class="marker:text-quiet list-disc">
<li class="py-0 my-0 prose-p:pt-0 prose-p:mb-2 prose-p:my-0 [&amp;&gt;p]:pt-0 [&amp;&gt;p]:mb-2 [&amp;&gt;p]:my-0" style="box-sizing: border-box; scrollbar-color: initial; scrollbar-width: initial; --tw-border-spacing-x: 0; --tw-border-spacing-y: 0; --tw-translate-x: 0; --tw-translate-y: 0; --tw-rotate: 0; --tw-skew-x: 0; --tw-skew-y: 0; --tw-scale-x: 1; --tw-scale-y: 1; --tw-scroll-snap-strictness: proximity; --tw-ring-offset-width: 0px; --tw-ring-offset-color: #fff; --tw-ring-color: rgb(59 130 246 / .5); --tw-ring-offset-shadow: 0 0 #0000; --tw-ring-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow-colored: 0 0 #0000; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; padding-inline-start: 0.375em; padding-top: 0px; padding-bottom: 0px; border: 0px solid oklch(var(--foreground-subtler-color));">
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><strong>Monitoring dan pengawasan.</strong> Perempuan dapat menjadi “mata” bagi kelestarian kawasan pesisir.</p>
</li>
<li class="py-0 my-0 prose-p:pt-0 prose-p:mb-2 prose-p:my-0 [&amp;&gt;p]:pt-0 [&amp;&gt;p]:mb-2 [&amp;&gt;p]:my-0" style="box-sizing: border-box; scrollbar-color: initial; scrollbar-width: initial; --tw-border-spacing-x: 0; --tw-border-spacing-y: 0; --tw-translate-x: 0; --tw-translate-y: 0; --tw-rotate: 0; --tw-skew-x: 0; --tw-skew-y: 0; --tw-scale-x: 1; --tw-scale-y: 1; --tw-scroll-snap-strictness: proximity; --tw-ring-offset-width: 0px; --tw-ring-offset-color: #fff; --tw-ring-color: rgb(59 130 246 / .5); --tw-ring-offset-shadow: 0 0 #0000; --tw-ring-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow-colored: 0 0 #0000; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; padding-inline-start: 0.375em; padding-top: 0px; padding-bottom: 0px; border: 0px solid oklch(var(--foreground-subtler-color));">
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><strong>Edukasi dan advokasi.</strong> Mereka bisa mengampanyekan gaya hidup ramah lingkungan di tingkat komunitas.</p>
</li>
<li class="py-0 my-0 prose-p:pt-0 prose-p:mb-2 prose-p:my-0 [&amp;&gt;p]:pt-0 [&amp;&gt;p]:mb-2 [&amp;&gt;p]:my-0" style="box-sizing: border-box; scrollbar-color: initial; scrollbar-width: initial; --tw-border-spacing-x: 0; --tw-border-spacing-y: 0; --tw-translate-x: 0; --tw-translate-y: 0; --tw-rotate: 0; --tw-skew-x: 0; --tw-skew-y: 0; --tw-scale-x: 1; --tw-scale-y: 1; --tw-scroll-snap-strictness: proximity; --tw-ring-offset-width: 0px; --tw-ring-offset-color: #fff; --tw-ring-color: rgb(59 130 246 / .5); --tw-ring-offset-shadow: 0 0 #0000; --tw-ring-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow-colored: 0 0 #0000; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; padding-inline-start: 0.375em; padding-top: 0px; padding-bottom: 0px; border: 0px solid oklch(var(--foreground-subtler-color));">
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><strong>Ekowisata bahari.</strong> Keterlibatan perempuan dalam pengelolaan wisata berkelanjutan mampu memperkuat ekonomi lokal.</p>
</li>
<li class="py-0 my-0 prose-p:pt-0 prose-p:mb-2 prose-p:my-0 [&amp;&gt;p]:pt-0 [&amp;&gt;p]:mb-2 [&amp;&gt;p]:my-0" style="box-sizing: border-box; scrollbar-color: initial; scrollbar-width: initial; --tw-border-spacing-x: 0; --tw-border-spacing-y: 0; --tw-translate-x: 0; --tw-translate-y: 0; --tw-rotate: 0; --tw-skew-x: 0; --tw-skew-y: 0; --tw-scale-x: 1; --tw-scale-y: 1; --tw-scroll-snap-strictness: proximity; --tw-ring-offset-width: 0px; --tw-ring-offset-color: #fff; --tw-ring-color: rgb(59 130 246 / .5); --tw-ring-offset-shadow: 0 0 #0000; --tw-ring-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow-colored: 0 0 #0000; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; padding-inline-start: 0.375em; padding-top: 0px; padding-bottom: 0px; border: 0px solid oklch(var(--foreground-subtler-color));">
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><strong>Pengendalian sampah laut.</strong> Perempuan dapat menjadi penggerak utama kebersihan di wilayah pesisir.</p>
</li>
</ul>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya perspektif perempuan dalam perencanaan tata ruang laut. Keterlibatan mereka dalam penyusunan kebijakan zonasi akan membuat aturan lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal dan tetap berpihak pada kelestarian ekosistem.</p>
<h2 class="mb-2 mt-4 font-display font-semimedium text-base first:mt-0">Memadukan Pengetahuan Lokal dan Ilmu Sains</h2>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Poin penting lainnya yang disampaikan Prof. Femy adalah pentingnya sinergi antara pengetahuan lokal dengan pendekatan ilmiah dalam menjaga kawasan konservasi. Menurutnya, pelibatan perempuan secara setara akan membuat pengelolaan KKP lebih adaptif dan berkelanjutan.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Ketika perempuan dilibatkan, tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Ini bukan sekadar bentuk keadilan sosial, tetapi langkah strategis untuk memastikan sumber daya laut tetap terjaga bagi generasi mendatang,” ujarnya.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Ia juga menambahkan, pemberdayaan perempuan pesisir tidak hanya berdampak pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mampu mendorong <strong>diversifikasi usaha berbasis konservasi.</strong> Hal ini akan memperkuat ekonomi lokal sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat pesisir menghadapi tantangan lingkungan dan ekonomi yang semakin kompleks.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/napas-teluk-gorontalo-terancam-ini-seruan-guru-besar-ung-untuk-perempuan-pesisir/">Napas Teluk Gorontalo Terancam? Ini Seruan Guru Besar UNG untuk Perempuan Pesisir</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/napas-teluk-gorontalo-terancam-ini-seruan-guru-besar-ung-untuk-perempuan-pesisir/">Napas Teluk Gorontalo Terancam? Ini Seruan Guru Besar UNG untuk Perempuan Pesisir</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/napas-teluk-gorontalo-terancam-ini-seruan-guru-besar-ung-untuk-perempuan-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
