Connect with us

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

Penyelenggaraan Regional Meeting Teluk Tomini di Mulai 12-13 Juni

Published

on

Foto Istimewa

UNG – Untuk mewujudkan Teluk Tomini sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis perdesaan pertama di Indonesia, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi bersama Universitas Negeri Gorontalo akan menyelenggarakan Regional Meeting Teluk Tomini pada tanggal 12-13 Juni 2021 di Gorontalo.

Rektor Universitas Negeri Gorontalo Eduart Wolok mengatakan, waktu pelaksanaan Regional Meeting Teluk Tomini berdasarkan hasil rapat panitia bersama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi pada Jumat (28/5).

“Regional Meeting yang berlangsung pada 12-13 Juni nanti akan melibatkan Pemerintah Daerah di Kawasan Teluk Tomini dan bertajuk Revitalisasi Kawasan Teluk Tomini Untuk Pengembangan Ekonomi dan Investasi Perdesaan,” Ungkapnya.

Rektor menambahkan 4 Gubernur, 26 Kepala Daerah Kota dan Kabupaten se-Teluk Tomini dan Maluku Utara akan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada Regional Meeting Teluk Tomini.

“Regional Meeting Teluk Tomini akan dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin dan akan dihadiri oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar, Ketua Badan Pemeriksaan Keuangan RI Agung Firman Sampurna, Wakil Ketua DPR RI Abdul Muhaimin Iskandar,” pungkasnya.

Advertorial

Alarm Panas Ekstrem, Ketika Perubahan Iklim Mulai “Membajak” Jantung Manusia

Published

on

Ilustrasi.(Shutterstock)

UNG – Kenaikan suhu global yang memicu gelombang panas ekstrem kini bukan lagi ancaman yang jauh di horizon. Fenomena cuaca ekstrem yang turut melanda Provinsi Gorontalo telah menunjukkan dampak langsung terhadap kesehatan manusia, khususnya pada organ vital seperti jantung dan pembuluh darah.

Kajian terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang dipimpin oleh Nayla Prima Dyta dan tim penelitinya mengungkap fakta mengejutkan: perubahan iklim kini bukan hanya mengganggu lingkungan, tetapi juga sedang “mengincar” denyut jantung kita.

Menurut hasil penelitian tersebut, heat stroke akibat paparan panas ekstrem bukan sekadar “kepanasan biasa”, melainkan krisis kardiovaskular akut yang dapat menyebabkan kegagalan organ hanya dalam hitungan beberapa jam.

Data epidemiologis menunjukkan fakta yang mencemaskan — setiap kenaikan suhu lingkungan sebesar 1°C di atas ambang batas lokal, risiko kematian akibat penyakit jantung meningkat hingga 2,1 persen.

Namun bahaya utama justru terletak pada apa yang disebut peneliti sebagai “efek jeda”. Kematian tidak selalu terjadi pada puncak suhu, melainkan beberapa hari setelah paparan panas berlangsung. Kondisi ini menjelaskan lonjakan kasus serangan jantung mendadak dan gangguan irama jantung di berbagai negara, termasuk wilayah tropis seperti Indonesia.

Kelompok paling rentan mencakup lansia, penderita penyakit jantung, pekerja luar ruangan, serta warga perkotaan yang tinggal di area padat dan minim ruang hijau.


Badai Biologis di Dalam Tubuh

Secara fisiologis, tubuh manusia berupaya mendinginkan diri melalui keringat dan pelebaran pembuluh darah. Namun dalam kondisi suhu ekstrem, jantung bekerja seperti mesin yang dipaksa beroperasi di luar batasnya.

Penelitian UNG menemukan fenomena medis yang disebut “myocardial stunning” — fase di mana jantung awalnya bekerja sangat keras untuk menstabilkan tubuh, tetapi dalam waktu 24–48 jam, pompa jantung dapat drop drastis akibat stres panas dan peradangan sistemik.

Akibatnya, tekanan darah menurun, aliran darah ke organ vital terganggu, dan tubuh mulai mengalami gagal organ multipel. Kondisi ini bahkan dapat terjadi pada individu sehat tanpa riwayat penyakit kardiovaskular.


Bahaya Tersembunyi dari Darah Kita

Tim peneliti juga mendeteksi biomarker jantung dan peradangan sebagai indikator bahaya dini. Sekitar 70 persen pasien heat stroke menunjukkan peningkatan troponin, penanda kerusakan otot jantung, sementara lebih dari separuh mengalami kenaikan kadar BNP, penanda awal gagal jantung.

Temuan lainnya memperlihatkan tingginya kadar IL-6 dan D-dimer, yang menunjukkan peradangan tinggi serta gangguan pembekuan darah — kombinasi yang dapat menjadi awal dari badai biologis penyebab gagal multi-organ.

“Dengan kata lain,” tulis tim peneliti, “heat stroke bukan sekadar suhu tubuh tinggi, tetapi reaksi biologis ekstrem yang bisa melumpuhkan sistem jantung dan sirkulasi manusia.


Tantangan Diagnosis: Saat “Panas” Tak Terlihat

Penelitian ini juga menyoroti lemahnya deteksi dini di fasilitas kesehatan. Beberapa pasien heat stroke berat ditemukan memiliki suhu kulit atau ketiak yang normal, padahal suhu inti tubuh sudah menembus >40°C.

Perbedaan ini terjadi karena kegagalan sirkulasi membuat permukaan kulit terasa lebih dingin, sehingga sering terjadi kesalahan diagnosis. Akibatnya, pasien kehilangan waktu emas untuk menerima perawatan pendinginan agresif — satu-satunya langkah penyelamat nyawa.


Krisis Kesehatan di Tengah Krisis Iklim

Peneliti UNG menegaskan bahwa perubahan iklim telah “masuk” ke ruang gawat darurat. Heat stroke harus dipandang sebagai penyakit jantung akut yang dipicu iklim, bukan lagi semata gangguan cuaca.

Karena itu, diperlukan langkah terpadu — mulai dari sistem peringatan dini gelombang panas, perlindungan bagi pekerja luar ruangan, hingga perencanaan kota yang ramah iklim dan bervegetasi cukup. Fasilitas kesehatan juga didorong untuk memperkuat protokol penanganan darurat suhu tinggi dengan pemantauan jantung intensif.

Tanpa adaptasi kebijakan di sektor kesehatan, beban penyakit kardiovaskular akibat panas ekstrem diperkirakan melonjak tajam dalam satu dekade ke depan, terutama di negara-negara tropis seperti Indonesia.


Menjaga Denyut Jantung di Dunia yang Memanas

Pada bagian akhir, penelitian ini menyiratkan pesan penting: iklim yang memanas adalah ujian baru bagi ketahanan biologis manusia. Melindungi masyarakat dari heat stroke tidak boleh sebatas imbauan untuk minum air atau berteduh.

Diperlukan sistem kesehatan tangguh yang siap menghadapi dampak perubahan iklim — sistem yang tak hanya menjaga bumi, tetapi juga menyelamatkan jantung manusia.

(Artikel penelitian ini telah dipublikasikan melalui laman jurnal: Jurnal Kesehatan Saintek, UNISMUH Palu – 2025)

Continue Reading

Advertorial

Pesan Haru dari Rektor UNG: Wisuda Bukan Akhir Perjalanan Belajar

Published

on

UNG – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menggelar prosesi wisuda ke-59 yang menjadi momen bersejarah sekaligus penuh haru bagi ratusan lulusan terbaik dan seluruh civitas akademika. Dalam suasana penuh kebanggaan itu, Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT., IPU., ASEAN.Eng., menyampaikan pesan inspiratif bagi para wisudawan yang siap memasuki babak baru kehidupan di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan pesan mendalam agar para lulusan tidak hanya berpuas diri dengan gelar akademik yang telah diraih, tetapi juga mampu memaknai ilmu yang diperoleh sebagai sarana pengabdian kepada masyarakat.

“Sebagai lulusan UNG yang dikenal sebagai kampus kerakyatan, keberadaan Anda di tengah masyarakat harus memberi manfaat nyata. Dengan keahlian dan pengetahuan yang dimiliki, Anda memiliki tanggung jawab moral untuk turut membantu menyelesaikan berbagai persoalan sosial,” ujar Prof. Eduart di hadapan para wisudawan.

Ia menekankan, para alumni harus mengambil peran aktif sebagai aktor intelektual dalam menghadapi beragam tantangan zaman yang semakin kompleks — bukan sekadar sebagai penonton perubahan. Ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama studi, katanya, akan menjadi kunci untuk menciptakan solusi inovatif bagi permasalahan masyarakat.

Selain pesan sosial, Rektor juga mengingatkan tentang makna hakikat belajar yang sesungguhnya. Menurutnya, banyak orang menganggap wisuda sebagai akhir dari perjalanan akademik. Namun, ia menegaskan bahwa wisuda justru merupakan titik awal perjalanan aktualisasi diri yang lebih luas.

“Meraih gelar sarjana bukanlah akhir dari proses belajar. Dunia terus berubah, teknologi berkembang, dan kebutuhan pengetahuan semakin tinggi. Hanya mereka yang tidak berhenti belajar dan terus mengasah kemampuan yang akan mampu bertahan serta memberi dampak besar bagi lingkungannya,” tutur Prof. Eduart.

Ia pun mendorong seluruh lulusan UNG untuk menjaga semangat keilmuan, memperkuat etika profesional, dan mengedepankan nilai kemanusiaan dalam setiap langkah kariernya. Dengan semangat itu, UNG diharapkan terus melahirkan generasi pemimpin yang tangguh, berintegritas, dan berdaya saing global.

Continue Reading

Advertorial

Petani Wajib Tahu! Riset Mahasiswa UNG Ungkap Metode GAP Lebih Untung

Published

on

Adeliyan A. Husain, Mahasiswa Jurusan Agribisnis || Foto Istimewa

UNG – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Mahasiswa Jurusan Agribisnis, Adeliyan A. Husain, sukses meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,81 sekaligus mencatatkan karya ilmiah yang berkontribusi nyata bagi dunia pertanian daerah.

Dalam tugas akhir penelitiannya berjudul “Analisis Perbandingan Usaha Tani Jagung GAP dengan Konvensional di Kecamatan Tilongkabila,” Adeliyan meneliti secara mendalam perbedaan dua sistem usaha tani jagung, yakni metode berbasis Good Agricultural Practices (GAP) dan metode konvensional.

Penelitian ini mengkaji empat aspek penting: biaya produksi, produktivitas, efisiensi usaha, dan pendapatan petani jagung di Kecamatan Tilongkabila. Hasil riset menunjukkan bahwa penerapan metode GAP terbukti lebih menguntungkan (“lebih cuan”) dibanding sistem konvensional karena mampu menghasilkan produktivitas dan mutu panen yang lebih tinggi, sekaligus mendukung keberlanjutan usaha tani.

Selain berprestasi secara akademik, Adeliyan juga dikenal aktif dalam berbagai program pengembangan mahasiswa. Ia pernah meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di tingkat universitas serta melalui platform Belmawa (BIMA). Capaian ini menunjukkan kemampuannya mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan kreativitas dan inovasi di bidang agribisnis.

Menurut pihak Fakultas Pertanian UNG, keberhasilan Adeliyan menjadi bukti nyata kualitas sumber daya mahasiswa Jurusan Agribisnis yang tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan pembangunan sektor pertanian. Penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi petani di Gorontalo untuk mulai menerapkan sistem pertanian berbasis praktik baik (GAP) guna meningkatkan pendapatan dan daya saing hasil pertanian.

Capaian ini juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi melalui penelitian terapan yang berdampak bagi masyarakat dan dunia usaha tani.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler