<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>klarifikasi berita Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/klarifikasi-berita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/klarifikasi-berita/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Sat, 25 Apr 2026 07:51:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>klarifikasi berita Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/klarifikasi-berita/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kepala BGN Meluruskan: Angka 19.000 Sapi Hanya Simulasi, Bukan Kebutuhan Harian MBG</title>
		<link>https://barakati.id/kepala-bgn-meluruskan-angka-19-000-sapi-hanya-simulasi-bukan-kebutuhan-harian-mbg/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kepala-bgn-meluruskan-angka-19-000-sapi-hanya-simulasi-bukan-kebutuhan-harian-mbg</link>
					<comments>https://barakati.id/kepala-bgn-meluruskan-angka-19-000-sapi-hanya-simulasi-bukan-kebutuhan-harian-mbg/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2026 14:25:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[BGN]]></category>
		<category><![CDATA[dadan hindayana]]></category>
		<category><![CDATA[daging sapi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi pangan]]></category>
		<category><![CDATA[gizi nasional]]></category>
		<category><![CDATA[harga pangan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[isu viral]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan pangan]]></category>
		<category><![CDATA[kebutuhan sapi]]></category>
		<category><![CDATA[klarifikasi berita]]></category>
		<category><![CDATA[Makan Bergizi Gratis]]></category>
		<category><![CDATA[MBG]]></category>
		<category><![CDATA[program pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[telur]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=30287</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/kepala-bgn-meluruskan-angka-19-000-sapi-hanya-simulasi-bukan-kebutuhan-harian-mbg/">Kepala BGN Meluruskan: Angka 19.000 Sapi Hanya Simulasi, Bukan Kebutuhan Harian MBG</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/kepala-bgn-meluruskan-angka-19-000-sapi-hanya-simulasi-bukan-kebutuhan-harian-mbg/">Kepala BGN Meluruskan: Angka 19.000 Sapi Hanya Simulasi, Bukan Kebutuhan Harian MBG</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("NEWS - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana meluruskan informasi terkait kebutuhan 19.000 ekor sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan bahwa angka tersebut bukan kebutuhan harian, melainkan hanya hasil simulasi perhitungan. Penjelasan ini disampaikan untuk menghindari kesalahpahaman publik mengenai skala kebutuhan bahan pangan dalam program tersebut. Menurut Dadan, perhitungan tersebut dibuat dengan asumsi tertentu, bukan kondisi yang benar-benar terjadi di lapangan. \"Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi,\" jelasnya. Ia menerangkan bahwa kebutuhan tersebut dihitung jika seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara bersamaan menyajikan menu berbahan dasar daging sapi. Dalam praktiknya, hal tersebut tidak dilakukan. Dalam satu kali proses memasak, satu SPPG membutuhkan sekitar 350 hingga 382 kilogram daging sapi. Jumlah itu setara dengan satu ekor sapi untuk kebutuhan daging. \"Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja,\" papar Dadan. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak menerapkan kebijakan menu yang seragam secara nasional dalam program MBG. Pendekatan fleksibel dipilih agar tidak menimbulkan tekanan terhadap pasokan dan harga bahan pangan di pasar. Pengalaman sebelumnya menunjukkan dampak signifikan jika konsumsi dilakukan secara serentak. Saat peringatan ulang tahun Presiden pada 17 Oktober lalu, misalnya, kebutuhan telur mencapai puluhan juta butir dalam satu hari. \"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000,\" ungkapnya. Sebagai langkah antisipasi, BGN mengadopsi strategi penyusunan menu berbasis potensi daerah. Setiap wilayah didorong memanfaatkan sumber daya lokal agar distribusi kebutuhan pangan lebih merata dan stabil. \"Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik,\" tutupnya. Sejumlah laporan media nasional juga menegaskan hal serupa, bahwa angka 19.000 ekor sapi merupakan simulasi berbasis asumsi, bukan kebutuhan aktual harian dalam program MBG.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p>NEWS &#8211; Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana meluruskan informasi terkait kebutuhan 19.000 ekor sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan bahwa angka tersebut bukan kebutuhan harian, melainkan hanya hasil simulasi perhitungan.</p>
<p>Penjelasan ini disampaikan untuk menghindari kesalahpahaman publik mengenai skala kebutuhan bahan pangan dalam program tersebut. Menurut Dadan, perhitungan tersebut dibuat dengan asumsi tertentu, bukan kondisi yang benar-benar terjadi di lapangan.</p>
<p>&#8220;Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Ia menerangkan bahwa kebutuhan tersebut dihitung jika seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara bersamaan menyajikan menu berbahan dasar daging sapi. Dalam praktiknya, hal tersebut tidak dilakukan.</p>
<p>Dalam satu kali proses memasak, satu SPPG membutuhkan sekitar 350 hingga 382 kilogram daging sapi. Jumlah itu setara dengan satu ekor sapi untuk kebutuhan daging.</p>
<p>&#8220;Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja,&#8221; papar Dadan.</p>
<p>Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak menerapkan kebijakan menu yang seragam secara nasional dalam program MBG. Pendekatan fleksibel dipilih agar tidak menimbulkan tekanan terhadap pasokan dan harga bahan pangan di pasar.</p>
<p>Pengalaman sebelumnya menunjukkan dampak signifikan jika konsumsi dilakukan secara serentak. Saat peringatan ulang tahun Presiden pada 17 Oktober lalu, misalnya, kebutuhan telur mencapai puluhan juta butir dalam satu hari.</p>
<p>&#8220;Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Sebagai langkah antisipasi, BGN mengadopsi strategi penyusunan menu berbasis potensi daerah. Setiap wilayah didorong memanfaatkan sumber daya lokal agar distribusi kebutuhan pangan lebih merata dan stabil.</p>
<p>&#8220;Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik,&#8221; tutupnya.</p>
<p>Sejumlah laporan media nasional juga menegaskan hal serupa, bahwa angka 19.000 ekor sapi merupakan simulasi berbasis asumsi, bukan kebutuhan aktual harian dalam program MBG.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/kepala-bgn-meluruskan-angka-19-000-sapi-hanya-simulasi-bukan-kebutuhan-harian-mbg/">Kepala BGN Meluruskan: Angka 19.000 Sapi Hanya Simulasi, Bukan Kebutuhan Harian MBG</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/kepala-bgn-meluruskan-angka-19-000-sapi-hanya-simulasi-bukan-kebutuhan-harian-mbg/">Kepala BGN Meluruskan: Angka 19.000 Sapi Hanya Simulasi, Bukan Kebutuhan Harian MBG</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/kepala-bgn-meluruskan-angka-19-000-sapi-hanya-simulasi-bukan-kebutuhan-harian-mbg/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Klarifikasi Penting! UNG Tegaskan Penelitian Mikroplastik Tak Ganggu Nelayan Torosiaje</title>
		<link>https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje</link>
					<comments>https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2026 12:41:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten pohuwato]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[klarifikasi berita]]></category>
		<category><![CDATA[mikroplastik]]></category>
		<category><![CDATA[mitigasi sampah]]></category>
		<category><![CDATA[nelayan Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[pemberdayaan pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[publikasi internasional]]></category>
		<category><![CDATA[riset ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[riset perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[sampah pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[teluk tomini]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Torosiaje Jaya]]></category>
		<category><![CDATA[ung]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Negeri Gorontalo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=29189</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/">Klarifikasi Penting! UNG Tegaskan Penelitian Mikroplastik Tak Ganggu Nelayan Torosiaje</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/">Klarifikasi Penting! UNG Tegaskan Penelitian Mikroplastik Tak Ganggu Nelayan Torosiaje</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb2" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb2.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Pohuwato - Tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menegaskan kembali bahwa penelitian awal mengenai keberadaan mikroplastik pada ikan di wilayah Torosiaje Jaya dan perairan Teluk Tomini bertujuan untuk mengantisipasi dampak sampah pesisir, bukan untuk merugikan masyarakat nelayan. Penjelasan ini disampaikan menyusul munculnya kesalahpahaman akibat pemberitaan sebagian media yang tidak mengutip secara utuh hasil penelitian. Studi tersebut telah dipublikasikan dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries edisi Januari 2026 oleh tim yang terdiri atas Syam S. Kumaji, Dewi Wahyuni K. Baderan, Hasim, Zuliyanto Zakaria, Djuna Lamondo, dan Femy Mahmud Sahami. Syam S. Kumaji selaku peneliti utama menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Torosiaje Jaya atas ketidaknyamanan yang timbul. Ia menegaskan bahwa penelitian ini merupakan langkah ilmiah awal untuk menarik perhatian pemerintah pusat dan daerah agar pengelolaan sampah di kawasan pesisir, khususnya Torosiaje, dapat ditangani secara serius dan berkelanjutan. “Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pola distribusi ikan yang kemungkinan terpapar mikroplastik, bukan untuk menyimpulkan kondisi keseluruhan ikan di Teluk Tomini,” jelas Syam. Syam menambahkan, penelitian tersebut hanya melibatkan 12 spesies ikan dengan total 15 individu yang diambil dari tiga titik pengambilan sampel: wilayah pulau, perairan pemukiman, serta area tambatan perahu. Pengambilan sampel dalam jumlah terbatas tersebut merupakan bagian dari pendekatan studi pendahuluan. Lebih lanjut dijelaskan, bagian ikan yang diuji di laboratorium hanyalah saluran pencernaan, bukan daging ikan. “Saluran cerna merupakan bagian yang biasanya dibuang saat ikan dibersihkan sebelum dikonsumsi masyarakat,” ujarnya. Syam menegaskan, penelitian ini tidak berhubungan dengan kualitas daging ikan yang dikonsumsi masyarakat, sehingga tidak berdampak pada mata pencaharian nelayan Torosiaje. Penelitian lanjutan dengan cakupan lebih besar akan segera dilakukan untuk memperdalam hasil awal tersebut. Selain riset ilmiah, tim UNG juga mulai merancang langkah mitigasi pengelolaan sampah pesisir. “Kami berharap model pengelolaan yang dikembangkan bisa menjadi contoh efektif, bukan hanya untuk Torosiaje, tapi juga bagi wilayah pesisir lainnya di Indonesia, bahkan dunia,” pungkas Syam. Dengan adanya klarifikasi ini, tim peneliti UNG berharap masyarakat dapat memahami tujuan sebenarnya dari penelitian dan terus mendukung upaya akademik dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p><strong>Pohuwato</strong> &#8211; Tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menegaskan kembali bahwa penelitian awal mengenai keberadaan mikroplastik pada ikan di wilayah Torosiaje Jaya dan perairan Teluk Tomini bertujuan untuk mengantisipasi dampak sampah pesisir, bukan untuk merugikan masyarakat nelayan.</p>
<p>Penjelasan ini disampaikan menyusul munculnya kesalahpahaman akibat pemberitaan sebagian media yang tidak mengutip secara utuh hasil penelitian. Studi tersebut telah dipublikasikan dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology &amp; Fisheries edisi Januari 2026 oleh tim yang terdiri atas Syam S. Kumaji, Dewi Wahyuni K. Baderan, Hasim, Zuliyanto Zakaria, Djuna Lamondo, dan Femy Mahmud Sahami.</p>
<p>Syam S. Kumaji selaku peneliti utama menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Torosiaje Jaya atas ketidaknyamanan yang timbul. Ia menegaskan bahwa penelitian ini merupakan langkah ilmiah awal untuk menarik perhatian pemerintah pusat dan daerah agar pengelolaan sampah di kawasan pesisir, khususnya Torosiaje, dapat ditangani secara serius dan berkelanjutan.</p>
<p>“Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pola distribusi ikan yang kemungkinan terpapar mikroplastik, bukan untuk menyimpulkan kondisi keseluruhan ikan di Teluk Tomini,” jelas Syam.</p>
<p>Syam menambahkan, penelitian tersebut hanya melibatkan 12 spesies ikan dengan total 15 individu yang diambil dari tiga titik pengambilan sampel: wilayah pulau, perairan pemukiman, serta area tambatan perahu. Pengambilan sampel dalam jumlah terbatas tersebut merupakan bagian dari pendekatan studi pendahuluan.</p>
<p>Lebih lanjut dijelaskan, bagian ikan yang diuji di laboratorium hanyalah saluran pencernaan, bukan daging ikan. “Saluran cerna merupakan bagian yang biasanya dibuang saat ikan dibersihkan sebelum dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.</p>
<p>Syam menegaskan, penelitian ini tidak berhubungan dengan kualitas daging ikan yang dikonsumsi masyarakat, sehingga tidak berdampak pada mata pencaharian nelayan Torosiaje. Penelitian lanjutan dengan cakupan lebih besar akan segera dilakukan untuk memperdalam hasil awal tersebut.</p>
<p>Selain riset ilmiah, tim UNG juga mulai merancang langkah mitigasi pengelolaan sampah pesisir. “Kami berharap model pengelolaan yang dikembangkan bisa menjadi contoh efektif, bukan hanya untuk Torosiaje, tapi juga bagi wilayah pesisir lainnya di Indonesia, bahkan dunia,” pungkas Syam.</p>
<p>Dengan adanya klarifikasi ini, tim peneliti UNG berharap masyarakat dapat memahami tujuan sebenarnya dari penelitian dan terus mendukung upaya akademik dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/">Klarifikasi Penting! UNG Tegaskan Penelitian Mikroplastik Tak Ganggu Nelayan Torosiaje</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/">Klarifikasi Penting! UNG Tegaskan Penelitian Mikroplastik Tak Ganggu Nelayan Torosiaje</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/klarifikasi-penting-ung-tegaskan-penelitian-mikroplastik-tak-ganggu-nelayan-torosiaje/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PERMINTAAN MAAF DAN HAK KOREKSI</title>
