<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ruang sosial Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/ruang-sosial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/ruang-sosial/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Tue, 11 Nov 2025 22:27:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>ruang sosial Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/ruang-sosial/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Yang Menyatukan Warga Ternyata Bukan Kafe Mewah, Tapi Kursi Lipat</title>
		<link>https://barakati.id/yang-menyatukan-warga-ternyata-bukan-kafe-mewah-tapi-kursi-lipat/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=yang-menyatukan-warga-ternyata-bukan-kafe-mewah-tapi-kursi-lipat</link>
					<comments>https://barakati.id/yang-menyatukan-warga-ternyata-bukan-kafe-mewah-tapi-kursi-lipat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2025 22:19:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[budaya urban]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi lokal]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[kebersamaan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan malam]]></category>
		<category><![CDATA[kursi lipat]]></category>
		<category><![CDATA[nongkrong murah]]></category>
		<category><![CDATA[pasar sentral]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah kota]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[ruang sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ruang terbuka]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[umkm]]></category>
		<category><![CDATA[warga kota]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=28129</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/yang-menyatukan-warga-ternyata-bukan-kafe-mewah-tapi-kursi-lipat/">Yang Menyatukan Warga Ternyata Bukan Kafe Mewah, Tapi Kursi Lipat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/yang-menyatukan-warga-ternyata-bukan-kafe-mewah-tapi-kursi-lipat/">Yang Menyatukan Warga Ternyata Bukan Kafe Mewah, Tapi Kursi Lipat</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Oleh: Zulfikar M. Tahuru Gorontalo - Pelataran Pasar Sentral di Kota Gorontalo belakangan menjadi ruang berkumpul yang semakin ramai. Pada malam hari, area yang siang harinya dipenuhi aktivitas jual beli kebutuhan dapur itu berubah menjadi titik temu warga. Kursi lipat, booth portabel yang bisa pasang-bongkar dengan cepat, serta deretan pedagang UMKM membentuk suasana yang hangat dan cair. Di sini, orang-orang merasa cukup hadir apa adanya — tanpa desain interior, tanpa tema suasana, dan tanpa batasan sosial tak kasat mata. Fenomena ini menunjukkan perubahan kebiasaan warga dalam memilih ruang perjumpaan sosial. Jika sebelumnya banyak aktivitas berkumpul berlangsung di kafe dan ruang privat yang menonjolkan estetika visual, kini ruang terbuka dengan biaya rendah justru lebih diminati. Selain pertimbangan harga, ruang terbuka memberi kenyamanan: siapa saja dapat hadir tanpa tekanan penampilan dan tanpa tuntutan minimal order. Namun ada pertanyaan yang perlu dicermati lebih lanjut. Apakah keramaian ini merupakan perpindahan dari ruang yang lebih mahal menuju ruang terbuka? Ataukah sejak awal banyak warga yang memerlukan ruang sosial yang lebih ramah, dan baru sekarang ruang itu tersedia? Demikian pula, siapa yang berjualan di sana: pelaku UMKM baru yang sedang membangun usaha, atau pelaku usaha yang sudah mapan yang memperluas cabang usahanya di ruang terbuka? Pertanyaan-pertanyaan di atas layak diteliti secara lebih rinci oleh kalangan akademisi dan kaum terpelajar. Yang jelas, Kota Gorontalo sedang menunjukkan arahnya. Ruang hidup itu tumbuh dari bawah. Dan sejauh ini, Pemerintah Kota memilih untuk mendukung dan memfasilitasi pertumbuhannya. Ruang publik tidak langsung dikenakan retribusi, tetapi dibiarkan menemukan bentuknya terlebih dahulu. Tugas kita ke depan adalah memastikan bahwa ruang tersebut tetap inklusif, terbuka, dan tidak mengambil bentuk yang hanya menguntungkan sebagian kecil pihak.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p>Oleh: Zulfikar M. Tahuru</p>
<p>Gorontalo &#8211; Pelataran Pasar Sentral di Kota Gorontalo belakangan menjadi ruang berkumpul yang semakin ramai. Pada malam hari, area yang siang harinya dipenuhi aktivitas jual beli kebutuhan dapur itu berubah menjadi titik temu warga. Kursi lipat, booth portabel yang bisa pasang-bongkar dengan cepat, serta deretan pedagang UMKM membentuk suasana yang hangat dan cair. Di sini, orang-orang merasa cukup hadir apa adanya — tanpa desain interior, tanpa tema suasana, dan tanpa batasan sosial tak kasat mata.</p>
<p>Fenomena ini menunjukkan perubahan kebiasaan warga dalam memilih ruang perjumpaan sosial. Jika sebelumnya banyak aktivitas berkumpul berlangsung di kafe dan ruang privat yang menonjolkan estetika visual, kini ruang terbuka dengan biaya rendah justru lebih diminati. Selain pertimbangan harga, ruang terbuka memberi kenyamanan: siapa saja dapat hadir tanpa tekanan penampilan dan tanpa tuntutan minimal order.</p>
<p>Namun ada pertanyaan yang perlu dicermati lebih lanjut. Apakah keramaian ini merupakan perpindahan dari ruang yang lebih mahal menuju ruang terbuka? Ataukah sejak awal banyak warga yang memerlukan ruang sosial yang lebih ramah, dan baru sekarang ruang itu tersedia?</p>
<p>Demikian pula, siapa yang berjualan di sana: pelaku UMKM baru yang sedang membangun usaha, atau pelaku usaha yang sudah mapan yang memperluas cabang usahanya di ruang terbuka?</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan di atas layak diteliti secara lebih rinci oleh kalangan akademisi dan kaum terpelajar.</p>
<p>Yang jelas, Kota Gorontalo sedang menunjukkan arahnya. Ruang hidup itu tumbuh dari bawah. Dan sejauh ini, Pemerintah Kota memilih untuk mendukung dan memfasilitasi pertumbuhannya. Ruang publik tidak langsung dikenakan retribusi, tetapi dibiarkan menemukan bentuknya terlebih dahulu.</p>
<p>Tugas kita ke depan adalah memastikan bahwa ruang tersebut tetap inklusif, terbuka, dan tidak mengambil bentuk yang hanya menguntungkan sebagian kecil pihak.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/yang-menyatukan-warga-ternyata-bukan-kafe-mewah-tapi-kursi-lipat/">Yang Menyatukan Warga Ternyata Bukan Kafe Mewah, Tapi Kursi Lipat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/yang-menyatukan-warga-ternyata-bukan-kafe-mewah-tapi-kursi-lipat/">Yang Menyatukan Warga Ternyata Bukan Kafe Mewah, Tapi Kursi Lipat</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/yang-menyatukan-warga-ternyata-bukan-kafe-mewah-tapi-kursi-lipat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
