<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kelalaian Pesantren Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/kelalaian-pesantren/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/kelalaian-pesantren/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2026 08:39:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.14</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>Kelalaian Pesantren Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/kelalaian-pesantren/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sebelas Hari Tanpa Kejelasan! Ayah Santriwati Korban Tenggelam Pertanyakan Tanggung Jawab Ponpes Hubulo</title>
		<link>https://barakati.id/sebelas-hari-tanpa-kejelasan-ayah-santriwati-korban-tenggelam-pertanyakan-tanggung-jawab-ponpes-hubulo/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sebelas-hari-tanpa-kejelasan-ayah-santriwati-korban-tenggelam-pertanyakan-tanggung-jawab-ponpes-hubulo</link>
					<comments>https://barakati.id/sebelas-hari-tanpa-kejelasan-ayah-santriwati-korban-tenggelam-pertanyakan-tanggung-jawab-ponpes-hubulo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2026 08:39:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Bone Bolango]]></category>
		<category><![CDATA[berita Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Hukum Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Terbaru Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Dolot Alhasni Bakung]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus Hukum Ponpes Hubulo]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus Santriwati Meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[Kelalaian Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Kemenag Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[polres bone bolango]]></category>
		<category><![CDATA[Ponpes Hubulo Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Santriwati Tenggelam Bone Bolango]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Negeri Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Botumotolioluwo Longalo]]></category>
		<category><![CDATA[Yudin Yunus Kuasa Hukum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=31926</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/sebelas-hari-tanpa-kejelasan-ayah-santriwati-korban-tenggelam-pertanyakan-tanggung-jawab-ponpes-hubulo/">Sebelas Hari Tanpa Kejelasan! Ayah Santriwati Korban Tenggelam Pertanyakan Tanggung Jawab Ponpes Hubulo</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/sebelas-hari-tanpa-kejelasan-ayah-santriwati-korban-tenggelam-pertanyakan-tanggung-jawab-ponpes-hubulo/">Sebelas Hari Tanpa Kejelasan! Ayah Santriwati Korban Tenggelam Pertanyakan Tanggung Jawab Ponpes Hubulo</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("News - Hari kesebelas pasca-tragedi maut yang merenggut nyawa putrinya, Dr. Dolot Alhasni Bakung, S.H., M.H., yang juga merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Negeri Gorontalo (UNG), masih menyisakan duka mendalam bercampur tanda tanya besar. Hingga kini, pihak Pondok Pesantren Hubulo belum memberikan penjelasan transparan terkait insiden yang menimpa anak kandungnya. Kisah kelam tersebut bermula sebelas hari lalu di tengah kesibukan harian. Sebuah panggilan telepon mendadak datang dari sang istri yang mengabarkan bahwa putri mereka, ANB (13), telah berada di Rumah Sakit Toto Kabila. Tanpa buang waktu, Dolot bergegas menuju rumah sakit. Namun, setibanya di sana, ia mendapati putrinya yang tercatat sebagai santriwati kelas 7 Pondok Pesantren Hubulo tersebut sudah terbujur kaku tak bernyawa. Pada hari itu juga, jenazah almarhumah langsung dibawa ke kampung halaman keluarga di Desa Lolak, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, untuk dimakamkan. \"Pagi itu anak saya masih sehat. Siangnya saya menerima kabar ia sudah tiada. Hari itu juga kami memakamkannya. Semua terjadi dalam satu hari,\" kenang Dolot dengan nada berat. Mengenang