Connect with us

Advertorial

Masih Banyak PR UMKM, Ridwan Monoarfa Soroti Pentingnya Pentahelix Kewirausahaan

Published

on

DEPROV – Pimpinan dan Anggota Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo melaksanakan kunjungan kerja ke OK OCE dalam rangka penguatan UMKM dan peningkatan kewirausahaan daerah, Jumat (27/02/2026), di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Kunjungan kerja tersebut bertujuan mendalami tata kelola UMKM agar lebih mandiri dan maju, menumbuhkan lapisan entrepreneur baru di sektor UMKM, serta membangun kemitraan kolaboratif antara OK OCE dan Pemerintah Provinsi Gorontalo guna memperkuat ekosistem kewirausahaan di daerah.

Rombongan DPRD Provinsi Gorontalo diterima langsung oleh Ketua Umum OK OCE, Iim Rusyamsi, yang memaparkan berbagai program pembinaan kewirausahaan berbasis komunitas yang telah dijalankan di berbagai wilayah, termasuk di Provinsi Gorontalo. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 213 komunitas aktif telah bergabung dan dibina dalam program OK OCE di Gorontalo.

Dalam pemaparannya, Iim menjelaskan bahwa pendampingan yang dilakukan tidak hanya sebatas penguatan komunitas, tetapi juga mencakup pendataan jumlah anggota dan pemetaan potensi lapangan kerja yang dihasilkan dari setiap anggota komunitas. Setiap pelaku usaha yang tergabung dinilai memiliki kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja di lingkungan sekitarnya, sehingga data tersebut menjadi dasar penting dalam perencanaan program.

Salah satu contoh komunitas aktif di Gorontalo adalah komunitas UMKM yang dipimpin Ibu Sonia, yang juga menjabat sebagai Ketua OK OCE Gorontalo dan aktif di IWP Gorontalo. Selain itu, terdapat pula OK OCE Andalan serta kolaborasi dengan berbagai komunitas pemuda, termasuk karang muda di Gorontalo, yang menjadi motor penggerak kewirausahaan di tingkat lokal.

Secara nasional, OK OCE telah menjalin kemitraan dengan lebih dari 64 perusahaan swasta, instansi pemerintah, serta lembaga pendidikan. Di Jakarta, jumlah anggota yang terhimpun mencapai lebih dari 400 ribu orang, sementara di Gorontalo dan Bangka Belitung masing-masing tercatat lebih dari 100 ribu anggota dari komunitas binaan. Secara keseluruhan, data anggota dalam platform OK OCE telah mencapai sekitar 830 ribu orang yang berasal dari berbagai komunitas, termasuk sektor pemerintah dan pendidikan di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, Ridwan Monoarfa, menyoroti masih besarnya pekerjaan rumah dalam pengembangan UMKM di daerah, khususnya terkait penerapan konsep pentahelix yang mengintegrasikan peran pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Ia menegaskan bahwa DPRD akan melakukan asistensi kepada Gubernur agar penguatan ekosistem UMKM tidak lagi berjalan parsial, melainkan terintegrasi dan berkelanjutan. Menurutnya, program UMKM tidak boleh hanya bersifat administratif atau sebatas penyaluran bantuan, tetapi harus benar-benar mampu mendorong pelaku usaha untuk naik kelas.

“Yang terpenting adalah memastikan UMKM memiliki pengetahuan manajemen, pelaporan keuangan, serta pendampingan yang jelas agar dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan,” ujar Ridwan.

DPRD juga berencana mendorong Gubernur untuk mengirim perwakilan guna memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan perguruan tinggi dan dinas terkait, sehingga upaya penciptaan lapangan kerja melalui UMKM dapat selaras dengan visi dan misi pembangunan daerah.

Selain itu, DPRD menilai pentingnya keberpihakan terhadap produk lokal sebagai bagian dari penguatan ekonomi daerah. Dengan mendorong penggunaan produk lokal, perputaran ekonomi dan kontribusi pajak diharapkan tetap berada di Gorontalo, sekaligus meningkatkan daya saing UMKM setempat di pasar yang lebih luas.

OK OCE sendiri terus memperkuat ekosistem usaha melalui kurikulum kewirausahaan yang terstruktur dan pendampingan berkelanjutan, termasuk kerja sama dengan perguruan tinggi seperti Universitas Negeri Gorontalo dalam pelatihan dan penguatan kapasitas kewirausahaan mahasiswa dan pelaku usaha muda.

Ke depan, OK OCE menargetkan pembinaan hingga 500 komunitas baru dengan visi mencetak 2 juta pelaku usaha di Indonesia. Gerakan kewirausahaan ini berawal dari inisiatif sejak 1998 melalui Yayasan Min Her Uno Foundation, kemudian dikembangkan pada 2016 melalui konsep OK OCE yang diperkuat dengan Kurikulum 7 sebagai dasar pembinaan pelaku usaha secara sistematis.

