Connect with us

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

Resmi Diluncurkan, Ini Penjelasan Makna Logo dan Tema Dies Natalis UNG ke-58

Published

on

UNG – Bentuk Logo ini merupakan gabungan beberapa unsur yang diambil dari logo Universitas Negeri Gorontalo yaitu:

– Kurva segi lima sama sisi adalah ornamen khas daerah Gorontalo melambangkan lima sila dari dasar Negara Pancasila yang menjadi azas UNG, serta lima sendi peradaban Gorontalo yang disebut (Payu Limo to Talu,Lipu Pei Hulalu).

– Sayap burung Maleo melambangkan semangat juang yang tinggi serta gerakan dinamis civitas akademika dalam mengembangkan UNG. Sayap burung Maleo juga mewakili pribadi-pribadi yang unggul, memiliki daya saing dan berinovasi, yaitu inovasi pengetahuan yang berjangkar padakemanusiaan.

– Sayap disini dibuat kecil di bawah kemudian bertumbuh menjadi semakin besar ke atas, sejalan dengan tema dies natalis tahun ini yaitu pembangunan berkelanjutan yang berpedoman pada konsep tata kelola perguruan tinggi good governance in higher education dan sustainable development yang bertujuan untuk menciptakan kemajuan bersama.

Selain hal di atas, pada logo ini juga terdapat unsur tambahan yang mendukung tema yang diangkat pada Dies Natalis tahun ini yaitu lintasan dan 3 lingkaran yang saling berkesinambungan.

– Angka 5 dan 8 yang saling terhubung membentuk sebuah lintasan memilikimakna perubahan yang tidak pernah berhenti.

– 3 lingkaran yang saling berkesinambugan mewakili kerangka perubahan yaitu hubungan antara humanisme, pengetahuan dan inovasi kebijakan yang harus berjalan berdampingan. Hal ini juga mewakili 3 nilai kemanusiaan yangbersifat universal, yakni kebaikan, keteguhan budi luhur, dan pengetahuan yang mengakar untuk kemaslahatan bersama.

1. WARNA

Warna yang digunakan pada logo ini adalah Merah, Kuning, Orange, Birudan Ungu.Makna dari warna tersebut adalah:

– Merah melambangkan keberanian dan tanggung jawab

– Kuning emas melambangkan sikap setia dan kemuliaan

– Orange melambangkan kebahagiaan dan keseimbangan

– Biru melambangkan tenang, setia dan harapan

– Ungu lambang keanggunan dan wibawaSelain itu, warna yang digunakan pada logo ini adalah warna-warna gradasi yang sering digunakan di dunia teknologi sekarang, sejalan dengan Visi dan Misi yang mengedepankan digital based learning, teknologi terbarukan, inovasi, jejaring, serta sains dan teknologi menuju good university governance.

2. TIPOGRAFI

Font yang digunakan pada logo ini adalah huruf Sans Serif yang memiliki keterbacaan yang tinggi, sehingga dapat terbaca meskipun logo dalam ukuran besar ataupun kecil.

B. MAKNA TEMA

Dalam satu waktu, pada abad sebelum masehi, Aurelius, seorang filsuf  besar Yunani, pernah menyatakan sesuatu yang mencengangkan kepada seluruh masyarakat Athena. Di atas podium itu, Aurelius menyatakan dengan lantang bahwa “segala sesuatu ditakdirkan untuk berubah”. Kata-katanya bergema, bahkan merentang dan menembus batas waktu, memilin dan memintal peradaban zaman hingga saat ini. Aurelius mengunci premis dasar dari peradaban itu dengan kesimpulan utuh bahwa: “tidak ada yang berhenti di tempat”. Kita, generasi ribuan tahun setelah Aurelius alhasil merasakan itu. Kita sedang berada di tengah-tengah zaman dan kehidupan yang terus menerus “menjadi”. Dalam “kemenjadian” itu, ide-ide terus bergemuruh. Kita menjumpai berbagai perspektif dan ilmu pengetahuan. Perubahan adalah progres, dan progres merupakan inovasi, yang mau tidak mau menuntut kita untuk selalu berbenah.

Hal yang mendasari perubahan, tidak lain juga disebabkan oleh problem yang kita hadapi, juga berubah. Dahulu sekali, kita sangat mahfum bahwa informasi menjadi salah satu kendala yang menyebabkan kita gagal berkembang. Namun, saat ini, disrupsi informasi justru menjadi masalah akut dan bahkan menjadi alasan mengapa saat ini kita terfragmentasi, bahkan tidak bisa mengorganisir diri lebih baik. Hal ini menandakan sesuatu yang menakutkan, bahwa problem, pada basis ontologisnya, bisa lahir dari sesuatu yang sebenarnya kita harapkan. Kita sedang berada di tengah Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).

VUCA merepresentasikan zaman yang sedang mengalami volatilitas, ketidakpastian, klompleksitas, dan ambiguitas. VUCA meniscayakan perubahan radikal dalam sistem pengetahuan yang tidak bisa lagi dipandang terkotak-kotak, melainkan saling bergantung dengan berbagai elemen lainnya. Secepatnya, proyek pengetahuan harus direkonseptualisasi kembali untuk menyelesaikan hal-hal dasar. Sebab setiap problem, ternyata, tidak pernah berdiri sendiri.

Di sini lain, perubahan dan kegagalan ini juga disebabkan karena kita tidak bisa menentukan basis; gagal menentukan tujuan. Jika tujuan adalah telos, maka basis adalah realitas. Realitas adalah tantangan masa kini, dan telos merupakan apa yang hendak dicapai. Basis dari perubahan adalah realitas yang terus berubah, dan tujuannya, tidak lain adalah untuk kemanusiaan. Kemanusiaan adalah mata yang menembus sisi terdalam manusia. Darinya, kita belajar bahwa kondisi sosial, politik, dan ekonomi bangsa ini sedang timpang. Sayangnya, gagasan ini selalu dipandang sebelah mata. Bahkan oleh para futuristik liberal, humanisme adalah argumentasi kebajikan yang kuno dan tradisional. Namun kita tidak bisa menampik bahwa untuk mencapai telos, yakni, kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat, humanisme, yang lahir dari realitas dan ketimpangan saat ini, adalah fakta yang meskipun selalu diinterpretasikan dalam berbagai varian, namun tidak bisa dibunuh dengan alasan apa pun.

“Membangun dan berinovasi untuk kemanusiaan” merupakan bangunan falsafah pada momentum 58 Tahun Universitas Negeri Gorontalo. Perubahan dengan menjangkarkan seluruh kerja-kerjanya pada humanisme menjadi begitu jelas. Tak ada perubahan tanpa pijakan humanisme yang kukuh, bahkan atas dasar logika dan argumentasi secanggih apa pun juga. Di titik itulah, UNG tidak hanya menjadi perguruan tinggi yang meluluskan diploma, sarjana, master, dan doktor. Lebih dari itu, UNG adalah institusi pendidikan tinggi yang terus memberikan kontribusi positif bagi kemajuan peradaban dunia melalui tri dharma Perguruan Tinggi. Di level praksis, dalam upaya menciptakan mekanisme yang demikian itu, arah pembangunan dan pengembangan Universitas Negeri Gorontalo UNG bertujuan untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing di level nasional dan internasional.  Pembangunan yang dilakukan UNG berpedoman pada konsep tata kelola perguruan tinggi good governance in higher education dan sustainable development, yang bertujuan untuk menciptakan kemajuan bersama berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal, yakni kebaikan, keteguhan budi luhur, dan pengetahuan yang mengakar untuk kemaslahatan sesama. Untuk itulah, inovasi pengetahuan yang berjangkar pada kemanusiaan menjadi tulang punggung proses pembangunan dan pengembangan kampus.

Namun demikian, kita sangat menyadari bahwa fondasi tersebut, tentu saja tidak bisa dilihat secara abstrak. Benar humanisme adalah basis. Tetapi tanpa “eksekusi yang matang”, humanisme akan selamanya menjadi jargon yang  mengawang-ngawang dan sebatas teori para intelektual menara gading. Sebaliknya, humanisme harus menjadi ide penuntun untuk menciptakan ekosistem pengetahuan yang terintegrasi dalam bentuk kebijakan.

Dalam spektrum yang lebih luas, hubungan antara humanisme, pengetahuan dan kebijakan dalam kerangka peradaban yang terus ‘menjadi’ ini, bisa dilihat dalam fondasi visi Indonesia 2045. Indonesia mencanangkan visi: menjadi negeri adil-makmur dan duduk sebagai salah satu pemimpin dunia pada 2045. Namun, tiba-tiba pandemi melanda. Saat ini, kasus Covid-19 telah mencapai angka 4.04 juta dan kematian sebesar 130 ribu kasus. Implikasinya bahkan merembes ke berbagai lini kehidupan dan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang anjlok, kemiskinan, pengangguran, dan reses melesat hebat. Wabah yang berusia hampir dua tahun ini, benar-benar merobohkan fondasi dasar kita. Pada saat yang sama, ia juga membuka kenyataan, bahwa visi Indonesia 2045 ternyata begitu rapuh, sebab pengetahuan tidak benar-benar terintegrasi dalam kebijakan. Naskah-naskah akademik memang bertebaran. Namun, sebenarnya yang terlihat adalah kegagapan menyikapi pandemi, menyikapi tantangan. Pada saat yang sama, komunikasi dan data tidak transparan. Pada level praktis, eksekusi lapangan juga setengah hati, ditambah berbagai kebohongan yang kerapkali meruhtuhkan akal sehat.

Entahlah kita sedang merasa frustasi. Namun, sebenarnya, hal ini justru perlahan membunuh kita semua. Sebab kepercayaan dan nalar publik hari ini pada apa yang tengah diperjuangkan pemerintah mulai memudar.

Oleh Sebab itu, kita perlu meneguhkan kembali bahwa membangun dan berinovasi untuk kemanusiaan hanya bisa dicapai dengan mengintegrasikan pengetahuan dalam setiap kebijakan dan rencana pembangunan. Cetak biru ekosistem pengetahuan dan invoasi ini mengusung dua prinsip utama. Pertama, pentingnya memastikan bahwa inovasi harus dilakukan secara inklusif. Kita tidak bisa lagi mengunci diri dan bersikap eksklusif. Kolaborasi intersektoral harus menjadi kanal yang membentuk UNG agar dapat terkoneksi dengan berbagai pihak, baik itu antar daerah hingga pusat, demi mendorong kemaslahatan bersama melalui proyek-proyek inovasi percontohan yang dibangun berdasarkan jejaring, keilmuan lokal, nasional dan internasional. Hal ini menjadi kunci karena inovasi memerlukan keselarasan antar semua sektor, bukan hanya pemerintah. Sebab industri, pendidikan tinggi, masyarakat sipil, maupun komunitas berperan dalam inovasi pengetahuan, produk, maupun jasa; baik untuk kepentingan swasta, pemerintah, maupun masyarakat luas.

Hal yang kedua adalah memastikan bahwa kebijakan yang dirumuskan harus untuk kepentingan publik dan berbasis bukti. Cetak biru ekosistem pengetahuan dan inovasi ini menyadari bahwa hubungan antara pengetahuan dan kebiijakan publik yang baik merupakan hubungan dua arah. Ekosistem pengetahuan yang kuat akan menghasilkan bukti yang diperlukan untuk menyusun kebijakan yang baik; sebaliknya, kebijakan yang baik, juga akan memperkuat ekosistem pengetahuan. Tentu saja, kita memiliki peluang untuk mencapai tujuan ini. Lahirnya UU 11/2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sinas Iptek) tidak hanya memberikan landasan regulasi, tetapi model kelembagaan untuk tata-kelola riset dan inovasi. Masalah selama ini adalah riset dan inovasi tidak pernah menjadi prioritas. Dari hulu hingga hilir, investasi selalu menjadi prioritas karena dianggap kunci mengejar kemajuan ekonomi. Padahal, investasi semestinya digelar untuk riset dan inovasi sebagai kunci kemajuan bangsa pada masa depan.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, kenapa kita, UNG, sebagai lembaga pendidikan tinggi, wajib intens menginisiasi dan bahkan mulai menjejalkan agenda ini secara lebih mendalam? Jawabannya karena kampus, bagiamana pun juga, merupakan lembaga yang dipercayai publik dan memiliki kapasitas untuk mengontrol dan memastikan seluruh kebijakan ini berada pada koridor humanisme sebagai ujung dari pencapaian seluruh rumusan kebijakan itu. Kampus memiliki kritisisme dan independensi. Itulah sebabnya, ekosistem pengetahuan dibangun agar pengetahuan diintegrasikan secara sadar, sengaja, dan terencana (deliberate) dalam kehidupan lewat kebijakan publik. Bukan hanya soal digunakannya bukti (evidence) dalam penyusunan kebijakan, tetapi agar dampak tak-termaksud (unintended consequence) yang pasti ada dalam setiap kebijakan pembangunan, telah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Terdampaknya komunitas lokal, rusaknya lingkungan, atau tergerusnya tradisi dan budaya karena kebijakan pembangunan, misalnya, bukan hanya harus dipikirkan, tapi memang menjadi bagian integral dari pembangunan, dan direncanakan antisipasi dan mitigasinya.

Dies Natalis UNG ke 58, meskipun di tengah pandemi, tetap patut kita jadikan momentum untuk terus meneguhkan tekad dan menyatukan visi dalam upaya meningkatkan kinerja berbasis inovasi yang berkelanjutan untuk UNG dan peradaban manusia. Bekerja sepenuh hati hingga usia ke-58, tentu saja bukan waktu yang singkat. Ada banyak jalan berduri, keringat bercucur deras, momen-momen pelik, hingga banyaknya waktu yang telah dikorbankan oleh civitas akademika untuk UNG yang unggul dan berdaya saing. Untuk itulah, Dies Natalies ini adalah cara kita semua merayakan kemanusiaan dengan menyalakan api pengetahuan. Dari proses yang begitu panjang ini, kita menjadi dewasa. Darinya kita tahu bahwa UNG adalah entitas hidup dan terus menghidupi sekelilingnya. Humanisme adalah mata air, sedangkan pengetahuan adalah samudera. Keduanya saling bertumpu. Perjumpaan keduanya menjadikan UNG sebagai entitas yang “terus menjadi” dan takkan mungkin berhenti di persimpangan jalan, sebagaimana Aurelius mengunci peradaban manusia dalam satu kalimat paling ultim: segala sesuatu ditakdirkan untuk selalu berubah!.

Advertorial

Rektor Eduart: Jabatan Fungsional Adalah Amanah, Bukan Sekadar Posisi

Published

on

UNG – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali memperkuat tata kelola kelembagaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelantikan pejabat fungsional yang dirangkaikan dengan pengambilan sumpah jabatan, Kamis (5/2). Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di lingkungan kampus dan dipimpin langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT., IPU., ASEAN.Eng.

Para pejabat fungsional yang dilantik berasal dari berbagai bidang strategis, antara lain arsiparis ahli madya dan ahli muda, pranata keuangan APBN penyelia, lektor, serta asisten ahli. Pelantikan ini merupakan bagian dari langkah sistematis UNG dalam memperkuat peran dosen dan tenaga kependidikan guna menunjang pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Rektor Eduart Wolok menyampaikan ucapan selamat disertai pesan reflektif kepada seluruh pejabat yang baru dilantik. Menurutnya, pengambilan sumpah jabatan bukan hanya acara seremonial, tetapi momentum penting untuk memperbarui komitmen moral dalam melayani bangsa melalui tugas akademik.

“Pengambilan sumpah hari ini harus dimaknai sebagai komitmen pribadi untuk menjalankan amanah dengan penuh integritas, tanggung jawab, dan profesionalisme,” ujar Rektor.

Lebih lanjut, Rektor menegaskan bahwa jabatan fungsional bukan sekadar posisi administratif, melainkan peran strategis yang menuntut capaian kinerja, dedikasi, serta kontribusi nyata bagi institusi. Ia berharap para dosen dan tenaga kependidikan yang baru dilantik mampu memperkuat semangat kerja dan menjaga etika akademik dalam mendukung pencapaian visi UNG sebagai kampus unggul dan berdaya saing.

“Tanggung jawab yang diemban hari ini harus menjadi motivasi untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas diri, dan memperluas dampak positif bagi masyarakat serta dunia pendidikan,” tambahnya.

Di akhir arahannya, Rektor mengingatkan pentingnya membangun budaya kerja yang berlandaskan integritas, loyalitas, dan kecintaan terhadap institusi. Ia menekankan bahwa setiap jabatan fungsional harus dijalankan dengan kesadaran bahwa kerja bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan akademik dalam mewujudkan kemajuan universitas secara berkelanjutan.

Continue Reading

Advertorial

Langkah Cerdas! UNG Gandeng Bank Mandiri untuk Layanan Kampus Modern

Published

on

UNG – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus berakselerasi dalam upaya meningkatkan mutu dan efisiensi layanan bagi seluruh civitas akademika. Komitmen tersebut diperkuat melalui kerja sama strategis dengan salah satu institusi perbankan terbesar di Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Sinergi ini resmi terjalin lewat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) mengenai penyediaan jasa layanan perbankan, yang dilaksanakan pada Rabu (2/4) di Aula Rektorat UNG. Penandatanganan dilakukan langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT., IPU., ASEAN.Eng., dan Regional CEO PT Bank Mandiri Tbk Wilayah Sulawesi dan Maluku, Nunung Andreas Wisnu.

Dalam sambutannya, Rektor Eduart Wolok menyampaikan apresiasi tinggi atas kolaborasi ini. Ia menilai kerja sama dengan Bank Mandiri merupakan langkah strategis yang sejalan dengan visi UNG sebagai Kampus Kerakyatan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman.

“Kami menyambut hangat kolaborasi ini. Dengan dukungan sistem perbankan yang modern, kami yakin Bank Mandiri dapat mendukung penuh berbagai layanan di UNG, sekaligus menjadi mitra strategis dalam memperkuat tata kelola universitas di masa depan,” ujar Eduart.

Sementara itu, Regional CEO PT Bank Mandiri Tbk Wilayah Sulawesi dan Maluku, Nunung Andreas Wisnu, menegaskan bahwa kerja sama tersebut bukan hanya sekadar hubungan administratif antarlembaga, tetapi merupakan bentuk nyata sinergi antara dunia pendidikan dan dunia perbankan.

“Kerja sama ini bukan hanya formalitas di atas kertas, tetapi wujud komitmen kami untuk memberikan layanan perbankan yang optimal, cepat, dan akuntabel bagi institusi pendidikan, khususnya bagi UNG. Kami siap mendukung pengelolaan dana universitas secara profesional dan transparan,” tegas Nunung.

Melalui jalinan kolaborasi ini, Bank Mandiri akan menyediakan berbagai solusi keuangan inovatif yang dapat dimanfaatkan oleh dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa. Implementasi kerja sama ini diharapkan mampu menyederhanakan proses transaksi keuangan di lingkungan kampus sekaligus memperkuat tata kelola yang berbasis teknologi digital.

Langkah ini menjadi bukti konkret bagaimana UNG terus membuka diri terhadap kemitraan strategis yang bukan hanya berorientasi pada efisiensi administrasi, tetapi juga mendorong transformasi digital dan penguatan layanan universitas yang unggul dan berdaya saing.

Continue Reading

Advertorial

Alarm Panas Ekstrem, Ketika Perubahan Iklim Mulai “Membajak” Jantung Manusia

Published

on

Ilustrasi.(Shutterstock)

UNG – Kenaikan suhu global yang memicu gelombang panas ekstrem kini bukan lagi ancaman yang jauh di horizon. Fenomena cuaca ekstrem yang turut melanda Provinsi Gorontalo telah menunjukkan dampak langsung terhadap kesehatan manusia, khususnya pada organ vital seperti jantung dan pembuluh darah.

Kajian terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang dipimpin oleh Nayla Prima Dyta dan tim penelitinya mengungkap fakta mengejutkan: perubahan iklim kini bukan hanya mengganggu lingkungan, tetapi juga sedang “mengincar” denyut jantung kita.

Menurut hasil penelitian tersebut, heat stroke akibat paparan panas ekstrem bukan sekadar “kepanasan biasa”, melainkan krisis kardiovaskular akut yang dapat menyebabkan kegagalan organ hanya dalam hitungan beberapa jam.

Data epidemiologis menunjukkan fakta yang mencemaskan — setiap kenaikan suhu lingkungan sebesar 1°C di atas ambang batas lokal, risiko kematian akibat penyakit jantung meningkat hingga 2,1 persen.

Namun bahaya utama justru terletak pada apa yang disebut peneliti sebagai “efek jeda”. Kematian tidak selalu terjadi pada puncak suhu, melainkan beberapa hari setelah paparan panas berlangsung. Kondisi ini menjelaskan lonjakan kasus serangan jantung mendadak dan gangguan irama jantung di berbagai negara, termasuk wilayah tropis seperti Indonesia.

Kelompok paling rentan mencakup lansia, penderita penyakit jantung, pekerja luar ruangan, serta warga perkotaan yang tinggal di area padat dan minim ruang hijau.


Badai Biologis di Dalam Tubuh

Secara fisiologis, tubuh manusia berupaya mendinginkan diri melalui keringat dan pelebaran pembuluh darah. Namun dalam kondisi suhu ekstrem, jantung bekerja seperti mesin yang dipaksa beroperasi di luar batasnya.

Penelitian UNG menemukan fenomena medis yang disebut “myocardial stunning” — fase di mana jantung awalnya bekerja sangat keras untuk menstabilkan tubuh, tetapi dalam waktu 24–48 jam, pompa jantung dapat drop drastis akibat stres panas dan peradangan sistemik.

Akibatnya, tekanan darah menurun, aliran darah ke organ vital terganggu, dan tubuh mulai mengalami gagal organ multipel. Kondisi ini bahkan dapat terjadi pada individu sehat tanpa riwayat penyakit kardiovaskular.


Bahaya Tersembunyi dari Darah Kita

Tim peneliti juga mendeteksi biomarker jantung dan peradangan sebagai indikator bahaya dini. Sekitar 70 persen pasien heat stroke menunjukkan peningkatan troponin, penanda kerusakan otot jantung, sementara lebih dari separuh mengalami kenaikan kadar BNP, penanda awal gagal jantung.

Temuan lainnya memperlihatkan tingginya kadar IL-6 dan D-dimer, yang menunjukkan peradangan tinggi serta gangguan pembekuan darah — kombinasi yang dapat menjadi awal dari badai biologis penyebab gagal multi-organ.

“Dengan kata lain,” tulis tim peneliti, “heat stroke bukan sekadar suhu tubuh tinggi, tetapi reaksi biologis ekstrem yang bisa melumpuhkan sistem jantung dan sirkulasi manusia.


Tantangan Diagnosis: Saat “Panas” Tak Terlihat

Penelitian ini juga menyoroti lemahnya deteksi dini di fasilitas kesehatan. Beberapa pasien heat stroke berat ditemukan memiliki suhu kulit atau ketiak yang normal, padahal suhu inti tubuh sudah menembus >40°C.

Perbedaan ini terjadi karena kegagalan sirkulasi membuat permukaan kulit terasa lebih dingin, sehingga sering terjadi kesalahan diagnosis. Akibatnya, pasien kehilangan waktu emas untuk menerima perawatan pendinginan agresif — satu-satunya langkah penyelamat nyawa.


Krisis Kesehatan di Tengah Krisis Iklim

Peneliti UNG menegaskan bahwa perubahan iklim telah “masuk” ke ruang gawat darurat. Heat stroke harus dipandang sebagai penyakit jantung akut yang dipicu iklim, bukan lagi semata gangguan cuaca.

Karena itu, diperlukan langkah terpadu — mulai dari sistem peringatan dini gelombang panas, perlindungan bagi pekerja luar ruangan, hingga perencanaan kota yang ramah iklim dan bervegetasi cukup. Fasilitas kesehatan juga didorong untuk memperkuat protokol penanganan darurat suhu tinggi dengan pemantauan jantung intensif.

Tanpa adaptasi kebijakan di sektor kesehatan, beban penyakit kardiovaskular akibat panas ekstrem diperkirakan melonjak tajam dalam satu dekade ke depan, terutama di negara-negara tropis seperti Indonesia.


Menjaga Denyut Jantung di Dunia yang Memanas

Pada bagian akhir, penelitian ini menyiratkan pesan penting: iklim yang memanas adalah ujian baru bagi ketahanan biologis manusia. Melindungi masyarakat dari heat stroke tidak boleh sebatas imbauan untuk minum air atau berteduh.

Diperlukan sistem kesehatan tangguh yang siap menghadapi dampak perubahan iklim — sistem yang tak hanya menjaga bumi, tetapi juga menyelamatkan jantung manusia.

(Artikel penelitian ini telah dipublikasikan melalui laman jurnal: Jurnal Kesehatan Saintek, UNISMUH Palu – 2025)

Continue Reading

Facebook

Terpopuler