Sosok ANB yang Bercita-Cita Jadi Dokter Kehadiran ANB di Pondok Pesantren Hubulo dilandasi niat mulia untuk mengikuti jejak sang kakak sekaligus memperdalam ilmu agama agar tumbuh menjadi anak yang salehah. Berbeda dengan santri baru pada umumnya yang kerap menangis atau mengalami penurunan berat badan akibat rindu rumah, ANB justru menunjukkan adaptasi yang luar biasa. \"Anak-anak lain menangis, berat badannya turun. Anak saya malah tersenyum. Berat badannya justru naik,\" tutur Dolot mengenang. Di kediaman keluarga, almarhumah dikenal sebagai sosok yang ceria, aktif, mandiri dalam menyelesaikan masalah, serta gemar bercerita setiap kali pulang berlibur. Kegemarannya memelihara kucing turut mewarnai hari-harinya di pondok. Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, ANB bahkan telah menghafal sekitar 20 surat Al-Qur\'an dan tengah bersiap menyetorkan sisa hafalannya sebelum liburan tiba. Di balik keceriaannya, almarhumah menyimpan cita-cita luhur untuk menjadi seorang dokter agar dapat merawat orang sakit, termasuk kedua orang tua serta kakek dan neneknya. Ia juga dikenal memiliki kepedulian tinggi, ikhlas berbagi, dan rajin bersedekah meski dalam jumlah kecil. Ketika masa kepulangan tiba, meski banyak teman seangkatannya memilih pulang lebih awal, ANB memilih bertahan di pesantren demi menunggu sang kakak agar mereka bisa pulang bersama ke rumah. \"Alasannya, ia ingin berkumpul bersama keluarga,\" tambah Dolot. Tragedi di Sungai dan Bungkamnya Pihak Pesantren Almarhumah ANB mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat (23/10/2026) setelah mengalami insiden tenggelam di aliran sungai kawasan Wisata Botumotolioluwo, Desa Longalo, Kabupaten Bone Bolango. Berdasarkan informasi yang dihimpun keluarga, kegiatan luar ruangan tersebut melibatkan 51 santriwati, namun ironisnya hanya dikawal oleh satu orang pendamping dari pihak pesantren di hari libur tersebut. Meski pihak pesantren sempat datang bersilaturahim pada hari kedelapan pasca-kejadian, kunjungan tersebut dinilai hampa tanpa ada penjelasan substansial. Hingga hari kesebelas, manajemen Ponpes Hubulo memilih bungkam dan tidak memberikan kejelasan mengenai kronologi pasti yang menyebabkan nyawa korban melayang. \"Sampai hari ini, hari ke-11, pihak Hubulo tidak ada niat untuk memberi penjelasan. Mereka hanya datang bersilaturahim. Tidak ada yang menjelaskan apa yang terjadi. Tidak ada yang menjelaskan dugaan kelalaian yang menurut kami menyebabkan anak saya meninggal. Seolah-olah ada yang ditutupi pihak pondok,\" tegas Dolot. Sebagai orang tua, ia mengaku menitipkan putrinya di lembaga pendidikan berbasis boarding school dengan penuh keyakinan dan kepercayaan penuh terhadap sistem pengasuhan pesantren. Namun, buah hati yang dilepas dalam keadaan sehat kini pulang tinggal nama. Tempuh Jalur Hukum dan Desak Kemenag Bertindak Hilangnya transparansi dari pihak pengelola membulatkan tekad keluarga untuk menempuh langkah hukum. Didampingi tim kuasa hukumnya, keluarga resmi melaporkan dugaan tindak pidana kealpaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang ke Polres Bone Bolango pada 30 Oktober 2026. Laporan tersebut telah teregistrasi dengan nomor STTLP/152/X/2026/SPKT-RES BONBOL. \"Saya dan keluarga akan menempuh jalur hukum atas dugaan kelalaian pihak Hubulo yang menyebabkan kematian anak saya. Ini bukan soal dendam. Ini soal tanggung jawab,\" tandasnya. Sementara itu, kuasa hukum keluarga, Yudin Yunus, S.H., M.H., mendesak Kementerian Agama agar tidak bersikap pasif. Mengingat institusi pesantren berada di bawah pembinaan langsung instansi kementerian, Kantor Kemenag Kabupaten Bone Bolango dan Kanwil Kemenag Provinsi Gorontalo diminta proaktif mengawal kasus ini secara tuntas. \"Kami berharap pihak Kemenag dan pihak lainnya bisa proaktif mengawal permasalahan ini. Supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari, baik di Hubulo maupun di tempat lain,\" ujar Yudin, seraya menekankan bahwa permintaan keluarga untuk mendapatkan kejelasan adalah hak yang sangat wajar. Bagi Dr. Dolot, perjuangan panjang ini bukan lagi sekadar perkara hukum formal. Ia sadar putrinya tak akan bisa kembali, namun ia bertekad memastikan tidak ada lagi orang tua lain yang harus menerima panggilan duka serupa di masa mendatang. \"Anak saya sudah pergi. Saya tidak bisa mengubah itu. Tapi saya bisa memastikan anak-anak lain di pesantren mana pun lebih terjaga. Itu yang kami perjuangkan,\" pungkasnya.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p data-path-to-node="11"><strong>News</strong> &#8211; Hari kesebelas pasca-tragedi maut yang merenggut nyawa putrinya, Dr. Dolot Alhasni Bakung, S.H., M.H., yang juga merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Negeri Gorontalo (UNG), masih menyisakan duka mendalam bercampur tanda tanya besar. Hingga kini, pihak Pondok Pesantren Hubulo belum memberikan penjelasan transparan terkait insiden yang menimpa anak kandungnya.</p>
<p data-path-to-node="12">Kisah kelam tersebut bermula sebelas hari lalu di tengah kesibukan harian. Sebuah panggilan telepon mendadak datang dari sang istri yang mengabarkan bahwa putri mereka, ANB (13), telah berada di Rumah Sakit Toto Kabila.</p>
<p data-path-to-node="13">Tanpa buang waktu, Dolot bergegas menuju rumah sakit. Namun, setibanya di sana, ia mendapati putrinya yang tercatat sebagai santriwati kelas 7 Pondok Pesantren Hubulo tersebut sudah terbujur kaku tak bernyawa. Pada hari itu juga, jenazah almarhumah langsung dibawa ke kampung halaman keluarga di Desa Lolak, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, untuk dimakamkan.</p>
<p data-path-to-node="14">&#8220;Pagi itu anak saya masih sehat. Siangnya saya menerima kabar ia sudah tiada. Hari itu juga kami memakamkannya. Semua terjadi dalam satu hari,&#8221; kenang Dolot dengan nada berat.</p>
<p data-path-to-node="15"><b data-path-to-node="15" data-index-in-node="0">Mengenang Sosok ANB yang Bercita-Cita Jadi Dokter</b></p>
<p data-path-to-node="16">Kehadiran ANB di Pondok Pesantren Hubulo dilandasi niat mulia untuk mengikuti jejak sang kakak sekaligus memperdalam ilmu agama agar tumbuh menjadi anak yang salehah. Berbeda dengan santri baru pada umumnya yang kerap menangis atau mengalami penurunan berat badan akibat rindu rumah, ANB justru menunjukkan adaptasi yang luar biasa.</p>
<p data-path-to-node="17">&#8220;Anak-anak lain menangis, berat badannya turun. Anak saya malah tersenyum. Berat badannya justru naik,&#8221; tutur Dolot mengenang.</p>
<p data-path-to-node="18">Di kediaman keluarga, almarhumah dikenal sebagai sosok yang ceria, aktif, mandiri dalam menyelesaikan masalah, serta gemar bercerita setiap kali pulang berlibur. Kegemarannya memelihara kucing turut mewarnai hari-harinya di pondok. Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, ANB bahkan telah menghafal sekitar 20 surat Al-Qur&#8217;an dan tengah bersiap menyetorkan sisa hafalannya sebelum liburan tiba.</p>
<p data-path-to-node="19">Di balik keceriaannya, almarhumah menyimpan cita-cita luhur untuk menjadi seorang dokter agar dapat merawat orang sakit, termasuk kedua orang tua serta kakek dan neneknya. Ia juga dikenal memiliki kepedulian tinggi, ikhlas berbagi, dan rajin bersedekah meski dalam jumlah kecil.</p>
<p data-path-to-node="20">Ketika masa kepulangan tiba, meski banyak teman seangkatannya memilih pulang lebih awal, ANB memilih bertahan di pesantren demi menunggu sang kakak agar mereka bisa pulang bersama ke rumah. &#8220;Alasannya, ia ingin berkumpul bersama keluarga,&#8221; tambah Dolot.</p>
<p data-path-to-node="21"><b data-path-to-node="21" data-index-in-node="0">Tragedi di Sungai dan Bungkamnya Pihak Pesantren</b></p>
<p data-path-to-node="22">Almarhumah ANB mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat (23/10/2026) setelah mengalami insiden tenggelam di aliran sungai kawasan Wisata Botumotolioluwo, Desa Longalo, Kabupaten Bone Bolango. Berdasarkan informasi yang dihimpun keluarga, kegiatan luar ruangan tersebut melibatkan 51 santriwati, namun ironisnya hanya dikawal oleh satu orang pendamping dari pihak pesantren di hari libur tersebut.</p>
<p data-path-to-node="23">Meski pihak pesantren sempat datang bersilaturahim pada hari kedelapan pasca-kejadian, kunjungan tersebut dinilai hampa tanpa ada penjelasan substansial. Hingga hari kesebelas, manajemen Ponpes Hubulo memilih bungkam dan tidak memberikan kejelasan mengenai kronologi pasti yang menyebabkan nyawa korban melayang.</p>
<p data-path-to-node="24">&#8220;Sampai hari ini, hari ke-11, pihak Hubulo tidak ada niat untuk memberi penjelasan. Mereka hanya datang bersilaturahim. Tidak ada yang menjelaskan apa yang terjadi. Tidak ada yang menjelaskan dugaan kelalaian yang menurut kami menyebabkan anak saya meninggal. Seolah-olah ada yang ditutupi pihak pondok,&#8221; tegas Dolot.</p>
<p data-path-to-node="25">Sebagai orang tua, ia mengaku menitipkan putrinya di lembaga pendidikan berbasis <i data-path-to-node="25" data-index-in-node="81">boarding school</i> dengan penuh keyakinan dan kepercayaan penuh terhadap sistem pengasuhan pesantren. Namun, buah hati yang dilepas dalam keadaan sehat kini pulang tinggal nama.</p>
<p data-path-to-node="26"><b data-path-to-node="26" data-index-in-node="0">Tempuh Jalur Hukum dan Desak Kemenag Bertindak</b></p>
<p data-path-to-node="27">Hilangnya transparansi dari pihak pengelola membulatkan tekad keluarga untuk menempuh langkah hukum. Didampingi tim kuasa hukumnya, keluarga resmi melaporkan dugaan tindak pidana kealpaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang ke Polres Bone Bolango pada 30 Oktober 2026. Laporan tersebut telah teregistrasi dengan nomor STTLP/152/X/2026/SPKT-RES BONBOL.</p>
<p data-path-to-node="28">&#8220;Saya dan keluarga akan menempuh jalur hukum atas dugaan kelalaian pihak Hubulo yang menyebabkan kematian anak saya. Ini bukan soal dendam. Ini soal tanggung jawab,&#8221; tandasnya.</p>
<p data-path-to-node="29">Sementara itu, kuasa hukum keluarga, Yudin Yunus, S.H., M.H., mendesak Kementerian Agama agar tidak bersikap pasif. Mengingat institusi pesantren berada di bawah pembinaan langsung instansi kementerian, Kantor Kemenag Kabupaten Bone Bolango dan Kanwil Kemenag Provinsi Gorontalo diminta proaktif mengawal kasus ini secara tuntas.</p>
<p data-path-to-node="30">&#8220;Kami berharap pihak Kemenag dan pihak lainnya bisa proaktif mengawal permasalahan ini. Supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari, baik di Hubulo maupun di tempat lain,&#8221; ujar Yudin, seraya menekankan bahwa permintaan keluarga untuk mendapatkan kejelasan adalah hak yang sangat wajar.</p>
<p data-path-to-node="31">Bagi Dr. Dolot, perjuangan panjang ini bukan lagi sekadar perkara hukum formal. Ia sadar putrinya tak akan bisa kembali, namun ia bertekad memastikan tidak ada lagi orang tua lain yang harus menerima panggilan duka serupa di masa mendatang.</p>
<p data-path-to-node="32">&#8220;Anak saya sudah pergi. Saya tidak bisa mengubah itu. Tapi saya bisa memastikan anak-anak lain di pesantren mana pun lebih terjaga. Itu yang kami perjuangkan,&#8221; pungkasnya.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/sebelas-hari-tanpa-kejelasan-ayah-santriwati-korban-tenggelam-pertanyakan-tanggung-jawab-ponpes-hubulo/">Sebelas Hari Tanpa Kejelasan! Ayah Santriwati Korban Tenggelam Pertanyakan Tanggung Jawab Ponpes Hubulo</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/sebelas-hari-tanpa-kejelasan-ayah-santriwati-korban-tenggelam-pertanyakan-tanggung-jawab-ponpes-hubulo/">Sebelas Hari Tanpa Kejelasan! Ayah Santriwati Korban Tenggelam Pertanyakan Tanggung Jawab Ponpes Hubulo</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/sebelas-hari-tanpa-kejelasan-ayah-santriwati-korban-tenggelam-pertanyakan-tanggung-jawab-ponpes-hubulo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