Sebagai tindak lanjut dari kunjungan kerja tersebut, DPRD Provinsi Gorontalo akan melakukan pembahasan lanjutan guna merumuskan langkah konkret penguatan ekosistem UMKM berbasis kolaborasi dan berkelanjutan di daerah, termasuk potensi penyesuaian regulasi dan dukungan anggaran yang lebih terarah.

Advertorial

Sambut Kemitraan Strategis, UNG dan KemenP2MI Bahas Draf MoU Pengembangan SDM

Published

on

UNG – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus berupaya memperluas jejaring kemitraan strategis dengan lembaga pemerintah guna memperkuat peran dan kontribusi perguruan tinggi. Komitmen tersebut ditandai dengan kunjungan resmi delegasi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) ke Gedung Rektorat UNG pada Senin (21/9/2026).

Pertemuan tatap muka tersebut menjadi langkah awal yang krusial untuk mematangkan rencana kemitraan resmi antara kedua belah pihak. Diskusi berfokus pada pembahasan substansi draf Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) sekaligus mematangkan berbagai aspek teknis persiapan agenda penandatanganan dokumen kerja sama.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi UNG, Dr. Harto S. Malik, M.Hum., menjelaskan bahwa koordinasi langsung ini sangat penting untuk menyelaraskan poin-poin kesepahaman sebelum dokumen diputuskan final.

“Pertemuan ini menjadi bagian dari proses untuk mematangkan draf MoU, sekaligus mempersiapkan teknis penandatanganan kerja sama antara UNG dengan KemenP2MI,” ujar Harto, Senin (21/9/2026).

Menurut Harto, penyelarasan substansi draf menjadi prioritas utama agar hubungan kerja sama yang dibangun memiliki arah, batas kewenangan, serta ruang lingkup yang jelas. Dengan demikian, program-program kolaborasi dapat diimplementasikan secara efektif dan memberikan dampak optimal bagi kedua belah pihak.

Proses pembahasan draf tersebut dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan kebutuhan, target strategis, serta kepentingan masing-masing instansi.

“Kehadiran delegasi KemenP2MI dan BP2MI di UNG juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antarlembaga, sekaligus membuka ruang penguatan kolaborasi yang lebih luas di masa depan,” imbuhnya.

Bagi pihak UNG, menjalin kemitraan dengan kementerian maupun lembaga pemerintah pusat merupakan bagian integral dari strategi institusi dalam memperluas jangkauan Tri Dharma Perguruan Tinggi—khususnya pada bidang pendidikan, pengabdian masyarakat, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM).

Pertemuan ini diharapkan menjadi pijakan kokoh bagi terbangunnya sinergi yang konkret dan berkelanjutan antara UNG dan KemenP2MI dalam mendukung pencapaian target pembangunan nasional.

Continue Reading

Advertorial

Dampak Kemarau Ekstrem! Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo Cek Ketersediaan Air Bersih di Haya-Haya

Published

on

DEPROV – Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo menggelar kunjungan lapangan ke Desa Haya-Haya, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, pada Selasa (22/9/2026). Peninjauan ini dilakukan untuk memantau secara langsung dampak kemarau ekstrem terhadap pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat setempat.

Kunjungan pengawasan tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo, Sitti Nurayin Sompie. Dalam agenda ini, rombongan Komisi I menyerap aspirasi Pemerintah Desa Haya-Haya terkait kerusakan fasilitas sumber air di Dusun Polodanga yang menjadi tumpuan utama bagi sekitar 240 kepala keluarga (KK).

Kepala Desa Haya-Haya, Husain Abdullah, menyampaikan apresiasi atas kepedulian legislator dalam merespons persoalan warga. Ia mendesak agar krisis sarana air bersih di wilayahnya segera mendapatkan penanganan konkret dari pemerintah daerah.

“Satu hal yang sangat kami harapkan dari kunjungan ini adalah solusi untuk mengatasi masalah sumber air di Dusun Polodanga, mengingat fasilitas tersebut dimanfaatkan oleh 240 KK,” ujar Husain, Selasa (22/09/2026).

Husain menegaskan bahwa perbaikan bak penampungan dan infrastruktur pipa air sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Selain untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus), ketersediaan air bersih berdampak langsung pada derajat kesehatan warga. Apalagi, Dusun Polodanga masuk dalam pemetaan wilayah dengan angka tengkes (stunting) yang cukup tinggi, sehingga jaminan air bersih menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan.

Ia berharap aspirasi ini dapat dikawal oleh Komisi I agar penanganannya segera ditindaklanjuti oleh instansi atau stakeholder teknis terkait di lingkungan pemerintah daerah.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo, Sitti Nurayin Sompie, menyatakan bahwa peninjauan ini merupakan bentuk pelaksanaan fungsi pengawasan DPRD dalam memastikan hak dasar masyarakat terhadap air bersih tetap terpenuhi selama musim kemarau.

“Secara umum kebutuhan air bersih di Desa Haya-Haya masih mencukupi. Namun, yang menjadi perhatian utama kami adalah kondisi sumber air di Dusun Polodanga, terutama sarana penampungan dan jaringan pipanya yang mengalami kerusakan,” jelas Sitti.

Ia berkomitmen untuk segera mengordinasikan persoalan ini dengan dinas atau pihak berwenang agar perbaikan fisik bak penampungan dan pipa distribusi dapat secepatnya direalisasikan.

Di samping pembenahan fisik, Sitti juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan higienitas air sebelum didistribusikan ke rumah-rumah warga. Mengingat air dipasok langsung dari mata air ke bak penampungan, standar kelayakan konsumsi harus dipastikan terlebih dahulu.

Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Desa Haya-Haya telah mengimbau 240 KK pengguna air tersebut untuk sementara waktu tidak mengonsumsi air secara langsung hingga kondisi penampungan dinyatakan steril dan aman.

Guna menyiasati keterbatasan pasokan air di tengah kemarau, sebagian warga setempat terpaksa membuat sumur suntik secara mandiri untuk menopang kebutuhan harian.

Melihat kondisi tersebut, Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo menekankan bahwa penanganan masalah air bersih di Desa Haya-Haya tidak boleh bersifat darurat atau sementara saja. Pemerintah daerah didorong untuk menghadirkan solusi jangka panjang dan permanen guna menjamin keberlanjutan pasokan air bersih serta memangkas risiko stunting di desa tersebut.

Continue Reading

Advertorial

Cegah Ruang Mangkrak! Wali Kota Gorontalo Dorong Bangunan Kosong Jadi Wadah UMKM

Published

on

Kota Gorontalo – Komitmen terhadap keberlangsung sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kembali ditunjukkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo. Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, memantau langsung sejumlah bangunan dan toko yang saat ini dalam kondisi kosong di kawasan perkotaan pada Selasa (22/9/2026).

Peninjauan lapangan tersebut bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi aset yang tidak produktif, sekaligus memetakan potensi pembukaannya kembali sebagai ruang aktivitas ekonomi bagi masyarakat.

Dalam peninjauan tersebut, Wali Kota didampingi oleh Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Gorontalo, Haryono Soeronoto, S.STP., M.Si., serta Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Gorontalo, Dandy Winardi Datau, S.E.

Adhan Dambea menegaskan bahwa keberadaan bangunan atau toko kosong di kawasan strategis tidak semestinya dibiarkan mangkrak. Selama memenuhi ketentuan hukum dan mekanisme yang berlaku, aset-aset tersebut harus didorong agar kembali aktif memberikan manfaat ekonomi.

“Bangunan-bangunan yang kosong ini perlu kita lihat dan kita pikirkan bagaimana bisa dimanfaatkan. Jangan sampai ada ruang yang sebenarnya bisa menjadi tempat usaha, tetapi dibiarkan kosong begitu saja,” tegas Adhan, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, perhatian terhadap ketersediaan ruang usaha merupakan bagian dari kewajiban pemerintah dalam menciptakan iklim ekonomi yang makin inklusif bagi para pelaku UMKM. Pemerintah daerah tidak hanya bertugas membangun infrastruktur secara fisik, tetapi juga harus peka melihat dinamika riil yang dihadapi masyarakat dalam menjalankan roda usaha.

Oleh karena itu, peninjauan langsung dianggap krusial untuk menemukenali potensi serta kendala di lapangan, termasuk memanfaatkan lokasi-lokasi strategis yang belum tergarap optimal.

“Pemerintah harus melihat langsung kondisi di lapangan. Kita ingin kota ini hidup, aktivitas ekonominya bergerak, dan masyarakat punya ruang untuk berusaha,” ujanya.

Selain menyoroti ketersediaan ruang, Adhan juga menjamin bahwa Kota Gorontalo merupakan daerah yang aman dan kondusif untuk menjalankan aktivitas bisnis. Jaminan keamanan dan kepastian lingkungan merupakan modal utama dalam membangun rasa percaya para investor maupun pelaku usaha lokal.

Ia berharap iklim kondusif ini dapat dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat agar para pelaku UMKM memiliki kepastian dalam merintis, mengembangkan, dan mempertahankan usahanya.

“Pada prinsipnya, Kota Gorontalo adalah daerah yang aman untuk melakukan aktivitas usaha. Kita ingin masyarakat merasa nyaman menjalankan usahanya dan pelaku usaha dari luar juga melihat Gorontalo sebagai tempat yang baik untuk berinvestasi dan mengembangkan usaha,” jelasnya.

Adhan menambahkan, dukungan terhadap UMKM tidak boleh berhenti pada pemberian modal atau bantuan keuangan semata, melainkan harus mencakup penyediaan ruang usaha, jaminan keamanan lingkungan, serta pendampingan pemerintah secara berkelanjutan.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Pemkot Gorontalo dalam memastikan setiap jengkal potensi di wilayahnya dapat memberikan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Yang kita pikirkan adalah bagaimana setiap potensi yang ada bisa memberikan manfaat. Kalau ada bangunan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan usaha, tentu harus kita lihat peluangnya. Kita ingin UMKM tumbuh dan ekonomi masyarakat terus bergerak,” pungkas Adhan.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler