Connect with us

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

Resmi Diluncurkan, Ini Penjelasan Makna Logo dan Tema Dies Natalis UNG ke-58

Published

on

UNG – Bentuk Logo ini merupakan gabungan beberapa unsur yang diambil dari logo Universitas Negeri Gorontalo yaitu:

– Kurva segi lima sama sisi adalah ornamen khas daerah Gorontalo melambangkan lima sila dari dasar Negara Pancasila yang menjadi azas UNG, serta lima sendi peradaban Gorontalo yang disebut (Payu Limo to Talu,Lipu Pei Hulalu).

– Sayap burung Maleo melambangkan semangat juang yang tinggi serta gerakan dinamis civitas akademika dalam mengembangkan UNG. Sayap burung Maleo juga mewakili pribadi-pribadi yang unggul, memiliki daya saing dan berinovasi, yaitu inovasi pengetahuan yang berjangkar padakemanusiaan.

– Sayap disini dibuat kecil di bawah kemudian bertumbuh menjadi semakin besar ke atas, sejalan dengan tema dies natalis tahun ini yaitu pembangunan berkelanjutan yang berpedoman pada konsep tata kelola perguruan tinggi good governance in higher education dan sustainable development yang bertujuan untuk menciptakan kemajuan bersama.

Selain hal di atas, pada logo ini juga terdapat unsur tambahan yang mendukung tema yang diangkat pada Dies Natalis tahun ini yaitu lintasan dan 3 lingkaran yang saling berkesinambungan.

– Angka 5 dan 8 yang saling terhubung membentuk sebuah lintasan memilikimakna perubahan yang tidak pernah berhenti.

– 3 lingkaran yang saling berkesinambugan mewakili kerangka perubahan yaitu hubungan antara humanisme, pengetahuan dan inovasi kebijakan yang harus berjalan berdampingan. Hal ini juga mewakili 3 nilai kemanusiaan yangbersifat universal, yakni kebaikan, keteguhan budi luhur, dan pengetahuan yang mengakar untuk kemaslahatan bersama.

1. WARNA

Warna yang digunakan pada logo ini adalah Merah, Kuning, Orange, Birudan Ungu.Makna dari warna tersebut adalah:

– Merah melambangkan keberanian dan tanggung jawab

– Kuning emas melambangkan sikap setia dan kemuliaan

– Orange melambangkan kebahagiaan dan keseimbangan

– Biru melambangkan tenang, setia dan harapan

– Ungu lambang keanggunan dan wibawaSelain itu, warna yang digunakan pada logo ini adalah warna-warna gradasi yang sering digunakan di dunia teknologi sekarang, sejalan dengan Visi dan Misi yang mengedepankan digital based learning, teknologi terbarukan, inovasi, jejaring, serta sains dan teknologi menuju good university governance.

2. TIPOGRAFI

Font yang digunakan pada logo ini adalah huruf Sans Serif yang memiliki keterbacaan yang tinggi, sehingga dapat terbaca meskipun logo dalam ukuran besar ataupun kecil.

B. MAKNA TEMA

Dalam satu waktu, pada abad sebelum masehi, Aurelius, seorang filsuf  besar Yunani, pernah menyatakan sesuatu yang mencengangkan kepada seluruh masyarakat Athena. Di atas podium itu, Aurelius menyatakan dengan lantang bahwa “segala sesuatu ditakdirkan untuk berubah”. Kata-katanya bergema, bahkan merentang dan menembus batas waktu, memilin dan memintal peradaban zaman hingga saat ini. Aurelius mengunci premis dasar dari peradaban itu dengan kesimpulan utuh bahwa: “tidak ada yang berhenti di tempat”. Kita, generasi ribuan tahun setelah Aurelius alhasil merasakan itu. Kita sedang berada di tengah-tengah zaman dan kehidupan yang terus menerus “menjadi”. Dalam “kemenjadian” itu, ide-ide terus bergemuruh. Kita menjumpai berbagai perspektif dan ilmu pengetahuan. Perubahan adalah progres, dan progres merupakan inovasi, yang mau tidak mau menuntut kita untuk selalu berbenah.

Hal yang mendasari perubahan, tidak lain juga disebabkan oleh problem yang kita hadapi, juga berubah. Dahulu sekali, kita sangat mahfum bahwa informasi menjadi salah satu kendala yang menyebabkan kita gagal berkembang. Namun, saat ini, disrupsi informasi justru menjadi masalah akut dan bahkan menjadi alasan mengapa saat ini kita terfragmentasi, bahkan tidak bisa mengorganisir diri lebih baik. Hal ini menandakan sesuatu yang menakutkan, bahwa problem, pada basis ontologisnya, bisa lahir dari sesuatu yang sebenarnya kita harapkan. Kita sedang berada di tengah Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).

VUCA merepresentasikan zaman yang sedang mengalami volatilitas, ketidakpastian, klompleksitas, dan ambiguitas. VUCA meniscayakan perubahan radikal dalam sistem pengetahuan yang tidak bisa lagi dipandang terkotak-kotak, melainkan saling bergantung dengan berbagai elemen lainnya. Secepatnya, proyek pengetahuan harus direkonseptualisasi kembali untuk menyelesaikan hal-hal dasar. Sebab setiap problem, ternyata, tidak pernah berdiri sendiri.

Di sini lain, perubahan dan kegagalan ini juga disebabkan karena kita tidak bisa menentukan basis; gagal menentukan tujuan. Jika tujuan adalah telos, maka basis adalah realitas. Realitas adalah tantangan masa kini, dan telos merupakan apa yang hendak dicapai. Basis dari perubahan adalah realitas yang terus berubah, dan tujuannya, tidak lain adalah untuk kemanusiaan. Kemanusiaan adalah mata yang menembus sisi terdalam manusia. Darinya, kita belajar bahwa kondisi sosial, politik, dan ekonomi bangsa ini sedang timpang. Sayangnya, gagasan ini selalu dipandang sebelah mata. Bahkan oleh para futuristik liberal, humanisme adalah argumentasi kebajikan yang kuno dan tradisional. Namun kita tidak bisa menampik bahwa untuk mencapai telos, yakni, kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat, humanisme, yang lahir dari realitas dan ketimpangan saat ini, adalah fakta yang meskipun selalu diinterpretasikan dalam berbagai varian, namun tidak bisa dibunuh dengan alasan apa pun.

“Membangun dan berinovasi untuk kemanusiaan” merupakan bangunan falsafah pada momentum 58 Tahun Universitas Negeri Gorontalo. Perubahan dengan menjangkarkan seluruh kerja-kerjanya pada humanisme menjadi begitu jelas. Tak ada perubahan tanpa pijakan humanisme yang kukuh, bahkan atas dasar logika dan argumentasi secanggih apa pun juga. Di titik itulah, UNG tidak hanya menjadi perguruan tinggi yang meluluskan diploma, sarjana, master, dan doktor. Lebih dari itu, UNG adalah institusi pendidikan tinggi yang terus memberikan kontribusi positif bagi kemajuan peradaban dunia melalui tri dharma Perguruan Tinggi. Di level praksis, dalam upaya menciptakan mekanisme yang demikian itu, arah pembangunan dan pengembangan Universitas Negeri Gorontalo UNG bertujuan untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing di level nasional dan internasional.  Pembangunan yang dilakukan UNG berpedoman pada konsep tata kelola perguruan tinggi good governance in higher education dan sustainable development, yang bertujuan untuk menciptakan kemajuan bersama berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal, yakni kebaikan, keteguhan budi luhur, dan pengetahuan yang mengakar untuk kemaslahatan sesama. Untuk itulah, inovasi pengetahuan yang berjangkar pada kemanusiaan menjadi tulang punggung proses pembangunan dan pengembangan kampus.

Namun demikian, kita sangat menyadari bahwa fondasi tersebut, tentu saja tidak bisa dilihat secara abstrak. Benar humanisme adalah basis. Tetapi tanpa “eksekusi yang matang”, humanisme akan selamanya menjadi jargon yang  mengawang-ngawang dan sebatas teori para intelektual menara gading. Sebaliknya, humanisme harus menjadi ide penuntun untuk menciptakan ekosistem pengetahuan yang terintegrasi dalam bentuk kebijakan.

