<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>puasa Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/puasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/puasa/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Apr 2021 16:45:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>puasa Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/puasa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pemda Gorut Putuskan Tak Ada Safari Ramadhan</title>
		<link>https://barakati.id/pemda-gorut-putuskan-tak-ada-safari-ramadhan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pemda-gorut-putuskan-tak-ada-safari-ramadhan</link>
					<comments>https://barakati.id/pemda-gorut-putuskan-tak-ada-safari-ramadhan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2021 16:45:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gorontalo Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[pemda gorut]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Rudis bupati gorut]]></category>
		<category><![CDATA[Safari ramadhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=8921</guid>

					<description><![CDATA[<p>GORUT &#8211; Bertempat di rumah dinas Bupati Gorontalo Utara, Indra Yasin mengungkapkan untuk pelaksanaan ramadhan 1442 Hijriah, Pemerintah daerah tidak akan melakukan safari Ramadhan. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid 19 dan menindaklanjuti edaran dari pemerintah pusat. &#8220;Malam ini juga kita putuskan belum ada syafari Ramadhan&#8221; Ungkap Bupati Gorut Indra Yasin,&#8221; (12/4/2021). Menurut Indra [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/pemda-gorut-putuskan-tak-ada-safari-ramadhan/">Pemda Gorut Putuskan Tak Ada Safari Ramadhan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/pemda-gorut-putuskan-tak-ada-safari-ramadhan/">Pemda Gorut Putuskan Tak Ada Safari Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="listenButton1" class="responsivevoice-button" type="button" value="Play" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan Berita</span></button>
        <script>
            listenButton1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("GORUT - Bertempat di rumah dinas Bupati Gorontalo Utara, Indra Yasin mengungkapkan untuk pelaksanaan ramadhan 1442 Hijriah, Pemerintah daerah tidak akan melakukan safari Ramadhan. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid 19 dan menindaklanjuti edaran dari pemerintah pusat. \"Malam ini juga kita putuskan belum ada syafari Ramadhan\" Ungkap Bupati Gorut Indra Yasin,\" (12/4/2021). Menurut Indra Yasin langkah ini diambil guna mencegah terjadinya kerumunan masa, mengingat saat ini masih dalam situasi pandemi. \"Karena safari Ramadhan juga di khawatirkan berkumpul masa lagi dan kita tidak bisa awasi\" Ujar Indra saat memberikan sambutan sekaligus pernyataan hasil penetapan 1 Ramadhan di Rumah dinas Bupati Gorut.", "UK English Female");
                }
            };
        </script>
    
<p>GORUT &#8211; Bertempat di rumah dinas Bupati Gorontalo Utara, Indra Yasin mengungkapkan untuk pelaksanaan ramadhan 1442 Hijriah, Pemerintah daerah tidak akan melakukan safari Ramadhan. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid 19 dan menindaklanjuti edaran dari pemerintah pusat.</p>
<p>&#8220;Malam ini juga kita putuskan belum ada syafari Ramadhan&#8221; Ungkap Bupati Gorut Indra Yasin,&#8221; (12/4/2021).</p>
<p>Menurut Indra Yasin langkah ini diambil guna mencegah terjadinya kerumunan masa, mengingat saat ini masih dalam situasi pandemi.</p>
<p>&#8220;Karena safari Ramadhan juga di khawatirkan berkumpul masa lagi dan kita tidak bisa awasi&#8221; Ujar Indra saat memberikan sambutan sekaligus pernyataan hasil penetapan 1 Ramadhan di Rumah dinas Bupati Gorut.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/pemda-gorut-putuskan-tak-ada-safari-ramadhan/">Pemda Gorut Putuskan Tak Ada Safari Ramadhan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/pemda-gorut-putuskan-tak-ada-safari-ramadhan/">Pemda Gorut Putuskan Tak Ada Safari Ramadhan</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/pemda-gorut-putuskan-tak-ada-safari-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bupati Gorontalo Utara Izinkan Warganya Sholat Tarawih Di Masjid</title>
		<link>https://barakati.id/bupati-gorontalo-utara-izinkan-warganya-sholat-tarawih-di-masjid/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=bupati-gorontalo-utara-izinkan-warganya-sholat-tarawih-di-masjid</link>
					<comments>https://barakati.id/bupati-gorontalo-utara-izinkan-warganya-sholat-tarawih-di-masjid/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2021 10:56:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gorontalo Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[bupati gorut]]></category>
		<category><![CDATA[indra yasin]]></category>
		<category><![CDATA[pemda gorut]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih di masjid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=8869</guid>

					<description><![CDATA[<p>GORUT &#8211; Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo Utara mengizinkan masyarakatnya untuk melakukan ibadah sholat Tarawih di tiap-tiap masjid, dengan ketentuan menerapkan protokol kesehatan dan jumlah jamaah yang hadir tidak lebih dari 50% sesuai dengan kapasitas masjid. Hal ini diungkapkan Bupati Indra Yasin saat memberikan sambutan pada kegiatan pembukaan seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) ke-5 Tingkat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/bupati-gorontalo-utara-izinkan-warganya-sholat-tarawih-di-masjid/">Bupati Gorontalo Utara Izinkan Warganya Sholat Tarawih Di Masjid</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/bupati-gorontalo-utara-izinkan-warganya-sholat-tarawih-di-masjid/">Bupati Gorontalo Utara Izinkan Warganya Sholat Tarawih Di Masjid</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="listenButton2" class="responsivevoice-button" type="button" value="Play" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan Berita</span></button>
        <script>
            listenButton2.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("GORUT - Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo Utara mengizinkan masyarakatnya untuk melakukan ibadah sholat Tarawih di tiap-tiap masjid, dengan ketentuan menerapkan protokol kesehatan dan jumlah jamaah yang hadir tidak lebih dari 50% sesuai dengan kapasitas masjid. Hal ini diungkapkan Bupati Indra Yasin saat memberikan sambutan pada kegiatan pembukaan seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) ke-5 Tingkat Kabupaten Gorut yang diselenggarakan di Aula Gerbang Emas, (8/4/2021). Menurutnya ini dilakukan untuk menindaklanjuti surat edaran yang dikeluarkan Kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) yang ditanda tangani pada tanggal 5 April 2021 oleh Yaqud Cholil Qoumas Menteri Agama RI terkait Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1442 Hijriah. “Pada prinsipnya untuk ibadah shalat tarawih kita ijinkan,” ungkapnya. Namun kata Indra dalam pelaksanaannya itu harus mengikuti aturan kementrian agama yaitu ada pembatasan jumlah kehadiran 50% dari kapasitas masjid. “Aturannya kapasitas jemaah di Masjid maksimal 50 persen, dan ini wajib di patuhi,\" Kata Indra.", "UK English Female");
                }
            };
        </script>
    
<p>GORUT &#8211; Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo Utara mengizinkan masyarakatnya untuk melakukan ibadah sholat Tarawih di tiap-tiap masjid, dengan ketentuan menerapkan protokol kesehatan dan jumlah jamaah yang hadir tidak lebih dari 50% sesuai dengan kapasitas masjid.</p>
<p>Hal ini diungkapkan Bupati Indra Yasin saat memberikan sambutan pada kegiatan pembukaan seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) ke-5 Tingkat Kabupaten Gorut yang diselenggarakan di Aula Gerbang Emas, (8/4/2021).</p>
<p>Menurutnya ini dilakukan untuk menindaklanjuti surat edaran yang dikeluarkan Kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) yang ditanda tangani pada tanggal 5 April 2021 oleh Yaqud Cholil Qoumas Menteri Agama RI terkait Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1442 Hijriah.</p>
<p>“Pada prinsipnya untuk ibadah shalat tarawih kita ijinkan,” ungkapnya.</p>
<p>Namun kata Indra dalam pelaksanaannya itu harus mengikuti aturan kementrian agama yaitu ada pembatasan jumlah kehadiran 50% dari kapasitas masjid.</p>
<p>“Aturannya kapasitas jemaah di Masjid maksimal 50 persen, dan ini wajib di patuhi,&#8221; Kata Indra.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/bupati-gorontalo-utara-izinkan-warganya-sholat-tarawih-di-masjid/">Bupati Gorontalo Utara Izinkan Warganya Sholat Tarawih Di Masjid</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/bupati-gorontalo-utara-izinkan-warganya-sholat-tarawih-di-masjid/">Bupati Gorontalo Utara Izinkan Warganya Sholat Tarawih Di Masjid</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/bupati-gorontalo-utara-izinkan-warganya-sholat-tarawih-di-masjid/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puasa Kebesaran</title>
		<link>https://barakati.id/puasa-kebesaran/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=puasa-kebesaran</link>
					<comments>https://barakati.id/puasa-kebesaran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2020 10:41:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ruang Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=4251</guid>

					<description><![CDATA[<p>  Oleh : Moh. Makmun Rasyid Konon manusia paling tidak tahu bagaimana merayu dan menyeru-Mu. Engkau datangkan Ramadan agar manusia berkhidmat pada hati. Hati yang penuh lumut, berkarang dan keras akan dikoyahkan oleh puasa. Di dalamnya ada peremajaan akal-pikiran, pelepasan tekanan hati, membebaskan jiwa raga dari rantai keakuan. Pangkal dari segala kehancuran, termasuk agama. Agama—belakangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/puasa-kebesaran/">Puasa Kebesaran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/puasa-kebesaran/">Puasa Kebesaran</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="listenButton3" class="responsivevoice-button" type="button" value="Play" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan Berita</span></button>
        <script>
            listenButton3.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("  Oleh : Moh. Makmun Rasyid Konon manusia paling tidak tahu bagaimana merayu dan menyeru-Mu. Engkau datangkan Ramadan agar manusia berkhidmat pada hati. Hati yang penuh lumut, berkarang dan keras akan dikoyahkan oleh puasa. Di dalamnya ada peremajaan akal-pikiran, pelepasan tekanan hati, membebaskan jiwa raga dari rantai keakuan. Pangkal dari segala kehancuran, termasuk agama. Agama—belakangan ini—mengeras, saling percaya meranggas dan saling membanggakan diri terjun bebas ke daratan. Sifat-sifat Tuhan yang dipakai berkisar kebesaran, ketinggian, keangkuhan, dan kesombongan. Misi agama-Mu yang semula cinta kasih dan kewarasan dalam beragama, sirna diterpa oleh badai keakuan dan hilangnya kontrol nafsu kebinatangan. Misi agama yang universal, kini terasa sempit. Teks-teks ajaran telah diperkosa dan dipolitisir oleh mereka yang hilang kewarasannya. Ayat “dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” telah meredup di bumi pertiwi. Yang ada, agama menjadi kemasan dalam pemasaran, sebab-musabbab pertikaian dan perkelahian, di alam maya dan nyata. Sebuah pandangan tidak popular yang direkam Abdul Halim Mahmud dalam kitab Al-Tafkîr Al-Falsafi fî Al-Islâm (1982) cukup menjadi bukti. Konon, ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan menggantikan khalifah Ali bin Abi Thalib, ia menulis surat kepada Mughirah bin Syu’bah perihal doa. Ia bertanya, “apakah doa yang dibaca Nabi setiap habis salat?”Mughirah menuliskan, “tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Wahai Allah, tidak ada yang mampu menghalangi apa yang engkau beri, tidak juga ada yang mampu memberi apa yang Engkau halangi, tidak berguna upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber dari-Mu.”Munajat ini di sebagian pakar, digunakan Dinasti Umayyah untuk melegitimasi kesewenangan pemerintahan mereka, sebagai kehendak Allah. Sebab itu, tersebar munajat ini yang bermuatan politis. Sejak itu, lahir orang yang tidak setuju kemudian mengumandangkan “lâ qadar” (tidak ada takdir). Kedua-duanya salah. Munajat Nabi itu bukan teruntuk legitimasi kekuasaan dan bukan pula membuat manusia tidak menyakini adanya takdir. Penolakan akan menyalahi firman-Nya, “Dan tidak ada sesuatu pun kecuali pada sisi Kamilah sumbernya…” (Qs. Al-Hijr [15]: 21). Jika Engkau menjadikan agama sebagai sumur moralitas, kini sumur itu mengering. Airnya ditimba oleh pemerkosa ajaran-Mu dan diperjual belikan dengan harga murah, demi kepuasan sesaat. Tak jamak, kita cepat menjumpai, dimana-mana ayat dan sifat-Mu kehilangan konteks dan kontekstualisasinya. Dalam konteks bernegara, aku teringat ucapan Elnino M Husein Mohi. “Mengapa orang berebut kekuasaan, itu karena citra ketuhanan yang selalu ditiru manusia. Persoalannya, ketika yang ditiru hanya sifat-sifat kuasa Tuhan, kebesaran Tuhan, ketinggian Tuhan, keangkuhan Tuhan. Sembari mengabaikan sifat welas asih Tuhan, kesopanan Tuhan, penghargaan Tuhan terhadap makhluk lainnya. Maka kehancuran lah yang diderita umat manusia.” Demikianlah lebih kurang ucapan tokoh asal Gorontalo. Disadari atau tidak, pengulangan kalimat penting dari surah Al-Fâtihah, “tunjukilah kami jalan yang lurus”, hingga terdaraskan minimal tujuh belas kali—sejumlah rakaat salat wajib dalam sehari semalam—tidak membekas sama sekali. Kesadaran bahwa istiqamah menjalankan ajaran-Mu dan meneladani sifat-Mu secara berimbang belum tumbuh. Sifat-Mu yang dipakai hanya untuk membanggakan kepemilikannya, yang itu Engkau titipkan pada setiap manusia. Kaidah beragama seperti ini, bertentangan dengan konsep “bilâ musammâ” atau “tidak tertipu pada jalan”. Di mana orang yang meniti jalan yang benar dan lurus harus keluar dari perangkap sikap yang mendewakan citra diri maupun medium yang mengitarinya secara berlebihan. Tepatlah, Engkau menghadirkan puasa tiga puluh hari, sekali dalam setahun. Agar manusia bisa puasa kebesaran dan kebanggaan. Semuanya harus kembali ke akarnya; manusia yang taat kepada-Mu dan menyuburkan bumi dengan untaian-untaian indah nan elok. Caci maki dan sumpah serampah dalam alam raya sirna setelah ditempa selama sebulan penuh. Keringnya sumur moralitas menjadi mustahil pembawa agama bisa menyuplai ke dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Slogan popular, “al-Mulk bi al-Dîn yabqâ wa al-Dîn bi al-Mulk yaqwâ” (kekuasaan dengan dibarengi agama akan kekal dan agama dibarengi dengan kekuasaan akan kuat) seakan tak berfungsi dengan sempurna. Sebab mustahil dalam berkehidupan, berpolitik dan bernegara jika kehilangan landasan etik; semacam bahtera yang berlayar tanpa kompas. Fungsi ramadan tidak sekedar mengembalikan kesadaran diri secara personal, tapi kesadaran bernegara-berpolitik juga. Menyadarkan diri bahwa baju-baju kebesaran yang dipakai harus didapatkan dari hal-hal yang bersih. Kebersihan (diri dan hati) akan melahirkan kebesaran, tapi kebesaran yang tidak bertanggung jawab, akan memukul balik ke si pemakai. Orang-orang yang sudah bersih, akan melahirkan putra-putri yang besar; tapi orang-orang yang sudah besar, belum tentu melahirkan putra-putri yang besar. Baju kebesaran kerap digunakan untuk memukul orang se-agama, se-negara dan sesama teman hidup.Dengan begitu, jeda ramadan menjadi penyucian jiwa dan pemulihan rohani dari penyakit eksistensial, yang berawal dari ‘keterasingan akal’ dan ‘keterasingan hati’, kemudian merambat sampai pada ‘keterasingan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa’. Penyucian jiwa dalam Ramadan ini agar manusia yang menelantarkan “spiritual space” yang ada dalam dirinya terpulihkan. Kesadaran eksistensi diri-Nya dalam kerja hidup kita dan menghadirkan-Nya dalam aktivitas apapun membuat-Nya memberikan kado ketersingkapan mata batin. Pemberian itu merupakan bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba yang taat dan patuh pada-Nya serta tidak menduakan-Nya dalam keadaan apapun dan di manapun. Sekiranya semuanya mampu bersungguh-sungguh dalam berpuasa secara total, maka tak ada manusia yang menggunakan kebesaran—dengan meminjam sifat Tuhan—secara membabi buta. Dirinya mengerti, semuanya akan dimintai pertanggung jawaban dan diadili di pengadilan tertinggi (kelak hari). Dan setelah berpuasa, menjadi pribadi yang “muttaqîn”. Salah satu wujudnya adalah mengaplikasikan welas asih, sopan santun dan menghargai manusia lainnya.", "Indonesian Female");
                }
            };
        </script>
    
<p> </p>
<p><strong>Oleh : Moh. Makmun Rasyid</strong></p>
<p>Konon manusia paling tidak tahu bagaimana merayu dan menyeru-Mu. Engkau datangkan Ramadan agar manusia berkhidmat pada hati. Hati yang penuh lumut, berkarang dan keras akan dikoyahkan oleh puasa. Di dalamnya ada peremajaan akal-pikiran, pelepasan tekanan hati, membebaskan jiwa raga dari rantai keakuan. Pangkal dari segala kehancuran, termasuk agama.</p>
<p>Agama—belakangan ini—mengeras, saling percaya meranggas dan saling membanggakan diri terjun bebas ke daratan. Sifat-sifat Tuhan yang dipakai berkisar kebesaran, ketinggian, keangkuhan, dan kesombongan. Misi agama-Mu yang semula cinta kasih dan kewarasan dalam beragama, sirna diterpa oleh badai keakuan dan hilangnya kontrol nafsu kebinatangan.</p>
<p>Misi agama yang universal, kini terasa sempit. Teks-teks ajaran telah diperkosa dan dipolitisir oleh mereka yang hilang kewarasannya. Ayat “dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” telah meredup di bumi pertiwi. Yang ada, agama menjadi kemasan dalam pemasaran, sebab-musabbab pertikaian dan perkelahian, di alam maya dan nyata.</p>
<p>Sebuah pandangan tidak popular yang direkam Abdul Halim Mahmud dalam kitab Al-Tafkîr Al-Falsafi fî Al-Islâm (1982) cukup menjadi bukti. Konon, ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan menggantikan khalifah Ali bin Abi Thalib, ia menulis surat kepada Mughirah bin Syu’bah perihal doa. Ia bertanya, “apakah doa yang dibaca Nabi setiap habis salat?”<br />Mughirah menuliskan, “tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Wahai Allah, tidak ada yang mampu menghalangi apa yang engkau beri, tidak juga ada yang mampu memberi apa yang Engkau halangi, tidak berguna upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber dari-Mu.”<br />Munajat ini di sebagian pakar, digunakan Dinasti Umayyah untuk melegitimasi kesewenangan pemerintahan mereka, sebagai kehendak Allah. Sebab itu, tersebar munajat ini yang bermuatan politis. Sejak itu, lahir orang yang tidak setuju kemudian mengumandangkan “lâ qadar” (tidak ada takdir). Kedua-duanya salah. Munajat Nabi itu bukan teruntuk legitimasi kekuasaan dan bukan pula membuat manusia tidak menyakini adanya takdir. Penolakan akan menyalahi firman-Nya, “Dan tidak ada sesuatu pun kecuali pada sisi Kamilah sumbernya…” (Qs. Al-Hijr [15]: 21).</p>
<p>Jika Engkau menjadikan agama sebagai sumur moralitas, kini sumur itu mengering. Airnya ditimba oleh pemerkosa ajaran-Mu dan diperjual belikan dengan harga murah, demi kepuasan sesaat. Tak jamak, kita cepat menjumpai, dimana-mana ayat dan sifat-Mu kehilangan konteks dan kontekstualisasinya.</p>
<p><br />Dalam konteks bernegara, aku teringat ucapan Elnino M Husein Mohi. “Mengapa orang berebut kekuasaan, itu karena citra ketuhanan yang selalu ditiru manusia. Persoalannya, ketika yang ditiru hanya sifat-sifat kuasa Tuhan, kebesaran Tuhan, ketinggian Tuhan, keangkuhan Tuhan. Sembari mengabaikan sifat welas asih Tuhan, kesopanan Tuhan, penghargaan Tuhan terhadap makhluk lainnya. Maka kehancuran lah yang diderita umat manusia.” Demikianlah lebih kurang ucapan tokoh asal Gorontalo.</p>
<p>Disadari atau tidak, pengulangan kalimat penting dari surah Al-Fâtihah, “tunjukilah kami jalan yang lurus”, hingga terdaraskan minimal tujuh belas kali—sejumlah rakaat salat wajib dalam sehari semalam—tidak membekas sama sekali. Kesadaran bahwa istiqamah menjalankan ajaran-Mu dan meneladani sifat-Mu secara berimbang belum tumbuh. Sifat-Mu yang dipakai hanya untuk membanggakan kepemilikannya, yang itu Engkau titipkan pada setiap manusia. Kaidah beragama seperti ini, bertentangan dengan konsep “bilâ musammâ” atau “tidak tertipu pada jalan”. Di mana orang yang meniti jalan yang benar dan lurus harus keluar dari perangkap sikap yang mendewakan citra diri maupun medium yang mengitarinya secara berlebihan.</p>
<p>Tepatlah, Engkau menghadirkan puasa tiga puluh hari, sekali dalam setahun. Agar manusia bisa puasa kebesaran dan kebanggaan. Semuanya harus kembali ke akarnya; manusia yang taat kepada-Mu dan menyuburkan bumi dengan untaian-untaian indah nan elok. Caci maki dan sumpah serampah dalam alam raya sirna setelah ditempa selama sebulan penuh.</p>
<p><br />Keringnya sumur moralitas menjadi mustahil pembawa agama bisa menyuplai ke dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Slogan popular, “al-Mulk bi al-Dîn yabqâ wa al-Dîn bi al-Mulk yaqwâ” (kekuasaan dengan dibarengi agama akan kekal dan agama dibarengi dengan kekuasaan akan kuat) seakan tak berfungsi dengan sempurna.</p>
<p>Sebab mustahil dalam berkehidupan, berpolitik dan bernegara jika kehilangan landasan etik; semacam bahtera yang berlayar tanpa kompas. Fungsi ramadan tidak sekedar mengembalikan kesadaran diri secara personal, tapi kesadaran bernegara-berpolitik juga. Menyadarkan diri bahwa baju-baju kebesaran yang dipakai harus didapatkan dari hal-hal yang bersih.</p>
<p>Kebersihan (diri dan hati) akan melahirkan kebesaran, tapi kebesaran yang tidak bertanggung jawab, akan memukul balik ke si pemakai. Orang-orang yang sudah bersih, akan melahirkan putra-putri yang besar; tapi orang-orang yang sudah besar, belum tentu melahirkan putra-putri yang besar. Baju kebesaran kerap digunakan untuk memukul orang se-agama, se-negara dan sesama teman hidup.<br />Dengan begitu, jeda ramadan menjadi penyucian jiwa dan pemulihan rohani dari penyakit eksistensial, yang berawal dari ‘keterasingan akal’ dan ‘keterasingan hati’, kemudian merambat sampai pada ‘keterasingan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa’.</p>
<p><br />Penyucian jiwa dalam Ramadan ini agar manusia yang menelantarkan “spiritual space” yang ada dalam dirinya terpulihkan. Kesadaran eksistensi diri-Nya dalam kerja hidup kita dan menghadirkan-Nya dalam aktivitas apapun membuat-Nya memberikan kado ketersingkapan mata batin. Pemberian itu merupakan bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba yang taat dan patuh pada-Nya serta tidak menduakan-Nya dalam keadaan apapun dan di manapun.</p>
<p>Sekiranya semuanya mampu bersungguh-sungguh dalam berpuasa secara total, maka tak ada manusia yang menggunakan kebesaran—dengan meminjam sifat Tuhan—secara membabi buta. Dirinya mengerti, semuanya akan dimintai pertanggung jawaban dan diadili di pengadilan tertinggi (kelak hari). Dan setelah berpuasa, menjadi pribadi yang “muttaqîn”. Salah satu wujudnya adalah mengaplikasikan welas asih, sopan santun dan menghargai manusia lainnya.</p>


<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/puasa-kebesaran/">Puasa Kebesaran</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/puasa-kebesaran/">Puasa Kebesaran</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/puasa-kebesaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
