Connect with us

Gorontalo

JIKA 100 TAHUN LAGI ORANG MENCARI GORONTALO 2025

Published

on

Penulis Zulfikar Tahuru ( Politisi Muda Gorontalo)

Gorontalo – Seratus tahun lagi, ketika orang ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Gorontalo pada 2025, mereka barangkali tidak akan membuka laporan tahunan pemerintah daerah atau risalah rapat yang tersimpan rapi di arsip negara.

Mereka justru akan membuka jejak digital, potongan video pendek, unggahan media sosial, dan rangkaian komentar yang pernah memenuhi media sosial. Dari sana, mereka akan menemukan satu pola penting. Gorontalo 2025 adalah potret kecil negara yang sedang belajar hidup di tengah derasnya arus viralitas.

Tahun itu, berbagai peristiwa terjadi. Sebagian berdampak pada kebijakan, sebagian lain bersifat personal. Namun hampir semuanya memperoleh perhatian publik bukan karena prosesnya, tapi karena tampilannya. Kamera ponsel kerap lebih menentukan arah percakapan publik dibandingkan mekanisme formal yang tersedia.

Salah satu contohnya adalah beredarnya video perjalanan dinas anggota dewan yang disertai narasi keras tentang penyalahgunaan anggaran. Frasa yang digunakan menyebar lebih cepat daripada klarifikasi, dan emosi publik bergerak mendahului proses etik yang seharusnya ditempuh. Persepsi terbentuk oleh potongan visual, sementara penjelasan yang utuh datang belakangan.

Dalam konteks lain, sebuah ajang olahraga Gorontalo Half Marathon yang semestinya menjadi ruang kebersamaan, justru memunculkan perdebatan mengenai simbol dan representasi. Perhatian publik bergeser dari prestasi peserta ke persoalan nama yang tercantum pada medali. Olahraga, identitas, dan politik bertemu dalam ruang yang sama, dipercepat oleh media sosial.

Di Gorontalo Utara, sebuah video singkat menampilkan ekspresi seorang anggota legislatif yang kemudian dikenal sebagai “bibir viral”. Potongan visual itu beredar luas, memicu ejekan dan penilaian personal. Dalam hitungan jam, ekspresi wajah mengalahkan diskusi mengenai kinerja dan tanggung jawab sebagai wakil rakyat. Di titik inilah publik sering lupa: demokrasi tidak pernah dirancang untuk bekerja secepat media sosial.

Fenomena tersebut menandai pergeseran cara publik menilai politik. Anggota DPRD Gorontalo Utara tidak lagi sepenuhnya dinilai melalui kerja legislasi atau keberpihakan anggaran, melainkan melalui momen visual yang kebetulan terekam dan berulang kali diputar.

Yang patut dicermati, sejumlah persoalan sosial dan kekerasan baru memperoleh perhatian serius setelah menjadi viral. Hal ini menunjukkan bahwa atensi publik dan sering kali respons institusi lebih cepat digerakkan oleh popularitas isu dibandingkan oleh mekanisme pelaporan yang sistematis. Keadilan, dalam kondisi tertentu, tampak bergerak mengikuti gelombang perhatian.

Jika seratus tahun lagi Gorontalo 2025 dipelajari, kemungkinan besar bukan daftar peristiwanya yang paling diingat, melainkan cara masyarakat bereaksi. Partisipasi warga meningkat, tetapi kedalaman dialog kerap tertinggal. Semua orang dapat bersuara, namun tidak selalu disertai kesediaan untuk mendengar dan memahami konteks.

Gorontalo tentu bukan satu-satunya daerah yang mengalami hal ini. Apa yang terjadi di sana merupakan miniatur tantangan demokrasi Indonesia di era digital. Media sosial memperluas ruang partisipasi, sekaligus menuntut kedewasaan baru dalam mengelola emosi, informasi, dan penilaian publik.

Seratus tahun ke depan, generasi berikutnya mungkin tidak lagi memperdebatkan siapa yang benar atau salah dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Namun mereka akan mencatat satu ciri zaman: pada 2025, demokrasi di banyak tempat dijalankan dalam bayang-bayang viralitas, di mana proses harus berjuang keras untuk tidak dikalahkan oleh potongan gambar. Pertanyaannya bukan seberapa cepat kita bereaksi, melainkan seberapa jauh kita mau berpikir sebelum ikut menyimpulkan.

Gorontalo

Hangatnya Ramadan di Pohuwato: Rumah Makan Samudara Alam Gelar Buka Puasa Bersama

Published

on

Pohuwato – Segenap keluarga besar Rumah Makan Samudara Alam Pohon Cinta, Kabupaten Pohuwato, menggelar kegiatan buka puasa bersama yang berlangsung penuh kehangatan di Masjid Sujud Pohuwato, pada momen Ramadan tahun ini.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang mempererat silaturahmi internal keluarga besar rumah makan, tetapi juga sebagai bentuk apresiasi terhadap mitra kerja yang selama ini menjalin kolaborasi. Turut hadir perwakilan dari PT IGL dan PT LIL Pohuwato, dua perusahaan yang menjadi bagian dari jejaring kemitraan Rumah Makan Samudara Alam.

Suasana kebersamaan terasa sejak menjelang waktu berbuka. Para karyawan, manajemen, dan tamu undangan duduk bersisian menikmati hidangan berbuka puasa dengan penuh keakraban. Momen tersebut diwarnai senyum dan tawa ringan, mencerminkan nuansa kekeluargaan yang erat antara seluruh peserta kegiatan.

Dalam kesempatan itu, Dumais Doda, selaku perwakilan manajemen Rumah Makan Samudara Alam, menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama merupakan wujud rasa syukur sekaligus refleksi untuk memperkuat ukhuwah dan solidaritas antar sesama.

“Ramadan adalah bulan penuh berkah. Melalui buka puasa bersama ini, kami ingin mempererat silaturahmi, baik di internal keluarga besar Rumah Makan Samudara Alam Pohon Cinta maupun dengan para mitra seperti PT IGL dan PT LIL,” ujar Dumais Doda.

Ia menekankan, semangat kebersamaan ini diharapkan tidak berhenti pada momentum Ramadan saja, melainkan terus berlanjut dalam hubungan kerja sama yang saling mendukung di masa mendatang.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan, kelancaran usaha, serta terjaganya kebersamaan di tengah masyarakat Pohuwato. Suasana khidmat menandai akhir acara, meninggalkan kesan kebersamaan dan semangat untuk terus menebar manfaat di bulan suci.

Continue Reading

Gorontalo

Panen Tak Lagi Sepi Pembeli: Petani Nikmati Dampak Program MBG

Published

on

Gorontalo – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa dampak nyata bagi petani di berbagai daerah. Program yang menyalurkan makanan bergizi kepada anak-anak sekolah ini bukan hanya meningkatkan kualitas gizi pelajar, tetapi juga memberikan kepastian pasar bagi petani lokal.

Hasil panen yang sebelumnya bergantung pada fluktuasi harga kini memiliki pembeli tetap melalui dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Akibatnya, petani memperoleh jaminan bahwa hasil tanam mereka terserap secara berkelanjutan, sementara ekonomi desa mulai tumbuh lebih dinamis.

Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Gorontalo, Rian Uno, menilai program MBG memiliki nilai strategis karena mampu menyentuh dua sisi sekaligus—kesejahteraan petani dan pemenuhan gizi masyarakat.

“Program MBG sangat baik karena mampu menyerap banyak hasil panen petani. Petani tidak lagi bingung mencari pasar karena hasil tanam mereka kini jelas dibutuhkan dan terserap,” ujar Rian Uno, Kamis, 26 Februari 2026.

Rian menambahkan, efek ekonomi dari program tersebut mulai terasa langsung di tingkat desa. Perputaran uang meningkat, para petani semakin bersemangat menanam, dan kegiatan produksi, distribusi, hingga konsumsi berjalan lebih hidup.

Ia menegaskan, keberlanjutan program menjadi kunci agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkesinambungan.

“Keberlanjutan sangat penting agar anak-anak dan ibu hamil terus mendapatkan asupan gizi yang baik, sementara petani tetap semangat menanam,” tutur Rian.

Tani Merdeka Indonesia juga menyatakan dukungannya terhadap langkah Kementerian Pertanian yang mendorong peningkatan produksi pangan. Menurut Rian, sinergi antar lembaga pemerintah perlu terus diperkuat agar distribusi dan pelaksanaan program MBG berjalan efektif.

“Kementerian Pertanian sudah bergerak dalam peningkatan produksi. Kementerian lain juga harus memastikan distribusi dan pelaksanaannya tepat sasaran,” ujarnya.

Meski demikian, Rian menilai evaluasi tetap harus dilakukan secara rutin.

“Jika masih ada kekurangan, segera diperbaiki. Pengawasan distribusi harus tepat agar manfaat program benar-benar sampai kepada masyarakat,” tambahnya.

