<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>serma purn mukhtar effendi Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/serma-purn-mukhtar-effendi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/serma-purn-mukhtar-effendi/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Apr 2026 12:53:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>serma purn mukhtar effendi Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/serma-purn-mukhtar-effendi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sedih! Curhatan Eks Prajurit UNIFIL: &#8220;Kita Ditembaki Enggak Boleh Membalas&#8221;</title>
		<link>https://barakati.id/sedih-curhatan-eks-prajurit-unifil-kita-ditembaki-enggak-boleh-membalas/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sedih-curhatan-eks-prajurit-unifil-kita-ditembaki-enggak-boleh-membalas</link>
					<comments>https://barakati.id/sedih-curhatan-eks-prajurit-unifil-kita-ditembaki-enggak-boleh-membalas/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2026 12:53:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[aturan tembak pbb]]></category>
		<category><![CDATA[brigade podcast kompas]]></category>
		<category><![CDATA[kisah prajurit tni]]></category>
		<category><![CDATA[konflik lebanon]]></category>
		<category><![CDATA[kontingen garuda]]></category>
		<category><![CDATA[militer Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[misi perdamaian indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pasukan garuda 23a]]></category>
		<category><![CDATA[pasukan perdamaian pbb]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi dewan keamanan pbb 1701]]></category>
		<category><![CDATA[rules of engagement]]></category>
		<category><![CDATA[serma purn mukhtar effendi]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[tni di lebanon]]></category>
		<category><![CDATA[unifil lebanon]]></category>
		<category><![CDATA[wasit perang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=30036</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/sedih-curhatan-eks-prajurit-unifil-kita-ditembaki-enggak-boleh-membalas/">Sedih! Curhatan Eks Prajurit UNIFIL: &#8220;Kita Ditembaki Enggak Boleh Membalas&#8221;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/sedih-curhatan-eks-prajurit-unifil-kita-ditembaki-enggak-boleh-membalas/">Sedih! Curhatan Eks Prajurit UNIFIL: &#8220;Kita Ditembaki Enggak Boleh Membalas&#8221;</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("NEWS - Menjadi \"Wasit\" di Tengah Hujan Peluru: Curhat Eks Pasukan Perdamaian PBB yang Tak Boleh Membalas Tembakan Menjadi pasukan elit kebanggaan negara nyatanya tak selalu bisa gagah-gagahan unjuk gigi di medan tempur. Apalagi kalau statusnya adalah Pasukan Penjaga Perdamaian PBB (UNIFIL) di wilayah konflik seperti Lebanon. Berada tepat di tengah gempuran peluru dan mortir, prajurit TNI justru diwajibkan untuk menahan emosi dan pantang asal tarik pelatuk. Pengalaman mendebarkan plus bikin \"gemas\" ini diceritakan langsung oleh Serma (Purn) Mukhtar Effendi, eks prajurit TNI yang pernah bertugas dalam misi UNIFIL Garuda 23A di Lebanon pada kurun waktu 2010 hingga 2011. Lewat obrolannya di Brigade Podcast Kompas, ia membagikan betapa serba salah dan beratnya posisi prajurit Indonesia di sana. Misi perdamaian nyatanya menempatkan prajurit murni pada posisi penengah alias wasit. Sialnya, yang namanya wasit di tengah medan peperangan nyata, risiko kena sasaran tembak nyasar sangatlah besar. \"Jangankan wasit perang ya Wasit tinju pun suatu ketika dia pasti kena tinju orang kan gitu Nah artinya apalagi kita sebagai wasit perang yang nota bene harus meredam ini harus meredam itu,\" ungkap Mukhtar menggambarkan betapa rapuhnya posisi penengah di zona konflik. Yang bikin tekanan batin makin terasa berat, pasukan PBB diikat oleh aturan operasional sangat ketat yang dikenal dengan istilah Rules of Engagement (RoE). Mengacu pada aturan tersebut, pasukan penjaga perdamaian sangat dibatasi haknya dalam menggunakan senjata. Mereka tidak boleh membalas tembakan untuk menyerang, melainkan murni hanya boleh digunakan dalam kondisi terdesak untuk membela diri dan melindungi warga sipil. Kondisi menahan diri di tengah huru-hara inilah yang kerap menjadi buah simalakama bagi prajurit bermental komando seperti Mukhtar dan kawan-kawan. \"Begitu kita ditembaki enggak boleh membalas Apa yang terjadi itulah yang kita yang membuat suasana kebatinan kita ya menjadi under pressure lah gitu ya Karena kita tidak bisa membalas apapun kita tidak bisa berbuat apapun manakala kita diserang atau ditembakin,\" curhatnya. Sebagai informasi, merujuk pada data terkini, Indonesia secara konsisten menjadi negara kontributor pasukan terbesar untuk misi UNIFIL di Lebanon, dengan jumlah lebih dari 1.200 personel yang dikerahkan. Meski dibekali persenjataan mumpuni dan mental baja, mandat Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 membatasi ruang gerak mereka murni sebagai penyangga pertahanan. Jika pasukan PBB asal Indonesia nekat membalas serangan secara emosional dan melanggar RoE, bukan hanya personelnya yang akan disanksi PBB, namun nama baik Indonesia di mata internasional juga ikut dipertaruhkan. Benar-benar dilema tingkat tinggi ya! sumber video : YT-Kompas", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p>NEWS &#8211; Menjadi &#8220;Wasit&#8221; di Tengah Hujan Peluru: Curhat Eks Pasukan Perdamaian PBB yang Tak Boleh Membalas Tembakan</p>
<p>Menjadi pasukan elit kebanggaan negara nyatanya tak selalu bisa gagah-gagahan unjuk gigi di medan tempur. Apalagi kalau statusnya adalah Pasukan Penjaga Perdamaian PBB (UNIFIL) di wilayah konflik seperti Lebanon. Berada tepat di tengah gempuran peluru dan mortir, prajurit TNI justru diwajibkan untuk menahan emosi dan pantang asal tarik pelatuk.</p>
<p>Pengalaman mendebarkan plus bikin &#8220;gemas&#8221; ini diceritakan langsung oleh Serma (Purn) Mukhtar Effendi, eks prajurit TNI yang pernah bertugas dalam misi UNIFIL Garuda 23A di Lebanon pada kurun waktu 2010 hingga 2011. Lewat obrolannya di Brigade Podcast Kompas, ia membagikan betapa serba salah dan beratnya posisi prajurit Indonesia di sana.</p>
<p>Misi perdamaian nyatanya menempatkan prajurit murni pada posisi penengah alias wasit. Sialnya, yang namanya wasit di tengah medan peperangan nyata, risiko kena sasaran tembak nyasar sangatlah besar.</p>
<p>&#8220;Jangankan wasit perang ya Wasit tinju pun suatu ketika dia pasti kena tinju orang kan gitu Nah artinya apalagi kita sebagai wasit perang yang nota bene harus meredam ini harus meredam itu,&#8221; ungkap Mukhtar menggambarkan betapa rapuhnya posisi penengah di zona konflik.</p>
<p>Yang bikin tekanan batin makin terasa berat, pasukan PBB diikat oleh aturan operasional sangat ketat yang dikenal dengan istilah Rules of Engagement (RoE). Mengacu pada aturan tersebut, pasukan penjaga perdamaian sangat dibatasi haknya dalam menggunakan senjata. Mereka tidak boleh membalas tembakan untuk menyerang, melainkan murni hanya boleh digunakan dalam kondisi terdesak untuk membela diri dan melindungi warga sipil.</p>
<p>Kondisi menahan diri di tengah huru-hara inilah yang kerap menjadi buah simalakama bagi prajurit bermental komando seperti Mukhtar dan kawan-kawan.</p>
<p>&#8220;Begitu kita ditembaki enggak boleh membalas Apa yang terjadi itulah yang kita yang membuat suasana kebatinan kita ya menjadi under pressure lah gitu ya Karena kita tidak bisa membalas apapun kita tidak bisa berbuat apapun manakala kita diserang atau ditembakin,&#8221; curhatnya.</p>
<p>Sebagai informasi, merujuk pada data terkini, Indonesia secara konsisten menjadi negara kontributor pasukan terbesar untuk misi UNIFIL di Lebanon, dengan jumlah lebih dari 1.200 personel yang dikerahkan. Meski dibekali persenjataan mumpuni dan mental baja, mandat Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 membatasi ruang gerak mereka murni sebagai penyangga pertahanan. Jika pasukan PBB asal Indonesia nekat membalas serangan secara emosional dan melanggar RoE, bukan hanya personelnya yang akan disanksi PBB, namun nama baik Indonesia di mata internasional juga ikut dipertaruhkan. Benar-benar dilema tingkat tinggi ya!</p>
<p>sumber video : YT-Kompas
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/sedih-curhatan-eks-prajurit-unifil-kita-ditembaki-enggak-boleh-membalas/">Sedih! Curhatan Eks Prajurit UNIFIL: &#8220;Kita Ditembaki Enggak Boleh Membalas&#8221;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/sedih-curhatan-eks-prajurit-unifil-kita-ditembaki-enggak-boleh-membalas/">Sedih! Curhatan Eks Prajurit UNIFIL: &#8220;Kita Ditembaki Enggak Boleh Membalas&#8221;</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/sedih-curhatan-eks-prajurit-unifil-kita-ditembaki-enggak-boleh-membalas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
