<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TeknologiPangan Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/teknologipangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/teknologipangan/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Jul 2025 21:04:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>TeknologiPangan Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/teknologipangan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mahasiswa Kimia UNG Raih Prestasi Lewat Ide Pengolahan Limbah Tulang Tuna</title>
		<link>https://barakati.id/mahasiswa-kimia-ung-raih-prestasi-lewat-ide-pengolahan-limbah-tulang-tuna/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mahasiswa-kimia-ung-raih-prestasi-lewat-ide-pengolahan-limbah-tulang-tuna</link>
					<comments>https://barakati.id/mahasiswa-kimia-ung-raih-prestasi-lewat-ide-pengolahan-limbah-tulang-tuna/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2025 21:04:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO]]></category>
		<category><![CDATA[FortifikasiKalsium]]></category>
		<category><![CDATA[InovasiMahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[KimiaUNG]]></category>
		<category><![CDATA[LimbahIkanTuna]]></category>
		<category><![CDATA[Osteoporosis]]></category>
		<category><![CDATA[PanganFungsional]]></category>
		<category><![CDATA[PekanIlmiahAndalas2025]]></category>
		<category><![CDATA[SainsUntukHidup]]></category>
		<category><![CDATA[TeknologiPangan]]></category>
		<category><![CDATA[ung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=26384</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/mahasiswa-kimia-ung-raih-prestasi-lewat-ide-pengolahan-limbah-tulang-tuna/">Mahasiswa Kimia UNG Raih Prestasi Lewat Ide Pengolahan Limbah Tulang Tuna</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/mahasiswa-kimia-ung-raih-prestasi-lewat-ide-pengolahan-limbah-tulang-tuna/">Mahasiswa Kimia UNG Raih Prestasi Lewat Ide Pengolahan Limbah Tulang Tuna</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p data-start="195" data-end="591"><button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("UNG - Lima mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menghadirkan inovasi berbasis sains untuk mencegah osteoporosis pada wanita pascamenopause. Melalui karya ilmiah berjudul “Pencegahan Osteoporosis Pascamenopause dengan Fortifikasi Kalsium Tepung Tulang Tuna Sirip Kuning”, mereka memanfaatkan limbah tulang ikan tuna menjadi bahan pangan fungsional kaya kalsium. Tim yang terdiri dari Vebriyanti Ibrahim, Zifran Nur Rahman, Siti R. D. Maluse, Widya Rahmadani, dan Meyla P. Paputungan ini menyoroti potensi tulang ikan tuna sirip kuning sebagai sumber kalsium yang efektif sekaligus ramah lingkungan. Dalam penelitian mereka, tulang ikan tuna yang biasanya menjadi limbah padat diolah menjadi tepung dengan kandungan kalsium tinggi, mencapai 72,04% berat kering. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kadar kalsium pada ikan bandeng, tenggiri, maupun tongkol. Tepung tulang tersebut berpotensi difortifikasi ke dalam produk pangan seperti susu dan biskuit untuk meningkatkan asupan kalsium harian, khususnya bagi perempuan menopause yang rentan terhadap osteoporosis. “Karya ini adalah contoh nyata bagaimana sains dapat menjawab dua tantangan sekaligus, yaitu kesehatan dan lingkungan,” ujar Ketua Jurusan Kimia UNG, Hendri Iyabu, S.Pd., M.Si. Inovasi ini sebelumnya berhasil meraih Silver Medal dalam ajang Pekan Ilmiah Andalas 2025 yang digelar pada 3–4 Mei lalu. Karya mereka terpilih dari 580 naskah dan menjadi salah satu dari 150 finalis terbaik di antara delapan subtema lomba. Menurut tim peneliti, penurunan kadar estrogen pascamenopause menyebabkan penyerapan kalsium dalam tubuh berkurang drastis, sehingga meningkatkan risiko pengeroposan tulang. Fortifikasi pangan dengan kalsium menjadi langkah preventif yang efektif untuk mengatasi masalah ini. Selain memberikan solusi kesehatan, karya ini juga mengusung konsep keberlanjutan dengan memanfaatkan limbah perikanan menjadi produk bernilai ekonomi dan nutrisi tinggi. Gorontalo yang dikenal sebagai daerah penghasil tuna memiliki potensi besar untuk mengembangkan inovasi ini. “Kami berharap inovasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut dan diterapkan dalam produk konsumsi sehari-hari,” ungkap Vebriyanti. Karya ini membuktikan bahwa masalah kesehatan dapat diatasi melalui pemanfaatan limbah dengan sentuhan ilmu pengetahuan. Limbah tulang ikan pun kini berpeluang menjadi solusi baru untuk melawan osteoporosis pada jutaan wanita Indonesia.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p data-start="195" data-end="591">UNG &#8211; Lima mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menghadirkan inovasi berbasis sains untuk mencegah osteoporosis pada wanita pascamenopause. Melalui karya ilmiah berjudul <strong data-start="397" data-end="500">“Pencegahan Osteoporosis Pascamenopause dengan Fortifikasi Kalsium Tepung Tulang Tuna Sirip Kuning”</strong>, mereka memanfaatkan limbah tulang ikan tuna menjadi bahan pangan fungsional kaya kalsium.</p>
<p data-start="593" data-end="834">Tim yang terdiri dari <strong data-start="615" data-end="717">Vebriyanti Ibrahim, Zifran Nur Rahman, Siti R. D. Maluse, Widya Rahmadani, dan Meyla P. Paputungan</strong> ini menyoroti potensi tulang ikan tuna sirip kuning sebagai sumber kalsium yang efektif sekaligus ramah lingkungan.</p>
<p data-start="836" data-end="1309">Dalam penelitian mereka, tulang ikan tuna yang biasanya menjadi limbah padat diolah menjadi tepung dengan kandungan kalsium tinggi, mencapai <strong data-start="977" data-end="1000">72,04% berat kering</strong>. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kadar kalsium pada ikan bandeng, tenggiri, maupun tongkol. Tepung tulang tersebut berpotensi difortifikasi ke dalam produk pangan seperti susu dan biskuit untuk meningkatkan asupan kalsium harian, khususnya bagi perempuan menopause yang rentan terhadap osteoporosis.</p>
<p data-start="1313" data-end="1497"><em><strong data-start="1313" data-end="1436">“Karya ini adalah contoh nyata bagaimana sains dapat menjawab dua tantangan sekaligus, yaitu kesehatan dan lingkungan,”</strong> ujar Ketua Jurusan Kimia UNG, <strong data-start="1467" data-end="1497">Hendri Iyabu, S.Pd., M.Si.</strong></em></p>
<p data-start="1499" data-end="1755">Inovasi ini sebelumnya berhasil meraih <strong data-start="1538" data-end="1554">Silver Medal</strong> dalam ajang <strong data-start="1567" data-end="1596">Pekan Ilmiah Andalas 2025</strong> yang digelar pada 3–4 Mei lalu. Karya mereka terpilih dari <strong data-start="1656" data-end="1670">580 naskah</strong> dan menjadi salah satu dari <strong data-start="1699" data-end="1722">150 finalis terbaik</strong> di antara delapan subtema lomba.</p>
<p data-start="1757" data-end="2032">Menurut tim peneliti, penurunan kadar estrogen pascamenopause menyebabkan penyerapan kalsium dalam tubuh berkurang drastis, sehingga meningkatkan risiko pengeroposan tulang. Fortifikasi pangan dengan kalsium menjadi langkah preventif yang efektif untuk mengatasi masalah ini.</p>
<p data-start="2034" data-end="2313">Selain memberikan solusi kesehatan, karya ini juga mengusung konsep keberlanjutan dengan memanfaatkan limbah perikanan menjadi produk bernilai ekonomi dan nutrisi tinggi. Gorontalo yang dikenal sebagai daerah penghasil tuna memiliki potensi besar untuk mengembangkan inovasi ini.</p>
<p data-start="2317" data-end="2449"><em><strong data-start="2317" data-end="2430">“Kami berharap inovasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut dan diterapkan dalam produk konsumsi sehari-hari,”</strong> ungkap Vebriyanti.</em></p>
<p data-start="2451" data-end="2687">Karya ini membuktikan bahwa masalah kesehatan dapat diatasi melalui pemanfaatan limbah dengan sentuhan ilmu pengetahuan. Limbah tulang ikan pun kini berpeluang menjadi solusi baru untuk melawan osteoporosis pada jutaan wanita Indonesia.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/mahasiswa-kimia-ung-raih-prestasi-lewat-ide-pengolahan-limbah-tulang-tuna/">Mahasiswa Kimia UNG Raih Prestasi Lewat Ide Pengolahan Limbah Tulang Tuna</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/mahasiswa-kimia-ung-raih-prestasi-lewat-ide-pengolahan-limbah-tulang-tuna/">Mahasiswa Kimia UNG Raih Prestasi Lewat Ide Pengolahan Limbah Tulang Tuna</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/mahasiswa-kimia-ung-raih-prestasi-lewat-ide-pengolahan-limbah-tulang-tuna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bukan Hoax! Susu Kecoa Sedang Diteliti Sebagai Makanan Masa Depan</title>
		<link>https://barakati.id/bukan-hoax-susu-kecoa-sedang-diteliti-sebagai-makanan-masa-depan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=bukan-hoax-susu-kecoa-sedang-diteliti-sebagai-makanan-masa-depan</link>
					<comments>https://barakati.id/bukan-hoax-susu-kecoa-sedang-diteliti-sebagai-makanan-masa-depan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2025 13:36:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[FaktaSains]]></category>
		<category><![CDATA[IlmuTakBiasa]]></category>
		<category><![CDATA[InovasiPangan]]></category>
		<category><![CDATA[MakananMasaDepan]]></category>
		<category><![CDATA[NutrisiMasaDepan]]></category>
		<category><![CDATA[ProteinAlternatif]]></category>
		<category><![CDATA[SeranggaBergizi]]></category>
		<category><![CDATA[SuperfoodUnik]]></category>
		<category><![CDATA[SusuKecoa]]></category>
		<category><![CDATA[TeknologiPangan]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=26120</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/bukan-hoax-susu-kecoa-sedang-diteliti-sebagai-makanan-masa-depan/">Bukan Hoax! Susu Kecoa Sedang Diteliti Sebagai Makanan Masa Depan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/bukan-hoax-susu-kecoa-sedang-diteliti-sebagai-makanan-masa-depan/">Bukan Hoax! Susu Kecoa Sedang Diteliti Sebagai Makanan Masa Depan</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb2" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb2.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Barakati.id - Di balik stigma serangga yang menjijikkan dan sering dianggap hama, kecoa ternyata menyimpan potensi besar dalam dunia nutrisi. Spesies Diploptera punctata, satu-satunya kecoa vivipar yang melahirkan ketimbang bertelur, ternyata menghasilkan cairan bergizi luar biasa yang disebut \"susu kecoa\". Cairan ini bukan sekadar nutrisi biasa, melainkan kristal protein yang kaya akan energi dan asam amino esensial, berfungsi untuk memberi makan anak-anaknya yang masih berkembang di dalam tubuh induk. Temuan ini menjadi perhatian global sejak diterbitkannya hasil studi oleh tim ilmuwan dari Institute of Stem Cell Biology and Regenerative Medicine di India. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Union of Crystallography Journal (IUCrJ) pada tahun 2016 menunjukkan bahwa kristal susu kecoa mengandung semua asam amino esensial, lipid, serta gula dalam bentuk yang sangat terkonsentrasi. Bahkan, satu kristal kecil memiliki kandungan energi empat kali lebih tinggi daripada susu sapi dengan volume yang sama. Para peneliti mengungkap bahwa kandungan gizi tinggi ini menjadikan susu kecoa sebagai kandidat superfood masa depan, terutama untuk mengatasi tantangan nutrisi global dan kebutuhan pangan berkelanjutan. Namun, untuk alasan etis dan teknis, tentu tidak ada rencana memerah jutaan kecoa. Sebagai solusinya, ilmuwan kini tengah mengembangkan metode biosintesis melalui modifikasi genetik guna memproduksi protein susu kecoa tanpa harus melibatkan serangga secara langsung. Meski masih jauh dari pasar umum, kemungkinan besar dalam dekade mendatang kita bisa melihat kristal protein dari susu kecoa tersedia dalam bentuk suplemen atau campuran makanan tinggi gizi. Dunia mungkin belum siap menaruh tetesan susu kecoa ke dalam kopi pagi, tetapi dunia sains telah menegaskan satu hal: inovasi besar sering datang dari sumber paling tak terduga.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p><strong>Barakati.id</strong> &#8211; Di balik stigma serangga yang menjijikkan dan sering dianggap hama, kecoa ternyata menyimpan potensi besar dalam dunia nutrisi. Spesies Diploptera punctata, satu-satunya kecoa vivipar yang melahirkan ketimbang bertelur, ternyata menghasilkan cairan bergizi luar biasa yang disebut &#8220;susu kecoa&#8221;. Cairan ini bukan sekadar nutrisi biasa, melainkan kristal protein yang kaya akan energi dan asam amino esensial, berfungsi untuk memberi makan anak-anaknya yang masih berkembang di dalam tubuh induk.</p>
<p>Temuan ini menjadi perhatian global sejak diterbitkannya hasil studi oleh tim ilmuwan dari Institute of Stem Cell Biology and Regenerative Medicine di India. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Union of Crystallography Journal (IUCrJ) pada tahun 2016 menunjukkan bahwa kristal susu kecoa mengandung semua asam amino esensial, lipid, serta gula dalam bentuk yang sangat terkonsentrasi. Bahkan, satu kristal kecil memiliki kandungan energi empat kali lebih tinggi daripada susu sapi dengan volume yang sama.</p>
<p>Para peneliti mengungkap bahwa kandungan gizi tinggi ini menjadikan susu kecoa sebagai kandidat superfood masa depan, terutama untuk mengatasi tantangan nutrisi global dan kebutuhan pangan berkelanjutan. Namun, untuk alasan etis dan teknis, tentu tidak ada rencana memerah jutaan kecoa. Sebagai solusinya, ilmuwan kini tengah mengembangkan metode biosintesis melalui modifikasi genetik guna memproduksi protein susu kecoa tanpa harus melibatkan serangga secara langsung.</p>
<p>Meski masih jauh dari pasar umum, kemungkinan besar dalam dekade mendatang kita bisa melihat kristal protein dari susu kecoa tersedia dalam bentuk suplemen atau campuran makanan tinggi gizi. Dunia mungkin belum siap menaruh tetesan susu kecoa ke dalam kopi pagi, tetapi dunia sains telah menegaskan satu hal: inovasi besar sering datang dari sumber paling tak terduga.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/bukan-hoax-susu-kecoa-sedang-diteliti-sebagai-makanan-masa-depan/">Bukan Hoax! Susu Kecoa Sedang Diteliti Sebagai Makanan Masa Depan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/bukan-hoax-susu-kecoa-sedang-diteliti-sebagai-makanan-masa-depan/">Bukan Hoax! Susu Kecoa Sedang Diteliti Sebagai Makanan Masa Depan</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/bukan-hoax-susu-kecoa-sedang-diteliti-sebagai-makanan-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
