<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nurul Fauziah Sabir Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/nurul-fauziah-sabir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/nurul-fauziah-sabir/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Jan 2026 21:07:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>Nurul Fauziah Sabir Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/nurul-fauziah-sabir/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Peneliti UNG Bicara, Pencegahan TB Anak Harus Dimulai dari Keluarga</title>
		<link>https://barakati.id/peneliti-ung-bicara-pencegahan-tb-anak-harus-dimulai-dari-keluarga/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=peneliti-ung-bicara-pencegahan-tb-anak-harus-dimulai-dari-keluarga</link>
					<comments>https://barakati.id/peneliti-ung-bicara-pencegahan-tb-anak-harus-dimulai-dari-keluarga/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2026 15:50:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO]]></category>
		<category><![CDATA[edukasi kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Fakultas kedokteran ung]]></category>
		<category><![CDATA[imun anak]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi menular]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan rumah]]></category>
		<category><![CDATA[Nurul Fauziah Sabir]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan TB]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku hidup bersih]]></category>
		<category><![CDATA[skrining TB]]></category>
		<category><![CDATA[TB anak]]></category>
		<category><![CDATA[tuberkulosis anak]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Negeri Gorontalo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=28958</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/peneliti-ung-bicara-pencegahan-tb-anak-harus-dimulai-dari-keluarga/">Peneliti UNG Bicara, Pencegahan TB Anak Harus Dimulai dari Keluarga</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/peneliti-ung-bicara-pencegahan-tb-anak-harus-dimulai-dari-keluarga/">Peneliti UNG Bicara, Pencegahan TB Anak Harus Dimulai dari Keluarga</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("UNG - Tuberkulosis (TB) hingga kini masih menjadi masalah kesehatan global yang serius, termasuk bagi kelompok anak-anak. Data global tahun 2023 menunjukkan sekitar 1,25 juta kematian disebabkan oleh TB di seluruh dunia. Penyakit menular ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, termasuk anak-anak yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan dibandingkan orang dewasa. Di Indonesia, data periode 2014–2019 memperlihatkan peningkatan signifikan dalam penemuan kasus TB anak, namun pada periode 2019–2023 grafik kasus TB anak cenderung fluktuatif, menandakan bahwa penyakit ini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang belum sepenuhnya teratasi. Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Nurul Fauziah Sabir, bersama tim risetnya, menyoroti pentingnya perhatian serius terhadap TB anak. Menurutnya, anak merupakan generasi penerus bangsa yang membutuhkan perlindungan optimal dari ancaman penyakit menular. Berdasarkan hasil tinjauan sistematis terhadap tujuh jurnal penelitian yang dilakukan di Indonesia, tim peneliti UNG berhasil mengidentifikasi sejumlah faktor utama yang memengaruhi risiko infeksi TB pada anak. “Kontak erat dengan penderita TB dewasa, terutama di dalam lingkungan rumah, menjadi faktor risiko paling dominan terhadap kejadian TB anak,” ungkap Nurul Fauziah. “Risiko ini meningkat pada anak usia dini karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang optimal sehingga mudah terinfeksi dan mengalami gejala berat,” tambahnya. Selain faktor kontak rumah tangga, lingkungan fisik tempat tinggal juga berperan besar dalam penyebaran TB. Rumah dengan sirkulasi udara buruk, kepadatan tinggi, kelembapan berlebih, serta paparan asap rokok menciptakan kondisi ideal bagi penularan bakteri TB. Anak-anak yang tinggal di lingkungan seperti ini menjadi kelompok yang paling rentan. Penelitian juga menemukan bahwa usia, kondisi imunologis, dan status gizi anak merupakan faktor biologis yang turut menentukan tingkat kerentanan terhadap infeksi TB. Di samping itu, faktor sosial dan perilaku keluarga memiliki pengaruh signifikan terhadap penyebaran TB di rumah tangga. Menurut Nurul, pengetahuan orang tua yang rendah mengenai gejala, cara penularan, dan pencegahan TB sangat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penularan pada anak. “Kesadaran keluarga menjadi garis pertahanan terdepan dalam pencegahan TB anak. Pengetahuan orang tua dan pola hidup sehat di rumah tangga menentukan seberapa kuat kemampuan keluarga memutus rantai penularan,” tegasnya. Tim peneliti UNG merekomendasikan sejumlah langkah pencegahan berbasis komunitas, seperti skrining kontak serumah, peningkatan edukasi kesehatan keluarga, perbaikan kondisi fisik hunian, serta penguatan peran tenaga kesehatan dalam sosialisasi TB anak. Nurul berharap hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam memperkuat program nasional pengendalian TB, sekaligus meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko penularan di lingkungan rumah.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">UNG &#8211;<strong> Tuberkulosis (TB)</strong> hingga kini masih menjadi masalah kesehatan global yang serius, termasuk bagi kelompok anak-anak. Data global tahun <strong>2023</strong> menunjukkan sekitar <strong>1,25 juta kematian</strong> disebabkan oleh TB di seluruh dunia. Penyakit menular ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, termasuk anak-anak yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan dibandingkan orang dewasa.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Di Indonesia, data periode <strong>2014–2019</strong> memperlihatkan peningkatan signifikan dalam penemuan kasus <strong>TB anak</strong>, namun pada periode <strong>2019–2023</strong> grafik kasus TB anak cenderung <strong>fluktuatif</strong>, menandakan bahwa penyakit ini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang belum sepenuhnya teratasi.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Peneliti dari <strong>Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG)</strong>, <strong>Nurul Fauziah Sabir</strong>, bersama tim risetnya, menyoroti pentingnya perhatian serius terhadap TB anak. Menurutnya, anak merupakan <strong>generasi penerus bangsa</strong> yang membutuhkan perlindungan optimal dari ancaman penyakit menular.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Berdasarkan hasil <strong>tinjauan sistematis terhadap tujuh jurnal penelitian</strong> yang dilakukan di Indonesia, tim peneliti UNG berhasil mengidentifikasi sejumlah faktor utama yang memengaruhi risiko infeksi TB pada anak.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“<strong>Kontak erat dengan penderita TB dewasa</strong>, terutama di dalam lingkungan rumah, menjadi faktor risiko paling dominan terhadap kejadian TB anak,” ungkap Nurul Fauziah. “Risiko ini meningkat pada anak usia dini karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang optimal sehingga mudah terinfeksi dan mengalami gejala berat,” tambahnya.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Selain faktor kontak rumah tangga, <strong>lingkungan fisik tempat tinggal</strong> juga berperan besar dalam penyebaran TB. Rumah dengan <strong>sirkulasi udara buruk, kepadatan tinggi, kelembapan berlebih, serta paparan asap rokok</strong> menciptakan kondisi ideal bagi penularan bakteri TB. Anak-anak yang tinggal di lingkungan seperti ini menjadi kelompok yang paling rentan.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Penelitian juga menemukan bahwa <strong>usia, kondisi imunologis, dan status gizi anak</strong> merupakan faktor biologis yang turut menentukan tingkat kerentanan terhadap infeksi TB.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Di samping itu, faktor <strong>sosial dan perilaku keluarga</strong> memiliki pengaruh signifikan terhadap penyebaran TB di rumah tangga. Menurut Nurul, <strong>pengetahuan orang tua yang rendah</strong> mengenai gejala, cara penularan, dan pencegahan TB sangat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penularan pada anak.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“<strong>Kesadaran keluarga menjadi garis pertahanan terdepan</strong> dalam pencegahan TB anak. Pengetahuan orang tua dan pola hidup sehat di rumah tangga menentukan seberapa kuat kemampuan keluarga memutus rantai penularan,” tegasnya.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Tim peneliti UNG merekomendasikan sejumlah langkah pencegahan berbasis komunitas, seperti <strong>skrining kontak serumah</strong>, peningkatan <strong>edukasi kesehatan keluarga</strong>, perbaikan <strong>kondisi fisik hunian</strong>, serta <strong>penguatan peran tenaga kesehatan</strong> dalam sosialisasi TB anak.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Nurul berharap hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam memperkuat <strong>program nasional pengendalian TB</strong>, sekaligus meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko penularan di lingkungan rumah.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/peneliti-ung-bicara-pencegahan-tb-anak-harus-dimulai-dari-keluarga/">Peneliti UNG Bicara, Pencegahan TB Anak Harus Dimulai dari Keluarga</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/peneliti-ung-bicara-pencegahan-tb-anak-harus-dimulai-dari-keluarga/">Peneliti UNG Bicara, Pencegahan TB Anak Harus Dimulai dari Keluarga</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/peneliti-ung-bicara-pencegahan-tb-anak-harus-dimulai-dari-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