		<link>https://barakati.id/permintaan-maaf-dan-hak-koreksi/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=permintaan-maaf-dan-hak-koreksi</link>
					<comments>https://barakati.id/permintaan-maaf-dan-hak-koreksi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2025 13:04:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[akurasi pemberitaan]]></category>
		<category><![CDATA[barakati]]></category>
		<category><![CDATA[hak jawab]]></category>
		<category><![CDATA[hak koreksi]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalisme profesional]]></category>
		<category><![CDATA[kesalahan pemberitaan]]></category>
		<category><![CDATA[klarifikasi berita]]></category>
		<category><![CDATA[kode etik jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[permintaan maaf media]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan HTI]]></category>
		<category><![CDATA[rilis resmi]]></category>
		<category><![CDATA[tanggung jawab pers]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[transparansi media]]></category>
		<category><![CDATA[truk kayu gelondongan]]></category>
		<category><![CDATA[Undang-Undang Pers]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=28840</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/permintaan-maaf-dan-hak-koreksi/">PERMINTAAN MAAF DAN HAK KOREKSI</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/permintaan-maaf-dan-hak-koreksi/">PERMINTAAN MAAF DAN HAK KOREKSI</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb3" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb3.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Gorontalo - Redaksi Barakati menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan dalam pemberitaan sebelumnya yang menyinggung sebuah truk pengangkut kayu gelondongan yang diduga milik salah satu perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI). Dalam berita tersebut, redaksi mencantumkan keterangan seolah-olah telah melakukan konfirmasi langsung kepada pihak manajemen perusahaan terkait. Namun setelah dilakukan peninjauan ulang, ditemukan adanya kekeliruan dalam penulisan dan penyajian informasi yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik. Saya, Isran Doda, selaku wartawan Barakati, dengan ini menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak perusahaan serta semua pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan tersebut. Sebagai bentuk tanggung jawab profesional dan komitmen terhadap Kode Etik Jurnalistik, Redaksi Barakati membuka ruang hak koreksi dan hak jawab bagi pihak perusahaan maupun pihak lain yang berkepentingan untuk memberikan klarifikasi, penjelasan, atau tanggapan resmi guna meluruskan informasi yang telah termuat sebelumnya. Setiap klarifikasi yang diterima akan dipublikasikan secara berimbang, proporsional, dan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Demikian rilis ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kerja sama semua pihak, kami ucapkan terima kasih.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p>Gorontalo &#8211; Redaksi Barakati menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan dalam pemberitaan sebelumnya yang menyinggung sebuah truk pengangkut kayu gelondongan yang diduga milik salah satu perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI).</p>
<p>Dalam berita tersebut, redaksi mencantumkan keterangan seolah-olah telah melakukan konfirmasi langsung kepada pihak manajemen perusahaan terkait. Namun setelah dilakukan peninjauan ulang, ditemukan adanya kekeliruan dalam penulisan dan penyajian informasi yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik.</p>
<p>Saya, Isran Doda, selaku wartawan Barakati, dengan ini menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak perusahaan serta semua pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan tersebut.</p>
<p>Sebagai bentuk tanggung jawab profesional dan komitmen terhadap Kode Etik Jurnalistik, Redaksi Barakati membuka ruang hak koreksi dan hak jawab bagi pihak perusahaan maupun pihak lain yang berkepentingan untuk memberikan klarifikasi, penjelasan, atau tanggapan resmi guna meluruskan informasi yang telah termuat sebelumnya.</p>
<p>Setiap klarifikasi yang diterima akan dipublikasikan secara berimbang, proporsional, dan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.</p>
<p>Demikian rilis ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kerja sama semua pihak, kami ucapkan terima kasih.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/permintaan-maaf-dan-hak-koreksi/">PERMINTAAN MAAF DAN HAK KOREKSI</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/permintaan-maaf-dan-hak-koreksi/">PERMINTAAN MAAF DAN HAK KOREKSI</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/permintaan-maaf-dan-hak-koreksi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
