<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>krisis pangan Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/krisis-pangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/krisis-pangan/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Dec 2025 12:21:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>krisis pangan Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/krisis-pangan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Di Balik Tepuk Tangan Gubernur, Sawah Gorontalo Merana</title>
		<link>https://barakati.id/di-balik-tepuk-tangan-gubernur-sawah-gorontalo-merana/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=di-balik-tepuk-tangan-gubernur-sawah-gorontalo-merana</link>
					<comments>https://barakati.id/di-balik-tepuk-tangan-gubernur-sawah-gorontalo-merana/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2025 12:21:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten pohuwato]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[APBN 2025]]></category>
		<category><![CDATA[Buntulia]]></category>
		<category><![CDATA[cetak sawah baru]]></category>
		<category><![CDATA[Duhiadaa]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi desa]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[gusnar ismail]]></category>
		<category><![CDATA[hilangnya lahan subur]]></category>
		<category><![CDATA[irigasi pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[Ketahanan pangan]]></category>
		<category><![CDATA[krisis pangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[petani Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[pohuwato]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=28672</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/di-balik-tepuk-tangan-gubernur-sawah-gorontalo-merana/">Di Balik Tepuk Tangan Gubernur, Sawah Gorontalo Merana</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/di-balik-tepuk-tangan-gubernur-sawah-gorontalo-merana/">Di Balik Tepuk Tangan Gubernur, Sawah Gorontalo Merana</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Gorontalo - Tepuk tangan memecah udara segar Desa Manunggal Karya, Kabupaten Pohuwato. Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, berdiri di atas panggung sederhana untuk menandai dimulainya pembangunan cetak sawah baru. Prosesi peresmian berlangsung meriah: spanduk besar berkibar, kamera wartawan menyorot setiap langkah, dan anggaran senilai Rp207 miliar dari APBN dipamerkan sebagai simbol keseriusan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. “Ini bentuk perhatian Presiden Prabowo. Kita bekerja cepat, masyarakat mendukung,” ujar Gusnar dengan nada optimistis, seakan mengirim gelombang harapan ke seluruh petani di Kecamatan Randangan dan sekitarnya. Ia menjelaskan, saat ini Gorontalo memiliki sekitar 25.000 hektare sawah produktif. Dengan tambahan lahan baru, pemerintah menargetkan produksi padi meningkat dan musim tanam bisa dilakukan hingga tiga kali setahun. Dalam suasana yang penuh antusiasme, harapan itu seolah mengalir lembut di antara ribuan hektare lahan yang akan segera dicetak. Namun, optimisme dari tenda seremonial itu tak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. Beberapa kilometer dari lokasi acara, kenyataan berbicara lain. Di Kabupaten Pohuwato, khususnya di Kecamatan Duhiadaa dan Buntulia, sawah-sawah bukan sedang menunggu masa tanam, melainkan perlahan mati. Tanahnya retak, kering, dan kehilangan daya hidup. Di tengah hamparan lahan gersang, seorang petani bernama Abdurahman Lukum berdiri termenung. Separuh hidupnya ia habiskan di sawah, namun kini hanya bisa menatap tanah yang dulu menjadi sumber harapannya. “Sekitar 80 persen petani di Duhiadaa sudah menyerah. Takut gagal lagi,” tuturnya pelan. Masalah utama datang dari air irigasi yang kini keruh dan pekat membawa sedimen lumpur. Endapan tebal membuat akar padi tak bisa tumbuh. Beberapa petani yang masih berusaha turun ke sawah justru mengalami gatal-gatal akibat buruknya kualitas air. Dulu, karung-karung gabah menumpuk di rumah-rumah mereka. Anak-anak makan dari hasil panen sendiri. Kini, kenyataan berbalik. “Banyak yang harus membeli beras untuk makan sehari-hari,” ujar Abdurahman dengan suara bergetar, menyimpan getir yang sudah terlalu lama ia tahan. Kondisi ini turut menekan perekonomian desa. Biaya pengolahan sawah kini mencapai Rp6 juta per hektare, angka yang sulit dijangkau petani kecil. Pengusaha penggilingan padi yang selama ini menjadi penopang modal petani pun mulai tumbang. Beberapa bahkan berencana menjual mesin gilingan karena terjerat utang dan tak mampu lagi beroperasi.