UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
Resmi Diluncurkan, Ini Penjelasan Makna Logo dan Tema Dies Natalis UNG ke-58
Published
5 years agoon
UNG – Bentuk Logo ini merupakan gabungan beberapa unsur yang diambil dari logo Universitas Negeri Gorontalo yaitu:
– Kurva segi lima sama sisi adalah ornamen khas daerah Gorontalo melambangkan lima sila dari dasar Negara Pancasila yang menjadi azas UNG, serta lima sendi peradaban Gorontalo yang disebut (Payu Limo to Talu,Lipu Pei Hulalu).
– Sayap burung Maleo melambangkan semangat juang yang tinggi serta gerakan dinamis civitas akademika dalam mengembangkan UNG. Sayap burung Maleo juga mewakili pribadi-pribadi yang unggul, memiliki daya saing dan berinovasi, yaitu inovasi pengetahuan yang berjangkar padakemanusiaan.
– Sayap disini dibuat kecil di bawah kemudian bertumbuh menjadi semakin besar ke atas, sejalan dengan tema dies natalis tahun ini yaitu pembangunan berkelanjutan yang berpedoman pada konsep tata kelola perguruan tinggi good governance in higher education dan sustainable development yang bertujuan untuk menciptakan kemajuan bersama.
Selain hal di atas, pada logo ini juga terdapat unsur tambahan yang mendukung tema yang diangkat pada Dies Natalis tahun ini yaitu lintasan dan 3 lingkaran yang saling berkesinambungan.
– Angka 5 dan 8 yang saling terhubung membentuk sebuah lintasan memilikimakna perubahan yang tidak pernah berhenti.
– 3 lingkaran yang saling berkesinambugan mewakili kerangka perubahan yaitu hubungan antara humanisme, pengetahuan dan inovasi kebijakan yang harus berjalan berdampingan. Hal ini juga mewakili 3 nilai kemanusiaan yangbersifat universal, yakni kebaikan, keteguhan budi luhur, dan pengetahuan yang mengakar untuk kemaslahatan bersama.
1. WARNA
Warna yang digunakan pada logo ini adalah Merah, Kuning, Orange, Birudan Ungu.Makna dari warna tersebut adalah:
– Merah melambangkan keberanian dan tanggung jawab
– Kuning emas melambangkan sikap setia dan kemuliaan
– Orange melambangkan kebahagiaan dan keseimbangan
– Biru melambangkan tenang, setia dan harapan
– Ungu lambang keanggunan dan wibawaSelain itu, warna yang digunakan pada logo ini adalah warna-warna gradasi yang sering digunakan di dunia teknologi sekarang, sejalan dengan Visi dan Misi yang mengedepankan digital based learning, teknologi terbarukan, inovasi, jejaring, serta sains dan teknologi menuju good university governance.
2. TIPOGRAFI
Font yang digunakan pada logo ini adalah huruf Sans Serif yang memiliki keterbacaan yang tinggi, sehingga dapat terbaca meskipun logo dalam ukuran besar ataupun kecil.
B. MAKNA TEMA
Dalam satu waktu, pada abad sebelum masehi, Aurelius, seorang filsuf besar Yunani, pernah menyatakan sesuatu yang mencengangkan kepada seluruh masyarakat Athena. Di atas podium itu, Aurelius menyatakan dengan lantang bahwa “segala sesuatu ditakdirkan untuk berubah”. Kata-katanya bergema, bahkan merentang dan menembus batas waktu, memilin dan memintal peradaban zaman hingga saat ini. Aurelius mengunci premis dasar dari peradaban itu dengan kesimpulan utuh bahwa: “tidak ada yang berhenti di tempat”. Kita, generasi ribuan tahun setelah Aurelius alhasil merasakan itu. Kita sedang berada di tengah-tengah zaman dan kehidupan yang terus menerus “menjadi”. Dalam “kemenjadian” itu, ide-ide terus bergemuruh. Kita menjumpai berbagai perspektif dan ilmu pengetahuan. Perubahan adalah progres, dan progres merupakan inovasi, yang mau tidak mau menuntut kita untuk selalu berbenah.
Hal yang mendasari perubahan, tidak lain juga disebabkan oleh problem yang kita hadapi, juga berubah. Dahulu sekali, kita sangat mahfum bahwa informasi menjadi salah satu kendala yang menyebabkan kita gagal berkembang. Namun, saat ini, disrupsi informasi justru menjadi masalah akut dan bahkan menjadi alasan mengapa saat ini kita terfragmentasi, bahkan tidak bisa mengorganisir diri lebih baik. Hal ini menandakan sesuatu yang menakutkan, bahwa problem, pada basis ontologisnya, bisa lahir dari sesuatu yang sebenarnya kita harapkan. Kita sedang berada di tengah Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).
VUCA merepresentasikan zaman yang sedang mengalami volatilitas, ketidakpastian, klompleksitas, dan ambiguitas. VUCA meniscayakan perubahan radikal dalam sistem pengetahuan yang tidak bisa lagi dipandang terkotak-kotak, melainkan saling bergantung dengan berbagai elemen lainnya. Secepatnya, proyek pengetahuan harus direkonseptualisasi kembali untuk menyelesaikan hal-hal dasar. Sebab setiap problem, ternyata, tidak pernah berdiri sendiri.
Di sini lain, perubahan dan kegagalan ini juga disebabkan karena kita tidak bisa menentukan basis; gagal menentukan tujuan. Jika tujuan adalah telos, maka basis adalah realitas. Realitas adalah tantangan masa kini, dan telos merupakan apa yang hendak dicapai. Basis dari perubahan adalah realitas yang terus berubah, dan tujuannya, tidak lain adalah untuk kemanusiaan. Kemanusiaan adalah mata yang menembus sisi terdalam manusia. Darinya, kita belajar bahwa kondisi sosial, politik, dan ekonomi bangsa ini sedang timpang. Sayangnya, gagasan ini selalu dipandang sebelah mata. Bahkan oleh para futuristik liberal, humanisme adalah argumentasi kebajikan yang kuno dan tradisional. Namun kita tidak bisa menampik bahwa untuk mencapai telos, yakni, kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat, humanisme, yang lahir dari realitas dan ketimpangan saat ini, adalah fakta yang meskipun selalu diinterpretasikan dalam berbagai varian, namun tidak bisa dibunuh dengan alasan apa pun.
“Membangun dan berinovasi untuk kemanusiaan” merupakan bangunan falsafah pada momentum 58 Tahun Universitas Negeri Gorontalo. Perubahan dengan menjangkarkan seluruh kerja-kerjanya pada humanisme menjadi begitu jelas. Tak ada perubahan tanpa pijakan humanisme yang kukuh, bahkan atas dasar logika dan argumentasi secanggih apa pun juga. Di titik itulah, UNG tidak hanya menjadi perguruan tinggi yang meluluskan diploma, sarjana, master, dan doktor. Lebih dari itu, UNG adalah institusi pendidikan tinggi yang terus memberikan kontribusi positif bagi kemajuan peradaban dunia melalui tri dharma Perguruan Tinggi. Di level praksis, dalam upaya menciptakan mekanisme yang demikian itu, arah pembangunan dan pengembangan Universitas Negeri Gorontalo UNG bertujuan untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing di level nasional dan internasional. Pembangunan yang dilakukan UNG berpedoman pada konsep tata kelola perguruan tinggi good governance in higher education dan sustainable development, yang bertujuan untuk menciptakan kemajuan bersama berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal, yakni kebaikan, keteguhan budi luhur, dan pengetahuan yang mengakar untuk kemaslahatan sesama. Untuk itulah, inovasi pengetahuan yang berjangkar pada kemanusiaan menjadi tulang punggung proses pembangunan dan pengembangan kampus.
Namun demikian, kita sangat menyadari bahwa fondasi tersebut, tentu saja tidak bisa dilihat secara abstrak. Benar humanisme adalah basis. Tetapi tanpa “eksekusi yang matang”, humanisme akan selamanya menjadi jargon yang mengawang-ngawang dan sebatas teori para intelektual menara gading. Sebaliknya, humanisme harus menjadi ide penuntun untuk menciptakan ekosistem pengetahuan yang terintegrasi dalam bentuk kebijakan.
Dalam spektrum yang lebih luas, hubungan antara humanisme, pengetahuan dan kebijakan dalam kerangka peradaban yang terus ‘menjadi’ ini, bisa dilihat dalam fondasi visi Indonesia 2045. Indonesia mencanangkan visi: menjadi negeri adil-makmur dan duduk sebagai salah satu pemimpin dunia pada 2045. Namun, tiba-tiba pandemi melanda. Saat ini, kasus Covid-19 telah mencapai angka 4.04 juta dan kematian sebesar 130 ribu kasus. Implikasinya bahkan merembes ke berbagai lini kehidupan dan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang anjlok, kemiskinan, pengangguran, dan reses melesat hebat. Wabah yang berusia hampir dua tahun ini, benar-benar merobohkan fondasi dasar kita. Pada saat yang sama, ia juga membuka kenyataan, bahwa visi Indonesia 2045 ternyata begitu rapuh, sebab pengetahuan tidak benar-benar terintegrasi dalam kebijakan. Naskah-naskah akademik memang bertebaran. Namun, sebenarnya yang terlihat adalah kegagapan menyikapi pandemi, menyikapi tantangan. Pada saat yang sama, komunikasi dan data tidak transparan. Pada level praktis, eksekusi lapangan juga setengah hati, ditambah berbagai kebohongan yang kerapkali meruhtuhkan akal sehat.
Entahlah kita sedang merasa frustasi. Namun, sebenarnya, hal ini justru perlahan membunuh kita semua. Sebab kepercayaan dan nalar publik hari ini pada apa yang tengah diperjuangkan pemerintah mulai memudar.
Oleh Sebab itu, kita perlu meneguhkan kembali bahwa membangun dan berinovasi untuk kemanusiaan hanya bisa dicapai dengan mengintegrasikan pengetahuan dalam setiap kebijakan dan rencana pembangunan. Cetak biru ekosistem pengetahuan dan invoasi ini mengusung dua prinsip utama. Pertama, pentingnya memastikan bahwa inovasi harus dilakukan secara inklusif. Kita tidak bisa lagi mengunci diri dan bersikap eksklusif. Kolaborasi intersektoral harus menjadi kanal yang membentuk UNG agar dapat terkoneksi dengan berbagai pihak, baik itu antar daerah hingga pusat, demi mendorong kemaslahatan bersama melalui proyek-proyek inovasi percontohan yang dibangun berdasarkan jejaring, keilmuan lokal, nasional dan internasional. Hal ini menjadi kunci karena inovasi memerlukan keselarasan antar semua sektor, bukan hanya pemerintah. Sebab industri, pendidikan tinggi, masyarakat sipil, maupun komunitas berperan dalam inovasi pengetahuan, produk, maupun jasa; baik untuk kepentingan swasta, pemerintah, maupun masyarakat luas.
Hal yang kedua adalah memastikan bahwa kebijakan yang dirumuskan harus untuk kepentingan publik dan berbasis bukti. Cetak biru ekosistem pengetahuan dan inovasi ini menyadari bahwa hubungan antara pengetahuan dan kebiijakan publik yang baik merupakan hubungan dua arah. Ekosistem pengetahuan yang kuat akan menghasilkan bukti yang diperlukan untuk menyusun kebijakan yang baik; sebaliknya, kebijakan yang baik, juga akan memperkuat ekosistem pengetahuan. Tentu saja, kita memiliki peluang untuk mencapai tujuan ini. Lahirnya UU 11/2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sinas Iptek) tidak hanya memberikan landasan regulasi, tetapi model kelembagaan untuk tata-kelola riset dan inovasi. Masalah selama ini adalah riset dan inovasi tidak pernah menjadi prioritas. Dari hulu hingga hilir, investasi selalu menjadi prioritas karena dianggap kunci mengejar kemajuan ekonomi. Padahal, investasi semestinya digelar untuk riset dan inovasi sebagai kunci kemajuan bangsa pada masa depan.
Pertanyaan yang paling mendasar adalah, kenapa kita, UNG, sebagai lembaga pendidikan tinggi, wajib intens menginisiasi dan bahkan mulai menjejalkan agenda ini secara lebih mendalam? Jawabannya karena kampus, bagiamana pun juga, merupakan lembaga yang dipercayai publik dan memiliki kapasitas untuk mengontrol dan memastikan seluruh kebijakan ini berada pada koridor humanisme sebagai ujung dari pencapaian seluruh rumusan kebijakan itu. Kampus memiliki kritisisme dan independensi. Itulah sebabnya, ekosistem pengetahuan dibangun agar pengetahuan diintegrasikan secara sadar, sengaja, dan terencana (deliberate) dalam kehidupan lewat kebijakan publik. Bukan hanya soal digunakannya bukti (evidence) dalam penyusunan kebijakan, tetapi agar dampak tak-termaksud (unintended consequence) yang pasti ada dalam setiap kebijakan pembangunan, telah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Terdampaknya komunitas lokal, rusaknya lingkungan, atau tergerusnya tradisi dan budaya karena kebijakan pembangunan, misalnya, bukan hanya harus dipikirkan, tapi memang menjadi bagian integral dari pembangunan, dan direncanakan antisipasi dan mitigasinya.
Dies Natalis UNG ke 58, meskipun di tengah pandemi, tetap patut kita jadikan momentum untuk terus meneguhkan tekad dan menyatukan visi dalam upaya meningkatkan kinerja berbasis inovasi yang berkelanjutan untuk UNG dan peradaban manusia. Bekerja sepenuh hati hingga usia ke-58, tentu saja bukan waktu yang singkat. Ada banyak jalan berduri, keringat bercucur deras, momen-momen pelik, hingga banyaknya waktu yang telah dikorbankan oleh civitas akademika untuk UNG yang unggul dan berdaya saing. Untuk itulah, Dies Natalies ini adalah cara kita semua merayakan kemanusiaan dengan menyalakan api pengetahuan. Dari proses yang begitu panjang ini, kita menjadi dewasa. Darinya kita tahu bahwa UNG adalah entitas hidup dan terus menghidupi sekelilingnya. Humanisme adalah mata air, sedangkan pengetahuan adalah samudera. Keduanya saling bertumpu. Perjumpaan keduanya menjadikan UNG sebagai entitas yang “terus menjadi” dan takkan mungkin berhenti di persimpangan jalan, sebagaimana Aurelius mengunci peradaban manusia dalam satu kalimat paling ultim: segala sesuatu ditakdirkan untuk selalu berubah!.
You may like
-
Sapu Bersih 100 Persen Kelulusan! Prodi Profesi Ners FOK UNG Tembus Peringkat Platinum Nasional
-
Gandeng Karang Taruna Dulamayo Selatan, UNG Sulap Limbah Kolang-Kaling Jadi Pelet Biomassa
-
Buka Peluang Karir Internasional! UNG Gandeng BP3MI Sulut Siapkan Lulusan Go Global
-
Gagas Youth Economic Policy Lab, Ratri Rahmatya Hiola Bawa Nama UNG ke Forum Dunia
-
Harumkan Nama Indonesia di Kancah Asia! Mahasiswa dan Alumni FOK UNG Sabet Medali Asian Games 2026
-
Sejajar Perguruan Tinggi Terbaik Nasional! S1 Kesmas dan D3 Farmasi UNG Raih Akreditasi Unggul
Advertorial
Sapu Bersih 100 Persen Kelulusan! Prodi Profesi Ners FOK UNG Tembus Peringkat Platinum Nasional
Published
2 days agoon
17/10/2026
UNG – Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Jurusan Keperawatan, Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional. FOK UNG berhasil meraih Penghargaan Persentase Kelulusan Terbaik Nasional Kategori Peserta 60–99 dengan Peringkat Platinum (100%) pada Uji Kompetensi Ners Indonesia (UKOM) Periode I Tahun 2026.
Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan dalam Rangkaian Rapat Tahunan Anggota (RTA) ke-24 Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) Tahun 2026 yang diselenggarakan di Manado, Sulawesi Utara, pada Jumat (16/10/2026). Capaian impresif ini diraih setelah seluruh 66 peserta UKOM Ners dari Prodi Profesi Ners FOK UNG dinyatakan lulus tanpa sisa atau menyentuh tingkat kelulusan sempurna sebesar 100 persen.
Penghargaan Platinum ini menjadi pengakuan institusional berskala nasional atas keberhasilan FOK UNG dalam mengawal para mahasiswanya melewati ambang batas kompetensi keperawatan. Prestasi ini sekaligus mempertegas komitmen fakultas dan jurusan dalam merawat mutu pendidikan profesi keperawatan demi mencetak calon perawat yang kompeten, profesional, dan siap diterjunkan dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
Pencapaian sempurna ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para mahasiswa peserta uji kompetensi, melainkan juga bagi seluruh sivitas akademika FOK UNG. Hasil ini sekaligus menjadi batu pijakan penting untuk kian memperkuat mutu pembelajaran, optimalisasi pendampingan akademik dan klinik, serta evaluasi komprehensif berkelanjutan.
Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas capaian gemilang yang diukir oleh Program Studi Pendidikan Profesi Ners.
“Prestasi dengan predikat Platinum dan tingkat kelulusan 100 persen ini merupakan kebanggaan besar bagi FOK UNG. Keberhasilan seluruh 66 peserta dalam UKOM Ners Periode I Tahun 2026 menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga kualitas pendidikan profesi. Capaian ini bukan hanya tentang angka kelulusan, tetapi juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dan menghasilkan tenaga kesehatan yang profesional,” ungkap Dr. Hartono Hadjarati.
Ia menegaskan, raihan prestisius ini mutlak dijadikan landasan untuk mempertahankan standar pendidikan yang terukur sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap kualitas lulusan FOK UNG.
“Kami berharap pencapaian ini menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk terus berinovasi, memperkuat proses pembelajaran, serta memastikan mahasiswa memperoleh bekal kompetensi yang sesuai dengan tuntutan profesi. FOK UNG akan terus berupaya membangun pendidikan kesehatan yang unggul dan berdaya saing nasional,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Jurusan Keperawatan FOK UNG, Dr. Ns. Yuniar Mansye Soeli, M.Kep., Sp.Kep.J., turut mengungkapkan rasa bangganya atas konsistensi para mahasiswa dalam menembus kelulusan UKOM nasional.
“Kelulusan 100 persen dari 66 peserta merupakan capaian yang sangat berarti bagi Jurusan Keperawatan. Hasil ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memperkuat kualitas proses pendidikan, pembimbingan, dan evaluasi kompetensi mahasiswa. Kami bersyukur atas kerja keras mahasiswa serta dukungan seluruh dosen dan tenaga kependidikan yang telah mengambil bagian dalam proses ini,” ujar Yuniar.
Ia menekankan, keberhasilan ini harus diimbangi dengan komitmen berkelanjutan dalam mengawal etika profesi, tanggung jawab moral, serta kesiapan menyajikan pelayanan keperawatan yang aman dan mengedepankan keselamatan pasien.
Sementara itu, Koordinator Program Studi Pendidikan Profesi Ners FOK UNG, Ibrahim Suleman, S.Kep., Ns., M.Kep., menyebut predikat Platinum dengan hasil 100 persen ini merupakan buah dari proses panjang yang patut disyukuri sekaligus menjadi pemicu untuk mempertahankan mutu di masa mendatang.
“Kami sangat bersyukur karena seluruh 66 peserta berhasil lulus UKOM Ners Periode I Tahun 2026. Capaian ini merupakan hasil dari proses belajar, persiapan, pendampingan, dan kerja keras mahasiswa. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi Program Studi Pendidikan Profesi Ners untuk terus melakukan evaluasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran agar prestasi serupa dapat dipertahankan,” terang Ibrahim.
Ia berpesan agar para lulusan anyar dapat terus menjaga nama baik almamater UNG serta mengaplikasikan ilmu keperawatan secara bertanggung jawab saat mengabdi di fasilitas kesehatan masyarakat.
Pemberian penghargaan pada RTA ke-24 AIPNI 2026 ini kian mengokohkan posisi FOK UNG sebagai institusi pendidikan kesehatan yang andal, berintegritas, serta berdaya saing tinggi dalam merespons kebutuhan pelayanan kesehatan nasional.
Advertorial
Gandeng Karang Taruna Dulamayo Selatan, UNG Sulap Limbah Kolang-Kaling Jadi Pelet Biomassa
Published
4 days agoon
15/10/2026
UNG – Limbah pengolahan gula aren yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal kini disulap menjadi produk bernilai tambah oleh tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui terobosan inovasi bertajuk BioNira Zero Waste, limbah buah kolang-kaling dan kulitnya berhasil diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber serta pelet biomassa yang berpotensi membuka keran ekonomi baru bagi warga Desa Dulamayo Selatan, Kabupaten Gorontalo.
Program berwawasan lingkungan bertajuk “BioNira Zero Waste: Inovasi Nano Fiber dan Pelet Biomassa Limbah Biji Nira Berbasis Pemberdayaan Karang Taruna Dulamayo Selatan” ini digawangi oleh akademisi UNG, yakni Rifka Anggraini Anggai, M.Farm., Dr. Dra. Hj. Sri Endang Saleh, M.Si., dan Angry Pratama Solihin, M.Sc. Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil lolos dan meraih pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026.
Gagasan ini berawal dari penelusuran tim terhadap masifnya aktivitas pengolahan gula aren di Desa Dulamayo Selatan yang melibatkan banyak pengrajin dan pelaku usaha mikro. Di balik geliat ekonomi tersebut, menyisa tumpukan limbah biji nira dan kulit kolang-kaling yang terbuang begitu saja. Kondisi ini mendorong tim UNG menyajikan pendekatan zero waste untuk mengolah sisa bahan produksi menjadi produk baru, sekaligus merangkul Karang Taruna setempat sebagai mitra utama penggerak inovasi di tingkat desa.
Ketua Tim Pengabdian UNG, Rifka Anggraini Anggai, membeberkan bahwa program ini memanfaatkan daging buah kolang-kaling dan kulitnya untuk menghasilkan dua jenis komoditas berbeda. Daging kolang-kaling diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber menggunakan peralatan produksi yang diserahterimakan langsung kepada pemuda Karang Taruna, sementara bagian kulitnya diekstrak menjadi bahan baku pelet biomassa ramah lingkungan.
“Buah kolang-kaling kami olah dengan beberapa alat yang kami berikan kepada pengurus Karang Taruna untuk dijadikan serbuk serat Nano Fiber, sementara kulitnya dijadikan pelet biomassa yang ramah lingkungan,” jelas Rifka.
Tidak berhenti pada hibah sarana dan prasarana penunjang, tim riset UNG turut memberikan pendampingan teknis secara berkala agar Karang Taruna mampu melangsungkan proses produksi secara presisi. Pendampingan meliputi tata cara pengolahan bahan baku hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan serbuk serat Nano Fiber dan pelet biomassa. Langkah edukatif ini menjadi fondasi penting bagi para pemuda dalam menjaga konsistensi mutu produk dan menjamin keberlanjutan usaha.
Penguatan kapasitas mitra juga diselaraskan dengan strategi pemasaran modern dan digital branding. Melalui optimalisasi berbagai platform digital, produk yang dikembangkan diharapkan mampu merambah pangsa pasar yang lebih luas. Dengan demikian, alih teknologi ini tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis mengolah limbah, tetapi juga membentuk kecakapan manajerial dalam mengelola rantai pasok hingga promosi ke calon konsumen.
Melalui kehadiran BioNira Zero Waste, UNG sukses menggeser paradigma masyarakat dalam memandang limbah gula aren—dari sekadar sampah sisa produksi menjadi sumber daya produktif bernilai jual tinggi. Pelibatan Karang Taruna menjadi simpul krusial dalam membangun kemandirian ekonomi desa sekaligus mengukuhkan peran pemuda sebagai aktor utama pembangunan berbasis potensi lokal.
Program ini diharapkan menjadi batu pijakan awal bagi optimalisasi pemanfaatan limbah aren di Kabupaten Gorontalo. Berbekal sentuhan teknologi tepat guna, pendampingan terstruktur, serta strategi pemasaran digital, inovasi BioNira Zero Waste mempertegas komitmen UNG dalam menghadirkan kepakaran akademis yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Advertorial
Buka Peluang Karir Internasional! UNG Gandeng BP3MI Sulut Siapkan Lulusan Go Global
Published
6 days agoon
14/10/2026
UNG – Peluang berkarier di panggung internasional kini semakin terbuka lebar bagi para lulusan Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui kemitraan strategis bersama Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) via Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Utara, UNG memperkuat komitmennya dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) terdidik yang menguasai bahasa asing, keterampilan praktis, serta pemahaman komprehensif terkait pelindungan hukum pekerja migran.
Komitmen tersebut diresmikan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UNG dan BP3MI Sulawesi Utara pada Senin (12/10/2026). Prosesi penandatanganan dilakukan langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng., bersama Kepala BP3MI Sulawesi Utara, AKBP Hendrick Situmorang, S.H., S.I.K., M.Si.
Fokus utama kerja sama ini tertuju pada penguatan kapasitas serta peningkatan keterampilan calon pekerja migran terdidik asal Gorontalo. Melalui integrasi program prioritas SMK Go Global, UNG diproyeksikan menjadi pusat pelatihan intensif bahasa asing sekaligus pembekalan kompetensi teknis agar para calon pekerja migran memiliki kesiapan matang sebelum menerobos pasar kerja internasional.
Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menegaskan bahwa peluang kerja global mutlak ditangkap secara terukur, terutama dalam memanfaatkan momentum bonus demografi Indonesia. Sejumlah negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, Australia, hingga kawasan Eropa kini menghadapi tantangan penuaan populasi (aging population) dan krisis tenaga kerja produktif, yang menjadi peluang besar bagi SDM terampil Indonesia.
“Perguruan tinggi memiliki peran penting untuk memastikan lulusan tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga mempunyai keterampilan praktis, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing, serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja yang berbeda,” ungkap Eduart.
Guna menopang keberhasilan program ini, UNG akan mengoptimalkan fasilitas Unit Pelaksana Akademik (UPA) Bahasa sebagai sarana penggemblengan bahasa asing. Di samping itu, fasilitas Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) UNG disiapkan sebagai pusat pelatihan terpadu untuk mendukung pemusatan program.
Melalui dukungan sarana dan sinergi lintas lembaga, program ini ditargetkan mampu mencetak calon pekerja migran yang profesional, berdaya saing tinggi, serta paham akan hak-hak serta mekanisme pelindungan hukum selama bertugas di negara tujuan. Keselamatan, kepatuhan terhadap prosedur penempatan resmi, serta pemahaman budaya negara penerima menjadi poin krusial agar peluang kerja luar negeri dapat dimanfaatkan secara aman dan bertanggung jawab.
“Kerja sama ini sekaligus memperluas peran UNG dalam menyiapkan lulusan menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin terbuka. Kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja global,” terang Rektor.
Melalui kemitraan ini, UNG berharap kian banyak putra-putri daerah asal Gorontalo yang mampu unjuk gigi di kancah internasional dengan bekal pendidikan, keterampilan teknis, dan jaminan pelindungan yang memadai, sekaligus memperkuat daya saing bangsa di kancah global.
Soroti Akar Masalah Pungutan Liar, Anggota DPRD Dedy Hamzah Minta Pemerintah Perhatikan Gaji Pegawai
Wajibkan Pelayanan Transparan! DPRD Provinsi Gorontalo Soroti Dugaan Pungli di Samsat Kabupaten Gorontalo
Selangkah Pun Tak Mundur! Wali Kota Adhan Dambea Tegaskan Siap Hadapi Proses Hukum Polda Gorontalo
Buntut Kasus Perusakan Cagar Budaya, Ditreskrimsus Polda Gorontalo Sisir Ruang Bagian Hukum dan Umum
Jamin Kesetaraan di Hadapan Hukum! ABPEDNAS Desak Polda Gorontalo Tuntaskan Kasus Satpol PP
Respon Dampak Buruk El nino! Laskar Gerindra Gorut Langsung Gerak Cepat
Muda, Disiplin, dan Militan! Gemblengan Kaderisasi khas Hambalang Hadir di Diklat Laskar Gerindra Gorontalo
Menjaga Jiwa Serambi Madinah: Bukti Nyata Perhatian Pemerintah Kota Gorontalo Terhadap Kebudayaan
Sejajar Perguruan Tinggi Terbaik Nasional! S1 Kesmas dan D3 Farmasi UNG Raih Akreditasi Unggul
Sinyal Untuk 2029! Diklat Laskar Gerindra Gorontalo Mulai Panaskan Mesin Tempur Partai
PKK GELAR JAMBORE PKK TINGKAT KABUPATEN GORUT
Kota Gorontalo Peringkat kedua Internet Paling Ngebutt se-Indonesia
PIMPIN RAPAT PENYERAPAN PROGRAM, BUPATI PUAS HASIL EVALUASI
PEMKAB GORUT BERIKAN BANTUAN RP. 1 JUTA/ORANG UNTUK JAMAAH CALON HAJI
Dua Kepala Desa Di copot Bupati
Terpopuler
-
Gorontalo2 months agoTampil Memukau, MIN 1 Pohuwato Sabet Gelar Juara 1 Umum Hulonthalo Marching Festival 2026
-
Gorontalo2 months agoSalurkan 150 Bantuan Pendidikan di Bonepantai, Aserval: Ini langkah Awal
-
kabupaten boalemo2 months agoPolemik Kopdes: Pj Kades Bendungan Diduga Enggan Teken Surat Hibah Lahan, Ada Apa?
-
Gorontalo2 months agoSalurkan Paket Bantuan Pendidikan, IAC: Jangan Sampai Anak Berhenti Sekolah karena Tak Punya Sepatu
-
Gorontalo2 months agoBerani! Tolak PT Celebes Bone Mineral, Camat Bonepantai Siap Pertaruhkan Jabatan
-
Daerah3 weeks agoRespon Dampak Buruk El nino! Laskar Gerindra Gorut Langsung Gerak Cepat
-
Gorontalo3 months agoKurang dari 1×24 Jam: Tim URC Jatanras Polresta Gorontalo Kota Ringkus Pembobol Konter HP
-
Daerah3 weeks agoMuda, Disiplin, dan Militan! Gemblengan Kaderisasi khas Hambalang Hadir di Diklat Laskar Gerindra Gorontalo