Dalam spektrum yang lebih luas, hubungan antara humanisme, pengetahuan dan kebijakan dalam kerangka peradaban yang terus ‘menjadi’ ini, bisa dilihat dalam fondasi visi Indonesia 2045. Indonesia mencanangkan visi: menjadi negeri adil-makmur dan duduk sebagai salah satu pemimpin dunia pada 2045. Namun, tiba-tiba pandemi melanda. Saat ini, kasus Covid-19 telah mencapai angka 4.04 juta dan kematian sebesar 130 ribu kasus. Implikasinya bahkan merembes ke berbagai lini kehidupan dan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang anjlok, kemiskinan, pengangguran, dan reses melesat hebat. Wabah yang berusia hampir dua tahun ini, benar-benar merobohkan fondasi dasar kita. Pada saat yang sama, ia juga membuka kenyataan, bahwa visi Indonesia 2045 ternyata begitu rapuh, sebab pengetahuan tidak benar-benar terintegrasi dalam kebijakan. Naskah-naskah akademik memang bertebaran. Namun, sebenarnya yang terlihat adalah kegagapan menyikapi pandemi, menyikapi tantangan. Pada saat yang sama, komunikasi dan data tidak transparan. Pada level praktis, eksekusi lapangan juga setengah hati, ditambah berbagai kebohongan yang kerapkali meruhtuhkan akal sehat.

Entahlah kita sedang merasa frustasi. Namun, sebenarnya, hal ini justru perlahan membunuh kita semua. Sebab kepercayaan dan nalar publik hari ini pada apa yang tengah diperjuangkan pemerintah mulai memudar.

Oleh Sebab itu, kita perlu meneguhkan kembali bahwa membangun dan berinovasi untuk kemanusiaan hanya bisa dicapai dengan mengintegrasikan pengetahuan dalam setiap kebijakan dan rencana pembangunan. Cetak biru ekosistem pengetahuan dan invoasi ini mengusung dua prinsip utama. Pertama, pentingnya memastikan bahwa inovasi harus dilakukan secara inklusif. Kita tidak bisa lagi mengunci diri dan bersikap eksklusif. Kolaborasi intersektoral harus menjadi kanal yang membentuk UNG agar dapat terkoneksi dengan berbagai pihak, baik itu antar daerah hingga pusat, demi mendorong kemaslahatan bersama melalui proyek-proyek inovasi percontohan yang dibangun berdasarkan jejaring, keilmuan lokal, nasional dan internasional. Hal ini menjadi kunci karena inovasi memerlukan keselarasan antar semua sektor, bukan hanya pemerintah. Sebab industri, pendidikan tinggi, masyarakat sipil, maupun komunitas berperan dalam inovasi pengetahuan, produk, maupun jasa; baik untuk kepentingan swasta, pemerintah, maupun masyarakat luas.

