<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>penelitian Q1 Scopus Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/penelitian-q1-scopus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/penelitian-q1-scopus/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Dec 2025 01:32:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>penelitian Q1 Scopus Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/penelitian-q1-scopus/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tak Kalah dari Sapi! Peneliti UNG Ungkap Keunggulan Susu Kambing Lokal</title>
		<link>https://barakati.id/tak-kalah-dari-sapi-peneliti-ung-ungkap-keunggulan-susu-kambing-lokal/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=tak-kalah-dari-sapi-peneliti-ung-ungkap-keunggulan-susu-kambing-lokal</link>
					<comments>https://barakati.id/tak-kalah-dari-sapi-peneliti-ung-ungkap-keunggulan-susu-kambing-lokal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2025 01:32:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO]]></category>
		<category><![CDATA[Agus Bahar Rachman]]></category>
		<category><![CDATA[Discover Food Springer Nature]]></category>
		<category><![CDATA[Industri susu lokal]]></category>
		<category><![CDATA[keju dan yoghurt lokal]]></category>
		<category><![CDATA[koperasi merah putih]]></category>
		<category><![CDATA[laktoglobulin]]></category>
		<category><![CDATA[pangan bergizi]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian Q1 Scopus]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan peternakan kambing]]></category>
		<category><![CDATA[potensi ekonomi Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[protein whey]]></category>
		<category><![CDATA[PRTPP BRIN]]></category>
		<category><![CDATA[susu fungsional]]></category>
		<category><![CDATA[Susu kambing Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Negeri Gorontalo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=28774</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/tak-kalah-dari-sapi-peneliti-ung-ungkap-keunggulan-susu-kambing-lokal/">Tak Kalah dari Sapi! Peneliti UNG Ungkap Keunggulan Susu Kambing Lokal</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/tak-kalah-dari-sapi-peneliti-ung-ungkap-keunggulan-susu-kambing-lokal/">Tak Kalah dari Sapi! Peneliti UNG Ungkap Keunggulan Susu Kambing Lokal</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("UNG - Susu kambing lokal asal Gorontalo dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri pangan berbasis susu. Temuan ini diungkap dalam hasil penelitian yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah internasional bereputasi Q1 Scopus, Discover Food (Springer Nature), dengan judul **“Characterization of Physicochemical and Rheological Properties of Gorontalo Local Goat Milk for Dairy Technology Applications.”_ Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti lintas institusi yang dipimpin Agus Bahar Rachman dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), bersama Fahrul Ilham (UNG), Lukman Hakim (PRTPP BRIN), Nicolays Jambang (PRTPP BRIN), dan Andi Patiware dari Metaragakusuma Research Institute for Humanity and Nature. Penelitian tersebut mengkaji karakteristik fisikokimia dan reologi susu kambing dari empat genotipe yang dipelihara secara tradisional di Gorontalo, yaitu kambing Kacang, kambing lokal Gorontalo, kambing Peranakan Etawa, dan kambing persilangan Saanen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kambing sangat memengaruhi kualitas susu. Susu dari kambing persilangan, khususnya Saanen dan Peranakan Etawa, memiliki kandungan protein total dan fraksi kasein yang lebih tinggi, sehingga sangat berpotensi untuk diolah menjadi produk susu berprotein tinggi seperti keju dan yoghurt. Sementara itu, susu kambing jenis Kacang memiliki kandungan protein whey yang lebih dominan dan lebih mudah dicerna, menjadikannya cocok untuk produk pangan fungsional dan nutrisi khusus yang dibutuhkan bagi kelompok konsumen tertentu. Ketua tim peneliti, Agus Bahar Rachman, menjelaskan bahwa pengembangan susu kambing di Gorontalo sangat relevan dengan kondisi geografis dan iklim daerah yang cenderung panas. “Kondisi di Gorontalo lebih cocok untuk peternakan kambing dibandingkan sapi perah. Suhu di Gorontalo yang rata-rata di atas 27 derajat masih ideal bagi kambing, sementara sapi perah membutuhkan suhu lebih dingin dan lingkungan pegunungan,” jelas Agus. Ia menambahkan bahwa pengembangan sapi perah membutuhkan syarat lingkungan yang lebih spesifik, terutama pada suhu di bawah 15 derajat, sehingga tidak cocok untuk dikembangkan di wilayah tropis seperti Gorontalo. Lebih lanjut, Agus menilai bahwa percepatan pengembangan industri susu kambing dapat dilakukan melalui dukungan program nasional dan kebijakan penguatan sektor koperasi. “Pengembangan industri susu kambing dapat diinisiasi melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas Presiden Prabowo. Setiap koperasi di desa bisa diberdayakan untuk mengembangkan peternakan kambing dan pengolahan susunya,” ungkapnya. Menurut Agus, potensi susu kambing tidak hanya terletak pada aspek ekonomi, tetapi juga pada nilai gizi dan manfaat kesehatannya. “Dari sisi kesehatan, susu kambing lebih baik dibandingkan susu sapi. Kandungan protein, seperti laktoglobulin dan laktoferin, membuat susu kambing lebih ramah terhadap sistem pencernaan dan tidak menimbulkan lactose intolerance seperti rasa nyeri perut atau diare,” terang Agus. Ukuran globula protein pada susu kambing yang lebih kecil juga membuatnya lebih mudah diserap oleh tubuh, menjadikan susu ini sangat potensial untuk produk nutrisi fungsional dan terapi gizi. Penelitian ini menegaskan bahwa susu kambing lokal Gorontalo memiliki karakteristik reologi yang stabil dan sesuai untuk berbagai aplikasi teknologi pangan. Temuan ini diharapkan mendorong pengembangan industri pengolahan susu kambing lokal sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi para peternak di Gorontalo.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">UNG &#8211; Susu kambing lokal asal Gorontalo dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri pangan berbasis susu. Temuan ini diungkap dalam hasil penelitian yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah internasional bereputasi <strong>Q1 Scopus</strong>, <em>Discover Food</em> (Springer Nature), dengan judul **“Characterization of Physicochemical and Rheological Properties of Gorontalo Local Goat Milk for Dairy Technology Applications.”_</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Penelitian ini dilakukan oleh <strong>tim peneliti lintas institusi</strong> yang dipimpin <strong>Agus Bahar Rachman</strong> dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), bersama <strong>Fahrul Ilham (UNG)</strong>, <strong>Lukman Hakim (PRTPP BRIN)</strong>, <strong>Nicolays Jambang (PRTPP BRIN)</strong>, dan <strong>Andi Patiware</strong> dari <strong>Metaragakusuma Research Institute for Humanity and Nature</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Penelitian tersebut mengkaji <strong>karakteristik fisikokimia dan reologi</strong> susu kambing dari empat genotipe yang dipelihara secara tradisional di Gorontalo, yaitu <strong>kambing Kacang</strong>, <strong>kambing lokal Gorontalo</strong>, <strong>kambing Peranakan Etawa</strong>, dan <strong>kambing persilangan Saanen</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Hasil penelitian menunjukkan bahwa <strong>jenis kambing sangat memengaruhi kualitas susu</strong>. Susu dari kambing persilangan, khususnya <strong>Saanen dan Peranakan Etawa</strong>, memiliki <strong>kandungan protein total dan fraksi kasein yang lebih tinggi</strong>, sehingga sangat berpotensi untuk diolah menjadi produk <strong>susu berprotein tinggi</strong> seperti keju dan yoghurt.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Sementara itu, susu kambing jenis <strong>Kacang</strong> memiliki <strong>kandungan protein whey yang lebih dominan</strong> dan lebih mudah dicerna, menjadikannya cocok untuk <strong>produk pangan fungsional</strong> dan <strong>nutrisi khusus</strong> yang dibutuhkan bagi kelompok konsumen tertentu.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Ketua tim peneliti, <strong>Agus Bahar Rachman</strong>, menjelaskan bahwa pengembangan susu kambing di Gorontalo sangat relevan dengan kondisi geografis dan iklim daerah yang cenderung panas.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><em>“Kondisi di Gorontalo lebih cocok untuk peternakan kambing dibandingkan sapi perah. Suhu di Gorontalo yang rata-rata di atas 27 derajat masih ideal bagi kambing, sementara sapi perah membutuhkan suhu lebih dingin dan lingkungan pegunungan,” jelas Agus.</em></p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Ia menambahkan bahwa pengembangan sapi perah membutuhkan syarat lingkungan yang lebih spesifik, terutama pada suhu di bawah 15 derajat, sehingga <strong>tidak cocok untuk dikembangkan di wilayah tropis seperti Gorontalo</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Lebih lanjut, Agus menilai bahwa percepatan pengembangan industri susu kambing dapat dilakukan melalui <strong>dukungan program nasional</strong> dan kebijakan penguatan sektor koperasi.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><em>“Pengembangan industri susu kambing dapat diinisiasi melalui program <strong>Koperasi Merah Putih</strong> yang digagas Presiden Prabowo. Setiap koperasi di desa bisa diberdayakan untuk mengembangkan peternakan kambing dan pengolahan susunya,” ungkapnya.</em></p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Menurut Agus, potensi susu kambing tidak hanya terletak pada aspek ekonomi, tetapi juga pada <strong>nilai gizi dan manfaat kesehatannya</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2"><em>“Dari sisi kesehatan, susu kambing lebih baik dibandingkan susu sapi. Kandungan protein, seperti <strong>laktoglobulin dan laktoferin</strong>, membuat susu kambing lebih ramah terhadap sistem pencernaan dan tidak menimbulkan lactose intolerance seperti rasa nyeri perut atau diare,” terang Agus.</em></p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Ukuran globula protein pada susu kambing yang lebih kecil juga membuatnya <strong>lebih mudah diserap oleh tubuh</strong>, menjadikan susu ini sangat potensial untuk <strong>produk nutrisi fungsional dan terapi gizi</strong>.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Penelitian ini menegaskan bahwa <strong>susu kambing lokal Gorontalo memiliki karakteristik reologi yang stabil dan sesuai untuk berbagai aplikasi teknologi pangan</strong>. Temuan ini diharapkan mendorong <strong>pengembangan industri pengolahan susu kambing lokal</strong> sekaligus memberikan <strong>nilai tambah ekonomi bagi para peternak</strong> di Gorontalo.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/tak-kalah-dari-sapi-peneliti-ung-ungkap-keunggulan-susu-kambing-lokal/">Tak Kalah dari Sapi! Peneliti UNG Ungkap Keunggulan Susu Kambing Lokal</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/tak-kalah-dari-sapi-peneliti-ung-ungkap-keunggulan-susu-kambing-lokal/">Tak Kalah dari Sapi! Peneliti UNG Ungkap Keunggulan Susu Kambing Lokal</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/tak-kalah-dari-sapi-peneliti-ung-ungkap-keunggulan-susu-kambing-lokal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
