Connect with us

Ruang Literasi

PSBB ITU APA? Ekspektasi vs Realitanya Di Gorontalo

Published

on

Semakin hari semakin kacau saja keadaan dan kondisi ini dibuatnya, si Corona memang sangat ambisius menguasai bumi seperti monster-monster pada kisah-kisah fiksi yang mengisi imajinasi saya dimasa kecil. Namun kali ini, para pahlawan seakan tak berdaya melawannya.

Ketakutan pun semakin menjadi-jadi meskipun ada beberapa orang bahkan kelompok tertentu mengklaim memiliki antibodi melawan predator yang satu ini. “Kami tidak takut Corona, dimana ada Corona kirimkan kami kesitu” pret, tepat beberapa waktu setelahnya salah satu diantaranya dijemput oleh Corona tanpa ampun.

Saat ini pandemi Corona telah menelan banyak korban, bukan hanya pasien yang positif, tapi yang negatif bahkan double negatif pun menjadi korbannya. Situasi politik memanas, ekonomi melemah, bahan makanan pokok pun harganya melonjak tinggi. Disituasi semacam ini, siapapun merasakan dampaknya.

Dalam politik disituasi saat ini banyak yang ingin tampil seperti para dewa, saling berebutan panggung, bahkan satu panggung untuk semuanya dengan nomor antriannya masing-masing. Seperti misalnya diperbatasan-perbatasan Gorontalo, tiba-tiba semua ingin berada diperbatasan membawa pasokan bantuan, lucunya mereka lupa bahwa yang butuh bantuan bukan hanya di titik-titik tersebut karena yang lainnya tidak mendapatkan sentuhan tangan dingin dewa-dewa ini. Bahkan yang terupdate, tiba-tiba saling lapor ke pihak kepolisian sehingga singgasana raja menjadi kursi panas kembali, akh sangat menjengkelkan menceritakannya.

Situasi ekonomi justru lebih parah, pasar-pasar ditutup, pelaku ekonomi konvensional pun menggerutu karena tak dapat pemasukan. Transaksi ekonomi tidak se-online yang dibayangkan, mereka tidak mendapatkan pasokan pendapatan jika tidak turun dari rumah untuk bekerja. Sangat jauh berbeda dengan para politisi, pegawai negeri sipil, dan profesi lainnya yang tetap mendapatkan gajinya meski tetap berada didalam rumah, gajinya bisa ditransfer dan ditunggu didalam rumah. Bahkan meskipun sisa gajinya dipersembahkan untuk melawan pandemik, masih lebih banyak pendapatan proyek-proyek terselubung yang tinggal menunggu dipanen saja.

Berbeda dengan para pedagang kaki lima di pasar-pasar, para petani, para nelayan, buruh yang harus keluar rumah dulu untuk kemudian mendapatkan gaji atau pendapatannya. Uangnya mungkin memang tidak seberapa, tapi itu sangat bermanfaat, mereka harus menghidupi istri dan anak-anaknya dirumah di masa-masa pandemi dan ramadhan ini.

Warga geger, tiba-tiba PSBB berkumandang seperti adzan di masjid-masjid yang sudah jarang terdengar lagi karena si Corona ini. Apa sih itu PSBB? PSBB adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar, atau jika ingin lebih jelas coba baca perpanjangan PSBB telah diatur dalam Permenkes Nomor 9 tahun 2020 tentang pedoman PSBB yang jelasnya PSBB disituasi saat ini tujuannya adalah untuk mengendalikan epidemiologi. Tapi apa iya dalam 14 hari selesai terkendali, kami masih sama-sama ragu, karena mengingat kondisi ekonomi, psikologi dan budaya masyarakat kita yang berbeda.

Di Gorontalo bahkan sejak masker dibagikan secara gratis, penyemprotan disana-sini, tempat cuci tangan difasilitasi di rumah-rumah dan korban terus bertambah tetap saja masih sering saya jumpai “kuman-kuman yang membandel” mereka orang-orang yang tidak percaya Corona berbahaya bahkan menantangnya, tak mau pakai masker dan tak mau cuci tangan karena mereka yakin 100% sehat dan bersih. Memaksakan diri untuk tetap beraktifitas hal ini karena memang pemerintah belum mampu menjamin dan mensubsidi bahan pokok serta tingkat kepercayaan kepada pemerintah/para pakar sangat kurang belum lagi diperparah oleh doktrin teologis yang salah kaprah, uuuh sungguh ironis.

PSBB kepanjangannya bisa berubah menjadi Politisir Saja Baik-Baik, Pasrah Saja Bolo Bagitu atau Pasti So Baku Bagi, begini keadaan di masyarakat kita, psikologi dan legitimasi moral pada kebijakan publik. pemerintah saat ini sepertinya harus meninjau baik-baik setiap kebijakannya, agar lebih relevan dan efektif.

Apapun itu tentang dan soal PSBB; mari sama-sama kita lawan Corona ini, caranya mudah kita harus tetap menggunakan masker, rajin cuci tangan, jaga jarak dan hindari keramaian. Saya sejak Corona ini datang mampir di Indonesia, pendidikan saya di salah satu universitas di Jakarta menjadi tertunda untuk wisudanya karena lebih memilih berada dikampung halaman untuk mengkarantina diri bersama keluarga. Peduli amat meskipun dibuli “panako ente ini” saya lebih baik mencegah daripada mengobati. Semoga kita semua mampu melewati fase-fase tersulit ini. Salam sehat, marhaban ya ramadhan.

Penulis: Rifyan Ridwan Saleh

Ruang Literasi

Perempuan di Garda Depan: Makna Hari Kebebasan Pers bagi Wartawan Perempuan

Published

on

Penulis

Penulis : Jurnalis Perempuan S.Amu

Hari Kebebasan Pers menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran jurnalis dalam menjaga demokrasi, transparansi, dan hak publik atas informasi. Namun di balik semangat itu, ada satu kelompok yang kerap menghadapi tantangan berlapis: wartawan perempuan.

Di tengah dinamika dunia jurnalistik yang terus berkembang, perempuan tidak lagi sekadar pelengkap di ruang redaksi. Mereka hadir sebagai reporter lapangan, editor, hingga pemimpin media. Meski demikian, perjalanan mereka tidak selalu mudah.

Selain menghadapi tekanan profesional seperti tuntutan kecepatan dan akurasi berita, wartawan perempuan juga kerap berhadapan dengan risiko kekerasan berbasis gender, diskriminasi, hingga stereotip yang masih melekat.

Hari Kebebasan Pers menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi harus inklusif dan menjamin keamanan bagi semua jurnalis, tanpa terkecuali perempuan.

Dalam menjalankan tugasnya, wartawan perempuan seringkali berada di garis depan meliput isu-isu sensitif seperti konflik sosial, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga praktik korupsi. Keberanian mereka tidak hanya memperkaya perspektif pemberitaan, tetapi juga membuka ruang empati yang lebih luas bagi masyarakat.

Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa perlindungan terhadap wartawan perempuan masih perlu diperkuat. Kasus pelecehan saat peliputan, intimidasi di ruang digital, hingga minimnya kebijakan redaksi yang sensitif gender menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Oleh karena itu, peringatan Hari Kebebasan Pers harus menjadi momentum untuk mendorong media, pemerintah, dan masyarakat sipil agar menciptakan ekosistem jurnalistik yang aman dan setara.

Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kapasitas dan kepemimpinan perempuan di dunia pers. Representasi perempuan dalam posisi strategis akan mendorong kebijakan yang lebih adil dan memperhatikan perspektif gender dalam pemberitaan.

Di era digital saat ini, suara wartawan perempuan semakin kuat dan luas jangkauannya. Melalui berbagai platform, mereka tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Hari Kebebasan Pers bukan sekadar perayaan, melainkan panggilan untuk memastikan bahwa setiap jurnalis perempuan dapat bekerja dengan aman, bebas, dan bermartabat.

Karena pada akhirnya, kebebasan pers yang sejati adalah ketika semua suara termasuk suara perempuan dapat didengar tanpa rasa takut. Selamat Hari Kebebasan Pers.

Continue Reading

News

Fakta Mengejutkan: Tanpa Pengawasan, 66 Persen Penggunaan Gadget Berdampak Buruk pada Anak

Published

on

Foto Ilustrasi AI

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di abad ke-21 telah membawa transformasi besar pada alat komunikasi. Kondisi ini membuat penggunaan gadget (gawai) semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, tak terkecuali bagi anak-anak usia dini.

Menyikapi fenomena tersebut, sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa pengawasan ketat dari orang tua menjadi kunci utama agar penggunaan perangkat digital tidak berdampak buruk pada proses tumbuh kembang anak.

Fakta ini terungkap dalam sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti Indian Sunita dan Eva Mayasari. Penelitian ini berfokus pada analisis pengawasan orang tua terhadap dampak penggunaan gadget pada anak usia dini di lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK Taruna Islam, Kota Pekanbaru.

Dalam laporannya, para peneliti menjelaskan bahwa anak-anak kini telah bergeser menjadi konsumen aktif berbagai produk teknologi. Jika dahulu gawai lebih banyak dimanfaatkan oleh kalangan profesional, kini perangkat cerdas seperti smartphone, tablet, iPad, hingga laptop lekat dengan aktivitas harian balita.

Berdasarkan survei awal yang dilakukan di PAUD dan TK Taruna Islam Pekanbaru, tercatat sebanyak 74 siswa telah mengenal dan berinteraksi aktif dengan gawai. Angka tersebut terdiri dari 12 anak di tingkat PAUD dan 62 anak di tingkat TK.

“Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui penyebaran kuesioner, yang bertujuan untuk mengetahui secara pasti hubungan antara tingkat pengawasan orang tua dengan dampak penggunaan gawai terhadap perkembangan anak,” tulis laporan penelitian tersebut.

Dari hasil pengumpulan data, penggunaan gawai sebenarnya mampu memberikan dampak positif sebesar 62 persen jika dikelola dengan baik, sementara dampak negatifnya berada di angka 38 persen.

Namun, penelitian ini juga menemukan korelasi yang tajam terkait peran pengawasan. Hasilnya menunjukkan bahwa pengawasan orang tua yang baik (ketat) berbanding lurus dengan dampak positif sebesar 78,1 persen. Sebaliknya, pengawasan yang longgar atau kurang baik berujung pada dampak negatif sebesar 66,7 persen. Melalui uji statistik, ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengawasan orang tua dan dampak gawai pada anak, dengan nilai p-value 0,05.

Para peneliti menggarisbawahi, meski ada sisi positif, penggunaan gawai yang berlebihan tanpa kontrol akan memicu rentetan dampak buruk bagi anak. Risiko tersebut meliputi menurunnya kemampuan membaca dan menulis, gangguan bersosialisasi di dunia nyata, rentan terpapar konten negatif, gangguan pola tidur, risiko obesitas, hingga memicu ketidakstabilan emosional.

Sebagai kesimpulan, riset ini menegaskan bahwa orang tua memegang peran paling esensial. Pembatasan jam layar (screen time) sesuai kebutuhan usia anak mutlak dilakukan. Selain itu, orang tua diimbau untuk lebih aktif mengarahkan anak pada kegiatan yang bersifat edukatif fisik dan interaksi sosial yang sehat.

Continue Reading

News

Didaftarkan Sejak Bayi, Siswa SMP ‘Syafina’ Lolos Jadi Jemaah Haji Termuda Tahun Ini

Published

on

Mata Syafina Marwa berbinar-binar di tengah hiruk pikuk Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Rabu (22/4/2026). Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, remaja asal Tangerang, Banten ini sudah mengenakan seragam kebanggaan calon jemaah haji Indonesia. Syafina tergabung dalam kloter pertama Embarkasi Banten, menjadikannya salah satu jemaah termuda di musim haji tahun ini.

Duduk di bangku kelas 2 SMP, Syafina tak menampik bahwa ada gejolak perasaan yang sulit dijabarkan saat langkah kakinya makin dekat dengan pesawat yang akan membawanya ke Tanah Suci.

“Deg-degan, seneng, campur aduk lah,” ucap Syafina dengan senyum simpul saat ditemui sebelum keberangkatan.

Kabar keberangkatannya menuju Makkah tak ayal menjadi perbincangan hangat di lingkungan sekolahnya di Bogor, Jawa Barat. Banyak dari kawan-kawannya yang menitipkan doa dan ikut berbahagia. “Seneng sih, pada kaget juga,” tutur Syafina mengingat reaksi teman-temannya.

Menghadapi ibadah fisik dan spiritual yang berat, Syafina menyadari bahwa persiapan materi tak akan cukup. Karena itu, ia membekali dirinya dengan ketahanan psikologis yang kuat. “Iya, (siapin) mental,” singkatnya.

Keberangkatan Syafina di usia belia ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan matang sang ayah, Tommy Hartoyo (46). Lelaki tersebut telah mendaftarkan putri bungsunya jauh sebelum Syafina mengerti apa itu ibadah haji.

“Dari kurang lebih nggak nyampe (usia) satu tahun ya. Karena dia kan kelahiran 2012. Begitu di awal 2013 kalau nggak salah (didaftarin),” ucap Tommy mengenang momen belasan tahun silam.

“Umur mau satu tahun,” tambahnya menegaskan.

Menurut penuturan Tommy, sistem regulasi pendaftaran haji di masa lalu masih memungkinkan anak bayi didaftarkan tanpa batasan usia minimal seperti saat ini.

“Iya, kalau dulu itu nggak ada kena peraturan yang kayak sekarang. Kalau sekarang kan harus nunggu anak di usia 12 tahun baru bisa daftar. Nah, yang dulu-dulu belum tuh. Jadi alhamdulillah bisa lolos,” ucap Tommy penuh syukur. Ia juga memaparkan bahwa waktu antrean saat ia mendaftarkan Syafina masih berada di kisaran belasan tahun. “Regulasi yang tahun 2013 itu nunggunya 13 tahun,” tambahnya.

Niat tulus Tommy mendaftarkan anaknya sejak bayi didasari oleh keinginan sederhana namun mendalam sebagai seorang ayah Muslim. “Ya sempet terpikir aja, biar menjalankan rukun Islam,” tutur Tommy. Ia juga bersyukur karena seluruh anggota inti keluarganya, termasuk istri, kakak perempuan Syafina, dan kerabat lainnya bisa berangkat bersama di tahun yang sama. “Ini mumpung ada orang tuanya,” tambahnya.

Sejarah Baru Embarkasi Banten
Momen keberangkatan Syafina dan keluarganya terasa semakin istimewa karena mencetak sejarah baru bagi Provinsi Banten. Berdasarkan data yang dihimpun dari Tempo dan Kompas, tahun ini merupakan pertama kalinya Embarkasi Banten yang berlokasi di Grand Elhaj Cipondoh difungsikan sebagai titik pemberangkatan, bukan sekadar titik kepulangan.

Gubernur Banten Andra Soni mencatat, akan ada lebih dari 9.000 jemaah asal Banten yang menunaikan ibadah haji tahun ini. Prosesi pelepasan kloter pertama ini sendiri dihadiri oleh deretan tokoh penting, di antaranya Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, serta Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, yang turut menyapa langsung Syafina dan para jemaah lainnya sebelum menaiki pesawat menuju Madinah.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler