<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sungai rusak akibat tambang liar Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/sungai-rusak-akibat-tambang-liar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/sungai-rusak-akibat-tambang-liar/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Fri, 22 Aug 2025 19:52:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>Sungai rusak akibat tambang liar Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/sungai-rusak-akibat-tambang-liar/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Miris! Tambang Ilegal Untungkan Segelintir, Warga Desa Teratai Hidup di Tengah Lumpur</title>
		<link>https://barakati.id/miris-tambang-ilegal-untungkan-segelintir-warga-desa-teratai-hidup-di-tengah-lumpur/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=miris-tambang-ilegal-untungkan-segelintir-warga-desa-teratai-hidup-di-tengah-lumpur</link>
					<comments>https://barakati.id/miris-tambang-ilegal-untungkan-segelintir-warga-desa-teratai-hidup-di-tengah-lumpur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2025 19:52:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten pohuwato]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Aparat diduga terlibat tambang ilegal]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir Desa Teratai Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir lumpur Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Mafia tambang ilegal Pohuwato]]></category>
		<category><![CDATA[Pungli tambang ilegal Bulangita]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai rusak akibat tambang liar]]></category>
		<category><![CDATA[tambang emas ilegal pohuwato]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Warga Gorontalo korban tambang ilegal]]></category>
		<category><![CDATA[Warga Gorontalo protes tambang emas]]></category>
		<category><![CDATA[Wartawan terlibat tambang ilegal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=26696</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/miris-tambang-ilegal-untungkan-segelintir-warga-desa-teratai-hidup-di-tengah-lumpur/">Miris! Tambang Ilegal Untungkan Segelintir, Warga Desa Teratai Hidup di Tengah Lumpur</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/miris-tambang-ilegal-untungkan-segelintir-warga-desa-teratai-hidup-di-tengah-lumpur/">Miris! Tambang Ilegal Untungkan Segelintir, Warga Desa Teratai Hidup di Tengah Lumpur</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Pohuwato - Penderitaan mendalam dialami warga Desa Teratai, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, setelah rumah mereka terendam banjir bercampur lumpur selama dua pekan terakhir. Warga menuding aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Bulangita sebagai biang keladi kerusakan lingkungan yang berujung pada bencana tersebut. Pasrah Waty, salah satu warga terdampak, mengaku putus asa melihat rumahnya berubah menjadi kubangan lumpur. “Sudah dua minggu banjir ini melanda sejak tanggal 8. Rumah-rumah di komplek perempatan Desa Teratai terendam air, bahkan sekarang bukan lagi air, tapi lumpur. Mereka (penambang) enak menikmati hasil, sementara kami yang harus menanggung derita, hidup di tengah lumpur,” ujarnya dengan nada kesal. Warga menilai, sedimentasi akibat pengerukan tanah liar di Bulangita telah memperparah aliran sungai hingga meluap ke pemukiman. Selain merusak rumah, kondisi ini juga mengancam kesehatan serta keselamatan masyarakat. Ironisnya, meski keluhan warga terus disuarakan, aktivitas tambang ilegal tetap berjalan lancar. Sejumlah alat berat terlihat beroperasi tanpa hambatan, seolah tak tersentuh hukum. Kemarahan warga pun semakin memuncak. “Kalau begini terus, jangan salahkan rakyat kalau akhirnya bangkit melawan. Kami sudah terlalu lama jadi korban,” tegas seorang warga lainnya. Di tengah penderitaan masyarakat, muncul pula praktik pungutan liar (pungli) yang memperburuk situasi. Seorang pelaku usaha mengaku dipaksa membayar kontribusi hingga puluhan juta rupiah kepada oknum pengumpul yang mengklaim sebagai pihak pengamanan. “Kami sudah bayar Rp30 juta sebagai atensi. Tapi mereka tetap bilang ada kewajiban Rp10 juta untuk normalisasi. Padahal sudah dibayar, alat berat kami tetap diturunkan paksa,” ungkapnya. Bahkan, ia mengaku diminta tambahan Rp5 juta, dengan dalih yang sama, sementara alatnya tetap disita. “Semua alat ditahan. Bapak saya sampai turun langsung ke lokasi, tetap saja alat diturunkan. Mereka minta 50 juta per alat, dua alat berarti 100 juta. Mau dicicil pun tidak diterima,” jelasnya. Lebih jauh, ia menyebut keterlibatan oknum tertentu, termasuk aparat lapangan, dalam pengelolaan pungli tersebut. Situasi kian runyam setelah muncul pengakuan seorang oknum wartawan yang terlibat dalam program ilegal ini. Wartawan itu berdalih dirinya hanya sebagai penggagas “program hilirisasi manfaat” yang mencakup normalisasi hingga kegiatan sosial. Namun kenyataannya, program tersebut justru menjadi dalih untuk melegitimasi aktivitas tambang ilegal. Rangkaian persoalan ini memunculkan tanda tanya besar: mengapa tambang ilegal yang jelas merusak lingkungan sekaligus merugikan masyarakat dibiarkan terus beroperasi? Diamnya aparat semakin memperkuat kecurigaan publik terhadap adanya pembiaran atau bahkan keterlibatan oknum dalam bisnis kotor tersebut. Warga Desa Teratai kini hanya bisa pasrah, menanti kehadiran nyata pemerintah untuk menghentikan praktik tambang ilegal yang sudah menghancurkan ruang hidup mereka.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p data-start="391" data-end="733"><strong>Pohuwato</strong> &#8211; Penderitaan mendalam dialami warga Desa Teratai, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, setelah rumah mereka terendam banjir bercampur lumpur selama dua pekan terakhir. Warga menuding aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Bulangita sebagai biang keladi kerusakan lingkungan yang berujung pada bencana tersebut.</p>
<p data-start="735" data-end="845">Pasrah Waty, salah satu warga terdampak, mengaku putus asa melihat rumahnya berubah menjadi kubangan lumpur.</p>
<p data-start="849" data-end="1148"><em>“Sudah dua minggu banjir ini melanda sejak tanggal 8. Rumah-rumah di komplek perempatan Desa Teratai terendam air, bahkan sekarang bukan lagi air, tapi lumpur. Mereka (penambang) enak menikmati hasil, sementara kami yang harus menanggung derita, hidup di tengah lumpur,” ujarnya dengan nada kesal.</em></p>
<p data-start="1150" data-end="1369">Warga menilai, sedimentasi akibat pengerukan tanah liar di Bulangita telah memperparah aliran sungai hingga meluap ke pemukiman. Selain merusak rumah, kondisi ini juga mengancam kesehatan serta keselamatan masyarakat.</p>
<p data-start="1371" data-end="1553">Ironisnya, meski keluhan warga terus disuarakan, aktivitas tambang ilegal tetap berjalan lancar. Sejumlah alat berat terlihat beroperasi tanpa hambatan, seolah tak tersentuh hukum.</p>
<p data-start="1555" data-end="1594">Kemarahan warga pun semakin memuncak.</p>
<p data-start="1598" data-end="1742"><em>“Kalau begini terus, jangan salahkan rakyat kalau akhirnya bangkit melawan. Kami sudah terlalu lama jadi korban,” tegas seorang warga lainnya.</em></p>
<p data-start="1785" data-end="2037">Di tengah penderitaan masyarakat, muncul pula praktik pungutan liar (pungli) yang memperburuk situasi. Seorang pelaku usaha mengaku dipaksa membayar kontribusi hingga puluhan juta rupiah kepada oknum pengumpul yang mengklaim sebagai pihak pengamanan.</p>
<p data-start="2041" data-end="2229"><em>“Kami sudah bayar Rp30 juta sebagai atensi. Tapi mereka tetap bilang ada kewajiban Rp10 juta untuk normalisasi. Padahal sudah dibayar, alat berat kami tetap diturunkan paksa,” ungkapnya.</em></p>
<p data-start="2231" data-end="2334">Bahkan, ia mengaku diminta tambahan Rp5 juta, dengan dalih yang sama, sementara alatnya tetap disita.</p>
<p data-start="2338" data-end="2533"><em>“Semua alat ditahan. Bapak saya sampai turun langsung ke lokasi, tetap saja alat diturunkan. Mereka minta 50 juta per alat, dua alat berarti 100 juta. Mau dicicil pun tidak diterima,” jelasnya.</em></p>
<p data-start="2535" data-end="2650">Lebih jauh, ia menyebut keterlibatan oknum tertentu, termasuk aparat lapangan, dalam pengelolaan pungli tersebut.</p>
<p data-start="2652" data-end="2997">Situasi kian runyam setelah muncul pengakuan seorang oknum wartawan yang terlibat dalam program ilegal ini. Wartawan itu berdalih dirinya hanya sebagai penggagas “program hilirisasi manfaat” yang mencakup normalisasi hingga kegiatan sosial. Namun kenyataannya, program tersebut justru menjadi dalih untuk melegitimasi aktivitas tambang ilegal.</p>
<p data-start="3035" data-end="3341">Rangkaian persoalan ini memunculkan tanda tanya besar: mengapa tambang ilegal yang jelas merusak lingkungan sekaligus merugikan masyarakat dibiarkan terus beroperasi? Diamnya aparat semakin memperkuat kecurigaan publik terhadap adanya pembiaran atau bahkan keterlibatan oknum dalam bisnis kotor tersebut.</p>
<p data-start="3343" data-end="3509">Warga Desa Teratai kini hanya bisa pasrah, menanti kehadiran nyata pemerintah untuk menghentikan praktik tambang ilegal yang sudah menghancurkan ruang hidup mereka.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/miris-tambang-ilegal-untungkan-segelintir-warga-desa-teratai-hidup-di-tengah-lumpur/">Miris! Tambang Ilegal Untungkan Segelintir, Warga Desa Teratai Hidup di Tengah Lumpur</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/miris-tambang-ilegal-untungkan-segelintir-warga-desa-teratai-hidup-di-tengah-lumpur/">Miris! Tambang Ilegal Untungkan Segelintir, Warga Desa Teratai Hidup di Tengah Lumpur</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/miris-tambang-ilegal-untungkan-segelintir-warga-desa-teratai-hidup-di-tengah-lumpur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