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><strong>Gorontalo</strong> &#8211; Tepuk tangan memecah udara segar Desa Manunggal Karya, Kabupaten Pohuwato. Gubernur Gorontalo, <strong>Gusnar Ismail</strong>, berdiri di atas panggung sederhana untuk menandai dimulainya pembangunan <strong>cetak sawah baru</strong>. Prosesi peresmian berlangsung meriah: spanduk besar berkibar, kamera wartawan menyorot setiap langkah, dan <strong>anggaran senilai Rp207 miliar dari APBN</strong> dipamerkan sebagai simbol keseriusan pemerintah dalam memperkuat <strong>ketahanan pangan nasional</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Ini bentuk perhatian Presiden Prabowo. Kita bekerja cepat, masyarakat mendukung,” ujar Gusnar dengan nada optimistis, seakan mengirim gelombang harapan ke seluruh petani di Kecamatan Randangan dan sekitarnya.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Ia menjelaskan, saat ini Gorontalo memiliki sekitar <strong>25.000 hektare sawah produktif</strong>. Dengan tambahan lahan baru, pemerintah menargetkan produksi padi meningkat dan <strong>musim tanam bisa dilakukan hingga tiga kali setahun</strong>. Dalam suasana yang penuh antusiasme, harapan itu seolah mengalir lembut di antara ribuan hektare lahan yang akan segera dicetak.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Namun, optimisme dari tenda seremonial itu tak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. Beberapa kilometer dari lokasi acara, <strong>kenyataan berbicara lain</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Di Kabupaten Pohuwato, khususnya di Kecamatan <strong>Duhiadaa</strong> dan <strong>Buntulia</strong>, sawah-sawah bukan sedang menunggu masa tanam, melainkan <strong>perlahan mati</strong>. Tanahnya retak, kering, dan kehilangan daya hidup.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Di tengah hamparan lahan gersang, seorang petani bernama <strong>Abdurahman Lukum</strong> berdiri termenung. Separuh hidupnya ia habiskan di sawah, namun kini hanya bisa menatap tanah yang dulu menjadi sumber harapannya.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Sekitar 80 persen petani di Duhiadaa sudah menyerah. Takut gagal lagi,” tuturnya pelan.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Masalah utama datang dari <strong>air irigasi yang kini keruh dan pekat membawa sedimen lumpur</strong>. Endapan tebal membuat akar padi tak bisa tumbuh. Beberapa petani yang masih berusaha turun ke sawah justru mengalami <strong>gatal-gatal</strong> akibat buruknya kualitas air.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Dulu, karung-karung gabah menumpuk di rumah-rumah mereka. Anak-anak makan dari hasil panen sendiri. Kini, kenyataan berbalik.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Banyak yang harus membeli beras untuk makan sehari-hari,” ujar Abdurahman dengan suara bergetar, menyimpan getir yang sudah terlalu lama ia tahan.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Kondisi ini turut menekan perekonomian desa. Biaya pengolahan sawah kini mencapai <strong>Rp6 juta per hektare</strong>, angka yang sulit dijangkau petani kecil. <strong>Pengusaha penggilingan padi yang selama ini menjadi penopang modal petani pun mulai tumbang.</strong> Beberapa bahkan berencana menjual mesin gilingan karena <strong>terjerat utang</strong> dan tak mampu lagi beroperasi.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/di-balik-tepuk-tangan-gubernur-sawah-gorontalo-merana/">Di Balik Tepuk Tangan Gubernur, Sawah Gorontalo Merana</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/di-balik-tepuk-tangan-gubernur-sawah-gorontalo-merana/">Di Balik Tepuk Tangan Gubernur, Sawah Gorontalo Merana</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/di-balik-tepuk-tangan-gubernur-sawah-gorontalo-merana/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
