GORONTALO – Meskipun telah melakukan pengabdian selama belasan tahun hingga puluhan tahun, namun masih ada saja Guru dengan berstatus honorer menerima gaji yang jauh dari kata layak. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para Guru harus memutar otak dengan mencari pekerjaan tambahan.
Guru honorer yang mengabdi di salah satu sekolah yang ada di kota Gorontalo menuturkan, pahit manis untuk menjadi pengabdi banyak dirasakannya. Mulai dari menerima upah yang dibayarkan selama empat bulan sekali, dari nominal 400 ribu hingga 800 ribu pun pernah dilaluinya.
Dirinya juga menjelaskan bahwa pada pembayaran upah Guru honorer terdapat perbedaan, jika yang berstatus tenaga honor daerah akan menerima upah agak dibawah ketimbang yang digaji dari sekolah dengan menggunakan dana BOS.
“Honor sekolah pe gaji lebih tinggi ketimbang yang honorer daerah, saya juga sudah bertanya ke teman teman yang lain, mereka bilang gaji tahun ini turun,” Katanya Saat di Konfirmasi, (24/1/2022).
Selanjutnya, dirinya menuturkan saat menerima SK, ada beberapa teman-teman Guru dengan status honorer yang mengabdi belasan tahun, gaji yang diterima berbeda dengan Guru Honorer baru. Sementara pekerjaan yang dibebankan sama dengan pegawai negeri sipil (PNS).
“Di Sekolah saya itu, ada honorer baru gajinya sudah tinggi. Sementara kami yang sudah lama malah gaji semakin turun, tambah lahi pekerjaan sama dengan ASN,” Tegasnya.
Sementara itu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Gorontalo Sulyanto Pateda, meminta kepada pemerintah daerah untuk menaruh perhatian kepada para Guru yang berstatus honorer. Karena selama ini menurut Sulyanto generasi penerus bangsa terlahir dari tangan-tangan para guru dan tak lepas dari peran Guru.
“Kami minta para guru honor ini bisa digaji secara proporsional oleh pemerintah daerah. Guru honor itu bekerja, bahkan ada cukup banyak guru honor yang beban kerjanya setara dan bahkan lebih banyak dibanding guru berstatus ASN,” Jelas Sulyanto.
Sulyanto yang juga menjabat ketua DPC Gerindra Kota Gorontalo menegaskan agar Pemda benar-benar menyeriusi hal ini, banyak Guru honorer yang tingkat pendapatan dan kesejahteraannya dibawah rata-rata.
“Jadi sudah selayaknya kesejahteraan mereka diperhatikan,” Tegas Sulyanto.
Skandal memalukan mencoreng institusi Polri. Mantan Kasat Narkoba Polres Toraja Utara, AKP Arifan Efendi, bersama Kanit Narkoba Aiptu Nasrullah, terungkap dalam sidang etik menerima setoran rutin dari bandar narkoba hingga belasan juta rupiah per minggunya.
Fakta ini terbongkar dalam persidangan Propam Polda Sulawesi Selatan. Keduanya diduga kuat menjadi beking bandar narkoba berinisial ET alias O. Mengutip CNN Indonesia, Aiptu Nasrullah mengaku telah menerima aliran dana kotor tersebut sebanyak 13 kali dengan total mencapai Rp132 juta. Artinya, sang bandar menyetor rata-rata lebih dari Rp10 juta setiap minggunya. Melengkapi data tersebut, laporan Tribun mengungkap bahwa negosiasi dan penyerahan uang ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi di Hotel Rotterdam.
Mendengar kelihaian sang bawahan (Aiptu Nasrullah) dalam mengatur pelindungan dan pembebasan bandar, Kabid Propam Polda Sulsel, Kombes Pol Zulham, murka. Ia melontarkan teguran keras kepada AKP Arifan di tengah persidangan:
“Kalau sampai Nasrul itu punya kemampuan seperti itu (melepaskan tahanan), kau bodoh sebagai perwira! Kau bodoh sebagai Kasat!”
Propam Polda Sulsel berjanji tidak akan berhenti sampai di sini dan akan membersihkan institusi dari oknum pelindung kartel narkotika. Terkait kelanjutan proses hukum kasus ini, Kombes Pol Zulham menegaskan:
“Insyaallah Minggu depan kita akan lakukan sidang dengan menghadirkan seluruh anggota,” ***
Performa gemilang di Serie A Italia musim 2025/2026 membawa bek andalan Timnas Indonesia, Jay Idzes, resmi menjadi pemain sepak bola dengan nilai pasar termahal sepanjang sejarah Indonesia sekaligus Asia Tenggara.
Berdasarkan data FootballTransfers, Estimated Transfer Value (ETV) bek US Sassuolo ini telah menembus 11,7 juta Euro atau sekitar Rp230 miliar. Angka ini melonjak tajam mengingat ia sempat berstatus bebas transfer saat meninggalkan Deventer pada 2023, sebelum akhirnya dibeli Sassuolo dari Venezia seharga 8 juta Euro pada Agustus 2025.
Terkait pencapaian rekor valuasi ini, pihak Football Transfers merilis pernyataan resmi:
“Ini menjadikan Idzes sebagai pemain paling berharga dalam sejarah Indonesia. Rekor sebelumnya dipegang oleh Mees Hilgers, yang bernilai 11,6 juta euro pada puncak kariernya.”
Pada pembaruan akhir 2025, nilai pasar murni bek berusia 25 tahun itu menyentuh 10 juta Euro (Rp197 miliar), menjadikannya pemain paling berharga kelima di skuad Sassuolo.
Meroketnya harga sang kapten Garuda sangat beralasan. Ia menjadi pilar penting yang membawa tim asuhan Fabio Grosso bertengger di posisi sembilan klasemen Serie A dengan 38 poin. Idzes tampil solid di balik kemenangan krusial Sassuolo saat menaklukkan Udinese (2-1), Hellas Verona (3-0), hingga Atalanta (2-1).
Kini, ketangguhan Jay Idzes di lini belakang dikabarkan memikat minat raksasa Italia seperti AC Milan, Juventus, dan Inter Milan. Sadar akan potensi asetnya, manajemen Sassuolo dilaporkan siap mematok banderol fantastis hingga 40 juta Euro atau sekitar Rp787 miliar bagi klub yang ingin menebusnya.
Konflik di Timur Tengah kian memanas. Amerika Serikat menelan kerugian besar setelah sistem radar pemandu rudal canggihnya yang bernilai 300 juta dolar AS (sekitar 4,7 triliun rupiah) hancur lebur akibat serangan Iran.
Berdasarkan laporan NDTV yang turut dikonfirmasi oleh pantauan citra satelit Bloomberg dan CNN, Iran sukses menghancurkan radar AN/TPY-2 di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania. Radar buatan RTX Corp ini adalah “mata” penentu bagi sistem pertahanan rudal canggih THAAD milik AS. Tanpa fungsinya, beban pencegatan rudal balistik kini jatuh sepenuhnya pada sistem Patriot, yang stok rudalnya dilaporkan makin menipis.
Menurut catatan Foundation for Defense of Democracies (FDD), serangan ke pangkalan tersebut terjadi secara beruntun. Menanggapi insiden ini, Ryan Brobst, pakar militer dari FDD menyatakan: “Jika berhasil, serangan Iran terhadap radar THAAD akan menandai salah satu serangan Iran yang paling sukses sejauh ini.” Meski begitu, ia menegaskan bahwa pertahanan AS belum sepenuhnya lumpuh, “Militer AS dan para mitranya memiliki radar lain yang dapat terus memberikan cakupan pertahanan udara dan rudal, mengurangi dampak hilangnya satu radar.”
Kerugian ini memukul telak Pentagon. Data Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan AS hanya mengoperasikan delapan unit THAAD di seluruh dunia. Pakar pertahanan rudal CSIS, Tom Karako, menyoroti betapa fatalnya kerusakan ini: “Ini adalah sumber daya strategis yang langka dan kehilangannya merupakan pukulan besar.” Karako juga menjelaskan tidak adanya armada pengganti, “Kekuatan delapan baterai masih di bawah persyaratan struktur kekuatan sebanyak sembilan yang ditetapkan pada tahun 2012, jadi tidak ada cadangan TPY-2 yang menganggur.”
Serangan di Yordania ini bukan satu-satunya kerugian AS. Laporan berbagai media internasional mencatat radar peringatan dini AS di Qatar juga sempat rusak oleh serangan Iran. Situasi krisis ini memaksa Gedung Putih segera memanggil para kontraktor pertahanan utama untuk mempercepat produksi rudal dan peralatan tempur pengganti.