<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kesehatan Mental Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/kesehatan-mental/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/kesehatan-mental/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Apr 2026 12:07:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>Kesehatan Mental Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/kesehatan-mental/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Go Internasional! Mahasiswa Psikologi UNG Tembus Final Kompetisi Bergengsi di Kuala Lumpur</title>
		<link>https://barakati.id/go-internasional-mahasiswa-psikologi-ung-tembus-final-kompetisi-bergengsi-di-kuala-lumpur/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=go-internasional-mahasiswa-psikologi-ung-tembus-final-kompetisi-bergengsi-di-kuala-lumpur</link>
					<comments>https://barakati.id/go-internasional-mahasiswa-psikologi-ung-tembus-final-kompetisi-bergengsi-di-kuala-lumpur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2026 12:00:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO]]></category>
		<category><![CDATA[5th iys 2026]]></category>
		<category><![CDATA[eco-anxiety]]></category>
		<category><![CDATA[fip ung]]></category>
		<category><![CDATA[international youth summit]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus kerakyatan]]></category>
		<category><![CDATA[karya ilmiah mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Mental]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetisi Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[kuala lumpur malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa psikologi ung]]></category>
		<category><![CDATA[prestasi mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[prof arwildayanto]]></category>
		<category><![CDATA[prof eduart wolok]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Negeri Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[university putra malaysia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=29990</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/go-internasional-mahasiswa-psikologi-ung-tembus-final-kompetisi-bergengsi-di-kuala-lumpur/">Go Internasional! Mahasiswa Psikologi UNG Tembus Final Kompetisi Bergengsi di Kuala Lumpur</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/go-internasional-mahasiswa-psikologi-ung-tembus-final-kompetisi-bergengsi-di-kuala-lumpur/">Go Internasional! Mahasiswa Psikologi UNG Tembus Final Kompetisi Bergengsi di Kuala Lumpur</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-path-to-node="2"><button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("UNG - Inovasi akademik dari \"Kampus Kerakyatan\" kembali membuktikan taringnya di panggung dunia. Tim mahasiswa dari Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), resmi dinyatakan lolos sebagai finalis dalam ajang bergengsi 5th International Youth Summit (5th IYS) Tahun 2026 yang akan dihelat di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 30–31 Mei mendatang. Kepastian keikutsertaan delegasi UNG ini ditandai dengan diterimanya Letter of Acceptance (LoA). Dokumen resmi tersebut menyatakan bahwa karya ilmiah tim UNG telah berhasil menyisihkan banyak peserta dan melewati proses kurasi ketat oleh dewan reviewer internasional. Ajang 5th IYS 2026 sendiri diselenggarakan oleh Sentosa Foundation yang bekerja sama dengan Centre of Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM), University Putra Malaysia (UPM). Kompetisi ini memiliki gengsi dan standar yang sangat tinggi, di mana para finalis yang terpilih merupakan perwakilan terbaik dari lima negara berbeda. Tim kebanggaan UNG ini dipimpin oleh Siti Bidaria Paputungan selaku ketua, dengan anggota Maghfirah Nazelin Butolo. Keduanya mengusung karya ilmiah inovatif berjudul \"Eco-PFA+: A Youth-Led Psychological Intervention to Address Eco-Anxiety and Inform Global Policy Responses\". Penelitian tersebut secara khusus menyoroti isu kesehatan mental terkait kecemasan terhadap krisis lingkungan (eco-anxiety). Melalui karyanya, Siti dan Maghfirah menawarkan solusi berupa intervensi psikologis berbasis peran pemuda dalam merespons tantangan iklim global. Dekan FIP UNG, Prof. Dr. Arwildayanto, M.Pd., mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian luar biasa kedua mahasiswi tersebut. Menurutnya, lolos ke putaran final di Malaysia adalah kesempatan emas untuk memperluas jejaring akademik sekaligus membuktikan kualitas pendidikan di UNG. “Partisipasi di tahap final ini adalah bukti nyata kualitas mahasiswa kita. Kami sangat berharap keberhasilan Siti dan Maghfirah ini dapat menjadi pemantik motivasi bagi mahasiswa lain untuk berani tampil dan berkontribusi dalam forum ilmiah dunia,” ujar Prof. Arwildayanto. Apresiasi tinggi dan suntikan semangat juga datang langsung dari Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Ia menaruh harapan besar agar delegasi UNG mampu tampil prima dan memberikan performa terbaiknya di Negeri Jiran. “Kami sangat bangga. Saya berharap mahasiswa FIP mampu menunjukkan kompetensi maksimal dan membawa pulang gelar juara. Ini bukan sekadar soal kompetisi memperebutkan piala, melainkan pembuktian tentang bagaimana mahasiswa UNG mampu memberikan sumbangsih solusi bagi isu-isu kemanusiaan global,” tegas Prof. Eduart.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p data-path-to-node="2">UNG &#8211; Inovasi akademik dari &#8220;Kampus Kerakyatan&#8221; kembali membuktikan taringnya di panggung dunia. Tim mahasiswa dari Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), resmi dinyatakan lolos sebagai finalis dalam ajang bergengsi <i data-path-to-node="2" data-index-in-node="275">5th International Youth Summit</i> (5th IYS) Tahun 2026 yang akan dihelat di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 30–31 Mei mendatang.</p>
<p data-path-to-node="3">Kepastian keikutsertaan delegasi UNG ini ditandai dengan diterimanya <i data-path-to-node="3" data-index-in-node="69">Letter of Acceptance</i> (LoA). Dokumen resmi tersebut menyatakan bahwa karya ilmiah tim UNG telah berhasil menyisihkan banyak peserta dan melewati proses kurasi ketat oleh dewan <i data-path-to-node="3" data-index-in-node="244">reviewer</i> internasional.</p>
<p data-path-to-node="4">Ajang 5th IYS 2026 sendiri diselenggarakan oleh Sentosa Foundation yang bekerja sama dengan <i data-path-to-node="4" data-index-in-node="92">Centre of Entrepreneurial Development and Graduate Marketability</i> (CEM), University Putra Malaysia (UPM). Kompetisi ini memiliki gengsi dan standar yang sangat tinggi, di mana para finalis yang terpilih merupakan perwakilan terbaik dari lima negara berbeda.</p>
<p data-path-to-node="5">Tim kebanggaan UNG ini dipimpin oleh Siti Bidaria Paputungan selaku ketua, dengan anggota Maghfirah Nazelin Butolo. Keduanya mengusung karya ilmiah inovatif berjudul <i data-path-to-node="5" data-index-in-node="166">&#8220;Eco-PFA+: A Youth-Led Psychological Intervention to Address Eco-Anxiety and Inform Global Policy Responses&#8221;</i>.</p>
<p data-path-to-node="6">Penelitian tersebut secara khusus menyoroti isu kesehatan mental terkait kecemasan terhadap krisis lingkungan (<i data-path-to-node="6" data-index-in-node="111">eco-anxiety</i>). Melalui karyanya, Siti dan Maghfirah menawarkan solusi berupa intervensi psikologis berbasis peran pemuda dalam merespons tantangan iklim global.</p>
<p data-path-to-node="7">Dekan FIP UNG, Prof. Dr. Arwildayanto, M.Pd., mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian luar biasa kedua mahasiswi tersebut. Menurutnya, lolos ke putaran final di Malaysia adalah kesempatan emas untuk memperluas jejaring akademik sekaligus membuktikan kualitas pendidikan di UNG.</p>
<p data-path-to-node="8">“Partisipasi di tahap final ini adalah bukti nyata kualitas mahasiswa kita. Kami sangat berharap keberhasilan Siti dan Maghfirah ini dapat menjadi pemantik motivasi bagi mahasiswa lain untuk berani tampil dan berkontribusi dalam forum ilmiah dunia,” ujar Prof. Arwildayanto.</p>
<p data-path-to-node="9">Apresiasi tinggi dan suntikan semangat juga datang langsung dari Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Ia menaruh harapan besar agar delegasi UNG mampu tampil prima dan memberikan performa terbaiknya di Negeri Jiran.</p>
<p data-path-to-node="10">“Kami sangat bangga. Saya berharap mahasiswa FIP mampu menunjukkan kompetensi maksimal dan membawa pulang gelar juara. Ini bukan sekadar soal kompetisi memperebutkan piala, melainkan pembuktian tentang bagaimana mahasiswa UNG mampu memberikan sumbangsih solusi bagi isu-isu kemanusiaan global,” tegas Prof. Eduart.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/go-internasional-mahasiswa-psikologi-ung-tembus-final-kompetisi-bergengsi-di-kuala-lumpur/">Go Internasional! Mahasiswa Psikologi UNG Tembus Final Kompetisi Bergengsi di Kuala Lumpur</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/go-internasional-mahasiswa-psikologi-ung-tembus-final-kompetisi-bergengsi-di-kuala-lumpur/">Go Internasional! Mahasiswa Psikologi UNG Tembus Final Kompetisi Bergengsi di Kuala Lumpur</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/go-internasional-mahasiswa-psikologi-ung-tembus-final-kompetisi-bergengsi-di-kuala-lumpur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Media Sosial dan Rasa Tidak Cukup</title>
		<link>https://barakati.id/media-sosial-dan-rasa-tidak-cukup/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=media-sosial-dan-rasa-tidak-cukup</link>
					<comments>https://barakati.id/media-sosial-dan-rasa-tidak-cukup/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2025 21:25:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ruang Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[dunia digital]]></category>
		<category><![CDATA[feed instagram]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[generasi Z]]></category>
		<category><![CDATA[hidup nyata vs maya]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Mental]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi digital]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas online]]></category>
		<category><![CDATA[konten digital]]></category>
		<category><![CDATA[Media Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial positif]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[perbandingan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi dan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[tips digital]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=28233</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/media-sosial-dan-rasa-tidak-cukup/">Media Sosial dan Rasa Tidak Cukup</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/media-sosial-dan-rasa-tidak-cukup/">Media Sosial dan Rasa Tidak Cukup</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb2" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb2.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Penulis : M.Z. Aserval Hinta Di jaman ini, tiap orang seolah hidup di dua dunia sekaligus. Di satu sisi, kita punya kehidupan nyata dengan segala rutinitas yang kadang membosankan. Tapi di sisi lain, ada dunia digital yang selalu hidup—selalu ada hal baru yang muncul setiap kita buka layar. Kadang kita hanya ingin lihat sebentar, tapi tiba-tiba sudah habis waktu berjam-jam tanpa sadar. Scroll sedikit jadi scroll panjang, cuma mau cek notifikasi malah berakhir di video acak yang entah kenapa terasa menarik. Buat Generasi Z seperti saya, media sosial itu semacam panggung kecil. Tempat menunjukkan versi terbaik dari diri sendiri—foto yang sudah diedit sedikit, caption yang dipikirkan matang, atau story yang sengaja dipost biar terlihat “oke”. Kita tahu itu hal biasa, tapi tetap aja kadang muncul perasaan aneh, seperti kita harus selalu terlihat baik-baik saja. Padahal, di balik layar, hidup ya nggak selalu semulus feed Instagram. Di sana juga ada semacam dorongan untuk membandingkan diri. Melihat teman yang sudah sukses, jalan-jalan ke mana-mana, punya pasangan harmonis, atau karier yang seakan cepat banget naik. Dan tanpa sadar, kita merasa tertinggal. Padahal yang kita lihat cuma potongan kecil dari hidup orang lain—sekedar highlight, bukan keseluruhan cerita. Tapi media sosial memang pintar membentuk ilusi, sampai-sampai lupa bahwa setiap orang punya ritme masing-masing. Meski begitu, media sosial juga punya sisi yang bikin kita tetap bertahan. Ada komunitas-komunitas kecil yang bikin kita merasa nggak sendirian. Ada tempat belajar hal baru, dari tips keuangan sampai cara foto biar aesthetic. Ada orang-orang baik yang tanpa sadar menguatkan kita lewat postingan sederhana. Di tengah ramainya dunia maya, kita tetap bisa menemukan hal-hal yang memberi arti. Akhirnya, media sosial bukan cuma soal tampilan. Ia adalah cermin yang memperlihatkan siapa kita ketika sedang mencari tempat di dunia yang makin cepat berubah. Kita mungkin belum sempurna, masih belajar, masih jatuh bangun. Tapi selama kita tetap ingat bahwa hidup asli lebih penting daripada likes dan views, dunia digital ini bisa jadi ruang yang bukan hanya menghibur, tapi juga membentuk kita jadi pribadi yang lebih sadar dan lebih manusia. Gen Z", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p>Penulis : M.Z. Aserval Hinta</p>
<p>Di jaman ini, tiap orang seolah hidup di dua dunia sekaligus. Di satu sisi, kita punya kehidupan nyata dengan segala rutinitas yang kadang membosankan. Tapi di sisi lain, ada dunia digital yang selalu hidup—selalu ada hal baru yang muncul setiap kita buka layar. Kadang kita hanya ingin lihat sebentar, tapi tiba-tiba sudah habis waktu berjam-jam tanpa sadar. Scroll sedikit jadi scroll panjang, cuma mau cek notifikasi malah berakhir di video acak yang entah kenapa terasa menarik.</p>
<p>Buat Generasi Z seperti saya, media sosial itu semacam panggung kecil. Tempat menunjukkan versi terbaik dari diri sendiri—foto yang sudah diedit sedikit, caption yang dipikirkan matang, atau story yang sengaja dipost biar terlihat “oke”. Kita tahu itu hal biasa, tapi tetap aja kadang muncul perasaan aneh, seperti kita harus selalu terlihat baik-baik saja. Padahal, di balik layar, hidup ya nggak selalu semulus feed Instagram.</p>
<p>Di sana juga ada semacam dorongan untuk membandingkan diri. Melihat teman yang sudah sukses, jalan-jalan ke mana-mana, punya pasangan harmonis, atau karier yang seakan cepat banget naik. Dan tanpa sadar, kita merasa tertinggal. Padahal yang kita lihat cuma potongan kecil dari hidup orang lain—sekedar highlight, bukan keseluruhan cerita. Tapi media sosial memang pintar membentuk ilusi, sampai-sampai lupa bahwa setiap orang punya ritme masing-masing.</p>
<p>Meski begitu, media sosial juga punya sisi yang bikin kita tetap bertahan. Ada komunitas-komunitas kecil yang bikin kita merasa nggak sendirian. Ada tempat belajar hal baru, dari tips keuangan sampai cara foto biar aesthetic. Ada orang-orang baik yang tanpa sadar menguatkan kita lewat postingan sederhana. Di tengah ramainya dunia maya, kita tetap bisa menemukan hal-hal yang memberi arti.</p>
<p>Akhirnya, media sosial bukan cuma soal tampilan. Ia adalah cermin yang memperlihatkan siapa kita ketika sedang mencari tempat di dunia yang makin cepat berubah. Kita mungkin belum sempurna, masih belajar, masih jatuh bangun. Tapi selama kita tetap ingat bahwa hidup asli lebih penting daripada likes dan views, dunia digital ini bisa jadi ruang yang bukan hanya menghibur, tapi juga membentuk kita jadi pribadi yang lebih sadar dan lebih manusia.</p>
<p>Gen Z
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/media-sosial-dan-rasa-tidak-cukup/">Media Sosial dan Rasa Tidak Cukup</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/media-sosial-dan-rasa-tidak-cukup/">Media Sosial dan Rasa Tidak Cukup</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/media-sosial-dan-rasa-tidak-cukup/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ingatan Hilang, Aktor Bruce Willis Jalani Perawatan Secara Terpisah Bersama Keluarga</title>
		<link>https://barakati.id/ingatan-hilang-aktor-bruce-willis-jalani-perawatan-secara-terpisah-bersama-keluarga/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ingatan-hilang-aktor-bruce-willis-jalani-perawatan-secara-terpisah-bersama-keluarga</link>
					<comments>https://barakati.id/ingatan-hilang-aktor-bruce-willis-jalani-perawatan-secara-terpisah-bersama-keluarga/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2025 07:55:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Aktor Legendaris]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Selebriti]]></category>
		<category><![CDATA[Bruce Willis]]></category>
		<category><![CDATA[Caregiving]]></category>
		<category><![CDATA[demensia]]></category>
		<category><![CDATA[Emma Heming]]></category>
		<category><![CDATA[Film Hollywood]]></category>
		<category><![CDATA[Frontotemporal Dementia]]></category>
		<category><![CDATA[Hollywood]]></category>
		<category><![CDATA[Ingatannya Menurun]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Willis]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Mental]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Menyentuh]]></category>
		<category><![CDATA[Perjuangan Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Selebritis Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=26865</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aktor legendaris Hollywood, Bruce Willis, kini tinggal di sebuah rumah satu lantai yang telah disesuaikan untuk kebutuhan medisnya. Keputusan ini diambil oleh istrinya, Emma Heming Willis, setelah kondisi kesehatan sang aktor memburuk akibat frontotemporal dementia (FTD) yang didiagnosis pada Februari 2023. Emma menegaskan bahwa meski fisik suaminya masih “sangat sehat dan mobile”, kemampuan bahasa serta [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/ingatan-hilang-aktor-bruce-willis-jalani-perawatan-secara-terpisah-bersama-keluarga/">Ingatan Hilang, Aktor Bruce Willis Jalani Perawatan Secara Terpisah Bersama Keluarga</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/ingatan-hilang-aktor-bruce-willis-jalani-perawatan-secara-terpisah-bersama-keluarga/">Ingatan Hilang, Aktor Bruce Willis Jalani Perawatan Secara Terpisah Bersama Keluarga</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-start="185" data-end="538">Aktor legendaris Hollywood, <strong data-start="244" data-end="260">Bruce Willis</strong>, kini tinggal di sebuah rumah satu lantai yang telah disesuaikan untuk kebutuhan medisnya. Keputusan ini diambil oleh istrinya, <strong data-start="389" data-end="411">Emma Heming Willis</strong>, setelah kondisi kesehatan sang aktor memburuk akibat <strong data-start="466" data-end="499">frontotemporal dementia (FTD)</strong> yang didiagnosis pada Februari 2023.</p>
<p data-start="540" data-end="951">Emma menegaskan bahwa meski fisik suaminya masih <strong data-start="589" data-end="618">“sangat sehat dan mobile”</strong>, kemampuan bahasa serta daya ingat Willis mengalami penurunan drastis. Willis, yang awalnya diumumkan menderita <strong data-start="731" data-end="741">afasia</strong> pada 2022, kini kesulitan berbicara dan berkomunikasi. Namun, keluarganya tetap menemukan cara untuk berkomunikasi dengannya, termasuk melalui bahasa tubuh, senyuman, hingga tawa khas yang kadang muncul sekejap.</p>
<p data-start="953" data-end="1406">Keputusan memindahkan sang aktor ke rumah khusus bukan tanpa alasan. Emma menjelaskan, hal ini dilakukan demi menjaga stabilitas kehidupan dua putri mereka, Mabel (13) dan Evelyn (11). Meski Bruce berada di tempat terpisah dengan tim perawatan medis 24 jam, Emma tetap rutin membawa kedua putrinya untuk makan bersama ayah mereka di pagi dan malam hari. “Kami masih menikmati momen sederhana, seperti menonton film dan tertawa bersama,” ujar Emma.</p>
<p data-start="1408" data-end="1840">Dalam wawancara eksklusif bersama <strong data-start="1442" data-end="1458">Diane Sawyer</strong> di ABC News, Emma mengaku bahwa awalnya ia merasa sangat <strong data-start="1516" data-end="1544">terisolasi dan sendirian</strong> setelah mendengar diagnosa suaminya. Ia bahkan sempat menutup diri dari dunia luar, hingga akhirnya menyadari bahwa dirinya juga membutuhkan dukungan. Dukungan itu datang dari keluarga besar, termasuk Demi Moore—mantan istri Bruce—yang juga menyerukan pentingnya kesadaran publik mengenai FTD.</p>
<p data-start="1842" data-end="2170">Selain berperan sebagai pengasuh utama, Emma kini menulis buku berjudul <em data-start="1916" data-end="2000">The Unexpected Journey: Finding Strength, Hope and Yourself on the Caregiving Path</em>, yang akan terbit pada 9 September 2025. Buku ini berisi pengalaman pribadinya merawat Bruce sekaligus panduan bagi keluarga lain yang menghadapi situasi serupa.</p>
<p data-start="2172" data-end="2442">Meski FTD belum memiliki obat, keluarga Willis berharap perhatian media terhadap kondisi Bruce bisa mendorong riset lebih lanjut dan meningkatkan kesadaran publik. “Momen-momen kecil seperti tawa atau kilau mata Bruce adalah hadiah berharga bagi kami,” tutup Emma.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/ingatan-hilang-aktor-bruce-willis-jalani-perawatan-secara-terpisah-bersama-keluarga/">Ingatan Hilang, Aktor Bruce Willis Jalani Perawatan Secara Terpisah Bersama Keluarga</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/ingatan-hilang-aktor-bruce-willis-jalani-perawatan-secara-terpisah-bersama-keluarga/">Ingatan Hilang, Aktor Bruce Willis Jalani Perawatan Secara Terpisah Bersama Keluarga</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/ingatan-hilang-aktor-bruce-willis-jalani-perawatan-secara-terpisah-bersama-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ngeri! Tidur Kelamaan Ternyata Bisa Bikin Otak Lemot</title>
		<link>https://barakati.id/25930-2/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=25930-2</link>
					<comments>https://barakati.id/25930-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2025 04:01:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Alzheimer’s & Dementia]]></category>
		<category><![CDATA[durasi tidur ideal]]></category>
		<category><![CDATA[Framingham Heart Study]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[gejala depresi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Mental]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian tidur]]></category>
		<category><![CDATA[penurunan fungsi otak]]></category>
		<category><![CDATA[tidur berlebihan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=25930</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/25930-2/">Ngeri! Tidur Kelamaan Ternyata Bisa Bikin Otak Lemot</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/25930-2/">Ngeri! Tidur Kelamaan Ternyata Bisa Bikin Otak Lemot</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="auto"></div>
<div dir="auto"><button id="bb3" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb3.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("NEWS - Di balik kenyamanan kasur dan waktu istirahat yang panjang, ternyata ada bahaya tersembunyi bagi kesehatan otak. Sebuah studi terbaru dari University of Texas Health Science Center di San Antonio mengungkapkan bahwa tidur terlalu lama terutama lebih dari sembilan jam per malam berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif, seperti daya ingat, kemampuan visual spasial, hingga fungsi eksekutif. Temuan ini bukan sekadar opini. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Alzheimer’s & Dementia pada April 2025, dan dilaporkan oleh Neuroscience News, menganalisis data dari 1.853 orang dewasa bebas demensia dan stroke, yang merupakan bagian dari Framingham Heart Study sebuah studi jangka panjang yang kredibel di dunia medis. Usia rata-rata peserta adalah hampir 50 tahun, dan mereka dievaluasi secara menyeluruh untuk mengukur fungsi kognitifnya. Vanessa Young, penulis utama penelitian tersebut, menjelaskan bahwa hubungan antara durasi tidur berlebih dan gangguan kognitif terlihat paling kuat pada individu yang mengalami gejala depresi. “Ini bukan hanya soal tidur lama, tapi bagaimana tidur yang berlebihan ditambah dengan depresi mempengaruhi kesehatan otak secara menyeluruh,” ungkap Young dalam wawancara yang dikutip Neuroscience News. Menariknya, efek negatif tidur berlebihan tetap muncul, baik pada mereka yang menggunakan obat antidepresan maupun yang tidak. Artinya, masalah ini tidak bisa diatasi hanya dengan perawatan medis standar, tetapi perlu pendekatan yang lebih holistik terhadap pola tidur dan kesehatan mental. Sudha Seshadri, direktur Glenn Biggs Institute for Alzheimer’s & Neurodegenerative Diseases sekaligus salah satu penulis senior dalam penelitian tersebut, menekankan pentingnya memahami bahwa pola tidur ekstrem baik terlalu sedikit maupun terlalu banyak merupakan indikator masalah yang lebih dalam. “Terlalu sering kita mengabaikan tidur panjang sebagai sesuatu yang wajar, padahal bisa jadi itu adalah gejala dari depresi atau masalah otak lainnya,” jelasnya. Hasil studi ini sekaligus memperkuat panduan dari Global Council on Brain Health yang menyarankan durasi tidur ideal antara 7 hingga 8 jam per malam. Tidur lebih dari sembilan jam, terutama bila dilakukan secara rutin, bisa menjadi tanda peringatan bahwa fungsi otak mulai menurun. Jadi, jika Anda sering merasa butuh tidur lama dan tetap merasa lelah terutama jika disertai dengan gejala depresi mungkin sudah waktunya untuk berkonsultasi dan meninjau kembali pola tidur Anda. Karena, seperti yang disimpulkan dalam laporan Neuroscience News, tidur bukan sekadar soal istirahat, tetapi cermin dari kesehatan mental dan kognitif Anda.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </div>
<div dir="auto"></div>
<div dir="auto">
<p>NEWS &#8211; Di balik kenyamanan kasur dan waktu istirahat yang panjang, ternyata ada bahaya tersembunyi bagi kesehatan otak. Sebuah studi terbaru dari University of Texas Health Science Center di San Antonio mengungkapkan bahwa tidur terlalu lama terutama lebih dari sembilan jam per malam berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif, seperti daya ingat, kemampuan visual spasial, hingga fungsi eksekutif.</p>
<p>Temuan ini bukan sekadar opini. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Alzheimer’s &amp; Dementia pada April 2025, dan dilaporkan oleh Neuroscience News, menganalisis data dari 1.853 orang dewasa bebas demensia dan stroke, yang merupakan bagian dari Framingham Heart Study sebuah studi jangka panjang yang kredibel di dunia medis. Usia rata-rata peserta adalah hampir 50 tahun, dan mereka dievaluasi secara menyeluruh untuk mengukur fungsi kognitifnya.</p>
<p>Vanessa Young, penulis utama penelitian tersebut, menjelaskan bahwa hubungan antara durasi tidur berlebih dan gangguan kognitif terlihat paling kuat pada individu yang mengalami gejala depresi. “Ini bukan hanya soal tidur lama, tapi bagaimana tidur yang berlebihan ditambah dengan depresi mempengaruhi kesehatan otak secara menyeluruh,” ungkap Young dalam wawancara yang dikutip Neuroscience News.</p>
<p>Menariknya, efek negatif tidur berlebihan tetap muncul, baik pada mereka yang menggunakan obat antidepresan maupun yang tidak. Artinya, masalah ini tidak bisa diatasi hanya dengan perawatan medis standar, tetapi perlu pendekatan yang lebih holistik terhadap pola tidur dan kesehatan mental.</p>
<p>Sudha Seshadri, direktur Glenn Biggs Institute for Alzheimer’s &amp; Neurodegenerative Diseases sekaligus salah satu penulis senior dalam penelitian tersebut, menekankan pentingnya memahami bahwa pola tidur ekstrem baik terlalu sedikit maupun terlalu banyak merupakan indikator masalah yang lebih dalam. “Terlalu sering kita mengabaikan tidur panjang sebagai sesuatu yang wajar, padahal bisa jadi itu adalah gejala dari depresi atau masalah otak lainnya,” jelasnya.</p>
<p>Hasil studi ini sekaligus memperkuat panduan dari Global Council on Brain Health yang menyarankan durasi tidur ideal antara 7 hingga 8 jam per malam. Tidur lebih dari sembilan jam, terutama bila dilakukan secara rutin, bisa menjadi tanda peringatan bahwa fungsi otak mulai menurun.</p>
<p>Jadi, jika Anda sering merasa butuh tidur lama dan tetap merasa lelah terutama jika disertai dengan gejala depresi mungkin sudah waktunya untuk berkonsultasi dan meninjau kembali pola tidur Anda. Karena, seperti yang disimpulkan dalam laporan Neuroscience News, tidur bukan sekadar soal istirahat, tetapi cermin dari kesehatan mental dan kognitif Anda.</p>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/25930-2/">Ngeri! Tidur Kelamaan Ternyata Bisa Bikin Otak Lemot</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/25930-2/">Ngeri! Tidur Kelamaan Ternyata Bisa Bikin Otak Lemot</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/25930-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pelajaran Berharga dari Suku Māori: Autisme sebagai Keunikan Manusia</title>
		<link>https://barakati.id/pelajaran-berharga-dari-suku-maori-autisme-sebagai-keunikan-manusia/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pelajaran-berharga-dari-suku-maori-autisme-sebagai-keunikan-manusia</link>
					<comments>https://barakati.id/pelajaran-berharga-dari-suku-maori-autisme-sebagai-keunikan-manusia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2025 03:11:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[autisme]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa dan Stigma]]></category>
		<category><![CDATA[Inklusi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesadaran Autisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Mental]]></category>
		<category><![CDATA[Neurodiversitas]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif Autisme]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Paradigma]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Māori]]></category>
		<category><![CDATA[Takiwātanga]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=25714</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam diskursus global tentang autisme, narasi yang dominan seringkali berpusat pada defisit dan &#8220;gangguan.&#8221; Namun, di tengah perdebatan ini, muncul sebuah perspektif yang menyegarkan dari budaya Māori di Selandia Baru: takiwātanga. Kata ini, yang diterjemahkan secara puitis sebagai &#8220;dalam waktu dan ruang mereka sendiri,&#8221; menawarkan pemahaman yang jauh berbeda, menyoroti keunikan individu autistik alih-alih menganggapnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/pelajaran-berharga-dari-suku-maori-autisme-sebagai-keunikan-manusia/">Pelajaran Berharga dari Suku Māori: Autisme sebagai Keunikan Manusia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/pelajaran-berharga-dari-suku-maori-autisme-sebagai-keunikan-manusia/">Pelajaran Berharga dari Suku Māori: Autisme sebagai Keunikan Manusia</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="xdj266r x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs x126k92a">
<div dir="auto">Dalam diskursus global tentang autisme, narasi yang dominan seringkali berpusat pada defisit dan &#8220;gangguan.&#8221; Namun, di tengah perdebatan ini, muncul sebuah perspektif yang menyegarkan dari budaya Māori di Selandia Baru: takiwātanga. Kata ini, yang diterjemahkan secara puitis sebagai &#8220;dalam waktu dan ruang mereka sendiri,&#8221; menawarkan pemahaman yang jauh berbeda, menyoroti keunikan individu autistik alih-alih menganggapnya sebagai suatu kondisi yang harus diperbaiki.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Di dunia Barat, autisme umumnya dikategorikan sebagai &#8220;gangguan spektrum autisme&#8221; (GSA), sebuah terminologi yang secara inheren menyiratkan adanya &#8220;ketidakberesan&#8221; atau kondisi yang memerlukan intervensi medis. Pendekatan ini, meskipun didasari oleh niat baik untuk memahami dan mendukung, seringkali tanpa disadari menempatkan individu autistik dalam kerangka patologi. Akibatnya, fokus seringkali beralih pada &#8220;perbaikan&#8221; atau &#8220;penormalan&#8221; perilaku, yang dapat mengabaikan kekayaan pengalaman dan cara pandang yang berbeda. Sebaliknya, takiwātanga mencerminkan filosofi yang jauh lebih inklusif dan merayakan. Bagi suku Māori, penggunaan istilah ini menunjukkan penghormatan terhadap cara unik individu autistik berinteraksi dengan dunia, belajar, dan memproses informasi. Ini bukan sekadar perubahan kata, melainkan pergeseran paradigma yang mendalam, dari melihat autisme sebagai &#8220;kekurangan&#8221; menjadi &#8220;cara yang berbeda—dan sama validnya—untuk menjadi manusia.&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Konsep takiwātanga bukanlah sekadar metafora, melainkan sebuah refleksi dari upaya nyata dalam komunitas Māori untuk mengubah stigma seputar autisme. Menurut sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Autism and Developmental Disorders, penggunaan bahasa yang lebih positif dan inklusif memiliki dampak signifikan pada persepsi publik dan individu autistik terhadap diri mereka sendiri. Studi lain dari Autism New Zealand (organisasi nasional terkemuka yang mendukung individu autistik dan keluarga mereka di Selandia Baru) telah secara aktif mempromosikan penggunaan takiwātanga untuk mendorong penerimaan dan pemahaman yang lebih luas. Mereka menekankan bahwa bahasa yang kita gunakan dapat membentuk sikap dan kebijakan, memengaruhi bagaimana masyarakat melihat neurodiversitas.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Pergeseran bahasa ini juga selaras dengan gerakan neurodiversitas global yang semakin berkembang. Gerakan ini berpendapat bahwa variasi neurologis, seperti autisme, ADHD, dan disleksia, adalah bagian alami dari keragaman manusia, bukan kekurangan yang perlu disembuhkan. Seperti yang diungkapkan oleh seorang ahli terkemuka di bidang neurodiversitas, Dr. Temple Grandin, &#8220;Dunia membutuhkan semua jenis pemikiran,&#8221; termasuk mereka yang berpikir secara berbeda.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Kekuatan bahasa dalam membentuk realitas sosial tidak bisa diremehkan. Ketika kita beralih dari kata &#8220;gangguan&#8221; ke frasa &#8220;dalam waktu dan ruang mereka sendiri,&#8221; kita tidak hanya mengubah label, tetapi juga mengubah bagaimana kita melihat individu autistik dan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri. Ini adalah undangan untuk merayakan keunikan, menghargai kontribusi yang beragam, dan membangun komunitas yang lebih inklusif.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Dengan mengadopsi perspektif seperti takiwātanga, masyarakat dapat bergeser dari upaya &#8220;memperbaiki&#8221; orang menjadi merayakan kekayaan luar biasa yang mereka bawa ke komunitas kita. Ini adalah langkah menuju masa depan di mana neurodiversitas tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang harus diatasi, melainkan sebagai sesuatu yang harus dirayakan.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x11i5rnm xat24cr x1mh8g0r x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto"><strong>Oleh : Ronald S. Bidjuni</strong></div>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/pelajaran-berharga-dari-suku-maori-autisme-sebagai-keunikan-manusia/">Pelajaran Berharga dari Suku Māori: Autisme sebagai Keunikan Manusia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/pelajaran-berharga-dari-suku-maori-autisme-sebagai-keunikan-manusia/">Pelajaran Berharga dari Suku Māori: Autisme sebagai Keunikan Manusia</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/pelajaran-berharga-dari-suku-maori-autisme-sebagai-keunikan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