Di sejumlah kabupaten, produksi hortikultura tercatat meningkat signifikan. Lonjakan permintaan dari dapur MBG membuat petani mulai menanam sesuai kebutuhan SPPG, terutama komoditas sayur-sayuran. Seluruh hasil panen kini terserap sepenuhnya oleh program.

Kepastian pasar membuat petani berani memperluas lahan tanam dan meningkatkan produksi. Program MBG pun tidak sekadar memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah, melainkan juga menjadi motor penggerak baru bagi ekonomi desa.

Continue Reading

Gorontalo

Warganet Kaget! Ini Isi Menu Bergizi Gratis Senilai Rp15 Ribu

Published

on

Pohuwato – Heboh di media sosial! Warganet digemparkan dengan beredarnya video pembagian Menu Bergizi Gratis (MBG) — program pemerintah untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia selama bulan Ramadan, Selasa (24/02/2024).

Fenomena tersebut juga terjadi di Kabupaten Pohuwato. Dalam video berdurasi satu menit tiga puluh enam detik yang diunggah oleh akun Facebook Yanto Samarang, terlihat pembagian paket Menu Bergizi Gratis (MBG) kepada siswa. Video itu dapat diakses melalui tautan https://www.facebook.com/share/v/1arfb2iAJ6/.

Dalam rekaman tersebut, Kepala Desa Suka Makmur, Badrun Iyone, memperlihatkan secara detail isi kantongan makanan bergizi yang berisi satu bungkus roti, tiga butir kurma, satu butir telur, dan satu buah pisang matang.

Unggahan itu langsung memancing beragam tanggapan dari warganet. Banyak pengguna media sosial menganggap isi menu MBG terlalu sederhana dan dinilai tidak sepadan dengan anggaran program yang disebut-sebut mencapai Rp15.000 per porsi. Sebagian bahkan memperkirakan biaya bahan makanan tersebut tidak mencapai Rp10.000.

Salah satu akun, HT, menulis estimasi harga bahan pangan yang ia hitung sendiri:
“1 buah pisang Rp3.750, 3 biji kurma Rp3.750, 1 butir telur Rp3.750, 1 bungkus roti Rp3.750. Total Rp15.000,” tulisnya dalam kolom komentar.

Sementara akun lain, SU, menanggapi dengan pendapat berbeda, “MBG dengan harga Rp15.000 itu roti satu, kurma tiga, telur satu, pisang satu. Kalau dikalkulasi, harganya tidak sampai Rp15.000.”

Menanggapi polemik yang berkembang, Erik Sigit Bangga, Koordinator Wilayah Program MBG Kabupaten Pohuwato, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa anggaran MBG sudah diatur secara rinci berdasarkan petunjuk teknis dari pemerintah pusat.

“Untuk bahan baku makanan, anggarannya berkisar Rp8.000 hingga Rp10.000. Sebanyak Rp3.000 digunakan untuk biaya operasional seperti listrik, Wi-Fi, dan gaji relawan. Sedangkan Rp2.000 dialokasikan untuk insentif serta fasilitas dapur. Jadi total Rp15.000 per porsi itu sudah terbagi secara jelas,” terang Erik.

Ia menambahkan, pelaksanaan MBG di Pohuwato telah sesuai dengan ketentuan, di mana untuk siswa PAUD hingga kelas 3 SD dialokasikan Rp8.000 per porsi, sedangkan untuk siswa kelas 4 SD hingga SMA Rp10.000 per porsi.

Dalam prosesnya, pihak pelaksana juga melibatkan ahli gizi, kepala SPPG, dan akuntan untuk memastikan setiap menu memenuhi standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) anak.

“Kami memastikan menu memenuhi 30 persen dari kebutuhan gizi harian, atau setara dengan satu kali makan. Karena dalam sehari anak-anak makan tiga kali, maka program ini hanya mencukupi satu kali makan,” jelas Erik.

Terkait perbedaan menu sebelum dan selama Ramadan, Erik mengatakan perubahan dilakukan menyesuaikan waktu konsumsi. Sebelumnya, makanan disajikan dalam bentuk nasi lengkap dengan lauk pauk. Namun selama Ramadan, menunya disederhanakan menjadi menu berbuka yang ringan.

“Untuk Ramadan, kami membuat menu seperti takjil—ada kurma, telur rebus, roti, dan buah. Semua sudah dihitung oleh ahli gizi; karbohidrat dari roti, protein dari telur, gula alami dari kurma,” tuturnya.

Saat ditanya apakah terdapat perbedaan anggaran selama Ramadan, Erik menegaskan bahwa besaran anggaran tetap sama.
“Sama saja,” ujarnya singkat.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler