<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tradisi gorontalo Archives - Barakati ID</title>
	<atom:link href="https://barakati.id/tag/tradisi-gorontalo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://barakati.id/tag/tradisi-gorontalo/</link>
	<description>Information Visual Creator</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Feb 2026 17:11:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://barakati.id/wp-content/uploads/2025/01/cropped-logo-BARAKATI-copy-32x32.jpg</url>
	<title>Tradisi gorontalo Archives - Barakati ID</title>
	<link>https://barakati.id/tag/tradisi-gorontalo/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Suara Tradisi di Tengah Zaman: Koko’o Bilungala Tetap Berdentum Tanpa Sound System</title>
		<link>https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system</link>
					<comments>https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2026 21:06:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten bone bolango]]></category>
		<category><![CDATA[Bone Bolango]]></category>
		<category><![CDATA[budaya pesisir]]></category>
		<category><![CDATA[desa bilungala]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[GOTONG ROYONG]]></category>
		<category><![CDATA[identitas budaya]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[kearifan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[KETUK SAHUR]]></category>
		<category><![CDATA[Koko’o]]></category>
		<category><![CDATA[pelestarian budaya]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda Bilungala]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan 1447 H]]></category>
		<category><![CDATA[terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi sahur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=29453</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/">Suara Tradisi di Tengah Zaman: Koko’o Bilungala Tetap Berdentum Tanpa Sound System</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/">Suara Tradisi di Tengah Zaman: Koko’o Bilungala Tetap Berdentum Tanpa Sound System</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb1" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("BONBOL - Tradisi Koko’o atau ketuk sahur masih terus dilestarikan oleh masyarakat di wilayah Provinsi Gorontalo. Setiap kali bulan Ramadan tiba, tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga, khususnya di daerah pesisir dan pedesaan. Koko’o dilakukan dengan cara para pemuda berkeliling kampung menjelang waktu sahur sambil membawa alat pukul tradisional. Ketukan ritmis dari alat tersebut berfungsi membangunkan warga agar bersiap menyantap sahur sebelum menjalankan ibadah puasa. Di sejumlah daerah, tradisi Koko’o kini mulai beradaptasi dengan kemajuan teknologi melalui penggunaan pengeras suara dan sistem audio modern. Namun, pemandangan berbeda bisa ditemui di wilayah pesisir selatan Kabupaten Bone Bolango, tepatnya di Kecamatan Bonepantai. Warga Desa Bilungala memilih untuk tetap menjaga keaslian tradisi Koko’o secara murni, tanpa bantuan sound system atau perangkat elektronik lainnya. Setiap malam selama Ramadan, para pemuda desa rutin berkeliling dari lorong ke lorong sambil membunyikan Koko’o. Suara pukulan alat sederhana itu menjadi alarm alami yang ditunggu warga, menggantikan fungsi teknologi dengan nuansa kebersamaan khas kampung. Ketua Karang Taruna Desa Bilungala, Abdul Karim Suleman, mengatakan bahwa tradisi Koko’o telah berlangsung sejak era 1960-an dan secara konsisten dijalankan hingga kini. Menurutnya, kegiatan itu dimulai sejak malam pertama Ramadan hingga malam terakhir setiap tahun. Meski sebagian pemuda Bilungala kini merantau dan akrab dengan berbagai alat musik modern, semangat mereka untuk menjaga keaslian tradisi tetap kuat. Baik yang tinggal di kampung maupun yang pulang kampung saat Ramadan, mereka bergotong royong melestarikan Koko’o sebagai warisan budaya nenek moyang. “Koko’o bukan sekadar tradisi membangunkan sahur, tetapi juga simbol kebersamaan dan identitas desa kami,” ujar Abdul Karim. Bagi warga Bilungala, pelestarian tradisi ini adalah bukti nyata bahwa modernisasi tidak harus menghapus kearifan lokal. Koko’o menjadi penanda spiritual, sosial, dan budaya yang terus hidup di tengah perubahan zaman.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">BONBOL &#8211; Tradisi <strong>Koko’o</strong> atau ketuk sahur masih terus dilestarikan oleh masyarakat di wilayah Provinsi Gorontalo. Setiap kali bulan Ramadan tiba, tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga, khususnya di daerah pesisir dan pedesaan.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Koko’o dilakukan dengan cara para pemuda berkeliling kampung menjelang waktu sahur sambil membawa alat pukul tradisional. Ketukan ritmis dari alat tersebut berfungsi membangunkan warga agar bersiap menyantap sahur sebelum menjalankan ibadah puasa.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Di sejumlah daerah, tradisi Koko’o kini mulai beradaptasi dengan kemajuan teknologi melalui penggunaan pengeras suara dan sistem audio modern. Namun, pemandangan berbeda bisa ditemui di wilayah pesisir selatan Kabupaten Bone Bolango, tepatnya di Kecamatan Bonepantai. Warga <strong>Desa Bilungala</strong> memilih untuk tetap menjaga keaslian tradisi Koko’o secara murni, tanpa bantuan sound system atau perangkat elektronik lainnya.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Setiap malam selama Ramadan, para pemuda desa rutin berkeliling dari lorong ke lorong sambil membunyikan Koko’o. Suara pukulan alat sederhana itu menjadi alarm alami yang ditunggu warga, menggantikan fungsi teknologi dengan nuansa kebersamaan khas kampung.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Ketua Karang Taruna Desa Bilungala, <strong>Abdul Karim Suleman</strong>, mengatakan bahwa tradisi Koko’o telah berlangsung sejak era 1960-an dan secara konsisten dijalankan hingga kini. Menurutnya, kegiatan itu dimulai sejak malam pertama Ramadan hingga malam terakhir setiap tahun.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Meski sebagian pemuda Bilungala kini merantau dan akrab dengan berbagai alat musik modern, semangat mereka untuk menjaga keaslian tradisi tetap kuat. Baik yang tinggal di kampung maupun yang pulang kampung saat Ramadan, mereka bergotong royong melestarikan Koko’o sebagai warisan budaya nenek moyang.</p>
<blockquote>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Koko’o bukan sekadar tradisi membangunkan sahur, tetapi juga simbol kebersamaan dan identitas desa kami,” ujar Abdul Karim.</p>
</blockquote>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Bagi warga Bilungala, pelestarian tradisi ini adalah bukti nyata bahwa modernisasi tidak harus menghapus kearifan lokal. <strong>Koko’o menjadi penanda spiritual, sosial, dan budaya</strong> yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/">Suara Tradisi di Tengah Zaman: Koko’o Bilungala Tetap Berdentum Tanpa Sound System</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/">Suara Tradisi di Tengah Zaman: Koko’o Bilungala Tetap Berdentum Tanpa Sound System</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/suara-tradisi-di-tengah-zaman-kokoo-bilungala-tetap-berdentum-tanpa-sound-system/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kajari Disambut Adat Mopotilolo, Bukti Sinergi Pemerintah dan Penegak Hukum</title>
		<link>https://barakati.id/kajari-disambut-adat-mopotilolo-bukti-sinergi-pemerintah-dan-penegak-hukum/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kajari-disambut-adat-mopotilolo-bukti-sinergi-pemerintah-dan-penegak-hukum</link>
					<comments>https://barakati.id/kajari-disambut-adat-mopotilolo-bukti-sinergi-pemerintah-dan-penegak-hukum/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2025 14:05:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten pohuwato]]></category>
		<category><![CDATA[Arif Renaldi]]></category>
		<category><![CDATA[budaya lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Saipul A. Mbuinga]]></category>
		<category><![CDATA[forkopimda]]></category>
		<category><![CDATA[Kajari Pohuwato]]></category>
		<category><![CDATA[Pembangunan daerah]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintahan daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Penegakan Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[penghormatan pejabat]]></category>
		<category><![CDATA[prosesi penyambutan]]></category>
		<category><![CDATA[sinergi Pemkab dan Kejari]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Tp pkk pohuwato]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[upacara adat Mopotilolo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=27984</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/kajari-disambut-adat-mopotilolo-bukti-sinergi-pemerintah-dan-penegak-hukum/">Kajari Disambut Adat Mopotilolo, Bukti Sinergi Pemerintah dan Penegak Hukum</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/kajari-disambut-adat-mopotilolo-bukti-sinergi-pemerintah-dan-penegak-hukum/">Kajari Disambut Adat Mopotilolo, Bukti Sinergi Pemerintah dan Penegak Hukum</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="bb2" type="button" value="Play" class="responsivevoice-button" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan berita</span></button>
        <script>
            bb2.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("Pohuwato – Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pohuwato, Arif Renaldi, SH., MH., didampingi Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Daerah Pohuwato, Tria Buana Mega Sari, menerima penyambutan penuh kekhidmatan melalui upacara adat Mopotilolo di halaman Kantor Kejari Pohuwato, Senin (03/11/2025).​ Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga, bersama unsur Forkopimda dan jajaran pemerintah daerah turut hadir dalam prosesi tersebut. Tampak hadir Sekretaris Daerah Pohuwato, Iskandar Datau; Asisten Pemerintahan dan Kesra, Arman Mohamad; Sekretaris DPRD, Hamkawaty Mbuinga; Kadis Satpol PP, Nikson Pakaya; Kadis Pertanian, Kamri Alwi; Sekretaris Dinas Sosial, Risna Laisa; serta Ketua TP PKK Pohuwato, Selfi Mbuinga Monoarfa. Upacara Mopotilolo yang merupakan tradisi adat Gorontalo, menjadi simbol penghormatan sekaligus penerimaan resmi bagi pejabat negara yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Panua Pohuwato. Kajari Arif Renaldi bersama istri disambut dengan penuh makna setibanya di pintu masuk kantor. Pada kesempatan itu, Bupati Saipul A. Mbuinga menyampaikan penghargaan dan ucapan selamat datang kepada Kajari Pohuwato beserta istri atas kehadirannya di wilayah tersebut. “Atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Pohuwato, kami mengucapkan selamat datang kepada Bapak Kajari bersama Ibu. Semoga bapak dan ibu betah berada di Bumi Panua Pohuwato,” ujar Bupati Saipul. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kehadiran Kajari baru menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Pohuwato. “Kami menyambut baik kehadiran Kajari yang baru di Pohuwato. Melalui upacara adat ini, pak Kajari bersama istri sudah menjadi bagian dari keluarga besar Pohuwato,” tutur Saipul. Bupati berharap sinergi antara Pemerintah Kabupaten Pohuwato dan Kejaksaan Negeri Pohuwato dapat terus terjalin guna mendukung pembangunan dan penegakan hukum di daerah. “Semoga ke depan, Pemkab dan Kejari dapat bersinergi dalam menyelesaikan berbagai persoalan di Bumi Panua ini,” pungkasnya.", "Indonesian Male");
                }
            };
        </script>
    </p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Pohuwato – Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pohuwato, Arif Renaldi, SH., MH., didampingi Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Daerah Pohuwato, Tria Buana Mega Sari, menerima penyambutan penuh kekhidmatan melalui upacara adat Mopotilolo di halaman Kantor Kejari Pohuwato, Senin (03/11/2025).​</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga, bersama unsur Forkopimda dan jajaran pemerintah daerah turut hadir dalam prosesi tersebut. Tampak hadir Sekretaris Daerah Pohuwato, Iskandar Datau; Asisten Pemerintahan dan Kesra, Arman Mohamad; Sekretaris DPRD, Hamkawaty Mbuinga; Kadis Satpol PP, Nikson Pakaya; Kadis Pertanian, Kamri Alwi; Sekretaris Dinas Sosial, Risna Laisa; serta Ketua TP PKK Pohuwato, Selfi Mbuinga Monoarfa.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Upacara Mopotilolo yang merupakan tradisi adat Gorontalo, menjadi simbol penghormatan sekaligus penerimaan resmi bagi pejabat negara yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Panua Pohuwato. Kajari Arif Renaldi bersama istri disambut dengan penuh makna setibanya di pintu masuk kantor.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Pada kesempatan itu, Bupati Saipul A. Mbuinga menyampaikan penghargaan dan ucapan selamat datang kepada Kajari Pohuwato beserta istri atas kehadirannya di wilayah tersebut.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Pohuwato, kami mengucapkan selamat datang kepada Bapak Kajari bersama Ibu. Semoga bapak dan ibu betah berada di Bumi Panua Pohuwato,” ujar Bupati Saipul.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kehadiran Kajari baru menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Pohuwato.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Kami menyambut baik kehadiran Kajari yang baru di Pohuwato. Melalui upacara adat ini, pak Kajari bersama istri sudah menjadi bagian dari keluarga besar Pohuwato,” tutur Saipul.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">Bupati berharap sinergi antara Pemerintah Kabupaten Pohuwato dan Kejaksaan Negeri Pohuwato dapat terus terjalin guna mendukung pembangunan dan penegakan hukum di daerah.</p>
<p class="my-2 [&amp;+p]:mt-4 [&amp;_strong:has(+br)]:inline-block [&amp;_strong:has(+br)]:pb-2">“Semoga ke depan, Pemkab dan Kejari dapat bersinergi dalam menyelesaikan berbagai persoalan di Bumi Panua ini,” pungkasnya.
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/kajari-disambut-adat-mopotilolo-bukti-sinergi-pemerintah-dan-penegak-hukum/">Kajari Disambut Adat Mopotilolo, Bukti Sinergi Pemerintah dan Penegak Hukum</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/kajari-disambut-adat-mopotilolo-bukti-sinergi-pemerintah-dan-penegak-hukum/">Kajari Disambut Adat Mopotilolo, Bukti Sinergi Pemerintah dan Penegak Hukum</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/kajari-disambut-adat-mopotilolo-bukti-sinergi-pemerintah-dan-penegak-hukum/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pertahankan Tradisi Leluhur Warga Girisa Buat Tumbilotohe</title>
		<link>https://barakati.id/pertahankan-tradisi-leluhur-warga-girisa-buat-tumbilotohe/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=pertahankan-tradisi-leluhur-warga-girisa-buat-tumbilotohe</link>
					<comments>https://barakati.id/pertahankan-tradisi-leluhur-warga-girisa-buat-tumbilotohe/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Barakati]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 May 2021 15:47:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi tumbilotohe]]></category>
		<category><![CDATA[Tumbilotohe]]></category>
		<category><![CDATA[Warga girisa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://barakati.id/?p=9334</guid>

					<description><![CDATA[<p>GORONTALO &#8211; Keprihatinan terhadap tradisi tumbilotohe yang dinilai mulai hilang secara perlahan-lahan, masyarakat Desa Girisa Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo mencoba mengembalikannya dengan menggelar lampu tradisional di sepanjang garis pantai. Menurut Agus Wuwange salah satu masyarakat Desa Girisa menyebutkan, itu sudah menjadi tradisi masyarakat Gorontalo pada umumnya secara turun temurun, dan sebagai generasi penerus maka pantaslah [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/pertahankan-tradisi-leluhur-warga-girisa-buat-tumbilotohe/">Pertahankan Tradisi Leluhur Warga Girisa Buat Tumbilotohe</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/pertahankan-tradisi-leluhur-warga-girisa-buat-tumbilotohe/">Pertahankan Tradisi Leluhur Warga Girisa Buat Tumbilotohe</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<button id="listenButton1" class="responsivevoice-button" type="button" value="Play" title="ResponsiveVoice Tap to Start/Stop Speech"><span>&#128266; Dengarkan Berita</span></button>
        <script>
            listenButton1.onclick = function(){
                if(responsiveVoice.isPlaying()){
                    responsiveVoice.cancel();
                }else{
                    responsiveVoice.speak("GORONTALO - Keprihatinan terhadap tradisi tumbilotohe yang dinilai mulai hilang secara perlahan-lahan, masyarakat Desa Girisa Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo mencoba mengembalikannya dengan menggelar lampu tradisional di sepanjang garis pantai. Menurut Agus Wuwange salah satu masyarakat Desa Girisa menyebutkan, itu sudah menjadi tradisi masyarakat Gorontalo pada umumnya secara turun temurun, dan sebagai generasi penerus maka pantaslah untuk melestarikannya. Pelaksanaan Tumbilotohe dikatakannya merupakan inisiatif para warga, dengan mengolaborasikan antara lampu botol dengan minyak tanah dengan lampu modern yang telah menggunakan listrik. Diakuinya juga, meskipun telah dilakukan larangan oleh pemerintah daerah maupun provinsi untuk tidak merayakan atau menggelar Festival tumbilotohe, tapi masyarakat telah menyepakati untuk melakukannya dengan menerapkan protokol kesehatan. \"Kedepannya kami selaku warga pantai akan tetap menjaga tradisi tersebut walaupun smua sudah pada lupa apa yang menjadi ikon Gorontalo setiap malam tumbilotohe di Tiga hari sebelum lebaran Idul fitri,\" Jelas Agus, (9/5/2021).", "UK English Female");
                }
            };
        </script>
    
<p>GORONTALO &#8211; Keprihatinan terhadap tradisi tumbilotohe yang dinilai mulai hilang secara perlahan-lahan, masyarakat Desa Girisa Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo mencoba mengembalikannya dengan menggelar lampu tradisional di sepanjang garis pantai.</p>
<p>Menurut Agus Wuwange salah satu masyarakat Desa Girisa menyebutkan, itu sudah menjadi tradisi masyarakat Gorontalo pada umumnya secara turun temurun, dan sebagai generasi penerus maka pantaslah untuk melestarikannya.</p>
<p>Pelaksanaan Tumbilotohe dikatakannya merupakan inisiatif para warga, dengan mengolaborasikan antara lampu botol dengan minyak tanah dengan lampu modern yang telah menggunakan listrik.</p>
<p>Diakuinya juga, meskipun telah dilakukan larangan oleh pemerintah daerah maupun provinsi untuk tidak merayakan atau menggelar Festival tumbilotohe, tapi masyarakat telah menyepakati untuk melakukannya dengan menerapkan protokol kesehatan.</p>
<p>&#8220;Kedepannya kami selaku warga pantai akan tetap menjaga tradisi tersebut walaupun smua sudah pada lupa apa yang menjadi ikon Gorontalo setiap malam tumbilotohe di Tiga hari sebelum lebaran Idul fitri,&#8221; Jelas Agus, (9/5/2021).</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://barakati.id/pertahankan-tradisi-leluhur-warga-girisa-buat-tumbilotohe/">Pertahankan Tradisi Leluhur Warga Girisa Buat Tumbilotohe</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
<p>The post <a href="https://barakati.id/pertahankan-tradisi-leluhur-warga-girisa-buat-tumbilotohe/">Pertahankan Tradisi Leluhur Warga Girisa Buat Tumbilotohe</a> appeared first on <a href="https://barakati.id">Barakati ID</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://barakati.id/pertahankan-tradisi-leluhur-warga-girisa-buat-tumbilotohe/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
