<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>terorisme Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/terorisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/terorisme/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Feb 2021 11:09:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>terorisme Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/terorisme/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Terorisme Dan Separatisme Di bahas Di Rapat Forkopimda</title>
		<link>https://barakati.id/terorisme-dan-separatisme-di-bahas-di-rapat-forkopimda/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=terorisme-dan-separatisme-di-bahas-di-rapat-forkopimda</link>
					<comments>https://barakati.id/terorisme-dan-separatisme-di-bahas-di-rapat-forkopimda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2021 11:09:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Provinsi Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[gubernur gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[RAPAT FORKOPIMDA]]></category>
		<category><![CDATA[rusli habibie]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=8213</guid>

					<description><![CDATA[<p>GORONTALO &#8211; Unsur Forum Komunikasii Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Gorontalo, melangsungkan pertemuan dengan Wakil Ketua DPR RI bidang politik dan keamanan Azis Syamsuddin, di Aula Rumah jabatan Gubernur Rusli Habibie, (9/2/2020). Beberapa isu yang dibahas di antaranya terkait terorisme dan separatisme yang menghangat beberapa Minggu terakhir. Ada tujuh terduga teroris yang ditangkap di Kabupaten Pohuwato [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/terorisme-dan-separatisme-di-bahas-di-rapat-forkopimda/">Terorisme Dan Separatisme Di bahas Di Rapat Forkopimda</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/terorisme-dan-separatisme-di-bahas-di-rapat-forkopimda/">Terorisme Dan Separatisme Di bahas Di Rapat Forkopimda</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="listenButton1" class="responsivevoice-button" type="button" value="Play" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan Berita</span></button>
        <script>
            listenButton1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("GORONTALO - Unsur Forum Komunikasii Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Gorontalo, melangsungkan pertemuan dengan Wakil Ketua DPR RI bidang politik dan keamanan Azis Syamsuddin, di Aula Rumah jabatan Gubernur Rusli Habibie, (9/2/2020). Beberapa isu yang dibahas di antaranya terkait terorisme dan separatisme yang menghangat beberapa Minggu terakhir. Ada tujuh terduga teroris yang ditangkap di Kabupaten Pohuwato dan sudah dibawa oleh Densus 88 ke Jakarta. Kapolda Gorontalo Irjen Akhmad Wiyagus menjelaskan, pergerakan terorisme ini sudah diendus Densus 88 sejak November tahun 2018 lalu. Mereka diduga menyasar anggota polisi, TNI dan pejabat Pemda. “Ketujuh orang tersangka ini menamakan diri Jamaah Ansor Pohuwato. Jadi jamaah ini suka tidak suka sudah dikenal di dunia terorisme. Padahal mereka benar-benar oang Pohuwato, hanya untuk men-declare kepada masyarakat luas bahwa di Pohuwato juga ada loh. Kira kira begitu,” jelas Kapolda Gorontalo Irjen Akhmad Wiyagus. Danrem 133/Nani Wartabone Brigjen TNI Bagus Antonov Hardito menyarankan untuk menjadikan Gorontalo sebagai daerah penyangga untuk Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah yang relatif lebih besar risiko terorisme dan separatisme. “Alangkah baiknya melaksanakan operasi imbangan untuk membuat sekat ini. Kita melakukan operasi penyekatan sehingga tidak terjadi limpahan dari dua daerah sehingga Sulut dan Sulteng tidak connect pak. Bisa bisa Filipina Selatan bisa konek dengan Poso pak,” saran jenderal bintang satu itu. Azis Syamsuddin menyambut baik aspirasi yang ada dan berjanji akan membahas di tingkat pusat dengan kementrian terkait. Gorontalo butuh perhatian khusus karena berpotensi menjadi lalu lintas paham radikal. “Kami sangat berterima kasih atas masukan-masukan ini. Pandangan dari pada TNI-Polri sama, Gorontalo ini sebagai lalu lintas (paham radikal). Tinggal bagaimana kita memutus ini,” ungkap Azis. Aspirasi lain yang diserap yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia, pariwisata termasuk penyediaan lembaga pemasyarakatan (lapas) yang representatif. Ia berharap bisa memperjuangkan khususnya dalam hal anggaran.", "UK English Female");
                }
            };
        </script>
    
<p>GORONTALO &#8211; Unsur Forum Komunikasii Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Gorontalo, melangsungkan pertemuan dengan Wakil Ketua DPR RI bidang politik dan keamanan Azis Syamsuddin, di Aula Rumah jabatan Gubernur Rusli Habibie, (9/2/2020).</p>
<p>Beberapa isu yang dibahas di antaranya terkait terorisme dan separatisme yang menghangat beberapa Minggu terakhir. Ada tujuh terduga teroris yang ditangkap di Kabupaten Pohuwato dan sudah dibawa oleh Densus 88 ke Jakarta.</p>
<p>Kapolda Gorontalo Irjen Akhmad Wiyagus menjelaskan, pergerakan terorisme ini sudah diendus Densus 88 sejak November tahun 2018 lalu. Mereka diduga menyasar anggota polisi, TNI dan pejabat Pemda.</p>
<p>“Ketujuh orang tersangka ini menamakan diri Jamaah Ansor Pohuwato. Jadi jamaah ini suka tidak suka sudah dikenal di dunia terorisme. Padahal mereka benar-benar oang Pohuwato, hanya untuk men-declare kepada masyarakat luas bahwa di Pohuwato juga ada loh. Kira kira begitu,” jelas Kapolda Gorontalo Irjen Akhmad Wiyagus.</p>
<p>Danrem 133/Nani Wartabone Brigjen TNI Bagus Antonov Hardito menyarankan untuk menjadikan Gorontalo sebagai daerah penyangga untuk Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah yang relatif lebih besar risiko terorisme dan separatisme.</p>
<p>“Alangkah baiknya melaksanakan operasi imbangan untuk membuat sekat ini. Kita melakukan operasi penyekatan sehingga tidak terjadi limpahan dari dua daerah sehingga Sulut dan Sulteng tidak connect pak. Bisa bisa Filipina Selatan bisa konek dengan Poso pak,” saran jenderal bintang satu itu.</p>
<p>Azis Syamsuddin menyambut baik aspirasi yang ada dan berjanji akan membahas di tingkat pusat dengan kementrian terkait. Gorontalo butuh perhatian khusus karena berpotensi menjadi lalu lintas paham radikal.</p>
<p>“Kami sangat berterima kasih atas masukan-masukan ini. Pandangan dari pada TNI-Polri sama, Gorontalo ini sebagai lalu lintas (paham radikal). Tinggal bagaimana kita memutus ini,” ungkap Azis.</p>
<p>Aspirasi lain yang diserap yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia, pariwisata termasuk penyediaan lembaga pemasyarakatan (lapas) yang representatif. Ia berharap bisa memperjuangkan khususnya dalam hal anggaran.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/terorisme-dan-separatisme-di-bahas-di-rapat-forkopimda/">Terorisme Dan Separatisme Di bahas Di Rapat Forkopimda</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/terorisme-dan-separatisme-di-bahas-di-rapat-forkopimda/">Terorisme Dan Separatisme Di bahas Di Rapat Forkopimda</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/terorisme-dan-separatisme-di-bahas-di-rapat-forkopimda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>(MEREKA) Kader NU Gorontalo yang Dipusaran Isu Terorisme</title>
		<link>https://barakati.id/mereka-kader-nu-gorontalo-yang-dipusaran-isu-terorisme/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=mereka-kader-nu-gorontalo-yang-dipusaran-isu-terorisme</link>
					<comments>https://barakati.id/mereka-kader-nu-gorontalo-yang-dipusaran-isu-terorisme/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2020 16:37:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[isu terorisme]]></category>
		<category><![CDATA[kader nu]]></category>
		<category><![CDATA[nu]]></category>
		<category><![CDATA[pemerhati sosial]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=7349</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Moh. Nurmawan, Sebagai Pemerhati Sosial GORONTALO-Saya jadi mbingung sendiri bagaimana cara untuk memulai wacana ini. Tapi, tiba-tiba kebingungan itu melumer bak es tong-tong di siang bolong. Penyebabnya adalah “Seumpama” Seumpama mereka yang sedang berperang wacana itu bagian dari “teroris”? Atau seumpama teroris tidak dihukum mati di negeri ini? Kemungkinan besar dari dua perumpaman [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/mereka-kader-nu-gorontalo-yang-dipusaran-isu-terorisme/">(MEREKA) Kader NU Gorontalo yang Dipusaran Isu Terorisme</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/mereka-kader-nu-gorontalo-yang-dipusaran-isu-terorisme/">(MEREKA) Kader NU Gorontalo yang Dipusaran Isu Terorisme</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="listenButton2" class="responsivevoice-button" type="button" value="Play" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan Berita</span></button>
        <script>
            listenButton2.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Oleh : Moh. Nurmawan, Sebagai Pemerhati Sosial GORONTALO-Saya jadi mbingung sendiri bagaimana cara untuk memulai wacana ini. Tapi, tiba-tiba kebingungan itu melumer bak es tong-tong di siang bolong. Penyebabnya adalah “Seumpama” Seumpama mereka yang sedang berperang wacana itu bagian dari “teroris”? Atau seumpama teroris tidak dihukum mati di negeri ini? Kemungkinan besar dari dua perumpaman itu akan menghasilkan keadaan serupa; di mana kita sedang menyaksikkan bagaimana para teroris sedang berperang — beradu gagasan. Menariknya lagi, satu di antaranya akan menyatakan klaim bahwa dialah yang lebih paham peta wilayah tertentu. Wow, keren. Teroris masuk desa! Kok bisa? Ya, bisa dong. Bukankah perumpamaan itu sifatnya tak terbatas? Sejujurnya, saya punya keinginan kecil untuk mengajak saudara, para penikmat wacana di bumi Hulondalo agar bisa mengikuti “wacana” yang sedang saya ketik ini — hingga selesai. Sekiranya saudara berkenan melakukannya, maka saya akan segera memulainya. Saya mulai... Baik. Sejenak kita tinggalkan perumpamaan di atas. Toh saya juga kuatir, jika terlalu banyak perumpamaan apa bedanya kita seperti orang-orang yang banyak dibubuhi khayalan-khayalan kolot. maksud saya, silakan berumpama ala kadarnya saja. Jangan berlebihan. Ada 3 wacana soal teroris di Gorontalo, yang menarik untuk kita bahas bersama-sama. Lebih-lebih wacana itu ditulis bukan oleh “sembarang” orang. Ke tiganya punya kapasitas tersendiri dalam cara menyajikan wacana. Jika tidak keberatan saya sebut nama masing-masing orang itu. Makmun, Djemy, dan Samsi. Dalam wacananya; Pohuwato, Kesalahan Pejabat dan Jaringan Teroris. Makmun membicarakan, eh bukan. Maksud saya, Makmum menyalahkan. Eh begini saja, biar simpel. Alih-alih Makmun menyajikan data penangkapan kelompok teroris di beberapa wilayah, di Gorontalo. Kenyataannya, ia justru dikatai “asal comot” dan “terlalu dini” menyimpulkan berbagai isu kedaerahan oleh Djemy. Sebelumnya, pada pargraf ke dua, sebelum Makmun mengakhiri tulisannya. Ia masih sempat menyalahkan Pejabat Daerah. Makmun menyalahkan sikap optimisme seorang pejabat tersebut. Dengan kata lain, di balik sikap optimisme seorang pejabat justru malah membuka ruang untuk para teroris bersarang di wilayah Gorontalo. Sikap Makmun yang terkesan menyalahkan pejabat daerah ini, barangkali karena ia telah mengimani apa yang dikatakan Alm.Ali Imron, terdakwa hukuman mati, pada kasus Bom Bali (2002). Entah. Yang pastinya, dari wacana seorang Makmun inilah seorang Djemy terpancing hingga darahnya mendidih, lalu merefleksi wacana Makmum ke dalam tulisannya. Dalam tulisannya, Djemy membuka dengan kalimat “Tak ada hal yang menarik untuk dijadikan bahan kajian ataupun pijakan Pemerintah Gorontalo dari ulasan Makmun Rasyid, yang tayang di media sangkhalifah.co....” Lah iya, memang benar. Ulasan Makmun memang tidak menarik untuk dijadikan bahan kajian. Lebih-lebih soal “analisis sederhananya” yang dimulai dari batasan-batasan wilayah yang ada di Pohuwato. Sekiranya itu adalah bagian dari tugas seorang padukuhan yang lebih mumpuni daripada Makmun. Maksudnya, saya lebih percaya “Ti Podu” yang memaparkan batasan-batasan wilayah tersebut ketimbang Makmun nun jauh di sana. Emang siapa Makmun itu? Toh secerdas apapun seorang Makmun, ia tetap tidak memiliki andil terhadap kebijakan yang ada di Gorontalo sana. Makmun adalah orang yang banyak jejaring di tingkat nasional? Coba sebutkan kontribusi Makmun di Gorontalo? Atau paling tidak Makmun telah berbuat apa di Pohuwato? Desa Damai? Ntahlaah.... Saudara sekalian, mari menepi sejenak kepada Djemy. Saya kira Djemy telah terpancing oleh wacana yang sengaja disajikan Makmun agar mendapat pengakuan dari khalayak banyak, di Gorontalo. Tapi kan kenyataanya tidak begitu. Makmun hanya sebatas intelektual yang salah di mata Djemy. Entah di mata pemerintah daerah seperti apa? Tanyakan pada Djemy. Lalu apa yang menarik dari sajian wacana yang ditulis Djemy dengan judul “Intelektual Salah yang Bicara Kesalahan Pejabat”? Jawabannya juga sama dengan kalimat pembuka dalam tulisannya “Tidak ada yang menarik!” Alih-alih Djemy ingin mengulas lebih detil lagi soal data-data penangkapan teroris di Gorontalo, kenyataannya Djemy hanya mencerminkann sikap “gemesnya” terhadap Makmun yang asal comot menyajikan data-data soal teroris di wiliayah Gorontalo. Lebih tidak menarik lagi , Djemy justru terkesan membela pejabat daerah di Gorontalo. Lalu apakah Djemy adalah seorang yang “dekat” dengan pejabat di Gorontalo? Ada baiknya tanyakan itu kepada Makmun. Alhasil efek dari perang wacana inilah memaksa sang “Romo” turun gunung. Ya, siapa lagi kalau bukan Samsi Pomalingo, sosok yang dihormati di kalangan biru-kuning dan sembilan bintang, di Gorontalo. Benar begitu kan? Hehe Berbeda dengan wacana Makmun dan Djemy, Romo justru menekankan bahwa peristiwa penangkapan 7 orang teroris di Pohuwato pada tanggal 27 november, adalah kesalahan kita bersama. Menurut Romo, kehadiran teroris di negeri ini, khususnya di wilayah Gorontalo disebabkan adanya “ruang” yang dengan sengaja kita ciptakan sendiri. Ruang yang dimaksudkan Romo sendiri adalah lemahnya sikap kita sebagai warga negara yang kurang produktif dalam menciptakan nuansa kemanusiaan dan menyebarkan agama islam sebagai Rahmatan Lil Alamin. Lalu apakah Romo berhasil menyajikan wacana yang menarik soal teroris di Gorontalo? Jawabannya juga masih sama dengan kalimat pembuka dalam tulisan Djemy; “Tidak ada yang menarik!” Loh kok bisa? Kenyataannya Romo makin kesini justru malah menyentil halus wacana dari Makmun. Buktinya ada pada pertanyaan Romo, apa yang sudah kita lakukan di masyarakat bawah (bukan masyrakat elit) untuk mensosialisasikan bahaya gerakan kelompok teroris? Bukan ngopi di warung kopi dengan berbagai kelompok elit, atau berkerumun dengan para pejabat dan ikut-ikutan berpenampilan seperti pejabat. Bukankah yang dimaksudkan oleh Romo itu ditujukan kepada sosok Makmun yang sok elitis plus yang memiliki gagasan kampungan itu? Allah hu alam. Meskipun demikian, Romo adalah sosok orang tua. Dari sini, bisa disimpulkan bahwa Romo berupaya “meredam” perang wacana di antara Makmun dan Djemy. Lebih-lebih diakhir tulisannya, Romo justru memberi penegasan bahwa organisasi masyarakat sekelas NU dan Muhammadiyah plus banom dan ortonom harus membantu pemerintah dalam mengatasi ancaman-ancaman baik yang datangnya dari luar maupun dari dalam yang coba-coba membangun “Family Terorist”. Pertanyaan kemudian adalah siapakah Makmun yang asal comot dalam menyajikan analisis datanya soal teroris di Pohuwato? Siapakah Djemy yang tidak sepakat dengan analisis data yang disajikan Makmun? Siapakah Samsi Pomalingo yang berupaya meredam perang wacana di antara ke duanya? Saya juga tak tahu ketiga orang tersebut. Loh terus kenapa brona-braninya saya coba mengulas wacana mereka? Karena mereka menulis! Salam Semua isi Tulisan menjadi tanggung jawab Penulis.", "UK English Female");
                }
            };
        </script>
    
<p>Oleh : Moh. Nurmawan, Sebagai Pemerhati Sosial</p>
<p>GORONTALO-Saya jadi mbingung sendiri bagaimana cara untuk memulai wacana ini. Tapi, tiba-tiba kebingungan itu melumer bak es tong-tong di siang bolong. Penyebabnya adalah “Seumpama”</p>
<p>Seumpama mereka yang sedang berperang wacana itu bagian dari “teroris”? Atau seumpama teroris tidak dihukum mati di negeri ini? Kemungkinan besar dari dua perumpaman itu akan menghasilkan keadaan serupa; di mana kita sedang menyaksikkan bagaimana para teroris sedang berperang — beradu gagasan. Menariknya lagi, satu di antaranya akan menyatakan klaim bahwa dialah yang lebih paham peta wilayah tertentu. Wow, keren. Teroris masuk desa!</p>
<p>Kok bisa? Ya, bisa dong. Bukankah perumpamaan itu sifatnya tak terbatas?</p>
<p>Sejujurnya, saya punya keinginan kecil untuk mengajak saudara, para penikmat wacana di bumi Hulondalo agar bisa mengikuti “wacana” yang sedang saya ketik ini — hingga selesai. Sekiranya saudara berkenan melakukannya, maka saya akan segera memulainya.</p>
<p>Saya mulai&#8230;</p>
<p>Baik. Sejenak kita tinggalkan perumpamaan di atas. Toh saya juga kuatir, jika terlalu banyak perumpamaan apa bedanya kita seperti orang-orang yang banyak dibubuhi khayalan-khayalan kolot. maksud saya, silakan berumpama ala kadarnya saja. Jangan berlebihan.</p>
<p>Ada 3 wacana soal teroris di Gorontalo, yang menarik untuk kita bahas bersama-sama. Lebih-lebih wacana itu ditulis bukan oleh “sembarang” orang. Ke tiganya punya kapasitas tersendiri dalam cara menyajikan wacana. Jika tidak keberatan saya sebut nama masing-masing orang itu. Makmun, Djemy, dan Samsi.</p>
<p>Dalam wacananya; Pohuwato, Kesalahan Pejabat dan Jaringan Teroris. Makmun membicarakan, eh bukan. Maksud saya, Makmum menyalahkan. Eh begini saja, biar simpel. Alih-alih Makmun menyajikan data penangkapan kelompok teroris di beberapa wilayah, di Gorontalo. Kenyataannya, ia justru dikatai “asal comot” dan “terlalu dini” menyimpulkan berbagai isu kedaerahan oleh Djemy.</p>
<p>Sebelumnya, pada pargraf ke dua, sebelum Makmun mengakhiri tulisannya. Ia masih sempat menyalahkan Pejabat Daerah. Makmun menyalahkan sikap optimisme seorang pejabat tersebut. Dengan kata lain, di balik sikap optimisme seorang pejabat justru malah membuka ruang untuk para teroris bersarang di wilayah Gorontalo. Sikap Makmun yang terkesan menyalahkan pejabat daerah ini, barangkali karena ia telah mengimani apa yang dikatakan Alm.Ali Imron, terdakwa hukuman mati, pada kasus Bom Bali (2002). Entah. Yang pastinya, dari wacana seorang Makmun inilah seorang Djemy terpancing hingga darahnya mendidih, lalu merefleksi wacana Makmum ke dalam tulisannya.</p>
<p>Dalam tulisannya, Djemy membuka dengan kalimat “Tak ada hal yang menarik untuk dijadikan bahan kajian ataupun pijakan Pemerintah Gorontalo dari ulasan Makmun Rasyid, yang tayang di media sangkhalifah.co&#8230;.” Lah iya, memang benar. Ulasan Makmun memang tidak menarik untuk dijadikan bahan kajian. Lebih-lebih soal “analisis sederhananya” yang dimulai dari batasan-batasan wilayah yang ada di Pohuwato. Sekiranya itu adalah bagian dari tugas seorang padukuhan yang lebih mumpuni daripada Makmun. Maksudnya, saya lebih percaya “Ti Podu” yang memaparkan batasan-batasan wilayah tersebut ketimbang Makmun nun jauh di sana.</p>
<p>Emang siapa Makmun itu? Toh secerdas apapun seorang Makmun, ia tetap tidak memiliki andil terhadap kebijakan yang ada di Gorontalo sana. Makmun adalah orang yang banyak jejaring di tingkat nasional? Coba sebutkan kontribusi Makmun di Gorontalo? Atau paling tidak Makmun telah berbuat apa di Pohuwato? Desa Damai? Ntahlaah&#8230;.</p>
<p>Saudara sekalian, mari menepi sejenak kepada Djemy.</p>
<p>Saya kira Djemy telah terpancing oleh wacana yang sengaja disajikan Makmun agar mendapat pengakuan dari khalayak banyak, di Gorontalo. Tapi kan kenyataanya tidak begitu. Makmun hanya sebatas intelektual yang salah di mata Djemy. Entah di mata pemerintah daerah seperti apa? Tanyakan pada Djemy.</p>
<p>Lalu apa yang menarik dari sajian wacana yang ditulis Djemy dengan judul “Intelektual Salah yang Bicara Kesalahan Pejabat”? Jawabannya juga sama dengan kalimat pembuka dalam tulisannya “Tidak ada yang menarik!” Alih-alih Djemy ingin mengulas lebih detil lagi soal data-data penangkapan teroris di Gorontalo, kenyataannya Djemy hanya mencerminkann sikap “gemesnya” terhadap Makmun yang asal comot menyajikan data-data soal teroris di wiliayah Gorontalo.<br />
Lebih tidak menarik lagi , Djemy justru terkesan membela pejabat daerah di Gorontalo. Lalu apakah Djemy adalah seorang yang “dekat” dengan pejabat di Gorontalo? Ada baiknya tanyakan itu kepada Makmun.</p>
<p>Alhasil efek dari perang wacana inilah memaksa sang “Romo” turun gunung. Ya, siapa lagi kalau bukan Samsi Pomalingo, sosok yang dihormati di kalangan biru-kuning dan sembilan bintang, di Gorontalo. Benar begitu kan? Hehe</p>
<p>Berbeda dengan wacana Makmun dan Djemy, Romo justru menekankan bahwa peristiwa penangkapan 7 orang teroris di Pohuwato pada tanggal 27 november, adalah kesalahan kita bersama. Menurut Romo, kehadiran teroris di negeri ini, khususnya di wilayah Gorontalo disebabkan adanya “ruang” yang dengan sengaja kita ciptakan sendiri. Ruang yang dimaksudkan Romo sendiri adalah lemahnya sikap kita sebagai warga negara yang kurang produktif dalam menciptakan nuansa kemanusiaan dan menyebarkan agama islam sebagai Rahmatan Lil Alamin.</p>
<p>Lalu apakah Romo berhasil menyajikan wacana yang menarik soal teroris di Gorontalo? Jawabannya juga masih sama dengan kalimat pembuka dalam tulisan Djemy; “Tidak ada yang menarik!” Loh kok bisa? Kenyataannya Romo makin kesini justru malah menyentil halus wacana dari Makmun. Buktinya ada pada pertanyaan Romo, apa yang sudah kita lakukan di masyarakat bawah (bukan masyrakat elit) untuk mensosialisasikan bahaya gerakan kelompok teroris? Bukan ngopi di warung kopi dengan berbagai kelompok elit, atau berkerumun dengan para pejabat dan ikut-ikutan berpenampilan seperti pejabat. Bukankah yang dimaksudkan oleh Romo itu ditujukan kepada sosok Makmun yang sok elitis plus yang memiliki gagasan kampungan itu? Allah hu alam.</p>
<p>Meskipun demikian, Romo adalah sosok orang tua. Dari sini, bisa disimpulkan bahwa Romo berupaya “meredam” perang wacana di antara Makmun dan Djemy. Lebih-lebih diakhir tulisannya, Romo justru memberi penegasan bahwa organisasi masyarakat sekelas NU dan Muhammadiyah plus banom dan ortonom harus membantu pemerintah dalam mengatasi ancaman-ancaman baik yang datangnya dari luar maupun dari dalam yang coba-coba membangun “Family Terorist”.</p>
<p>Pertanyaan kemudian adalah siapakah Makmun yang asal comot dalam menyajikan analisis datanya soal teroris di Pohuwato? Siapakah Djemy yang tidak sepakat dengan analisis data yang disajikan Makmun? Siapakah Samsi Pomalingo yang berupaya meredam perang wacana di antara ke duanya? Saya juga tak tahu ketiga orang tersebut. Loh terus kenapa brona-braninya saya coba mengulas wacana mereka? Karena mereka menulis!</p>
<p>Salam</p>
<p>Semua isi Tulisan menjadi tanggung jawab Penulis.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/mereka-kader-nu-gorontalo-yang-dipusaran-isu-terorisme/">(MEREKA) Kader NU Gorontalo yang Dipusaran Isu Terorisme</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/mereka-kader-nu-gorontalo-yang-dipusaran-isu-terorisme/">(MEREKA) Kader NU Gorontalo yang Dipusaran Isu Terorisme</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/mereka-kader-nu-gorontalo-yang-dipusaran-isu-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
