<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KETUK SAHUR Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/ketuk-sahur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/ketuk-sahur/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Feb 2026 17:11:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>KETUK SAHUR Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/ketuk-sahur/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Suara Tradisi di Tengah Zaman: Koko’o Bilungala Tetap Berdentum Tanpa Sound System</title>
		<link>https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system</link>
					<comments>https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2026 21:06:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten bone bolango]]></category>
		<category><![CDATA[Bone Bolango]]></category>
		<category><![CDATA[budaya pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[desa bilungala]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[GOTONG ROYONG]]></category>
		<category><![CDATA[identitas budaya]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kearifan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[KETUK SAHUR]]></category>
		<category><![CDATA[Koko’o]]></category>
		<category><![CDATA[pelestarian budaya]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda Bilungala]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 1447 H]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi sahur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=29453</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/">Suara Tradisi di Tengah Zaman: Koko’o Bilungala Tetap Berdentum Tanpa Sound System</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/">Suara Tradisi di Tengah Zaman: Koko’o Bilungala Tetap Berdentum Tanpa Sound System</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("BONBOL - Tradisi Koko’o atau ketuk sahur masih terus dilestarikan oleh masyarakat di wilayah Provinsi Gorontalo. Setiap kali bulan Ramadan tiba, tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga, khususnya di daerah pesisir dan pedesaan. Koko’o dilakukan dengan cara para pemuda berkeliling kampung menjelang waktu sahur sambil membawa alat pukul tradisional. Ketukan ritmis dari alat tersebut berfungsi membangunkan warga agar bersiap menyantap sahur sebelum menjalankan ibadah puasa. Di sejumlah daerah, tradisi Koko’o kini mulai beradaptasi dengan kemajuan teknologi melalui penggunaan pengeras suara dan sistem audio modern. Namun, pemandangan berbeda bisa ditemui di wilayah pesisir selatan Kabupaten Bone Bolango, tepatnya di Kecamatan Bonepantai. Warga Desa Bilungala memilih untuk tetap menjaga keaslian tradisi Koko’o secara murni, tanpa bantuan sound system atau perangkat elektronik lainnya. Setiap malam selama Ramadan, para pemuda desa rutin berkeliling dari lorong ke lorong sambil membunyikan Koko’o. Suara pukulan alat sederhana itu menjadi alarm alami yang ditunggu warga, menggantikan fungsi teknologi dengan nuansa kebersamaan khas kampung. Ketua Karang Taruna Desa Bilungala, Abdul Karim Suleman, mengatakan bahwa tradisi Koko’o telah berlangsung sejak era 1960-an dan secara konsisten dijalankan hingga kini. Menurutnya, kegiatan itu dimulai sejak malam pertama Ramadan hingga malam terakhir setiap tahun. Meski sebagian pemuda Bilungala kini merantau dan akrab dengan berbagai alat musik modern, semangat mereka untuk menjaga keaslian tradisi tetap kuat. Baik yang tinggal di kampung maupun yang pulang kampung saat Ramadan, mereka bergotong royong melestarikan Koko’o sebagai warisan budaya nenek moyang. “Koko’o bukan sekadar tradisi membangunkan sahur, tetapi juga simbol kebersamaan dan identitas desa kami,” ujar Abdul Karim. Bagi warga Bilungala, pelestarian tradisi ini adalah bukti nyata bahwa modernisasi tidak harus menghapus kearifan lokal. Koko’o menjadi penanda spiritual, sosial, dan budaya yang terus hidup di tengah perubahan zaman.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">BONBOL &#8211; Tradisi <strong>Koko’o</strong> atau ketuk sahur masih terus dilestarikan oleh masyarakat di wilayah Provinsi Gorontalo. Setiap kali bulan Ramadan tiba, tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga, khususnya di daerah pesisir dan pedesaan.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Koko’o dilakukan dengan cara para pemuda berkeliling kampung menjelang waktu sahur sambil membawa alat pukul tradisional. Ketukan ritmis dari alat tersebut berfungsi membangunkan warga agar bersiap menyantap sahur sebelum menjalankan ibadah puasa.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Di sejumlah daerah, tradisi Koko’o kini mulai beradaptasi dengan kemajuan teknologi melalui penggunaan pengeras suara dan sistem audio modern. Namun, pemandangan berbeda bisa ditemui di wilayah pesisir selatan Kabupaten Bone Bolango, tepatnya di Kecamatan Bonepantai. Warga <strong>Desa Bilungala</strong> memilih untuk tetap menjaga keaslian tradisi Koko’o secara murni, tanpa bantuan sound system atau perangkat elektronik lainnya.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Setiap malam selama Ramadan, para pemuda desa rutin berkeliling dari lorong ke lorong sambil membunyikan Koko’o. Suara pukulan alat sederhana itu menjadi alarm alami yang ditunggu warga, menggantikan fungsi teknologi dengan nuansa kebersamaan khas kampung.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Ketua Karang Taruna Desa Bilungala, <strong>Abdul Karim Suleman</strong>, mengatakan bahwa tradisi Koko’o telah berlangsung sejak era 1960-an dan secara konsisten dijalankan hingga kini. Menurutnya, kegiatan itu dimulai sejak malam pertama Ramadan hingga malam terakhir setiap tahun.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Meski sebagian pemuda Bilungala kini merantau dan akrab dengan berbagai alat musik modern, semangat mereka untuk menjaga keaslian tradisi tetap kuat. Baik yang tinggal di kampung maupun yang pulang kampung saat Ramadan, mereka bergotong royong melestarikan Koko’o sebagai warisan budaya nenek moyang.</p>
<blockquote>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Koko’o bukan sekadar tradisi membangunkan sahur, tetapi juga simbol kebersamaan dan identitas desa kami,” ujar Abdul Karim.</p>
</blockquote>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Bagi warga Bilungala, pelestarian tradisi ini adalah bukti nyata bahwa modernisasi tidak harus menghapus kearifan lokal. <strong>Koko’o menjadi penanda spiritual, sosial, dan budaya</strong> yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/">Suara Tradisi di Tengah Zaman: Koko’o Bilungala Tetap Berdentum Tanpa Sound System</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/">Suara Tradisi di Tengah Zaman: Koko’o Bilungala Tetap Berdentum Tanpa Sound System</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rektor UNG Pimpin Tradisi &#8216;Ketuk Sahur&#8217; Bersama Ratusan Warga Gorontalo</title>
		<link>https://barakati.id/rektor-ung-pimpin-tradisi-ketuk-sahur-bersama-ratusan-warga-gorontalo/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=rektor-ung-pimpin-tradisi-ketuk-sahur-bersama-ratusan-warga-gorontalo</link>
					<comments>https://barakati.id/rektor-ung-pimpin-tradisi-ketuk-sahur-bersama-ratusan-warga-gorontalo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Mar 2024 16:12:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[eduart wolok]]></category>
		<category><![CDATA[KETUK SAHUR]]></category>
		<category><![CDATA[Rektor UNG]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[TRADISI KOKO'O]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=21359</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/rektor-ung-pimpin-tradisi-ketuk-sahur-bersama-ratusan-warga-gorontalo/">Rektor UNG Pimpin Tradisi &#8216;Ketuk Sahur&#8217; Bersama Ratusan Warga Gorontalo</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/rektor-ung-pimpin-tradisi-ketuk-sahur-bersama-ratusan-warga-gorontalo/">Rektor UNG Pimpin Tradisi &#8216;Ketuk Sahur&#8217; Bersama Ratusan Warga Gorontalo</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb2" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb2.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("UNG - Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Prof. Dr. Eduart Wolok, mengungkapkan keistimewaan dari perayaan tahunan yang disebut Koko\'o Sahur yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari agenda tahunan warga Kota Gorontalo. Tradisi unik ini, yang dimulai dari depan Kampus UNG dan berakhir di Kelurahan Talumolo, dimulai dengan pelepasan langsung oleh Rektor UNG sendiri. Ratusan warga, dari anak-anak hingga orang tua, berpartisipasi dalam tradisi ini dengan berjalan kaki sambil memegang kentongan bambu. Menurut Prof. Dr. Eduart Wolok, Koko\'o Sahur, yang berarti \"Ketuk Sahur\" dalam bahasa Gorontalo, adalah momen di mana anak muda berkumpul untuk memukul kentongan bambu. Dalam perayaan 10 tahun brigade toki sahur ini, mereka merancangnya dalam bentuk yang lebih menghibur. \"Malam ini, tepat 1 dekade Koko\'o Gorontalo, kami membuatnya dengan rute terpanjang sebagai ungkapan syukur dan kegembiraan kami menyambut bulan Suci Ramadhan,\" jelasnya. Terakhir, Prof. Dr. Eduart Wolok berharap bahwa Koko\'o Sahur, yang diinisiasi oleh anak muda Talumolo, akan menjadi bagian dari warisan budaya yang menonjolkan ciri khas masyarakat Gorontalo dalam menyambut bulan suci Ramadan.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p>UNG &#8211; Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Prof. Dr. Eduart Wolok, mengungkapkan keistimewaan dari perayaan tahunan yang disebut Koko&#8217;o Sahur yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari agenda tahunan warga Kota Gorontalo.</p>
<p>Tradisi unik ini, yang dimulai dari depan Kampus UNG dan berakhir di Kelurahan Talumolo, dimulai dengan pelepasan langsung oleh Rektor UNG sendiri. Ratusan warga, dari anak-anak hingga orang tua, berpartisipasi dalam tradisi ini dengan berjalan kaki sambil memegang kentongan bambu.</p>
<p>Menurut Prof. Dr. Eduart Wolok, Koko&#8217;o Sahur, yang berarti &#8220;Ketuk Sahur&#8221; dalam bahasa Gorontalo, adalah momen di mana anak muda berkumpul untuk memukul kentongan bambu. Dalam perayaan 10 tahun brigade toki sahur ini, mereka merancangnya dalam bentuk yang lebih menghibur.</p>
<p>&#8220;Malam ini, tepat 1 dekade Koko&#8217;o Gorontalo, kami membuatnya dengan rute terpanjang sebagai ungkapan syukur dan kegembiraan kami menyambut bulan Suci Ramadhan,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Terakhir, Prof. Dr. Eduart Wolok berharap bahwa Koko&#8217;o Sahur, yang diinisiasi oleh anak muda Talumolo, akan menjadi bagian dari warisan budaya yang menonjolkan ciri khas masyarakat Gorontalo dalam menyambut bulan suci Ramadan.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/rektor-ung-pimpin-tradisi-ketuk-sahur-bersama-ratusan-warga-gorontalo/">Rektor UNG Pimpin Tradisi &#8216;Ketuk Sahur&#8217; Bersama Ratusan Warga Gorontalo</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/rektor-ung-pimpin-tradisi-ketuk-sahur-bersama-ratusan-warga-gorontalo/">Rektor UNG Pimpin Tradisi &#8216;Ketuk Sahur&#8217; Bersama Ratusan Warga Gorontalo</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/rektor-ung-pimpin-tradisi-ketuk-sahur-bersama-ratusan-warga-gorontalo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
