<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KESETARAAN GENDER Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/kesetaraan-gender/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/kesetaraan-gender/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Wed, 06 May 2026 07:24:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>KESETARAAN GENDER Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/kesetaraan-gender/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Perempuan di Garda Depan: Makna Hari Kebebasan Pers bagi Wartawan Perempuan</title>
		<link>https://barakati.id/perempuan-di-garda-depan-makna-hari-kebebasan-pers-bagi-wartawan-perempuan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=perempuan-di-garda-depan-makna-hari-kebebasan-pers-bagi-wartawan-perempuan</link>
					<comments>https://barakati.id/perempuan-di-garda-depan-makna-hari-kebebasan-pers-bagi-wartawan-perempuan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 May 2026 07:20:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ruang Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi media]]></category>
		<category><![CDATA[ekosistem pers]]></category>
		<category><![CDATA[hari kebebasan pers]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalisme investigasi]]></category>
		<category><![CDATA[kebebasan berekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan redaksi sensitif gender]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan berbasis gender]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[KESETARAAN GENDER]]></category>
		<category><![CDATA[opini pers]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[profesi wartawan]]></category>
		<category><![CDATA[ruang redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan perempuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=30377</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/perempuan-di-garda-depan-makna-hari-kebebasan-pers-bagi-wartawan-perempuan/">Perempuan di Garda Depan: Makna Hari Kebebasan Pers bagi Wartawan Perempuan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/perempuan-di-garda-depan-makna-hari-kebebasan-pers-bagi-wartawan-perempuan/">Perempuan di Garda Depan: Makna Hari Kebebasan Pers bagi Wartawan Perempuan</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Penulis : Jurnalis Perempuan S.Amu Hari Kebebasan Pers menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran jurnalis dalam menjaga demokrasi, transparansi, dan hak publik atas informasi. Namun di balik semangat itu, ada satu kelompok yang kerap menghadapi tantangan berlapis: wartawan perempuan. Di tengah dinamika dunia jurnalistik yang terus berkembang, perempuan tidak lagi sekadar pelengkap di ruang redaksi. Mereka hadir sebagai reporter lapangan, editor, hingga pemimpin media. Meski demikian, perjalanan mereka tidak selalu mudah. Selain menghadapi tekanan profesional seperti tuntutan kecepatan dan akurasi berita, wartawan perempuan juga kerap berhadapan dengan risiko kekerasan berbasis gender, diskriminasi, hingga stereotip yang masih melekat. Hari Kebebasan Pers menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi harus inklusif dan menjamin keamanan bagi semua jurnalis, tanpa terkecuali perempuan. Dalam menjalankan tugasnya, wartawan perempuan seringkali berada di garis depan meliput isu-isu sensitif seperti konflik sosial, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga praktik korupsi. Keberanian mereka tidak hanya memperkaya perspektif pemberitaan, tetapi juga membuka ruang empati yang lebih luas bagi masyarakat. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa perlindungan terhadap wartawan perempuan masih perlu diperkuat. Kasus pelecehan saat peliputan, intimidasi di ruang digital, hingga minimnya kebijakan redaksi yang sensitif gender menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Oleh karena itu, peringatan Hari Kebebasan Pers harus menjadi momentum untuk mendorong media, pemerintah, dan masyarakat sipil agar menciptakan ekosistem jurnalistik yang aman dan setara. Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kapasitas dan kepemimpinan perempuan di dunia pers. Representasi perempuan dalam posisi strategis akan mendorong kebijakan yang lebih adil dan memperhatikan perspektif gender dalam pemberitaan. Di era digital saat ini, suara wartawan perempuan semakin kuat dan luas jangkauannya. Melalui berbagai platform, mereka tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Hari Kebebasan Pers bukan sekadar perayaan, melainkan panggilan untuk memastikan bahwa setiap jurnalis perempuan dapat bekerja dengan aman, bebas, dan bermartabat. Karena pada akhirnya, kebebasan pers yang sejati adalah ketika semua suara termasuk suara perempuan dapat didengar tanpa rasa takut. Selamat Hari Kebebasan Pers.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p>Penulis : Jurnalis Perempuan S.Amu</p>
<p>Hari Kebebasan Pers menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran jurnalis dalam menjaga demokrasi, transparansi, dan hak publik atas informasi. Namun di balik semangat itu, ada satu kelompok yang kerap menghadapi tantangan berlapis: wartawan perempuan.</p>
<p>Di tengah dinamika dunia jurnalistik yang terus berkembang, perempuan tidak lagi sekadar pelengkap di ruang redaksi. Mereka hadir sebagai reporter lapangan, editor, hingga pemimpin media. Meski demikian, perjalanan mereka tidak selalu mudah.</p>
<p>Selain menghadapi tekanan profesional seperti tuntutan kecepatan dan akurasi berita, wartawan perempuan juga kerap berhadapan dengan risiko kekerasan berbasis gender, diskriminasi, hingga stereotip yang masih melekat.</p>
<p>Hari Kebebasan Pers menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi harus inklusif dan menjamin keamanan bagi semua jurnalis, tanpa terkecuali perempuan.</p>
<p>Dalam menjalankan tugasnya, wartawan perempuan seringkali berada di garis depan meliput isu-isu sensitif seperti konflik sosial, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga praktik korupsi. Keberanian mereka tidak hanya memperkaya perspektif pemberitaan, tetapi juga membuka ruang empati yang lebih luas bagi masyarakat.</p>
<p>Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa perlindungan terhadap wartawan perempuan masih perlu diperkuat. Kasus pelecehan saat peliputan, intimidasi di ruang digital, hingga minimnya kebijakan redaksi yang sensitif gender menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Oleh karena itu, peringatan Hari Kebebasan Pers harus menjadi momentum untuk mendorong media, pemerintah, dan masyarakat sipil agar menciptakan ekosistem jurnalistik yang aman dan setara.</p>
<p>Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kapasitas dan kepemimpinan perempuan di dunia pers. Representasi perempuan dalam posisi strategis akan mendorong kebijakan yang lebih adil dan memperhatikan perspektif gender dalam pemberitaan.</p>
<p>Di era digital saat ini, suara wartawan perempuan semakin kuat dan luas jangkauannya. Melalui berbagai platform, mereka tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Hari Kebebasan Pers bukan sekadar perayaan, melainkan panggilan untuk memastikan bahwa setiap jurnalis perempuan dapat bekerja dengan aman, bebas, dan bermartabat.</p>
<p>Karena pada akhirnya, kebebasan pers yang sejati adalah ketika semua suara termasuk suara perempuan dapat didengar tanpa rasa takut. Selamat Hari Kebebasan Pers.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/perempuan-di-garda-depan-makna-hari-kebebasan-pers-bagi-wartawan-perempuan/">Perempuan di Garda Depan: Makna Hari Kebebasan Pers bagi Wartawan Perempuan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/perempuan-di-garda-depan-makna-hari-kebebasan-pers-bagi-wartawan-perempuan/">Perempuan di Garda Depan: Makna Hari Kebebasan Pers bagi Wartawan Perempuan</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/perempuan-di-garda-depan-makna-hari-kebebasan-pers-bagi-wartawan-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anggaran Responsif Gender, DPRD Provinsi Gorontalo Minta OPD Tak Lagi Abai</title>
		<link>https://barakati.id/anggaran-responsif-gender-dprd-provinsi-gorontalo-minta-opd-tak-lagi-abai/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=anggaran-responsif-gender-dprd-provinsi-gorontalo-minta-opd-tak-lagi-abai</link>
					<comments>https://barakati.id/anggaran-responsif-gender-dprd-provinsi-gorontalo-minta-opd-tak-lagi-abai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2026 01:16:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[DPRD PROVINSI]]></category>
		<category><![CDATA[anggaran responsif gender]]></category>
		<category><![CDATA[Bappeda Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[DP3A]]></category>
		<category><![CDATA[DPRD Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan inklusif]]></category>
		<category><![CDATA[KESETARAAN GENDER]]></category>
		<category><![CDATA[kristina udoki]]></category>
		<category><![CDATA[Pansus Ranperda]]></category>
		<category><![CDATA[pembangunan berkeadilan]]></category>
		<category><![CDATA[pengarusutamaan gender]]></category>
		<category><![CDATA[perda Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[PUG]]></category>
		<category><![CDATA[UMKM perempuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=29136</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/anggaran-responsif-gender-dprd-provinsi-gorontalo-minta-opd-tak-lagi-abai/">Anggaran Responsif Gender, DPRD Provinsi Gorontalo Minta OPD Tak Lagi Abai</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/anggaran-responsif-gender-dprd-provinsi-gorontalo-minta-opd-tak-lagi-abai/">Anggaran Responsif Gender, DPRD Provinsi Gorontalo Minta OPD Tak Lagi Abai</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb2" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb2.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("DEPROV - Panitia Khusus (Pansus) DPRD Provinsi Gorontalo menggelar rapat kerja bersama sejumlah instansi terkait, di antaranya Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Biro Hukum, Badan Keuangan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo. Rapat tersebut membahas finalisasi Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pengarusutamaan Gender (PUG). Ketua Pansus Ranperda PUG, Kristina Udoki, menegaskan bahwa seluruh pihak telah menyepakati komitmen untuk memastikan implementasi nyata dari perda ini setelah disahkan. Ranperda tersebut dijadwalkan akan diparipurnakan pada 26 Januari mendatang. “Intinya, setelah Perda Pengarusutamaan Gender disahkan, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sudah wajib menerapkan prinsip anggaran responsif gender. Ini bukan sekadar aturan administratif, tetapi komitmen bersama yang tidak boleh diabaikan,” ujar Kristina. Ia menjelaskan, penerapan anggaran responsif gender akan dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan terintegrasi. Pada tahap perencanaan, Bappeda berperan penting memastikan setiap program dan kegiatan sudah mengakomodasi perspektif gender. Sementara pelaksanaan di lapangan menjadi tanggung jawab Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan aspek pengawasan serta monitoring akan dijalankan oleh Inspektorat Provinsi Gorontalo. “Jika ada OPD yang mengajukan anggaran tanpa memperhatikan aspek kesetaraan gender, maka pengajuan tersebut dapat ditolak, baik oleh Bappeda di tahap perencanaan maupun oleh Badan Keuangan,” tegasnya. Selain membahas aspek regulasi, rapat juga menyoroti peran perempuan dalam sektor ekonomi, terutama dalam kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dari berbagai pokok pikiran anggota DPRD, tercatat sekitar 80 persen pelaku UMKM diusulkan berasal dari kalangan perempuan. Namun, Kristina menegaskan bahwa pengarusutamaan gender tidak terbatas pada isu perempuan saja. “Gender itu bukan hanya soal perempuan. Di dalamnya juga mencakup laki-laki, anak-anak, lansia, serta kelompok rentan lainnya. Perda ini hadir untuk memastikan arah pembangunan daerah lebih adil, inklusif, dan berkeadilan bagi semua pihak,” tandasnya. Dengan diterapkannya Perda Pengarusutamaan Gender, DPRD Provinsi Gorontalo berharap seluruh OPD ke depan memiliki perspektif yang setara dalam perencanaan kebijakan dan penganggaran, sehingga hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">DEPROV &#8211; Panitia Khusus (Pansus) DPRD Provinsi Gorontalo menggelar rapat kerja bersama sejumlah instansi terkait, di antaranya Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Biro Hukum, Badan Keuangan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo. Rapat tersebut membahas finalisasi Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang <strong>Pengarusutamaan Gender (PUG)</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Ketua Pansus Ranperda PUG, <strong>Kristina Udoki</strong>, menegaskan bahwa seluruh pihak telah menyepakati komitmen untuk memastikan implementasi nyata dari perda ini setelah disahkan. Ranperda tersebut dijadwalkan akan diparipurnakan pada <strong>26 Januari mendatang</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Intinya, setelah Perda Pengarusutamaan Gender disahkan, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sudah wajib menerapkan prinsip anggaran responsif gender. Ini bukan sekadar aturan administratif, tetapi komitmen bersama yang tidak boleh diabaikan,” ujar Kristina.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Ia menjelaskan, penerapan anggaran responsif gender akan dilakukan secara <strong>terstruktur, sistematis, dan terintegrasi</strong>. Pada tahap perencanaan, <strong>Bappeda</strong> berperan penting memastikan setiap program dan kegiatan sudah mengakomodasi perspektif gender. Sementara pelaksanaan di lapangan menjadi tanggung jawab <strong>Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak</strong>, dan aspek <strong>pengawasan serta monitoring</strong> akan dijalankan oleh <strong>Inspektorat Provinsi Gorontalo</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Jika ada OPD yang mengajukan anggaran tanpa memperhatikan aspek kesetaraan gender, maka pengajuan tersebut dapat ditolak, baik oleh Bappeda di tahap perencanaan maupun oleh Badan Keuangan,” tegasnya.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Selain membahas aspek regulasi, rapat juga menyoroti <strong>peran perempuan dalam sektor ekonomi</strong>, terutama dalam kegiatan <strong>Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)</strong>. Dari berbagai pokok pikiran anggota DPRD, tercatat sekitar <strong>80 persen pelaku UMKM diusulkan berasal dari kalangan perempuan</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Namun, Kristina menegaskan bahwa pengarusutamaan gender tidak terbatas pada isu perempuan saja.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Gender itu bukan hanya soal perempuan. Di dalamnya juga mencakup laki-laki, anak-anak, lansia, serta kelompok rentan lainnya. Perda ini hadir untuk memastikan arah pembangunan daerah lebih <strong>adil, inklusif, dan berkeadilan</strong> bagi semua pihak,” tandasnya.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Dengan diterapkannya Perda Pengarusutamaan Gender, DPRD Provinsi Gorontalo berharap seluruh OPD ke depan memiliki <strong>perspektif yang setara dalam perencanaan kebijakan dan penganggaran</strong>, sehingga hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/anggaran-responsif-gender-dprd-provinsi-gorontalo-minta-opd-tak-lagi-abai/">Anggaran Responsif Gender, DPRD Provinsi Gorontalo Minta OPD Tak Lagi Abai</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/anggaran-responsif-gender-dprd-provinsi-gorontalo-minta-opd-tak-lagi-abai/">Anggaran Responsif Gender, DPRD Provinsi Gorontalo Minta OPD Tak Lagi Abai</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/anggaran-responsif-gender-dprd-provinsi-gorontalo-minta-opd-tak-lagi-abai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengharukan. Simak bagaimana Perjuangan Seorang Pria Mengadopsi Anak Berkebutuhan Khusus</title>
		<link>https://barakati.id/mengharukan-simak-bagaimana-perjuangan-seorang-pria-mengadopsi-anak-berkebutuhan-khusus/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mengharukan-simak-bagaimana-perjuangan-seorang-pria-mengadopsi-anak-berkebutuhan-khusus</link>
					<comments>https://barakati.id/mengharukan-simak-bagaimana-perjuangan-seorang-pria-mengadopsi-anak-berkebutuhan-khusus/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2025 04:24:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Aditya Tiwari]]></category>
		<category><![CDATA[adopsi anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[disabilitas anak]]></category>
		<category><![CDATA[hukum adopsi India]]></category>
		<category><![CDATA[inklusi sosial]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[KESETARAAN GENDER]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua tunggal]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan ayah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=25895</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/mengharukan-simak-bagaimana-perjuangan-seorang-pria-mengadopsi-anak-berkebutuhan-khusus/">Mengharukan. Simak bagaimana Perjuangan Seorang Pria Mengadopsi Anak Berkebutuhan Khusus</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/mengharukan-simak-bagaimana-perjuangan-seorang-pria-mengadopsi-anak-berkebutuhan-khusus/">Mengharukan. Simak bagaimana Perjuangan Seorang Pria Mengadopsi Anak Berkebutuhan Khusus</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="xdj266r x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs x126k92a">
<div dir="auto"><button id="bb3" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb3.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Di India, Aditya Tiwari mencetak sejarah sebagai pria lajang pertama yang berhasil mengadopsi anak berkebutuhan khusus—melebihi batas usia hukum—demonstrasi cinta, keberanian, dan aksi nyata untuk inklusivitas. Aditya (28) bertemu Avnish, bayi dengan Down Syndrom, di panti asuhan saat usianya baru enam bulan. Sepintas, ini tampak seperti momen spontan; namun perjalanan panjang menanti demi bisa menyatukan mereka secara legal sepanjang 18 bulan penuh tantangan. Aditya awalnya dikenalkan dengan Avnish pada 13 September 2014 di sebuah panti asuhan di Bhopal. Setelah mengetahui kondisi sang anak yang punya cidera fisik, tumor, dan Down syndrom, ia bertekad: “Berikan dia padaku.” Salah satu rintangan terberat adalah terkait dengan undang-undang di India yang mengizinkan adopsi orang tua tunggal baru pada usia minimal 30 tahun. Selain itu, ia menghadapi juga tekanan dari keluarga dan masyarakat. Dia dianggap “membuang-buang waktu” sebagai pria yang akan mengurus anak. Tuntutan Aditya dengan mengirimkan surat bahkan ke perdana menteri mendorong India merevisi regulasi usia minimum adopsi menurun menjadi 25 tahun. Pada 1 Januari 2016, ia resmi menjadi ayah Avnish. Tidak berhenti sampai disitu, setelah pengangkatan, muncul masalah kesehatan terhadap Avnish. gangguang kesehatan seperti sembelit akut, gangguan tiroid, strabismus, dan jantung berlubang. Aditya harus pun mengambil cuti selama lima bulan untuk pendampingan penuh, dan Avnish akhirnya bisa berjalan, dan lubang di jantungnya dapat tertutup. Kini Aditya berfokus pada advokasi memfasilitasi pekerjaan dan rumah bagi anak berkebutuhan khusus, memberikan konseling pengasuhan, hingga menjadi pembicara di India, Bhutan, Nepal, Myanmar, dan PBB (2019). Pada Hari Perempuan Internasional 2020, Aditya dinobatkan “Ibu Terbaik Dunia” oleh WEmpower Bengaluru, sebuah penghargaan yang menghapus batasan gender pengasuh. Ia menolak dipanggil “ayah” atau “ibu”; bagi Aditya, dirinya adalah “orang tua”. Di hari ulang tahun Avnish, Aditya menulis surat yang berisi pesan tentang kesabaran, doa, dan rasa syukur agar kelak sang anak menghargai perjuangan dan cinta di balik adopsinya. Aditya berharap stigma “kesanggupan pengasuh berdasar gender” bisa musnah, dan menegaskan bahwa “Mengasuh anak tidak didasarkan pada jenis kelamin.” Ia berharap semua anak, tak terlepas kondisi fisik, dapat menyatu dalam keluarga penuh cinta.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto"></div>
<div dir="auto">Di India, Aditya Tiwari mencetak sejarah sebagai pria lajang pertama yang berhasil mengadopsi anak berkebutuhan khusus—melebihi batas usia hukum—demonstrasi cinta, keberanian, dan aksi nyata untuk inklusivitas.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Aditya (28) bertemu Avnish, bayi dengan Down Syndrom, di panti asuhan saat usianya baru enam bulan. Sepintas, ini tampak seperti momen spontan; namun perjalanan panjang menanti demi bisa menyatukan mereka secara legal sepanjang 18 bulan penuh tantangan.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Aditya awalnya dikenalkan dengan Avnish pada 13 September 2014 di sebuah panti asuhan di Bhopal. Setelah mengetahui kondisi sang anak yang punya cidera fisik, tumor, dan Down syndrom, ia bertekad: “Berikan dia padaku.”</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Salah satu rintangan terberat adalah terkait dengan undang-undang di India yang mengizinkan adopsi orang tua tunggal baru pada usia minimal 30 tahun. Selain itu, ia menghadapi juga tekanan dari keluarga dan masyarakat. Dia dianggap “membuang-buang waktu” sebagai pria yang akan mengurus anak.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Tuntutan Aditya dengan mengirimkan surat bahkan ke perdana menteri mendorong India merevisi regulasi usia minimum adopsi menurun menjadi 25 tahun. Pada 1 Januari 2016, ia resmi menjadi ayah Avnish.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Tidak berhenti sampai disitu, setelah pengangkatan, muncul masalah kesehatan terhadap Avnish. gangguang kesehatan seperti sembelit akut, gangguan tiroid, strabismus, dan jantung berlubang. Aditya harus pun mengambil cuti selama lima bulan untuk pendampingan penuh, dan Avnish akhirnya bisa berjalan, dan lubang di jantungnya dapat tertutup.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Kini Aditya berfokus pada advokasi memfasilitasi pekerjaan dan rumah bagi anak berkebutuhan khusus, memberikan konseling pengasuhan, hingga menjadi pembicara di India, Bhutan, Nepal, Myanmar, dan PBB (2019).</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Pada Hari Perempuan Internasional 2020, Aditya dinobatkan “Ibu Terbaik Dunia” oleh WEmpower Bengaluru, sebuah penghargaan yang menghapus batasan gender pengasuh. Ia menolak dipanggil “ayah” atau “ibu”; bagi Aditya, dirinya adalah “orang tua”.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Di hari ulang tahun Avnish, Aditya menulis surat yang berisi pesan tentang kesabaran, doa, dan rasa syukur agar kelak sang anak menghargai perjuangan dan cinta di balik adopsinya.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Aditya berharap stigma “kesanggupan pengasuh berdasar gender” bisa musnah, dan menegaskan bahwa “Mengasuh anak tidak didasarkan pada jenis kelamin.” Ia berharap semua anak, tak terlepas kondisi fisik, dapat menyatu dalam keluarga penuh cinta.</div>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/mengharukan-simak-bagaimana-perjuangan-seorang-pria-mengadopsi-anak-berkebutuhan-khusus/">Mengharukan. Simak bagaimana Perjuangan Seorang Pria Mengadopsi Anak Berkebutuhan Khusus</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/mengharukan-simak-bagaimana-perjuangan-seorang-pria-mengadopsi-anak-berkebutuhan-khusus/">Mengharukan. Simak bagaimana Perjuangan Seorang Pria Mengadopsi Anak Berkebutuhan Khusus</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/mengharukan-simak-bagaimana-perjuangan-seorang-pria-mengadopsi-anak-berkebutuhan-khusus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wali Kota Gorontalo, Marten Taha, Menyuarakan Kesetaraan Gender dalam Seminar GOW</title>
		<link>https://barakati.id/wali-kota-gorontalo-marten-taha-menyuarakan-kesetaraan-gender-dalam-seminar-gow/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=wali-kota-gorontalo-marten-taha-menyuarakan-kesetaraan-gender-dalam-seminar-gow</link>
					<comments>https://barakati.id/wali-kota-gorontalo-marten-taha-menyuarakan-kesetaraan-gender-dalam-seminar-gow/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Oct 2023 12:56:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[KESETARAAN GENDER]]></category>
		<category><![CDATA[MARTEN TAHA]]></category>
		<category><![CDATA[pemkot gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[SEMINAR GOW]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=19498</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/wali-kota-gorontalo-marten-taha-menyuarakan-kesetaraan-gender-dalam-seminar-gow/">Wali Kota Gorontalo, Marten Taha, Menyuarakan Kesetaraan Gender dalam Seminar GOW</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/wali-kota-gorontalo-marten-taha-menyuarakan-kesetaraan-gender-dalam-seminar-gow/">Wali Kota Gorontalo, Marten Taha, Menyuarakan Kesetaraan Gender dalam Seminar GOW</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb4" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb4.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("KOTA GORONTALO - Wali Kota Gorontalo, Marten Taha, menghadiri seminar yang digelar oleh Gabungan Organisasi Wanita (GOW) di Aston Gorontalo Hotel & Villas. Acara ini bertema \"Perempuan dan Politik,\" yang menjadi platform untuk mendiskusikan peran perempuan dalam dunia politik, (16/10/2023) Dalam sambutannya, Wali Kota Marten Taha menekankan bahwa politik seharusnya tidak memandang gender sebagai hambatan dalam menilai kemampuan seseorang dalam berpolitik. Dengan tegas, ia menyatakan, \"Bidang politik bisa digeluti oleh siapa saja, termasuk kaum perempuan. Sejarah memang menunjukkan keterlibatan lebih banyak kaum laki-laki, tetapi ini bukan berarti perempuan tidak mampu.\" Marten Taha mencatat bahwa perempuan kini semakin gencar terlibat dalam politik, mengatasi stigma dan pandangan bahwa mereka tidak mampu berperan di bidang-bidang tertentu. \"Seiring berjalannya waktu, perempuan semakin masuk dan menggeluti dunia politik. Perempuan telah lama mendapat stigma dan dianggap belum mampu berperan dalam beberapa bidang,\" ujarnya. Dalam pandangannya, kegigihan kaum perempuan telah menciptakan gerakan emansipasi wanita, memberikan peluang bagi mereka untuk berkiprah di berbagai sektor dalam kehidupan masyarakat dan negara. \"Ini dikenal sebagai peran gender yang harus diperankan oleh kaum perempuan,\" tambahnya. Sebagai seorang wali kota yang telah menjabat dua periode, Marten Taha mengapresiasi semangat perempuan untuk mengambil peran aktif dalam politik. Seminar ini menjadi momentum penting untuk merangsang diskusi lebih lanjut tentang kesetaraan gender dan peran perempuan dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p>KOTA GORONTALO &#8211; Wali Kota Gorontalo, Marten Taha, menghadiri seminar yang digelar oleh Gabungan Organisasi Wanita (GOW) di Aston Gorontalo Hotel &amp; Villas. Acara ini bertema &#8220;Perempuan dan Politik,&#8221; yang menjadi platform untuk mendiskusikan peran perempuan dalam dunia politik, (16/10/2023)</p>
<p>Dalam sambutannya, Wali Kota Marten Taha menekankan bahwa politik seharusnya tidak memandang gender sebagai hambatan dalam menilai kemampuan seseorang dalam berpolitik. Dengan tegas, ia menyatakan, &#8220;Bidang politik bisa digeluti oleh siapa saja, termasuk kaum perempuan. Sejarah memang menunjukkan keterlibatan lebih banyak kaum laki-laki, tetapi ini bukan berarti perempuan tidak mampu.&#8221;</p>
<p>Marten Taha mencatat bahwa perempuan kini semakin gencar terlibat dalam politik, mengatasi stigma dan pandangan bahwa mereka tidak mampu berperan di bidang-bidang tertentu.</p>
<p>&#8220;Seiring berjalannya waktu, perempuan semakin masuk dan menggeluti dunia politik. Perempuan telah lama mendapat stigma dan dianggap belum mampu berperan dalam beberapa bidang,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dalam pandangannya, kegigihan kaum perempuan telah menciptakan gerakan emansipasi wanita, memberikan peluang bagi mereka untuk berkiprah di berbagai sektor dalam kehidupan masyarakat dan negara.</p>
<p>&#8220;Ini dikenal sebagai peran gender yang harus diperankan oleh kaum perempuan,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Sebagai seorang wali kota yang telah menjabat dua periode, Marten Taha mengapresiasi semangat perempuan untuk mengambil peran aktif dalam politik. Seminar ini menjadi momentum penting untuk merangsang diskusi lebih lanjut tentang kesetaraan gender dan peran perempuan dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/wali-kota-gorontalo-marten-taha-menyuarakan-kesetaraan-gender-dalam-seminar-gow/">Wali Kota Gorontalo, Marten Taha, Menyuarakan Kesetaraan Gender dalam Seminar GOW</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/wali-kota-gorontalo-marten-taha-menyuarakan-kesetaraan-gender-dalam-seminar-gow/">Wali Kota Gorontalo, Marten Taha, Menyuarakan Kesetaraan Gender dalam Seminar GOW</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/wali-kota-gorontalo-marten-taha-menyuarakan-kesetaraan-gender-dalam-seminar-gow/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
