Connect with us

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

Resmi Diluncurkan, Ini Penjelasan Makna Logo dan Tema Dies Natalis UNG ke-58

Published

on

UNG – Bentuk Logo ini merupakan gabungan beberapa unsur yang diambil dari logo Universitas Negeri Gorontalo yaitu:

– Kurva segi lima sama sisi adalah ornamen khas daerah Gorontalo melambangkan lima sila dari dasar Negara Pancasila yang menjadi azas UNG, serta lima sendi peradaban Gorontalo yang disebut (Payu Limo to Talu,Lipu Pei Hulalu).

– Sayap burung Maleo melambangkan semangat juang yang tinggi serta gerakan dinamis civitas akademika dalam mengembangkan UNG. Sayap burung Maleo juga mewakili pribadi-pribadi yang unggul, memiliki daya saing dan berinovasi, yaitu inovasi pengetahuan yang berjangkar padakemanusiaan.

– Sayap disini dibuat kecil di bawah kemudian bertumbuh menjadi semakin besar ke atas, sejalan dengan tema dies natalis tahun ini yaitu pembangunan berkelanjutan yang berpedoman pada konsep tata kelola perguruan tinggi good governance in higher education dan sustainable development yang bertujuan untuk menciptakan kemajuan bersama.

Selain hal di atas, pada logo ini juga terdapat unsur tambahan yang mendukung tema yang diangkat pada Dies Natalis tahun ini yaitu lintasan dan 3 lingkaran yang saling berkesinambungan.

– Angka 5 dan 8 yang saling terhubung membentuk sebuah lintasan memilikimakna perubahan yang tidak pernah berhenti.

– 3 lingkaran yang saling berkesinambugan mewakili kerangka perubahan yaitu hubungan antara humanisme, pengetahuan dan inovasi kebijakan yang harus berjalan berdampingan. Hal ini juga mewakili 3 nilai kemanusiaan yangbersifat universal, yakni kebaikan, keteguhan budi luhur, dan pengetahuan yang mengakar untuk kemaslahatan bersama.

1. WARNA

Warna yang digunakan pada logo ini adalah Merah, Kuning, Orange, Birudan Ungu.Makna dari warna tersebut adalah:

– Merah melambangkan keberanian dan tanggung jawab

– Kuning emas melambangkan sikap setia dan kemuliaan

– Orange melambangkan kebahagiaan dan keseimbangan

– Biru melambangkan tenang, setia dan harapan

– Ungu lambang keanggunan dan wibawaSelain itu, warna yang digunakan pada logo ini adalah warna-warna gradasi yang sering digunakan di dunia teknologi sekarang, sejalan dengan Visi dan Misi yang mengedepankan digital based learning, teknologi terbarukan, inovasi, jejaring, serta sains dan teknologi menuju good university governance.

2. TIPOGRAFI

Font yang digunakan pada logo ini adalah huruf Sans Serif yang memiliki keterbacaan yang tinggi, sehingga dapat terbaca meskipun logo dalam ukuran besar ataupun kecil.

B. MAKNA TEMA

Dalam satu waktu, pada abad sebelum masehi, Aurelius, seorang filsuf  besar Yunani, pernah menyatakan sesuatu yang mencengangkan kepada seluruh masyarakat Athena. Di atas podium itu, Aurelius menyatakan dengan lantang bahwa “segala sesuatu ditakdirkan untuk berubah”. Kata-katanya bergema, bahkan merentang dan menembus batas waktu, memilin dan memintal peradaban zaman hingga saat ini. Aurelius mengunci premis dasar dari peradaban itu dengan kesimpulan utuh bahwa: “tidak ada yang berhenti di tempat”. Kita, generasi ribuan tahun setelah Aurelius alhasil merasakan itu. Kita sedang berada di tengah-tengah zaman dan kehidupan yang terus menerus “menjadi”. Dalam “kemenjadian” itu, ide-ide terus bergemuruh. Kita menjumpai berbagai perspektif dan ilmu pengetahuan. Perubahan adalah progres, dan progres merupakan inovasi, yang mau tidak mau menuntut kita untuk selalu berbenah.

Hal yang mendasari perubahan, tidak lain juga disebabkan oleh problem yang kita hadapi, juga berubah. Dahulu sekali, kita sangat mahfum bahwa informasi menjadi salah satu kendala yang menyebabkan kita gagal berkembang. Namun, saat ini, disrupsi informasi justru menjadi masalah akut dan bahkan menjadi alasan mengapa saat ini kita terfragmentasi, bahkan tidak bisa mengorganisir diri lebih baik. Hal ini menandakan sesuatu yang menakutkan, bahwa problem, pada basis ontologisnya, bisa lahir dari sesuatu yang sebenarnya kita harapkan. Kita sedang berada di tengah Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).

VUCA merepresentasikan zaman yang sedang mengalami volatilitas, ketidakpastian, klompleksitas, dan ambiguitas. VUCA meniscayakan perubahan radikal dalam sistem pengetahuan yang tidak bisa lagi dipandang terkotak-kotak, melainkan saling bergantung dengan berbagai elemen lainnya. Secepatnya, proyek pengetahuan harus direkonseptualisasi kembali untuk menyelesaikan hal-hal dasar. Sebab setiap problem, ternyata, tidak pernah berdiri sendiri.

Di sini lain, perubahan dan kegagalan ini juga disebabkan karena kita tidak bisa menentukan basis; gagal menentukan tujuan. Jika tujuan adalah telos, maka basis adalah realitas. Realitas adalah tantangan masa kini, dan telos merupakan apa yang hendak dicapai. Basis dari perubahan adalah realitas yang terus berubah, dan tujuannya, tidak lain adalah untuk kemanusiaan. Kemanusiaan adalah mata yang menembus sisi terdalam manusia. Darinya, kita belajar bahwa kondisi sosial, politik, dan ekonomi bangsa ini sedang timpang. Sayangnya, gagasan ini selalu dipandang sebelah mata. Bahkan oleh para futuristik liberal, humanisme adalah argumentasi kebajikan yang kuno dan tradisional. Namun kita tidak bisa menampik bahwa untuk mencapai telos, yakni, kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat, humanisme, yang lahir dari realitas dan ketimpangan saat ini, adalah fakta yang meskipun selalu diinterpretasikan dalam berbagai varian, namun tidak bisa dibunuh dengan alasan apa pun.

“Membangun dan berinovasi untuk kemanusiaan” merupakan bangunan falsafah pada momentum 58 Tahun Universitas Negeri Gorontalo. Perubahan dengan menjangkarkan seluruh kerja-kerjanya pada humanisme menjadi begitu jelas. Tak ada perubahan tanpa pijakan humanisme yang kukuh, bahkan atas dasar logika dan argumentasi secanggih apa pun juga. Di titik itulah, UNG tidak hanya menjadi perguruan tinggi yang meluluskan diploma, sarjana, master, dan doktor. Lebih dari itu, UNG adalah institusi pendidikan tinggi yang terus memberikan kontribusi positif bagi kemajuan peradaban dunia melalui tri dharma Perguruan Tinggi. Di level praksis, dalam upaya menciptakan mekanisme yang demikian itu, arah pembangunan dan pengembangan Universitas Negeri Gorontalo UNG bertujuan untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing di level nasional dan internasional.  Pembangunan yang dilakukan UNG berpedoman pada konsep tata kelola perguruan tinggi good governance in higher education dan sustainable development, yang bertujuan untuk menciptakan kemajuan bersama berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal, yakni kebaikan, keteguhan budi luhur, dan pengetahuan yang mengakar untuk kemaslahatan sesama. Untuk itulah, inovasi pengetahuan yang berjangkar pada kemanusiaan menjadi tulang punggung proses pembangunan dan pengembangan kampus.

Namun demikian, kita sangat menyadari bahwa fondasi tersebut, tentu saja tidak bisa dilihat secara abstrak. Benar humanisme adalah basis. Tetapi tanpa “eksekusi yang matang”, humanisme akan selamanya menjadi jargon yang  mengawang-ngawang dan sebatas teori para intelektual menara gading. Sebaliknya, humanisme harus menjadi ide penuntun untuk menciptakan ekosistem pengetahuan yang terintegrasi dalam bentuk kebijakan.

Dalam spektrum yang lebih luas, hubungan antara humanisme, pengetahuan dan kebijakan dalam kerangka peradaban yang terus ‘menjadi’ ini, bisa dilihat dalam fondasi visi Indonesia 2045. Indonesia mencanangkan visi: menjadi negeri adil-makmur dan duduk sebagai salah satu pemimpin dunia pada 2045. Namun, tiba-tiba pandemi melanda. Saat ini, kasus Covid-19 telah mencapai angka 4.04 juta dan kematian sebesar 130 ribu kasus. Implikasinya bahkan merembes ke berbagai lini kehidupan dan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang anjlok, kemiskinan, pengangguran, dan reses melesat hebat. Wabah yang berusia hampir dua tahun ini, benar-benar merobohkan fondasi dasar kita. Pada saat yang sama, ia juga membuka kenyataan, bahwa visi Indonesia 2045 ternyata begitu rapuh, sebab pengetahuan tidak benar-benar terintegrasi dalam kebijakan. Naskah-naskah akademik memang bertebaran. Namun, sebenarnya yang terlihat adalah kegagapan menyikapi pandemi, menyikapi tantangan. Pada saat yang sama, komunikasi dan data tidak transparan. Pada level praktis, eksekusi lapangan juga setengah hati, ditambah berbagai kebohongan yang kerapkali meruhtuhkan akal sehat.

Entahlah kita sedang merasa frustasi. Namun, sebenarnya, hal ini justru perlahan membunuh kita semua. Sebab kepercayaan dan nalar publik hari ini pada apa yang tengah diperjuangkan pemerintah mulai memudar.

Oleh Sebab itu, kita perlu meneguhkan kembali bahwa membangun dan berinovasi untuk kemanusiaan hanya bisa dicapai dengan mengintegrasikan pengetahuan dalam setiap kebijakan dan rencana pembangunan. Cetak biru ekosistem pengetahuan dan invoasi ini mengusung dua prinsip utama. Pertama, pentingnya memastikan bahwa inovasi harus dilakukan secara inklusif. Kita tidak bisa lagi mengunci diri dan bersikap eksklusif. Kolaborasi intersektoral harus menjadi kanal yang membentuk UNG agar dapat terkoneksi dengan berbagai pihak, baik itu antar daerah hingga pusat, demi mendorong kemaslahatan bersama melalui proyek-proyek inovasi percontohan yang dibangun berdasarkan jejaring, keilmuan lokal, nasional dan internasional. Hal ini menjadi kunci karena inovasi memerlukan keselarasan antar semua sektor, bukan hanya pemerintah. Sebab industri, pendidikan tinggi, masyarakat sipil, maupun komunitas berperan dalam inovasi pengetahuan, produk, maupun jasa; baik untuk kepentingan swasta, pemerintah, maupun masyarakat luas.

Hal yang kedua adalah memastikan bahwa kebijakan yang dirumuskan harus untuk kepentingan publik dan berbasis bukti. Cetak biru ekosistem pengetahuan dan inovasi ini menyadari bahwa hubungan antara pengetahuan dan kebiijakan publik yang baik merupakan hubungan dua arah. Ekosistem pengetahuan yang kuat akan menghasilkan bukti yang diperlukan untuk menyusun kebijakan yang baik; sebaliknya, kebijakan yang baik, juga akan memperkuat ekosistem pengetahuan. Tentu saja, kita memiliki peluang untuk mencapai tujuan ini. Lahirnya UU 11/2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sinas Iptek) tidak hanya memberikan landasan regulasi, tetapi model kelembagaan untuk tata-kelola riset dan inovasi. Masalah selama ini adalah riset dan inovasi tidak pernah menjadi prioritas. Dari hulu hingga hilir, investasi selalu menjadi prioritas karena dianggap kunci mengejar kemajuan ekonomi. Padahal, investasi semestinya digelar untuk riset dan inovasi sebagai kunci kemajuan bangsa pada masa depan.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, kenapa kita, UNG, sebagai lembaga pendidikan tinggi, wajib intens menginisiasi dan bahkan mulai menjejalkan agenda ini secara lebih mendalam? Jawabannya karena kampus, bagiamana pun juga, merupakan lembaga yang dipercayai publik dan memiliki kapasitas untuk mengontrol dan memastikan seluruh kebijakan ini berada pada koridor humanisme sebagai ujung dari pencapaian seluruh rumusan kebijakan itu. Kampus memiliki kritisisme dan independensi. Itulah sebabnya, ekosistem pengetahuan dibangun agar pengetahuan diintegrasikan secara sadar, sengaja, dan terencana (deliberate) dalam kehidupan lewat kebijakan publik. Bukan hanya soal digunakannya bukti (evidence) dalam penyusunan kebijakan, tetapi agar dampak tak-termaksud (unintended consequence) yang pasti ada dalam setiap kebijakan pembangunan, telah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Terdampaknya komunitas lokal, rusaknya lingkungan, atau tergerusnya tradisi dan budaya karena kebijakan pembangunan, misalnya, bukan hanya harus dipikirkan, tapi memang menjadi bagian integral dari pembangunan, dan direncanakan antisipasi dan mitigasinya.

Dies Natalis UNG ke 58, meskipun di tengah pandemi, tetap patut kita jadikan momentum untuk terus meneguhkan tekad dan menyatukan visi dalam upaya meningkatkan kinerja berbasis inovasi yang berkelanjutan untuk UNG dan peradaban manusia. Bekerja sepenuh hati hingga usia ke-58, tentu saja bukan waktu yang singkat. Ada banyak jalan berduri, keringat bercucur deras, momen-momen pelik, hingga banyaknya waktu yang telah dikorbankan oleh civitas akademika untuk UNG yang unggul dan berdaya saing. Untuk itulah, Dies Natalies ini adalah cara kita semua merayakan kemanusiaan dengan menyalakan api pengetahuan. Dari proses yang begitu panjang ini, kita menjadi dewasa. Darinya kita tahu bahwa UNG adalah entitas hidup dan terus menghidupi sekelilingnya. Humanisme adalah mata air, sedangkan pengetahuan adalah samudera. Keduanya saling bertumpu. Perjumpaan keduanya menjadikan UNG sebagai entitas yang “terus menjadi” dan takkan mungkin berhenti di persimpangan jalan, sebagaimana Aurelius mengunci peradaban manusia dalam satu kalimat paling ultim: segala sesuatu ditakdirkan untuk selalu berubah!.

Advertorial

Sasar Rekognisi Global: FIP UNG Desain Pendidikan Teluk Tomini Menuju Internasionalisasi

Published

on

UNG – Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2026, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengambil langkah taktis dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD). Agenda strategis ini dirangkaikan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama lintas sektor serta peluncuran buku di Aula FIP UNG, Kamis (21/05/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Pendidikan Berbasis Kawasan: Menyatukan Aspirasi Mewujudkan Inspirasi” tersebut didesain sebagai upaya nyata institusi dalam mendorong percepatan serta pemerataan mutu pendidikan di kawasan Teluk Tomini.

Momentum Hardiknas tahun ini dijadikan FIP UNG sebagai pijakan krusial untuk menjaring langsung realitas objektif kondisi pendidikan di lapangan. FIP mengambil peran sentral dengan menghimpun aspirasi mendasar dari para kepala dinas pendidikan se-Provinsi Gorontalo dan kawasan sekitarnya. Langkah ini ditempuh guna memastikan kontribusi akademik universitas selaras dengan kebutuhan riil daerah.

Dekan FIP UNG, Prof. Dr. Arwildayanto, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa potret riil dari para pemangku kebijakan di daerah sangat dibutuhkan untuk merumuskan arah transformasi pendidikan yang komprehensif.

“Kami ingin mendengarkan langsung dari para kepala dinas mengenai realitas pendidikan yang sesungguhnya terjadi di daerah masing-masing. Hasil pemetaan ini nantinya akan kami rangkum menjadi sebuah dokumen rekomendasi kebijakan dalam bentuk policy brief,” tegas Prof. Arwildayanto.

Inisiatif yang dimotori oleh FIP ini menjadi bagian integral dari perwujudan visi makro UNG dalam mengembangkan inovasi berbasis kawasan. Langkah tersebut sekaligus menjadi refleksi dalam membawa institusi melangkah ke panggung internasionalisasi yang lebih luas.

Senada dengan hal itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi UNG, Dr. Harto S. Malik, M.Hum., menekankan bahwa pembicaraan mengenai pengembangan kawasan merupakan core bisnis akademik UNG yang berkaitan erat dengan arah masa depan universitas.

“Tema ini menjadi sangat penting karena UNG saat ini sedang bersiap menuju internasionalisasi perguruan tinggi. Untuk mencapainya, UNG harus hadir terlebih dahulu menjawab kebutuhan nyata masyarakat melalui sistem pendidikan yang kontekstual, relevan, dan berbasis pada karakter wilayah,” papar Dr. Harto.

Melalui sinergi kuat yang terbangun dalam momentum Hardiknas 2026 ini, dokumen policy brief yang dihasilkan diproyeksikan tidak hanya memajukan mutu pendidikan lokal di lingkar Teluk Tomini, melainkan juga menjadi akselerator penting bagi Universitas Negeri Gorontalo dalam memantapkan langkah menuju rekognisi global.

Continue Reading

Advertorial

Cetak Sejarah Baru: FK UNG Resmi Buka Pendaftaran PPDS Spesialis Anestesiologi 2026

Published

on

UNG – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menorehkan sejarah baru dalam pengembangan pendidikan kedokteran di wilayahnya. Fakultas Kedokteran (FK) UNG secara resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) untuk Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Tahun Akademik 2026/2027.

Penerimaan mahasiswa perdana untuk program spesialis tersebut dibuka mulai tanggal 25 Mei hingga 6 Juni 2026. Kehadiran program studi baru ini menjadi tonggak sejarah bagi UNG dalam memperkuat ekosistem pendidikan tinggi kesehatan sekaligus menjawab krisis kelangkaan tenaga dokter spesialis di kawasan timur Indonesia.

Dekan Fakultas Kedokteran UNG, Dr. dr. Cecy Rahma Karim, Sp.GK., menjelaskan bahwa pembukaan PPDS ini merupakan langkah taktis untuk memperluas akses pendidikan dokter spesialis, baik melalui jalur reguler maupun skema kerja sama kemitraan. Program ini dihadirkan guna mendukung akselerasi pembangunan kesehatan daerah serta mendorong pemerataan tenaga medis di wilayah yang masih terisolasi.

“Pembukaan PPDS ini merupakan bagian dari komitmen kokoh UNG dalam mendongkrak kualitas layanan kesehatan masyarakat melalui penyediaan sistem pendidikan dokter spesialis yang bermutu tinggi,” ujar Dr. Cecy, Senin (25/05/2026).

Ia menerangkan, seluruh proses pendaftaran dilakukan secara daring (online) melalui laman resmi https://pmb.ung.ac.id/. Para calon dokter spesialis diwajibkan untuk mengisi formulir elektronik serta mengunggah seluruh dokumen persyaratan yang telah ditentukan.

Berdasarkan jadwal resmi, tahapan verifikasi berkas administrasi akan dilangsungkan pada 25 Mei hingga 9 Juni 2026, yang kemudian diikuti dengan pengumuman hasil seleksi administrasi pada 12 Juni 2026. Calon mahasiswa yang lolos diwajibkan mengikuti tes kesehatan pada 12 hingga 20 Juni 2026, sebelum masuk ke rangkaian seleksi tahap lanjutan pada 22 hingga 26 Juni 2026.

Senada dengan itu, Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menegaskan bahwa penerimaan angkatan pertama PPDS ini merupakan jawaban nyata atas ketimpangan jumlah dokter spesialis di Provinsi Gorontalo dan kawasan lingkar Teluk Tomini.

“Penerimaan mahasiswa baru ini menjadi langkah awal yang sangat krusial bagi UNG dalam mencetak dokter spesialis yang kompeten dan siap mengabdi di garis depan masyarakat. Melalui program ini, UNG ingin mengambil peran lebih besar di kawasan timur Indonesia guna melahirkan tenaga medis yang tidak hanya unggul secara akademik, namun berdedikasi tinggi,” pungkas Prof. Eduart Wolok.

Continue Reading

Advertorial

Sasar Ekonomi Sirkulasi: SDGs Center UNG Sokong Deklarasi Pilah Sampah Dumbo Raya

Published

on

UNG – Pemerintah Kecamatan Dumbo Raya resmi mendeklarasikan Gerakan Pilah Sampah sebagai langkah strategis dalam mendorong sistem pengelolaan kebersihan yang berkelanjutan langsung dari hulu atau sumbernya, Selasa (19/05/2026). Agenda ini diwujudkan melalui penandatanganan Pernyataan Komitmen Bersama Pemilahan Sampah se-Kecamatan Dumbo Raya yang disokong penuh oleh Sustainable Development Goals (SDGs) Center Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Deklarasi tersebut menjadi momentum kolektif untuk membangun kesadaran sosiologis masyarakat agar mulai memilah sampah sejak dari lingkup rumah tangga, tempat usaha, sekolah, perkantoran, hingga fasilitas publik. Dukungan dari SDGs Center UNG diarahkan untuk memperkuat model multi-stakeholder partnership (MSP) agar pengelolaan sampah berjalan lebih terarah, partisipatif, dan berdampak jangka panjang.

Rangkaian kegiatan diawali dengan aksi kerja bakti massal yang melibatkan berbagai unsur instansi dan elemen masyarakat. Setelah itu, agenda dilanjutkan dengan penandatanganan piagam komitmen bersama sebagai simbol keseriusan seluruh pihak dalam menyukseskan program tersebut.

Camat Dumbo Raya menggerakkan lintas sektor secara masif guna memastikan program ini berjalan efektif. Aksi lapangan ini melibatkan unsur pemerintah kecamatan dan kelurahan, TNI, Polsek, Lanal Gorontalo, KSOP Kelas III Gorontalo, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Puskesmas, ASN, kepala sekolah, akademisi, mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Perkotaan (PWP) UNG, serta Advisor GIZ Provinsi Gorontalo, Boby R. Payu.

Keterlibatan lintas sektoral yang gemuk ini menjadi bukti konkret bahwa persoalan darurat sampah perkotaan tidak dapat diselesaikan secara parsial atau egosektoral. Salah satu poin krusial dalam piagam komitmen bersama tersebut berbunyi:

“Kami para pihak yang bertanda tangan di bawah ini berkomitmen untuk bersama-sama mendukung dan melaksanakan pemilahan sampah dari sumbernya demi mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan di Kecamatan Dumbo Raya.”

Tak berhenti pada aspek seremonial di atas meja, jajaran Pemerintah Kecamatan Dumbo Raya langsung tancap gas melaksanakan edukasi door-to-door menyisir rumah-rumah warga dan kawasan tempat usaha di Kelurahan Talumolo, Leato Utara, dan Leato Selatan. Dalam edukasi langsung itu, warga diajarkan tata cara pemisahan jenis sampah serta teknik pengolahan sampah organik menggunakan alat komposter.

Keterlibatan aktif mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Perkotaan UNG dalam edukasi ini menjadi pilar penting. Mereka mentransfer ilmu spasial dan tata kota mengenai pentingnya memisahkan residu organik dan anorganik. Sampah organik didorong menjadi pupuk kompos, sedangkan komoditas anorganik diarahkan ke sektor daur ulang guna memicu pertumbuhan ekonomi sirkular di tingkat tapak.

Camat Dumbo Raya menegaskan bahwa pihaknya menargetkan wilayahnya menjadi role model kawasan bebas sampah di Kota Gorontalo. Namun, ia mengingatkan bahwa target tersebut mustahil tercapai tanpa adanya revolusi perilaku dari masyarakat sendiri.

“Pemerintah Kecamatan Dumbo Raya berkomitmen penuh untuk terus mengawal pemilahan sampah ini. Masyarakat wajib peduli dan menaikkan tingkat partisipasinya, karena Dumbo Raya bebas sampah hanya bisa terwujud jika semua pihak bergerak bersama,” tegas Camat Dumbo Raya.

Senada dengan hal itu, Kepala Pusat Studi SDGs Center UNG, Dr. Raghel Yunginger, menyampaikan bahwa pengelolaan rantai sampah membutuhkan kerja kolaboratif yang konstan agar aktivitas memilah ini bertransformasi menjadi kebudayaan baru di Gorontalo.

“Pemilahan sampah dari sumbernya merupakan hulu penting untuk membangun lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Komitmen bersama ini kami harapkan menjadi fondasi kuat bagi perubahan perilaku konsumsi dan pembuangan limbah di masyarakat,” pungkas Dr. Raghel.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler