<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>HMI Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/hmi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/hmi/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jan 2026 11:10:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>HMI Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/hmi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Terbukti Benar! Ramalan HMI Soal Dugaan Nepotisme di Bone Bolango Jadi Nyata</title>
		<link>https://barakati.id/terbukti-benar-ramalan-hmi-soal-dugaan-nepotisme-di-bone-bolango-jadi-nyata/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=terbukti-benar-ramalan-hmi-soal-dugaan-nepotisme-di-bone-bolango-jadi-nyata</link>
					<comments>https://barakati.id/terbukti-benar-ramalan-hmi-soal-dugaan-nepotisme-di-bone-bolango-jadi-nyata/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2026 11:03:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bone Bolango]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[berita Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[bkn]]></category>
		<category><![CDATA[bupati bone bolango]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[HMI]]></category>
		<category><![CDATA[investigasi HMI]]></category>
		<category><![CDATA[KASN]]></category>
		<category><![CDATA[nepotisme]]></category>
		<category><![CDATA[PPTP eselon II]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Rolan HMI]]></category>
		<category><![CDATA[seleksi pejabat]]></category>
		<category><![CDATA[sistem merit]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[transparansi seleksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=28978</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/terbukti-benar-ramalan-hmi-soal-dugaan-nepotisme-di-bone-bolango-jadi-nyata/">Terbukti Benar! Ramalan HMI Soal Dugaan Nepotisme di Bone Bolango Jadi Nyata</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/terbukti-benar-ramalan-hmi-soal-dugaan-nepotisme-di-bone-bolango-jadi-nyata/">Terbukti Benar! Ramalan HMI Soal Dugaan Nepotisme di Bone Bolango Jadi Nyata</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Bone Bolango – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bone Bolango menegaskan bahwa dugaan praktik nepotisme dalam seleksi terbuka Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (PPTP) eselon II di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bone Bolango semakin menguat setelah pelantikan pejabat hasil seleksi pada Senin (22/12/2025). Dari lima jabatan strategis yang dibuka dalam seleksi terbuka tersebut, empat jabatan telah resmi dilantik. Namun, tiga di antaranya diketahui diisi oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan Bupati Bone Bolango. HMI Cabang Bone Bolango sebelumnya telah memberikan peringatan dini terkait indikasi praktik nepotisme. Dalam pemberitaan Gopublish.co.id pada Rabu (19/11/2025), HMI mengingatkan pimpinan daerah agar proses seleksi jabatan tinggi dilakukan secara transparan dan bebas dari konflik kepentingan. “Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Kepala Dinas BKPSDM diisi oleh anak Bupati, Kepala Bappeda dijabat oleh menantu Bupati, serta Dinas PMD juga ditempati kerabat dekat Bupati. Ini bukan sekadar dugaan tanpa dasar, melainkan fakta pelantikan yang bisa disaksikan secara terbuka oleh masyarakat, persis seperti yang kami prediksi sejak awal,” ujar Ketua HMI Cabang Bone Bolango, Rolan, Rabu (07/01/2026). HMI menilai praktik ini bertentangan dengan sejumlah regulasi nasional, di antaranya: Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, Pasal 17, mengenai larangan penyalahgunaan wewenang UU No. 20 Tahun 2023 tentang ASN, khususnya Pasal 12 yang mengatur integritas dan larangan praktik KKN Rolan menambahkan, kondisi ini juga bertentangan dengan prinsip sistem merit, terutama aspek transparansi dan objektivitas, yang telah lama digaungkan oleh pemerintah daerah. Dalam pernyataan di situs resmi Pemkab Bone Bolango, Sekretaris Daerah Iwan Mustapa menyebut seluruh tahapan seleksi PPTP telah dilaksanakan “sesuai prosedur, transparan, objektif, dan berdasarkan sistem merit”. Namun, klaim tersebut dinilai tidak sejalan dengan kondisi di lapangan. “Faktanya, penilaian hasil seleksi dari awal hingga akhir proses tidak pernah dipublikasikan, bahkan tidak disampaikan kepada peserta. Nilai seleksi hanya diketahui oleh tim seleksi dan pihak tertentu,” tegas Rolan. HMI Cabang Bone Bolango mengaku telah melakukan investigasi lapangan dengan mewawancarai sejumlah peserta seleksi. Hasilnya, sebagian besar peserta mengaku tidak mengetahui nilai hasil seleksi di setiap tahapan. “Temuan kami menunjukkan tidak adanya transparansi dan akuntabilitas. Prinsip keterbukaan dan objektivitas dalam penerapan sistem merit tidak dijalankan sebagaimana mestinya,” lanjut Rolan. Selain menyoroti tiga jabatan yang telah dilantik, HMI juga mencatat adanya satu posisi strategis lain yang hingga kini belum dilantik. Menurut mereka, alasan penundaan pelantikan dengan dalih pencairan anggaran dan kesinambungan program terkesan janggal di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap dugaan nepotisme. “Kami telah merampungkan hasil investigasi dan kajian. Bahkan kami sudah mengantongi nama yang diduga kuat akan dilantik pada posisi yang masih tertunda,” ungkapnya. Berdasarkan hasil investigasi tersebut, HMI Cabang Bone Bolango menyatakan akan menindaklanjuti temuan dugaan pelanggaran ini ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) dan Badan Kepegawaian Negara (BKN). “Dalam waktu dekat, kami akan melaporkan hasil investigasi resmi untuk mendorong dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan seleksi terbuka PPTP di Bone Bolango,” tegas Rolan. HMI menekankan, langkah ini merupakan komitmen organisasi dalam menjaga marwah reformasi birokrasi, memastikan sistem merit dijalankan secara adil, transparan, serta bebas dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><strong>Bone Bolango</strong> – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bone Bolango menegaskan bahwa dugaan praktik <strong>nepotisme</strong> dalam seleksi terbuka <strong>Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (PPTP)</strong> eselon II di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bone Bolango semakin menguat setelah pelantikan pejabat hasil seleksi pada <strong>Senin (22/12/2025)</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Dari lima jabatan strategis yang dibuka dalam seleksi terbuka tersebut, empat jabatan telah resmi dilantik. Namun, tiga di antaranya diketahui diisi oleh <strong>Aparatur Sipil Negara (ASN)</strong> yang memiliki <strong>hubungan kekerabatan dekat dengan Bupati Bone Bolango</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">HMI Cabang Bone Bolango sebelumnya telah memberikan peringatan dini terkait indikasi praktik nepotisme. Dalam pemberitaan <strong>Gopublish.co.id</strong> pada <strong>Rabu (19/11/2025)</strong>, HMI mengingatkan pimpinan daerah agar proses seleksi jabatan tinggi dilakukan secara transparan dan bebas dari konflik kepentingan.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><em>“Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Kepala Dinas BKPSDM diisi oleh anak Bupati, Kepala Bappeda dijabat oleh menantu Bupati, serta Dinas PMD juga ditempati kerabat dekat Bupati. Ini bukan sekadar dugaan tanpa dasar, melainkan fakta pelantikan yang bisa disaksikan secara terbuka oleh masyarakat, persis seperti yang kami prediksi sejak awal,” ujar <strong>Ketua HMI Cabang Bone Bolango, Rolan</strong>, Rabu (07/01/2026).</em></p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">HMI menilai praktik ini bertentangan dengan sejumlah regulasi nasional, di antaranya:</p>
<ul class="marker:text-quiet list-disc">
<li class="py-0 my-0 prose-p:pt-0 prose-p:mb-2 prose-p:my-0 [&amp;&gt;p]:pt-0 [&amp;&gt;p]:mb-2 [&amp;&gt;p]:my-0" style="box-sizing: border-box; scrollbar-color: initial; scrollbar-width: initial; --tw-border-spacing-x: 0; --tw-border-spacing-y: 0; --tw-translate-x: 0; --tw-translate-y: 0; --tw-rotate: 0; --tw-skew-x: 0; --tw-skew-y: 0; --tw-scale-x: 1; --tw-scale-y: 1; --tw-scroll-snap-strictness: proximity; --tw-ring-offset-width: 0px; --tw-ring-offset-color: #fff; --tw-ring-color: rgb(59 130 246 / .5); --tw-ring-offset-shadow: 0 0 #0000; --tw-ring-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow-colored: 0 0 #0000; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; padding-inline-start: 0.375em; padding-top: 0px; padding-bottom: 0px; border: 0px solid oklch(var(--foreground-subtler-color));">
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><strong>Undang-Undang No. 28 Tahun 1999</strong> tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)</p>
</li>
<li class="py-0 my-0 prose-p:pt-0 prose-p:mb-2 prose-p:my-0 [&amp;&gt;p]:pt-0 [&amp;&gt;p]:mb-2 [&amp;&gt;p]:my-0" style="box-sizing: border-box; scrollbar-color: initial; scrollbar-width: initial; --tw-border-spacing-x: 0; --tw-border-spacing-y: 0; --tw-translate-x: 0; --tw-translate-y: 0; --tw-rotate: 0; --tw-skew-x: 0; --tw-skew-y: 0; --tw-scale-x: 1; --tw-scale-y: 1; --tw-scroll-snap-strictness: proximity; --tw-ring-offset-width: 0px; --tw-ring-offset-color: #fff; --tw-ring-color: rgb(59 130 246 / .5); --tw-ring-offset-shadow: 0 0 #0000; --tw-ring-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow-colored: 0 0 #0000; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; padding-inline-start: 0.375em; padding-top: 0px; padding-bottom: 0px; border: 0px solid oklch(var(--foreground-subtler-color));">
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><strong>UU No. 30 Tahun 2014</strong> tentang Administrasi Pemerintahan, Pasal 17, mengenai larangan penyalahgunaan wewenang</p>
</li>
<li class="py-0 my-0 prose-p:pt-0 prose-p:mb-2 prose-p:my-0 [&amp;&gt;p]:pt-0 [&amp;&gt;p]:mb-2 [&amp;&gt;p]:my-0" style="box-sizing: border-box; scrollbar-color: initial; scrollbar-width: initial; --tw-border-spacing-x: 0; --tw-border-spacing-y: 0; --tw-translate-x: 0; --tw-translate-y: 0; --tw-rotate: 0; --tw-skew-x: 0; --tw-skew-y: 0; --tw-scale-x: 1; --tw-scale-y: 1; --tw-scroll-snap-strictness: proximity; --tw-ring-offset-width: 0px; --tw-ring-offset-color: #fff; --tw-ring-color: rgb(59 130 246 / .5); --tw-ring-offset-shadow: 0 0 #0000; --tw-ring-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow-colored: 0 0 #0000; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; padding-inline-start: 0.375em; padding-top: 0px; padding-bottom: 0px; border: 0px solid oklch(var(--foreground-subtler-color));">
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><strong>UU No. 20 Tahun 2023</strong> tentang ASN, khususnya Pasal 12 yang mengatur integritas dan larangan praktik KKN</p>
</li>
</ul>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Rolan menambahkan, kondisi ini juga bertentangan dengan <strong>prinsip sistem merit</strong>, terutama aspek <strong>transparansi dan objektivitas</strong>, yang telah lama digaungkan oleh pemerintah daerah.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Dalam pernyataan di situs resmi Pemkab Bone Bolango, <strong>Sekretaris Daerah Iwan Mustapa</strong> menyebut seluruh tahapan seleksi PPTP telah dilaksanakan “sesuai prosedur, transparan, objektif, dan berdasarkan sistem merit”. Namun, klaim tersebut dinilai tidak sejalan dengan kondisi di lapangan.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><em>“Faktanya, penilaian hasil seleksi dari awal hingga akhir proses tidak pernah dipublikasikan, bahkan tidak disampaikan kepada peserta. Nilai seleksi hanya diketahui oleh tim seleksi dan pihak tertentu,” tegas Rolan.</em></p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">HMI Cabang Bone Bolango mengaku telah melakukan <strong>investigasi lapangan</strong> dengan mewawancarai sejumlah peserta seleksi. Hasilnya, sebagian besar peserta mengaku <strong>tidak mengetahui nilai hasil seleksi</strong> di setiap tahapan.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><em>“Temuan kami menunjukkan tidak adanya transparansi dan akuntabilitas. Prinsip keterbukaan dan objektivitas dalam penerapan sistem merit tidak dijalankan sebagaimana mestinya,” lanjut Rolan.</em></p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Selain menyoroti tiga jabatan yang telah dilantik, HMI juga mencatat adanya <strong>satu posisi strategis lain yang hingga kini belum dilantik</strong>. Menurut mereka, alasan penundaan pelantikan dengan dalih pencairan anggaran dan kesinambungan program <strong>terkesan janggal</strong> di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap dugaan nepotisme.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><em>“Kami telah merampungkan hasil investigasi dan kajian. Bahkan kami sudah mengantongi nama yang diduga kuat akan dilantik pada posisi yang masih tertunda,” ungkapnya.</em></p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Berdasarkan hasil investigasi tersebut, HMI Cabang Bone Bolango menyatakan akan <strong>menindaklanjuti temuan dugaan pelanggaran ini</strong> ke <strong>Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN)</strong> dan <strong>Badan Kepegawaian Negara (BKN)</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><em>“Dalam waktu dekat, kami akan melaporkan hasil investigasi resmi untuk mendorong dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan seleksi terbuka PPTP di Bone Bolango,” tegas Rolan.</em></p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">HMI menekankan, langkah ini merupakan komitmen organisasi dalam menjaga <strong>marwah reformasi birokrasi</strong>, memastikan <strong>sistem merit dijalankan secara adil, transparan</strong>, serta bebas dari praktik <strong>Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)</strong>.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/terbukti-benar-ramalan-hmi-soal-dugaan-nepotisme-di-bone-bolango-jadi-nyata/">Terbukti Benar! Ramalan HMI Soal Dugaan Nepotisme di Bone Bolango Jadi Nyata</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/terbukti-benar-ramalan-hmi-soal-dugaan-nepotisme-di-bone-bolango-jadi-nyata/">Terbukti Benar! Ramalan HMI Soal Dugaan Nepotisme di Bone Bolango Jadi Nyata</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/terbukti-benar-ramalan-hmi-soal-dugaan-nepotisme-di-bone-bolango-jadi-nyata/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Negara, Masyarakat, dan Polisi: Relasi Kuasa dalam Bayang-Bayang Ketakutan</title>
		<link>https://barakati.id/negara-masyarakat-dan-polisi-relasi-kuasa-dalam-bayang-bayang-ketakutan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=negara-masyarakat-dan-polisi-relasi-kuasa-dalam-bayang-bayang-ketakutan</link>
					<comments>https://barakati.id/negara-masyarakat-dan-polisi-relasi-kuasa-dalam-bayang-bayang-ketakutan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2025 20:51:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[AksiMahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[DemokrasiIndonesia]]></category>
		<category><![CDATA[HMI]]></category>
		<category><![CDATA[kapoldagorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[KritikSosial]]></category>
		<category><![CDATA[PolisiRepresif]]></category>
		<category><![CDATA[polri]]></category>
		<category><![CDATA[RelasiKuasa]]></category>
		<category><![CDATA[SejarahHMI]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=26381</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/negara-masyarakat-dan-polisi-relasi-kuasa-dalam-bayang-bayang-ketakutan/">Negara, Masyarakat, dan Polisi: Relasi Kuasa dalam Bayang-Bayang Ketakutan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/negara-masyarakat-dan-polisi-relasi-kuasa-dalam-bayang-bayang-ketakutan/">Negara, Masyarakat, dan Polisi: Relasi Kuasa dalam Bayang-Bayang Ketakutan</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb2" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb2.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Oleh: Adnan R. Abas Kader HMI Cabang Gorontalo Dalam arsitektur sosial modern, negara hadir melalui tiga entitas utama: pemerintah, masyarakat, dan aparat penegak hukum. Di dalamnya, polisi menempati posisi strategis sebagai perpanjangan tangan negara dalam menjaga ketertiban dan menjamin rasa aman. Namun, yang kerap luput disadari: kekuasaan yang tidak diawasi selalu cenderung disalahgunakan. Maka relasi antara negara, masyarakat, dan polisi pun menjadi arena dialektika—antara perlindungan dan penindasan. Negara seharusnya berdiri sebagai entitas yang menjamin hak-hak warganya, bukan menakuti mereka. Masyarakat adalah subjek, bukan objek kekuasaan. Dan polisi, idealnya, menjadi pelayan publik, bukan alat kekerasan struktural. Namun realitas sering kali menyajikan ironi: aparat yang semestinya melindungi, justru menjadi sumber trauma bagi rakyatnya. Kekerasan dan intimidasi oleh oknum Polres Pohuwato terhadap salah satu kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gorontalo menjadi preseden buruk bagi demokrasi lokal. Maka sebagai bentuk respon terhadap lanskap premanisme tersebut, hadirlah aksi protes yang digelar di Polda Gorontalo pada tanggal 24 Juli, tentu sebagai bentuk keberpihakan terhadap korban, sebab ia adalah merupakan bagian dari entitas hidup: manusia. Namun betapa miris dan sedihnya, aksi protes sebagai bentuk solidaritas dan juga ruang kuliah publik—demonstrasi, justru dihadapi dengan tindakan dorongan dan makian oleh oknum aparat kepolisian Polda Gorontalo di sore tadi, tepatnya di gerbang Polda Gorontalo. Ini bukan sekadar pelanggaran etik, tapi juga isyarat adanya krisis moral dan degradasi fungsi kepolisian. Sejarah mencatat, kekuasaan represif yang dilegalkan atas nama ketertiban, hanya akan melahirkan ketakutan kolektif. Mengutip apa yang disampaikan oleh salah seorang filsuf dari Prancis, yang merupakan sejarawan dan teoriwan sosial, ia menulis dalam bukunya yang berjudul \"Discipline and Punish: The Birth of the Prison\", atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Disiplin dan Hukuman: Kelahiran Penjara—aparat negara (termasuk polisi) membentuk sistem kontrol sosial yang tak hanya bekerja lewat kekuatan fisik, tetapi juga lewat pengawasan dan intimidasi psikologis. Masyarakat diajarkanuntuk patuh, bahkan diintimidasi untuk tetap tunduk; menganguk; seolah mereka memampang bahwa kebenaran datangnya dari mereka, dan tindakan anarkis sering kali mereka maktubkan kepada para pengunjuk rasa. Inilah bentuk modern dari kekuasaan hegemonik. Kritik terhadap aparat bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara. Justru, kritik adalah salah satu upaya merawat prinsip negara: Demokrasi. Seperti yang dikatakan oleh pemikir dari Brasil, yang juga berasal dari kalangan masyarakat kelas bawah dan berhasil dipincak jabatan atas perjuangannya karna mengutamakan pendidikan dan pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan di Brasil—Paulo Freire, ia berkata dalam Pedagogi Kaum Tertindas, bahwa rakyat haruslah sadar untuk menolak pendidikan dan praktik kekuasaan yang menindas. Jika negara, melalui wajah aparat kepolisian anti-kritik terhadap suara dan juga pernyataan publik, maka dengannya, terbentuklah warga negara yang trauma dan penuh dengan ketakutan. Sejatinya, perangkat negara (Polisi), harusnya bisa seperti jargon yang sering dilayangkan dalam ruang-ruang publik: mengayomi. Maka, ketika Kapolda Gorontalo memilih untuk tidak hadir merespons aksi yang dilakukan oleh HMI Cabang Gorontalo terkait dengan mempertanyakan; mengklarifikasi; memperjuangkan keadilan dan proses penegakan hukum terhadap salah satu entitas makhluk hidup (manusia); sedihnya dia adalah Kader HMI yang menjadi korban akibat kekerasan dan tindakan premanisme; maka jangan heran publik tidak akan percaya lagi atas ketidakhadiran Kapolda Gorontalo, tetapi juga menciptakan pesan tersirat: ketidakpedulian. Negara seakan absen saat warganya menjerit. Negara, seolah tuli atas hukum dan deklarasi Human of Rights. Negara, seakan tidur melanggengkan aktivitas premanisme. Sejatinya, masyarakat membutuhkan negara yang hadir dengan nurani, bukan hanya dengan otoritas. Internal Kepolisian harusnya melegitimasi dirinya adalah bagian dari satu entitas yang utuh: manusia. Tanpa kacamata (pandangan) itu, legitimasi institusional akan runtuh di mata publik. Sudah saatnya negara dan kepolisian melakukan refleksi: untuk siapa kuasa itu digunakan? Untuk siapa senjata, seragam, dan pangkat itu dibentuk? Jika bukan untuk melindungi rakyat, maka semuanya tak lebih dari simbol kekuasaan kosong. Membedah Keberadaan Polisi dan HMI: Perspektif Sejarah Perjuangan Sejarah bangsa Indonesia tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari keringat, darah, dan air mata perjuangan berbagai elemen: rakyat, pemuda, intelektual, ulama, hingga aparat bersenjata. Dua entitas yang menarik untuk dibedah secara paralel dari perspektif sejarah perjuangan adalah Polisi Republik Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Keduanya lahir di atas semangat yang sama: menjaga keutuhan negara, membela rakyat, dan menciptakan tatanan masyarakat yang berkeadaban. Namun, seiring waktu, jalan sejarah membentangkan posisi yang kadang sejajar, kadang berseberangan. Polisi Republik Indonesia lahir tak lama setelah proklamasi, tepatnya pada 1 Juli 1946. Artinya, keberadaannya kini sudah 79 tahun setelah proses pembentukannya. Saat itu, peran polisi sangatlah vital dalam menjaga keamanan dalam negeri pasca-kemerdekaan. Polisi bukan sekadar aparat penertiban, tetapi bagian dari struktur pertahanan nasional melawan penjajah dan infiltrasi asing. Polisi berdiri bersama rakyat, bahkan banyak yang gugur dalam pertempuran demi mempertahankan kedaulatan bangsa. Namun, seiring berubahnya struktur kekuasaan dan berkembangnya birokrasi negara modern, wajah polisi ikut berubah. Dari aparat revolusioner, polisi bertransformasi menjadi alat kekuasaan negara. Dalam rezim Orde Baru, misalnya, kepolisian menjadi bagian dari aparatur penekan terhadap gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil. Kritik terhadap kekuasaan sering dibungkam melalui represifitas. Maka, muncullah jarak antara polisi dan rakyat yang dulu saling menopang dalam perjuangan. Di samping itu, dalam prespektif sejarah, tepatnya satu tahun setelah kelahiran Polri, tepatnya 5 Februari 1947, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lahir. Didirikan oleh Kakanda Prof. Lafran Pane bersama 14 mahasiswa lainnya, HMI menyatukan dua misi besar: mempertahankan Republik Indonesia dan memperjuangkan nilai-nilai keislaman. Dari awal, HMI telah mengambil peran dalam medan perjuangan intelektual, politik, dan sosial. Ia bukan organisasi pasif, melainkan menjadi jembatan antara semangat keislaman dan nasionalisme. Adalah satu hal yang keliru, memandang kader-kader HMI adalah perusak; perusuh; preman atau anarkis. Sejatinya, bahasa tersebutlah keluar dari kuasa dan tubuh Polri itu sendiri. Sebab, seperti yang diterangkan oleh Thomas Khun dalam kerangka Paradigma, bahwa pengetahuan seringkali dilanggengkan oleh kuasa: seolah kader-kader buruk dan salah. Dalam sejarahnya, HMI konsisten menjadi pengkritik kekuasaan yang otoriter. Di era Orde Lama dan Orde Baru, HMI turut serta dalam perlawanan terhadap berbagai bentuk penyimpangan kekuasaan, termasuk ketika aparat negara bertindak represif terhadap rakyat. HMI juga mencetak kader-kader strategis yang berkiprah dalam pemerintahan, pendidikan, media, dan gerakan masyarakat sipil. Konflik antara HMI dan aparat kepolisian bukanlah hal baru, dan tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari perbedaan peran: polisi sebagai alat negara, HMI sebagai bagian dari masyarakat sipil yang kritis terhadap negara. Dalam sistem demokrasi, gesekan ini seharusnya sehat—selama dilakukan dengan menjunjung hukum dan kemanusiaan. Namun, insiden kekerasan oleh oknum Polres Pohuwato terhadap kader HMI dan tindakan intimidatif dalam aksi protes di Polda Gorontalo menunjukkan kemunduran dalam relasi negara dan masyarakat. Ketika aparat melampaui batas etik dan hukum, ketika makian dan dorongan menjadi cara merespons kritik, maka itu bukan lagi tugas menjaga keamanan, melainkan bentuk penindasan. Dan sejarah mengajarkan kita: setiap kekuasaan yang menindas, cepat atau lambat, akan ditumbangkan oleh perlawanan moral. Refleksi Sejarah untuk Masa Depan Baik polisi maupun HMI lahir dari semangat pengabdian terhadap negara. Namun kesetiaan itu diuji ketika kekuasaan tidak lagi berpihak kepada rakyat. Polisi harus kembali ke khitah-nya: menjadi pelindung dan pengayom masyarakat, bukan alat kekuasaan yang menakutkan. HMI pun harus terus menjaga semangat kritis, namun tetap menjunjung nilai etik dan intelektualitas perjuangan. Jika sejarah telah menyatukan keduanya dalam perjuangan kemerdekaan, maka masa depan seharusnya tidak memisahkan mereka dalam relasi kuasa. Yang dibutuhkan adalah restorasi nilai, refleksi institusional, dan penguatan etika publik. Sebagaimana dikatakan Bung Hatta, “Kekuasaan tanpa moral, hanya akan melahirkan kezaliman.” Dan sebagai kader bangsa, tugas kita adalah memastikan agar perjuangan tidak berubah menjadi penindasan yang dilanggengkan atas nama negara.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p>Oleh: Adnan R. Abas<br />
Kader HMI Cabang Gorontalo</p>
<p>Dalam arsitektur sosial modern, negara hadir melalui tiga entitas utama: pemerintah, masyarakat, dan aparat penegak hukum. Di dalamnya, polisi menempati posisi strategis sebagai perpanjangan tangan negara dalam menjaga ketertiban dan menjamin rasa aman. Namun, yang kerap luput disadari: kekuasaan yang tidak diawasi selalu cenderung disalahgunakan. Maka relasi antara negara, masyarakat, dan polisi pun menjadi arena dialektika—antara perlindungan dan penindasan.</p>
<p>Negara seharusnya berdiri sebagai entitas yang menjamin hak-hak warganya, bukan menakuti mereka. Masyarakat adalah subjek, bukan objek kekuasaan. Dan polisi, idealnya, menjadi pelayan publik, bukan alat kekerasan struktural. Namun realitas sering kali menyajikan ironi: aparat yang semestinya melindungi, justru menjadi sumber trauma bagi rakyatnya.</p>
<p>Kekerasan dan intimidasi oleh oknum Polres Pohuwato terhadap salah satu kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gorontalo menjadi preseden buruk bagi demokrasi lokal. Maka sebagai bentuk respon terhadap lanskap premanisme tersebut, hadirlah aksi protes yang digelar di Polda Gorontalo pada tanggal 24 Juli, tentu sebagai bentuk keberpihakan terhadap korban, sebab ia adalah merupakan bagian dari entitas hidup: manusia. Namun betapa miris dan sedihnya, aksi protes sebagai bentuk solidaritas dan juga ruang kuliah publik—demonstrasi, justru dihadapi dengan tindakan dorongan dan makian oleh oknum aparat kepolisian Polda Gorontalo di sore tadi, tepatnya di gerbang Polda Gorontalo. Ini bukan sekadar pelanggaran etik, tapi juga isyarat adanya krisis moral dan degradasi fungsi kepolisian.</p>
<p>Sejarah mencatat, kekuasaan represif yang dilegalkan atas nama ketertiban, hanya akan melahirkan ketakutan kolektif. Mengutip apa yang disampaikan oleh salah seorang filsuf dari Prancis, yang merupakan sejarawan dan teoriwan sosial, ia menulis dalam bukunya yang berjudul &#8220;Discipline and Punish: The Birth of the Prison&#8221;, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Disiplin dan Hukuman: Kelahiran Penjara—aparat negara (termasuk polisi) membentuk sistem kontrol sosial yang tak hanya bekerja lewat kekuatan fisik, tetapi juga lewat pengawasan dan intimidasi psikologis. Masyarakat diajarkanuntuk patuh, bahkan diintimidasi untuk tetap tunduk; menganguk; seolah mereka memampang bahwa kebenaran datangnya dari mereka, dan tindakan anarkis sering kali mereka maktubkan kepada para pengunjuk rasa. Inilah bentuk modern dari kekuasaan hegemonik.</p>
<p>Kritik terhadap aparat bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara. Justru, kritik adalah salah satu upaya merawat prinsip negara: Demokrasi. Seperti yang dikatakan oleh pemikir dari Brasil, yang juga berasal dari kalangan masyarakat kelas bawah dan berhasil dipincak jabatan atas perjuangannya karna mengutamakan pendidikan dan pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan di Brasil—Paulo Freire, ia berkata dalam Pedagogi Kaum Tertindas, bahwa rakyat haruslah sadar untuk menolak pendidikan dan praktik kekuasaan yang menindas. Jika negara, melalui wajah aparat kepolisian anti-kritik terhadap suara dan juga pernyataan publik, maka dengannya, terbentuklah warga negara yang trauma dan penuh dengan ketakutan. Sejatinya, perangkat negara (Polisi), harusnya bisa seperti jargon yang sering dilayangkan dalam ruang-ruang publik: mengayomi.</p>
<p>Maka, ketika Kapolda Gorontalo memilih untuk tidak hadir merespons aksi yang dilakukan oleh HMI Cabang Gorontalo terkait dengan mempertanyakan; mengklarifikasi; memperjuangkan keadilan dan proses penegakan hukum terhadap salah satu entitas makhluk hidup (manusia); sedihnya dia adalah Kader HMI yang menjadi korban akibat kekerasan dan tindakan premanisme; maka jangan heran publik tidak akan percaya lagi atas ketidakhadiran Kapolda Gorontalo, tetapi juga menciptakan pesan tersirat: ketidakpedulian. Negara seakan absen saat warganya menjerit. Negara, seolah tuli atas hukum dan deklarasi Human of Rights. Negara, seakan tidur melanggengkan aktivitas premanisme.</p>
<p>Sejatinya, masyarakat membutuhkan negara yang hadir dengan nurani, bukan hanya dengan otoritas. Internal Kepolisian harusnya melegitimasi dirinya adalah bagian dari satu entitas yang utuh: manusia. Tanpa kacamata (pandangan) itu, legitimasi institusional akan runtuh di mata publik. Sudah saatnya negara dan kepolisian melakukan refleksi: untuk siapa kuasa itu digunakan? Untuk siapa senjata, seragam, dan pangkat itu dibentuk? Jika bukan untuk melindungi rakyat, maka semuanya tak lebih dari simbol kekuasaan kosong.</p>
<p>Membedah Keberadaan Polisi dan HMI: Perspektif Sejarah Perjuangan</p>
<p>Sejarah bangsa Indonesia tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari keringat, darah, dan air mata perjuangan berbagai elemen: rakyat, pemuda, intelektual, ulama, hingga aparat bersenjata. Dua entitas yang menarik untuk dibedah secara paralel dari perspektif sejarah perjuangan adalah Polisi Republik Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).</p>
<p>Keduanya lahir di atas semangat yang sama: menjaga keutuhan negara, membela rakyat, dan menciptakan tatanan masyarakat yang berkeadaban. Namun, seiring waktu, jalan sejarah membentangkan posisi yang kadang sejajar, kadang berseberangan.</p>
<p>Polisi Republik Indonesia lahir tak lama setelah proklamasi, tepatnya pada 1 Juli 1946. Artinya, keberadaannya kini sudah 79 tahun setelah proses pembentukannya. Saat itu, peran polisi sangatlah vital dalam menjaga keamanan dalam negeri pasca-kemerdekaan. Polisi bukan sekadar aparat penertiban, tetapi bagian dari struktur pertahanan nasional melawan penjajah dan infiltrasi asing. Polisi berdiri bersama rakyat, bahkan banyak yang gugur dalam pertempuran demi mempertahankan kedaulatan bangsa.</p>
<p>Namun, seiring berubahnya struktur kekuasaan dan berkembangnya birokrasi negara modern, wajah polisi ikut berubah. Dari aparat revolusioner, polisi bertransformasi menjadi alat kekuasaan negara. Dalam rezim Orde Baru, misalnya, kepolisian menjadi bagian dari aparatur penekan terhadap gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil. Kritik terhadap kekuasaan sering dibungkam melalui represifitas. Maka, muncullah jarak antara polisi dan rakyat yang dulu saling menopang dalam perjuangan.</p>
<p>Di samping itu, dalam prespektif sejarah, tepatnya satu tahun setelah kelahiran Polri, tepatnya 5 Februari 1947, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lahir. Didirikan oleh Kakanda Prof. Lafran Pane bersama 14 mahasiswa lainnya, HMI menyatukan dua misi besar: mempertahankan Republik Indonesia dan memperjuangkan nilai-nilai keislaman.</p>
<p>Dari awal, HMI telah mengambil peran dalam medan perjuangan intelektual, politik, dan sosial. Ia bukan organisasi pasif, melainkan menjadi jembatan antara semangat keislaman dan nasionalisme. Adalah satu hal yang keliru, memandang kader-kader HMI adalah perusak; perusuh; preman atau anarkis. Sejatinya, bahasa tersebutlah keluar dari kuasa dan tubuh Polri itu sendiri. Sebab, seperti yang diterangkan oleh Thomas Khun dalam kerangka Paradigma, bahwa pengetahuan seringkali dilanggengkan oleh kuasa: seolah kader-kader buruk dan salah.</p>
<p>Dalam sejarahnya, HMI konsisten menjadi pengkritik kekuasaan yang otoriter. Di era Orde Lama dan Orde Baru, HMI turut serta dalam perlawanan terhadap berbagai bentuk penyimpangan kekuasaan, termasuk ketika aparat negara bertindak represif terhadap rakyat. HMI juga mencetak kader-kader strategis yang berkiprah dalam pemerintahan, pendidikan, media, dan gerakan masyarakat sipil.</p>
<p>Konflik antara HMI dan aparat kepolisian bukanlah hal baru, dan tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari perbedaan peran: polisi sebagai alat negara, HMI sebagai bagian dari masyarakat sipil yang kritis terhadap negara. Dalam sistem demokrasi, gesekan ini seharusnya sehat—selama dilakukan dengan menjunjung hukum dan kemanusiaan.</p>
<p>Namun, insiden kekerasan oleh oknum Polres Pohuwato terhadap kader HMI dan tindakan intimidatif dalam aksi protes di Polda Gorontalo menunjukkan kemunduran dalam relasi negara dan masyarakat. Ketika aparat melampaui batas etik dan hukum, ketika makian dan dorongan menjadi cara merespons kritik, maka itu bukan lagi tugas menjaga keamanan, melainkan bentuk penindasan. Dan sejarah mengajarkan kita: setiap kekuasaan yang menindas, cepat atau lambat, akan ditumbangkan oleh perlawanan moral.</p>
<p>Refleksi Sejarah untuk Masa Depan</p>
<p>Baik polisi maupun HMI lahir dari semangat pengabdian terhadap negara. Namun kesetiaan itu diuji ketika kekuasaan tidak lagi berpihak kepada rakyat. Polisi harus kembali ke khitah-nya: menjadi pelindung dan pengayom masyarakat, bukan alat kekuasaan yang menakutkan. HMI pun harus terus menjaga semangat kritis, namun tetap menjunjung nilai etik dan intelektualitas perjuangan.</p>
<p>Jika sejarah telah menyatukan keduanya dalam perjuangan kemerdekaan, maka masa depan seharusnya tidak memisahkan mereka dalam relasi kuasa. Yang dibutuhkan adalah restorasi nilai, refleksi institusional, dan penguatan etika publik.</p>
<p>Sebagaimana dikatakan Bung Hatta, “Kekuasaan tanpa moral, hanya akan melahirkan kezaliman.” Dan sebagai kader bangsa, tugas kita adalah memastikan agar perjuangan tidak berubah menjadi penindasan yang dilanggengkan atas nama negara.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/negara-masyarakat-dan-polisi-relasi-kuasa-dalam-bayang-bayang-ketakutan/">Negara, Masyarakat, dan Polisi: Relasi Kuasa dalam Bayang-Bayang Ketakutan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/negara-masyarakat-dan-polisi-relasi-kuasa-dalam-bayang-bayang-ketakutan/">Negara, Masyarakat, dan Polisi: Relasi Kuasa dalam Bayang-Bayang Ketakutan</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/negara-masyarakat-dan-polisi-relasi-kuasa-dalam-bayang-bayang-ketakutan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sulyanto Pateda Siap Tandatangani Aspirasi Mahasiswa Soal UU TNI dan RUU Polri</title>
		<link>https://barakati.id/sulyanto-pateda-siap-tandatangani-aspirasi-mahasiswa-soal-uu-tni-dan-ruu-polri/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sulyanto-pateda-siap-tandatangani-aspirasi-mahasiswa-soal-uu-tni-dan-ruu-polri</link>
					<comments>https://barakati.id/sulyanto-pateda-siap-tandatangani-aspirasi-mahasiswa-soal-uu-tni-dan-ruu-polri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 May 2025 09:16:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[DPRD PROVINSI]]></category>
		<category><![CDATA[dprd provinsi gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[HMI]]></category>
		<category><![CDATA[Sulyanto pateda]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=25379</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/sulyanto-pateda-siap-tandatangani-aspirasi-mahasiswa-soal-uu-tni-dan-ruu-polri/">Sulyanto Pateda Siap Tandatangani Aspirasi Mahasiswa Soal UU TNI dan RUU Polri</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/sulyanto-pateda-siap-tandatangani-aspirasi-mahasiswa-soal-uu-tni-dan-ruu-polri/">Sulyanto Pateda Siap Tandatangani Aspirasi Mahasiswa Soal UU TNI dan RUU Polri</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-start="237" data-end="670"><button id="bb3" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb3.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("DEPROV - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menyampaikan aspirasi mereka kepada DPRD Provinsi Gorontalo dalam aksi unjuk rasa yang digelar di depan Gedung DPRD, Senin (05/04/2025). Dalam aksi tersebut, HMI meminta DPRD Provinsi Gorontalo menyatakan penolakan terhadap Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) dan mendorong agar pembahasan Rancangan Undang-Undang Kepolisian (RUU Polri) dihentikan di DPR RI. Aksi ini mendapat respons dari Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, Sulyanto Pateda. Saat menerima massa aksi di ruang Paripurna DPRD, Sulianto menyatakan kesediaannya untuk menandatangani tuntutan yang diajukan mahasiswa. “Secara pribadi dan selaku wakil rakyat, saya siap menerima dan menandatangani apa yang diminta oleh teman-teman Himpunan Mahasiswa Islam,” ujar politisi Partai Gerindra tersebut. Ia menegaskan bahwa meskipun dirinya satu partai dengan Presiden Republik Indonesia, hal itu tidak menghalangi dirinya untuk berpihak kepada aspirasi masyarakat. Namun demikian, Sulianto menjelaskan bahwa sikap resmi DPRD sebagai lembaga tetap harus melalui proses pembahasan lintas fraksi. “Secara kelembagaan, kami akan menyampaikan hal ini ke fraksi-fraksi lain karena penandatanganan dokumen ini membutuhkan persetujuan seluruh fraksi,” tambahnya. Lebih lanjut, Sulianto menyatakan bahwa DPRD Provinsi Gorontalo saat ini bersikap lebih terbuka dan tidak hanya fokus pada Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Pemerintah Daerah. Ia juga menyampaikan bahwa DPRD telah membentuk sejumlah panitia khusus (pansus) untuk menangani berbagai persoalan di daerah. “Jika teman-teman mahasiswa meminta dibentuknya Panitia Khusus (Pansus) untuk membahas persoalan ini, kami siap,” tegasnya.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p class="" data-start="237" data-end="670">DEPROV &#8211; Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menyampaikan aspirasi mereka kepada DPRD Provinsi Gorontalo dalam aksi unjuk rasa yang digelar di depan Gedung DPRD, Senin (05/04/2025). Dalam aksi tersebut, HMI meminta DPRD Provinsi Gorontalo menyatakan penolakan terhadap Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) dan mendorong agar pembahasan Rancangan Undang-Undang Kepolisian (RUU Polri) dihentikan di DPR RI.</p>
<p class="" data-start="672" data-end="894">Aksi ini mendapat respons dari Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, Sulyanto Pateda. Saat menerima massa aksi di ruang Paripurna DPRD, Sulianto menyatakan kesediaannya untuk menandatangani tuntutan yang diajukan mahasiswa.</p>
<p class="" data-start="672" data-end="894">“Secara pribadi dan selaku wakil rakyat, saya siap menerima dan menandatangani apa yang diminta oleh teman-teman Himpunan Mahasiswa Islam,” ujar politisi Partai Gerindra tersebut.</p>
<p class="" data-start="1079" data-end="1240">Ia menegaskan bahwa meskipun dirinya satu partai dengan Presiden Republik Indonesia, hal itu tidak menghalangi dirinya untuk berpihak kepada aspirasi masyarakat.</p>
<p class="" data-start="1242" data-end="1370">Namun demikian, Sulianto menjelaskan bahwa sikap resmi DPRD sebagai lembaga tetap harus melalui proses pembahasan lintas fraksi.</p>
<p class="" data-start="1242" data-end="1370">“Secara kelembagaan, kami akan menyampaikan hal ini ke fraksi-fraksi lain karena penandatanganan dokumen ini membutuhkan persetujuan seluruh fraksi,” tambahnya.</p>
<p class="" data-start="1536" data-end="1849">Lebih lanjut, Sulianto menyatakan bahwa DPRD Provinsi Gorontalo saat ini bersikap lebih terbuka dan tidak hanya fokus pada Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Pemerintah Daerah. Ia juga menyampaikan bahwa DPRD telah membentuk sejumlah panitia khusus (pansus) untuk menangani berbagai persoalan di daerah.</p>
<p class="" data-start="1536" data-end="1849">“Jika teman-teman mahasiswa meminta dibentuknya Panitia Khusus (Pansus) untuk membahas persoalan ini, kami siap,” tegasnya.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/sulyanto-pateda-siap-tandatangani-aspirasi-mahasiswa-soal-uu-tni-dan-ruu-polri/">Sulyanto Pateda Siap Tandatangani Aspirasi Mahasiswa Soal UU TNI dan RUU Polri</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/sulyanto-pateda-siap-tandatangani-aspirasi-mahasiswa-soal-uu-tni-dan-ruu-polri/">Sulyanto Pateda Siap Tandatangani Aspirasi Mahasiswa Soal UU TNI dan RUU Polri</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/sulyanto-pateda-siap-tandatangani-aspirasi-mahasiswa-soal-uu-tni-dan-ruu-polri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fauzia Noorchaliza Tantu Dilantik sebagai Ketua Kohati HMI Cabang Bogor Periode 2024/2025</title>
		<link>https://barakati.id/fauzia-noorchaliza-tantu-dilantik-sebagai-ketua-kohati-hmi-cabang-bogor-periode-2024-2025/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=fauzia-noorchaliza-tantu-dilantik-sebagai-ketua-kohati-hmi-cabang-bogor-periode-2024-2025</link>
					<comments>https://barakati.id/fauzia-noorchaliza-tantu-dilantik-sebagai-ketua-kohati-hmi-cabang-bogor-periode-2024-2025/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Jun 2024 03:22:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[HMI]]></category>
		<category><![CDATA[kohati]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=22425</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/fauzia-noorchaliza-tantu-dilantik-sebagai-ketua-kohati-hmi-cabang-bogor-periode-2024-2025/">Fauzia Noorchaliza Tantu Dilantik sebagai Ketua Kohati HMI Cabang Bogor Periode 2024/2025</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/fauzia-noorchaliza-tantu-dilantik-sebagai-ketua-kohati-hmi-cabang-bogor-periode-2024-2025/">Fauzia Noorchaliza Tantu Dilantik sebagai Ketua Kohati HMI Cabang Bogor Periode 2024/2025</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb4" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb4.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("BOGOR - Fauzia Noorchaliza Tantu, seorang mahasiswa asal Gorontalo yang saat ini menempuh pendidikan di IPB Bogor, resmi dilantik sebagai Ketua Korps HMI-wati (Kohati) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor untuk periode 2024/2025. Acara pelantikan berlangsung khidmat di auditorium Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor pada Sabtu, (01/06/ 2024). Pelantikan ini dihadiri oleh berbagai tokoh HMI dan anggotanya, yang hadir untuk memberikan dukungan serta menyampaikan harapan bagi kepengurusan Kohati di bawah kepemimpinan Fauzia. Dalam sambutannya, Fauzia menekankan komitmennya untuk membawa Kohati HMI Cabang Bogor menjadi lebih aktif dan inovatif dalam menjalankan berbagai program yang bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar. “Ini adalah amanah besar yang saya terima dengan penuh tanggung jawab. Saya berharap bisa membawa perubahan positif dan berkontribusi nyata bagi kemajuan organisasi serta anggota Kohati HMI Cabang Bogor,” ujar Fauzia dalam pidatonya. Selain acara pelantikan, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi panel yang menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi dan aktivis. Diskusi ini membahas berbagai isu penting terkait peran mahasiswa dalam pembangunan masyarakat serta pemberdayaan perempuan. Pelantikan ini diharapkan dapat menjadi titik awal bagi Kohati HMI Cabang Bogor untuk semakin berkembang dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan. Fauzia berharap agar organisasi ini dapat menjadi wadah yang efektif untuk meningkatkan kualitas dan kapabilitas anggotanya, serta memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Acara pelantikan berjalan lancar dan penuh khidmat, ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama para pengurus baru serta tamu undangan. Kehadiran banyak tokoh dan anggota HMI di acara ini menunjukkan dukungan penuh terhadap kepemimpinan baru Kohati HMI Cabang Bogor, dengan harapan besar akan kemajuan dan inovasi di masa depan.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p>BOGOR &#8211; Fauzia Noorchaliza Tantu, seorang mahasiswa asal Gorontalo yang saat ini menempuh pendidikan di IPB Bogor, resmi dilantik sebagai Ketua Korps HMI-wati (Kohati) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor untuk periode 2024/2025. Acara pelantikan berlangsung khidmat di auditorium Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor pada Sabtu, (01/06/ 2024).</p>
<p>Pelantikan ini dihadiri oleh berbagai tokoh HMI dan anggotanya, yang hadir untuk memberikan dukungan serta menyampaikan harapan bagi kepengurusan Kohati di bawah kepemimpinan Fauzia. Dalam sambutannya, Fauzia menekankan komitmennya untuk membawa Kohati HMI Cabang Bogor menjadi lebih aktif dan inovatif dalam menjalankan berbagai program yang bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar.</p>
<p>“Ini adalah amanah besar yang saya terima dengan penuh tanggung jawab. Saya berharap bisa membawa perubahan positif dan berkontribusi nyata bagi kemajuan organisasi serta anggota Kohati HMI Cabang Bogor,” ujar Fauzia dalam pidatonya.</p>
<p>Selain acara pelantikan, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi panel yang menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi dan aktivis. Diskusi ini membahas berbagai isu penting terkait peran mahasiswa dalam pembangunan masyarakat serta pemberdayaan perempuan.</p>
<p>Pelantikan ini diharapkan dapat menjadi titik awal bagi Kohati HMI Cabang Bogor untuk semakin berkembang dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan. Fauzia berharap agar organisasi ini dapat menjadi wadah yang efektif untuk meningkatkan kualitas dan kapabilitas anggotanya, serta memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.</p>
<p>Acara pelantikan berjalan lancar dan penuh khidmat, ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama para pengurus baru serta tamu undangan. Kehadiran banyak tokoh dan anggota HMI di acara ini menunjukkan dukungan penuh terhadap kepemimpinan baru Kohati HMI Cabang Bogor, dengan harapan besar akan kemajuan dan inovasi di masa depan.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/fauzia-noorchaliza-tantu-dilantik-sebagai-ketua-kohati-hmi-cabang-bogor-periode-2024-2025/">Fauzia Noorchaliza Tantu Dilantik sebagai Ketua Kohati HMI Cabang Bogor Periode 2024/2025</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/fauzia-noorchaliza-tantu-dilantik-sebagai-ketua-kohati-hmi-cabang-bogor-periode-2024-2025/">Fauzia Noorchaliza Tantu Dilantik sebagai Ketua Kohati HMI Cabang Bogor Periode 2024/2025</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/fauzia-noorchaliza-tantu-dilantik-sebagai-ketua-kohati-hmi-cabang-bogor-periode-2024-2025/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nama Elnino Berkali-kali Disebut Thariq Modanggu Pada Silatda KAHMI</title>
		<link>https://barakati.id/nama-elnino-berkali-kali-disebut-thariq-modanggu-pada-silatda-kahmi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=nama-elnino-berkali-kali-disebut-thariq-modanggu-pada-silatda-kahmi</link>
					<comments>https://barakati.id/nama-elnino-berkali-kali-disebut-thariq-modanggu-pada-silatda-kahmi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2021 05:41:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[elnino mohi]]></category>
		<category><![CDATA[HMI]]></category>
		<category><![CDATA[Kahmi]]></category>
		<category><![CDATA[Silatda]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[thariq modanggu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=11811</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/nama-elnino-berkali-kali-disebut-thariq-modanggu-pada-silatda-kahmi/">Nama Elnino Berkali-kali Disebut Thariq Modanggu Pada Silatda KAHMI</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/nama-elnino-berkali-kali-disebut-thariq-modanggu-pada-silatda-kahmi/">Nama Elnino Berkali-kali Disebut Thariq Modanggu Pada Silatda KAHMI</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb5" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb5.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("GORONTALO - Sejumlah tokoh menghadiri silaturahmi daerah (Silatda) yang diselenggarakan keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Pohuwato, di Marina Beach Resort, (15/10/2021). Salah satunya Anggota Komisi X DPR RI Elnino M. Husein Mohi. Dihadapan para peserta Elnino dipercayakan oleh penyelenggara untuk mengulas kembali napak tilas perjalanan pembentukan Provinsi Gorontalo. Kecakapan Elnino menyusun kata menjadi kalimat berhasil memainkan emosional para peserta yang hadir, seolah mereka terlibat dalam peristiwa bersejarah bagi rakyat provinsi Gorontalo. \"Saya mengucapkan terima kasih ke panitia Silatda KAHMI yang telah memberikan kepercayaan untuk menjadi pemateri utama dalam kegiatan malam ini, dan juga Bupati Pohuwato Saipul Mbuinga,\" Ungkapnya. Ia juga menambahkan, dalam pelaksanaan kegiatan ini, ada yang membuat dirinya terkesan dan bertanya-tanya, pasalnya Wakil Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu yang juga menjadi narasumber, menyebut namanya berulang kali dihadapan para peserta. \"Saya melihat banyak ilmu baru yang bisa kita petik dalam materinya Thoriq modanggu tadi tetapi ada satu hal yang saya tangkap yakni selama ia memberikan materi ada sebanyak 7 kali ia menyebutkan nama saya,\" Kata Elnino.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p>GORONTALO &#8211; Sejumlah tokoh menghadiri silaturahmi daerah (Silatda) yang diselenggarakan keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Pohuwato, di Marina Beach Resort, (15/10/2021).</p>
<p>Salah satunya Anggota Komisi X DPR RI Elnino M. Husein Mohi. Dihadapan para peserta Elnino dipercayakan oleh penyelenggara untuk mengulas kembali napak tilas perjalanan pembentukan Provinsi Gorontalo.</p>
<p>Kecakapan Elnino menyusun kata menjadi kalimat berhasil memainkan emosional para peserta yang hadir, seolah mereka terlibat dalam peristiwa bersejarah bagi rakyat provinsi Gorontalo.</p>
<p>&#8220;Saya mengucapkan terima kasih ke panitia Silatda KAHMI yang telah memberikan kepercayaan untuk menjadi pemateri utama dalam kegiatan malam ini, dan juga Bupati Pohuwato Saipul Mbuinga,&#8221; Ungkapnya.</p>
<p>Ia juga menambahkan, dalam pelaksanaan kegiatan ini, ada yang membuat dirinya terkesan dan bertanya-tanya, pasalnya Wakil Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu yang juga menjadi narasumber, menyebut namanya berulang kali dihadapan para peserta.</p>
<p>&#8220;Saya melihat banyak ilmu baru yang bisa kita petik dalam materinya Thoriq modanggu tadi tetapi ada satu hal yang saya tangkap yakni selama ia memberikan materi ada sebanyak 7 kali ia menyebutkan nama saya,&#8221; Kata Elnino.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/nama-elnino-berkali-kali-disebut-thariq-modanggu-pada-silatda-kahmi/">Nama Elnino Berkali-kali Disebut Thariq Modanggu Pada Silatda KAHMI</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/nama-elnino-berkali-kali-disebut-thariq-modanggu-pada-silatda-kahmi/">Nama Elnino Berkali-kali Disebut Thariq Modanggu Pada Silatda KAHMI</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/nama-elnino-berkali-kali-disebut-thariq-modanggu-pada-silatda-kahmi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tak ada Reorganisasi, Ketua BEM UNG Aldi Ibura Soroti Kinerja Pengurus HMI Cabang Gorontalo</title>
		<link>https://barakati.id/tak-ada-reorganisasi-ketua-bem-ung-aldi-ibura-soroti-kinerja-pengurus-hmi-cabang-gorontalo/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tak-ada-reorganisasi-ketua-bem-ung-aldi-ibura-soroti-kinerja-pengurus-hmi-cabang-gorontalo</link>
					<comments>https://barakati.id/tak-ada-reorganisasi-ketua-bem-ung-aldi-ibura-soroti-kinerja-pengurus-hmi-cabang-gorontalo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2020 07:13:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO]]></category>
		<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[HMI]]></category>
		<category><![CDATA[Pengurus HMI]]></category>
		<category><![CDATA[presiden bem ung]]></category>
		<category><![CDATA[ung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=5534</guid>

					<description><![CDATA[<p>GORONTALO-Sebagai Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Presiden BEM Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Aldi Ibura, mempertanyakan kinerja ketua terpilih HMI Cabang Gorontalo saat ini. Pasalnya, sudah memasuki 3 tahun masa kepengurusan, belum juga ada tanda-tanda akan diadakan musyawarah cabang untuk reorganisasi pengurus kembali. Menurut Aldi Ibura, berbicara tentang aturan reorganisasi pengurus, HMI Cabang Gorontalo merujuk pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/tak-ada-reorganisasi-ketua-bem-ung-aldi-ibura-soroti-kinerja-pengurus-hmi-cabang-gorontalo/">Tak ada Reorganisasi, Ketua BEM UNG Aldi Ibura Soroti Kinerja Pengurus HMI Cabang Gorontalo</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/tak-ada-reorganisasi-ketua-bem-ung-aldi-ibura-soroti-kinerja-pengurus-hmi-cabang-gorontalo/">Tak ada Reorganisasi, Ketua BEM UNG Aldi Ibura Soroti Kinerja Pengurus HMI Cabang Gorontalo</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="listenButton1" class="responsivevoice-button" type="button" value="Play" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan Berita</span></button>
        <script>
            listenButton1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("GORONTALO-Sebagai Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Presiden BEM Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Aldi Ibura, mempertanyakan kinerja ketua terpilih HMI Cabang Gorontalo saat ini. Pasalnya, sudah memasuki 3 tahun masa kepengurusan, belum juga ada tanda-tanda akan diadakan musyawarah cabang untuk reorganisasi pengurus kembali. Menurut Aldi Ibura, berbicara tentang aturan reorganisasi pengurus, HMI Cabang Gorontalo merujuk pada kontistusi hasil Kongres Ambon ke 30. Di mana dalam Pasal 13, nomor 5 dan 6 menyebutkan, Konfercab/Muscab diselenggarakan satu kali dalam setahun. Dan pada poin 6, jika ayat 5 tidak terpenuhi, maka Pengurus Besar HMI menunjuk karakter untuk menyelenggarakan Konfercab / Muscab. \"Pada kepengurusan HMI Cabang Gorontalo periode 2018 sampai dengan saat ini yang diketuai oleh Ketum Arlan. Pasalnya semenjak dilantik pada tahun 2018, sampai dengan tahun ini belum ada yang namanya Reorganisasi, atau bergantinya kepengurusan,\'\' kata Aldi kepada awak media, Senin (13/7). Sehingga menurut Aldi, ketika merujuk pada konstitusi yang dilahirkan pada kongres kemarin, kondisi kepengurusan saat ini jelas bertentangan dengan aturan yang berlaku. \"Saya sebagai Kader HMI Cabang Gorontalo, Komisariat Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo, Sangat Prihatin dan merasa jengah dengan Kondisi Seperti ini\" ujarnya. Ia berharap, kedepannya, kepengurusan HMI Cabang Gorontalo yang masih digenggaman saudara Arlan, lebih legowo dan mengedepankan kesadaran untuk membuka ruang demokrasi sehingga bisa memberikan kesempatan kepada semua kader berproses di organisasi. \"Apalagi di depan ini akan ada penerimaan mahasiswa baru, tentu HMI perlu diperkenalkan,\" tutup Aldi.", "UK English Female");
                }
            };
        </script>
    
<p>GORONTALO-Sebagai Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Presiden BEM Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Aldi Ibura, mempertanyakan kinerja ketua terpilih HMI Cabang Gorontalo saat ini. Pasalnya, sudah memasuki 3 tahun masa kepengurusan, belum juga ada tanda-tanda akan diadakan musyawarah cabang untuk reorganisasi pengurus kembali.</p>
<p>Menurut Aldi Ibura, berbicara tentang aturan reorganisasi pengurus, HMI Cabang Gorontalo merujuk pada kontistusi hasil Kongres Ambon ke 30. Di mana dalam Pasal 13, nomor 5 dan 6 menyebutkan, Konfercab/Muscab diselenggarakan satu kali dalam setahun. Dan pada poin 6, jika ayat 5 tidak terpenuhi, maka Pengurus Besar HMI menunjuk karakter untuk menyelenggarakan Konfercab / Muscab.</p>
<p>&#8220;Pada kepengurusan HMI Cabang Gorontalo periode 2018 sampai dengan saat ini yang diketuai oleh Ketum Arlan. Pasalnya semenjak dilantik pada tahun 2018, sampai dengan tahun ini belum ada yang namanya Reorganisasi, atau bergantinya kepengurusan,&#8221; kata Aldi kepada awak media, Senin (13/7).</p>
<p>Sehingga menurut Aldi, ketika merujuk pada konstitusi yang dilahirkan pada kongres kemarin, kondisi kepengurusan saat ini jelas bertentangan dengan aturan yang berlaku.</p>
<p>&#8220;Saya sebagai Kader HMI Cabang Gorontalo, Komisariat Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo, Sangat Prihatin dan merasa jengah dengan Kondisi Seperti ini&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ia berharap, kedepannya, kepengurusan HMI Cabang Gorontalo yang masih digenggaman saudara Arlan, lebih legowo dan mengedepankan kesadaran untuk membuka ruang demokrasi sehingga bisa memberikan kesempatan kepada semua kader berproses di organisasi.</p>
<p>&#8220;Apalagi di depan ini akan ada penerimaan mahasiswa baru, tentu HMI perlu diperkenalkan,&#8221; tutup Aldi.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/tak-ada-reorganisasi-ketua-bem-ung-aldi-ibura-soroti-kinerja-pengurus-hmi-cabang-gorontalo/">Tak ada Reorganisasi, Ketua BEM UNG Aldi Ibura Soroti Kinerja Pengurus HMI Cabang Gorontalo</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/tak-ada-reorganisasi-ketua-bem-ung-aldi-ibura-soroti-kinerja-pengurus-hmi-cabang-gorontalo/">Tak ada Reorganisasi, Ketua BEM UNG Aldi Ibura Soroti Kinerja Pengurus HMI Cabang Gorontalo</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/tak-ada-reorganisasi-ketua-bem-ung-aldi-ibura-soroti-kinerja-pengurus-hmi-cabang-gorontalo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>POLITIK IDENTITAS MENJELANG PEMILU 2019</title>
		<link>https://barakati.id/politik-identitas-menjelang-pemilu-2019/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=politik-identitas-menjelang-pemilu-2019</link>
					<comments>https://barakati.id/politik-identitas-menjelang-pemilu-2019/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2018 10:16:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ruang Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[HMI]]></category>
		<category><![CDATA[PB HMI]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu 2019]]></category>
		<category><![CDATA[Shaqti Qhalbuddin Jusuf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=16794</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Shaqti Qhalbuddin JusufFungsionaris PB HMI Periode 2018-2020 Tahun 2018 memulai dinamika politik baru di Indonesia menuju pemilihan umum 2019. Dalam kampanye pemilihan, isu identitas menjadi salah satu topik yang sering dibahas dan menjadi fokus utama. Ini mengalihkan perhatian dari program-program yang ditawarkan oleh calon dan dapat memiliki dampak negatif pada kualitas demokrasi di [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/politik-identitas-menjelang-pemilu-2019/">POLITIK IDENTITAS MENJELANG PEMILU 2019</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/politik-identitas-menjelang-pemilu-2019/">POLITIK IDENTITAS MENJELANG PEMILU 2019</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p><em>Oleh : Shaqti Qhalbuddin Jusuf</em><br><em>Fungsionaris PB HMI Periode 2018-2020</em><br><br><br>Tahun 2018 memulai dinamika politik baru di Indonesia menuju pemilihan umum 2019. Dalam kampanye pemilihan, isu identitas menjadi salah satu topik yang sering dibahas dan menjadi fokus utama. Ini mengalihkan perhatian dari program-program yang ditawarkan oleh calon dan dapat memiliki dampak negatif pada kualitas demokrasi di Indonesia. Perdebatan tentang identitas dan isu-isu yang berkaitan dapat menimbulkan polarisasi dan mengurangi diskusi produktif tentang hal-hal seperti visi dan misi calon, solusi untuk masalah negara, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kebijakan publik. </p>



<p>Politik
identitas merupakan isu penting dalam perpolitikan Indonesia, khususnya dalam
kontestasi pemilihan umum. Meskipun isu ini tidak baru, istilah &#8220;politik
identitas&#8221; sendiri mungkin masih kurang familiar bagi sebagian besar
masyarakat. Politik identitas dapat didefinisikan sebagai gaya politik yang
berusaha memperjuangkan hak dan martabat kelompok tertentu yang dirasa
termarginalisasi. Hal ini bisa dilakukan dengan memperkuat rasa identitas
bersama melalui faktor-faktor seperti suku, agama, ras, jenis kelamin, atau
kepentingan yang sama. </p>



<p>Ditengah kondisi
masyarakat yang masih berharap kepentingan dari kelompok mereka dapat
terealisasi, politik identitas dapat dijadikan senjata yang cukup ampuh dalam
memenangkan pemilu. Politik identitas ini biasa digunakan oleh para calon untuk
menggambarkan citra diri bahwa ada kesamaan latarbelakang ataupun tujuan yang
sesuai dengan kepentingan kelompok masyarakat tertentu, hal ini semata-mata untuk
menarik simpati dari kelompok masyarakat itu agar mau menyumbangkan suara
mereka untuk calon tersebut. </p>



<p>Politik
identitas memang dapat menjadi strategi yang menarik perhatian dan meraup
suara. Namun, harus diakui bahwa politik identitas juga memiliki beberapa efek
samping. Pada saat sebuah kelompok masyarakat memiliki identitas dan
kepentingan yang sama dengan calon yang berkampanye, persatuan antara mereka
dapat tercipta. Namun, pada saat yang sama, ada kemungkinan juga akan terjadi
perpecahan karena ada kelompok masyarakat lain yang memiliki identitas dan
kepentingan yang berbeda dari apa yang ditawarkan oleh calon tersebut.</p>



<p>Konflik sosial
menjelang pemilu biasanya muncul akibat menguatnya politik identitas. Narasi
dalam politik identitas yang muncul menjelang pemilu 2019 berpotensi
menimbulkan segregasi dalam tatanan sosial di masyarakat. Keretakan yang muncul
dari pertemanan hingga kekeluarga akibat perbedaan pilihan dukungan terhadap
calon tertentu. Penerapan politik identitas yang menyimpang akan sangat
merugikan suatu kelompok yang memiliki satu identitas yang sama. Apalagi
menjelang Pilpres 2019 ini, terjadi peningkatan <em>hate speech</em> (ujaran
kebencian) yang memenuhi ruang-ruang publik terutama di media sosial. </p>



<p>Politik
identitas, meskipun memiliki peran penting dalam demokrasi dan menjadi wadah
aspirasi bagi kelompok-kelompok yang memiliki identitas tertentu, harus
diterjemahkan dengan cara yang sopan dan berkualitas. Identitas politik harus
memperhatikan etika dan moral, serta tidak mengabaikan atau menghina kelompok
lain yang berbeda. Dalam hal ini, politik identitas baik yang berbasis pada
agama, etnis, kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham, dan polarisasi
politik yang ekstrem, harus dikembangkan dengan cara yang tidak merusak persatuan
dan kesatuan bangsa. </p>



<p><strong>Polarisasi Politik Identitas</strong></p>



<p>Polarisasi
politik identitas yang berkembang saat ini, membawa dampak negatif pada
keharmonisan sosial di masyarakat. Elite politik seharusnya memimpin dengan
baik dan memberikan contoh bagaimana berkompetisi secara sehat dan elegan,
namun ternyata banyak dari mereka yang justru memperkeruh situasi dengan
mengabaikan etika dan moral. Hasilnya, bullying, pemblokiran akun media sosial,
perpecahan kelompok-kelompok keluarga, bahkan tindak kekerasan terhadap pihak
yang berbeda orientasi politik, menunjukkan bahwa masyarakat gagal dalam
menilai perbedaan demokratis.</p>



<p>Virus kengototan
dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran masing-masing, turut memperparah
situasi. Para elite politik bertanggung jawab untuk membimbing masyarakat
dengan pendidikan politik yang baik dan mengajarkan nilai-nilai demokrasi yang
sebenar-benarnya. Rekonsiliasi nasional juga sangat penting untuk memperbaiki
situasi dan menyelesaikan kegaduhan yang membahayakan.</p>



<p>Di samping itu,
masyarakat sendiri perlu memperkuat cara berpikir rasional dan menerima
perbedaan, termasuk dalam hal pilihan politik. Tanpa rasa toleransi dan
memahami perbedaan, situasi akan terus memburuk dan merugikan masyarakat secara
keseluruhan.</p>



<p>Pemilihan
presiden dan gubernur di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah
memperlihatkan tanda-tanda polarisasi yang sangat kuat. Dalam Pilpres 2014 dan
Pilgub Jakarta 2017, diskursus media sosial memainkan peran besar dalam
memperluas perpecahan dalam masyarakat. Fenomena polarisasi semakin jelas
terlihat sejak Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017, dan mencapai titik
puncaknya pada Pilpres 2019. Dalam Pilgub DKI Jakarta 2017, fokus kampanye yang
berpusat pada Islam dan rehabilitasi istilah &#8220;pribumi&#8221; merupakan
contoh nyata dari polarisasi politik. Isu agama, terutama pernyataan
kontroversial Ahok terhadap surat Al-Maidah ayat 51, memiliki dampak signifikan
terhadap kemenangan Anies-Sandi dalam pemilihan tersebut. </p>



<p>Menjelang pemilu
tahun 2019, konflik-konflik pembelahan politik yang terpolarisasi seperti
panggilan &#8220;cebong&#8221; bagi pendukung calon presiden petahana Joko Widodo
dan &#8220;kampret&#8221; untuk pendukung Prabowo Subianto. Pembelahan-pembelahan
semacam ini perlu direduksi, sebab kedamaian dan keharmonisan merupakan entitas
yang harus terus dilestarikan di tengah-tengah masyarakat.</p>



<p><strong>Persatuan ditengah
Kemajemukan</strong></p>



<p>Secara
Sunatullah, setiap orang memang lahir berbeda antara satu dengan yang lain.
Perbedaan merupakan suatu hal yang tidak dapat diterima oleh seluruh
masyarakat, namun harus diterima dan dalam hal ini disikapi secara bijak. Dalam
UUD 1945, perbedaan diterima dengan cara memberikan perlakuan yang sama dan
tidak diskriminatif pada setiap warga negara. Pasal 27 UUD 1945 menyatakan
bahwa setiap warga negara memiliki martabat dan hak yang sama dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan tersebut tanpa
terkecuali.</p>



<p>Keberagaman
adalah sebuah ciri khas yang membuat bangsa Indonesia begitu unik. Dengan
berbagai latar belakang, identitas, dan keyakinan, kita berhasil menjadi satu
kesatuan yang kuat dan bersatu. Meskipun banyak perbedaan yang mendasar, namun
kita pasti mampu mengatasi hal tersebut dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip
persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia.</p>



<p><strong>Politik dan Aktivitas Sosial</strong></p>



<p>Dunia politik
merupakan sebuah domain aktivitas sosial yang menyangkut perebutan dan
pendistribusian kekuasaan. Dunia politik mempunyai karakteristik tersendiri
yang berbeda dengan domain aktivitas sosial lainnya. Karekter tersebut terbagi
atas; Pertama, masyarakat turut terlibat secara langsung maupun tidak langsung
di dalam dunia politik. Artinya, ada masyarakat yang secara langsung turut
terjun dalam proses politik dan ada juga masyarakat yang tidak berperan
apa-apa, tetapi keduanya merasakan dampak dari aktivitas politik tersebut. </p>



<p>Kedua,
tersedianya institusi (lembaga) yang secara legal mengatur aktivitas politik.
Lembaga inilah yang menjadi <em>tools</em> (alat) dalam aktivitas politik,
seperti; publik, media, penyelenggara pemilu, parpol serta parlemen. Ketiga,
aturan main dan etika dalam dunia perpolitikan merupakan hal yang harus
dijunjung tinggi. Hal ini dipandang perlu, sebab untuk menghindari konflik
antar aktor-aktor didalamnya, meskipun kadangkala konflik dibutuhkan dalam
batasan-batasan tertentu. Berkonflik lalu berkompromi, begitu seterusnya hingga
menciptakan dinamika yang membuat proses politik dapat terus berkembang dan
bertransformasi. Namun, ketika konflik politik ini tidak dapat dibendung, maka
yang sering merasakan dampaknya tidak lain adalah masyarakat. </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/politik-identitas-menjelang-pemilu-2019/">POLITIK IDENTITAS MENJELANG PEMILU 2019</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/politik-identitas-menjelang-pemilu-2019/">POLITIK IDENTITAS MENJELANG PEMILU 2019</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/politik-identitas-menjelang-pemilu-2019/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