Hal yang kedua adalah memastikan bahwa kebijakan yang dirumuskan harus untuk kepentingan publik dan berbasis bukti. Cetak biru ekosistem pengetahuan dan inovasi ini menyadari bahwa hubungan antara pengetahuan dan kebiijakan publik yang baik merupakan hubungan dua arah. Ekosistem pengetahuan yang kuat akan menghasilkan bukti yang diperlukan untuk menyusun kebijakan yang baik; sebaliknya, kebijakan yang baik, juga akan memperkuat ekosistem pengetahuan. Tentu saja, kita memiliki peluang untuk mencapai tujuan ini. Lahirnya UU 11/2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sinas Iptek) tidak hanya memberikan landasan regulasi, tetapi model kelembagaan untuk tata-kelola riset dan inovasi. Masalah selama ini adalah riset dan inovasi tidak pernah menjadi prioritas. Dari hulu hingga hilir, investasi selalu menjadi prioritas karena dianggap kunci mengejar kemajuan ekonomi. Padahal, investasi semestinya digelar untuk riset dan inovasi sebagai kunci kemajuan bangsa pada masa depan.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, kenapa kita, UNG, sebagai lembaga pendidikan tinggi, wajib intens menginisiasi dan bahkan mulai menjejalkan agenda ini secara lebih mendalam? Jawabannya karena kampus, bagiamana pun juga, merupakan lembaga yang dipercayai publik dan memiliki kapasitas untuk mengontrol dan memastikan seluruh kebijakan ini berada pada koridor humanisme sebagai ujung dari pencapaian seluruh rumusan kebijakan itu. Kampus memiliki kritisisme dan independensi. Itulah sebabnya, ekosistem pengetahuan dibangun agar pengetahuan diintegrasikan secara sadar, sengaja, dan terencana (deliberate) dalam kehidupan lewat kebijakan publik. Bukan hanya soal digunakannya bukti (evidence) dalam penyusunan kebijakan, tetapi agar dampak tak-termaksud (unintended consequence) yang pasti ada dalam setiap kebijakan pembangunan, telah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Terdampaknya komunitas lokal, rusaknya lingkungan, atau tergerusnya tradisi dan budaya karena kebijakan pembangunan, misalnya, bukan hanya harus dipikirkan, tapi memang menjadi bagian integral dari pembangunan, dan direncanakan antisipasi dan mitigasinya.

Dies Natalis UNG ke 58, meskipun di tengah pandemi, tetap patut kita jadikan momentum untuk terus meneguhkan tekad dan menyatukan visi dalam upaya meningkatkan kinerja berbasis inovasi yang berkelanjutan untuk UNG dan peradaban manusia. Bekerja sepenuh hati hingga usia ke-58, tentu saja bukan waktu yang singkat. Ada banyak jalan berduri, keringat bercucur deras, momen-momen pelik, hingga banyaknya waktu yang telah dikorbankan oleh civitas akademika untuk UNG yang unggul dan berdaya saing. Untuk itulah, Dies Natalies ini adalah cara kita semua merayakan kemanusiaan dengan menyalakan api pengetahuan. Dari proses yang begitu panjang ini, kita menjadi dewasa. Darinya kita tahu bahwa UNG adalah entitas hidup dan terus menghidupi sekelilingnya. Humanisme adalah mata air, sedangkan pengetahuan adalah samudera. Keduanya saling bertumpu. Perjumpaan keduanya menjadikan UNG sebagai entitas yang “terus menjadi” dan takkan mungkin berhenti di persimpangan jalan, sebagaimana Aurelius mengunci peradaban manusia dalam satu kalimat paling ultim: segala sesuatu ditakdirkan untuk selalu berubah!.

Advertorial

Targetkan Cetak Ratusan Doktor: Rektor Eduart Wolok Pacu Dosen Muda UNG Segera Studi Lanjut

Published

on

UNG – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memacu peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) akademiknya. Komitmen tersebut diwujudkan secara konkret lewat penyelenggaraan Sosialisasi Penguatan Akses Studi Lanjut bagi Dosen Muda yang berlangsung di Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat UNG, Kamis (18/06/2026).

Agenda strategis yang diikuti oleh puluhan dosen muda dari berbagai fakultas ini dibuka langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si. Demi mematangkan kesiapan para dosen, UNG menghadirkan ekonom sekaligus akademisi terkemuka, Prof. Dr. Ir. Noer Azam Achsani, M.S., sebagai narasumber utama untuk membedah strategi taktis menembus beasiswa doktoral (S3).

Dalam arahannya, Rektor UNG Prof. Eduart Wolok menegaskan bahwa akselerasi studi lanjut bagi tenaga pendidik bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif, melainkan investasi jangka panjang universitas. Peningkatan kualifikasi doktor dinilai berbanding lurus dengan lonjakan mutu pendidikan, produktivitas riset, serta mempertajam taji kampus dalam menjawab tantangan pembangunan nasional.

“Penguatan kapasitas dosen melalui pendidikan lanjutan adalah pilar utama dalam membangun UNG yang unggul dan berdaya saing global. Dosen dengan kompetensi akademik tinggi akan menjadi motor penggerak utama dalam mendongkrak kualitas pembelajaran, kedalaman penelitian, dan hilirisasi pengabdian masyarakat,” ujar Eduart.

Melalui forum ini, para dosen muda distimulus untuk merancang peta jalan (roadmap) studi mereka secara matang. Langkah itu dimulai dari penentuan spesifikasi bidang keilmuan, penyiapan proposal riset yang linier dan relevan, hingga pembentukan jejaring akademik global demi menopang karier fungsional ke depan.

Senada dengan hal itu, Prof. Noer Azam Achsani dalam pemaparannya membagikan resep sukses menempuh studi lanjut di tengah kesibukan mengajar. Ia menggarisbawahi bahwa kesuksesan seorang akademisi tidak hanya ditunjang oleh melimpahnya peluang beasiswa, melainkan oleh faktor komitmen, konsistensi, dan ketahanan mental peneliti.

“Dosen harus memiliki visi keilmuan yang rigid dan fokus pada pengembangan kompetensi yang berkelanjutan. Mulailah membangun komunikasi yang intens dengan calon promotor, tingkatkan keterlibatan dalam forum ilmiah, dan perluas jejaring (networking) dengan institusi mitra,” papar Prof. Noer Azam.

Mantan Dekan Sekolah Bisnis IPB ini juga mengingatkan bahwa publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi merupakan indikator sahih pengakuan akademik, baik di level nasional maupun internasional. Oleh karena itu, ia mendorong dosen muda UNG untuk aktif menginisiasi kolaborasi riset lintas instansi dan menjalani setiap proses akademik dengan penuh kesabaran serta disiplin tinggi.

Continue Reading

Advertorial

Satu-satunya Utusan Kampus: Dosen FKTP UNG Dr. Arfiani Tembus Forum Akuakultur Dunia di Tiongkok

Published

on

UNG – Kiprah akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di panggung internasional kembali menorehkan prestasi gemilang. Dosen Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) UNG, Dr. Arfiani Rizki Paramata, resmi terpilih sebagai delegasi dunia dalam program prestisius 2026 Shanghai Summer School on Sustainable Aquaculture yang diselenggarakan oleh Shanghai Ocean University, Republik Rakyat Tiongkok.

Agenda yang dihelat sepanjang bulan Juni hingga awal Juli 2026 ini mengumpulkan barisan akademisi, pakar, dan peneliti muda lintas benua untuk membedah isu-isu strategis seputar akuakultur berkelanjutan. Jejaring riset ini mempertemukan perwakilan terpilih dari kawasan Asia, Eropa, Afrika, Amerika, hingga Timur Tengah.

Berdasarkan rilis resmi panitia, seleksi program ini berjalan sangat ketat karena hanya menjaring 23 peserta dari 25 negara dan institusi internasional. Di antara jajaran elite peneliti dunia tersebut, Dr. Arfiani tercatat sebagai satu-satunya perwakilan dari UNG sekaligus menjadi potret delegasi Indonesia yang sukses mengamankan kursi beasiswa penuh.

Seluruh akomodasi, biaya pendidikan (tuition fee), hingga kebutuhan logistik pembelajaran Dr. Arfiani ditanggung penuh melalui skema beasiswa eksklusif yang didanai oleh Shanghai Ocean University dan Pemerintah Kota Shanghai. Selama di Tiongkok, ia akan melakoni serangkaian agenda padat, mulai dari kuliah pakar (expert lecture), seminar internasional, diskusi ilmiah, kunjungan ke industri akuakultur modern, hingga program pengenalan budaya.

Bagi Arfiani, pencapaian luar biasa ini memiliki arti personal yang mendalam. Pasalnya, ini merupakan kali kedua bagi dirinya memenangkan beasiswa riset internasional di Negeri Tirai Bambu.

“Saya sangat bersyukur tahun ini kembali diberi kepercayaan besar untuk memperdalam riset di Tiongkok. Tahun lalu saya mengikuti program yang didanai oleh Kementerian Sains dan Teknologi Tiongkok (MOST), dan tahun ini alhamdulillah lolos melalui dukungan Pemerintah Shanghai dan Shanghai Ocean University,” ungkap Arfiani, Kamis (18/06/2026).

Ia optimistis, akumulasi pengalaman internasional ini tidak sekadar memperkaya khazanah keilmuan perikanan secara teoretis, tetapi juga membuka keran kolaborasi riset strategis yang berdampak nyata bagi optimalisasi sektor kelautan di Indonesia, khususnya di Provinsi Gorontalo.

Secara terpisah, Rektor UNG, Prof. Dr. Eduart Wolok, S.T., M.T., melayangkan dukungan penuh atas keberhasilan dosen FKTP tersebut. Menurut Eduart, pencapaian ini merupakan manifestasi konkret dari visi internasionalisasi kampus yang terus digelorakan UNG.

“Keberhasilan Dr. Arfiani menembus forum akuakultur dunia ini menjadi bukti sahih bahwa mutu akademisi UNG memiliki daya saing komparatif yang tinggi di level global. Prestasi ini sekaligus mempertegas komitmen UNG dalam memperluas jejaring kolaborasi internasional demi menghadirkan inovasi sains yang berdampak langsung bagi masyarakat luas,” pungkas Prof. Eduart Wolok.

Continue Reading

Advertorial

Kuota Terbatas Kampus Merah Maron: Pendaftaran Wisuda ke-62 UNG Hanya Sediakan 700 Kursi

Published

on

UNG – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) resmi membuka gerbang pendaftaran Wisuda ke-62 mulai Senin, 15 Juni 2026. Momentum yang dinantikan para mahasiswa tingkat akhir ini menjadi kesempatan emas bagi calon lulusan untuk menuntaskan perjalanan akademik mereka sebelum melangkah ke dunia profesional.

Meski demikian, para calon wisudawan dituntut untuk bergerak cepat. Pasalnya, pihak birokrasi kampus membatasi kuota peserta secara ketat, yakni hanya untuk 700 wisudawan. Sistem pendaftaran akan ditutup secara otomatis oleh sistem komputer begitu ambang batas kuota tersebut terpenuhi.

Melalui Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Perencanaan (BAKP), UNG mengumumkan bahwa pendaftaran wisuda ini terbuka bagi seluruh mahasiswa dari program diploma, profesi, sarjana (S1), hingga pascasarjana (S2/S3) yang telah menyelesaikan seluruh beban studi kedinasan.

Kepala BAKP UNG, Darman, S.Kom., M.Si., menegaskan bahwa validasi penyelesaian seluruh kewajiban administrasi dan nilai akademik merupakan prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

“Pendaftaran Wisuda ke-62 kami buka untuk seluruh mahasiswa tingkat akhir dari berbagai jenjang pendidikan yang telah dinyatakan lulus dan menyelesaikan seluruh proses akademik di lingkungan UNG,” ujar Darman, Kamis (18/06/2026).

Guna memangkas birokrasi dan mempermudah proses administrasi, UNG menerapkan sistem pelayanan daring satu pintu. Mahasiswa dapat mengunggah berkas secara mandiri melalui laman resmi Sistem Informasi Akademik Terintegrasi di https://siat.ung.ac.id.

Darman mengimbau para mahasiswa yang sudah mengantongi surat keputusan kelulusan atau yudisium untuk segera mendaftar tanpa menunda waktu. Keterlambatan dalam melengkapi dokumen digital pada sistem dapat langsung menggugurkan keikutsertaan mahasiswa dalam prosesi sakral tersebut.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si., menyampaikan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni pelepasan atribut mahasiswa. Agenda ini merupakan refleksi dari akuntabilitas mutu pendidikan UNG di hadapan publik. Ia berharap para calon lulusan mempersiapkan seluruh tahapan prasesi ini dengan cermat agar terhindar dari kendala teknis.

“Dengan dibukanya pendaftaran Wisuda ke-62, UNG kembali bersiap melahirkan barisan lulusan baru yang kompeten, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi pembangunan bangsa. Momen ini sekaligus menjadi bukti ketahanan mahasiswa dalam menuntaskan perjuangan akademik, sekaligus membuka lembaran baru menuju masa depan yang lebih cerah,” pungkas Prof. Hafidz.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler