Connect with us

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

Presiden BEM UNG Soroti Pembagian Bantuan di Dua Desa ini.

Published

on

UNG-Presiden BEM Universitas Negeri Gorontalo Aldy Ibura, menyoroti proses pembagian bantuan sosial untuk warga di dua desa di Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo.

Menurut Aldy, terdapat indikasi kerancuan dari proses pembagian bantuan untuk warga miskin terdampak covid-19 di desa Desa Bendungan dan Desa Buti. Hal ini ia ketahui dari pengakuan warga setempat yang mengeluh karena pembagian bantuan dari pemerintah tidak merata alias belum menyentuh semua warga yang berhak menerima.

Aldy berpandangan kerancuan itu kemungkinan besar dipengaruhi minimnya sosialisasi kepada masyarakat serta terbatasnya jaringan komunikasi di wilayah itu.

“Pasalnya pada kondisi ini membuat beberapa warga yang tidak terjangkau oleh jaringan internet dan kurang mendapatkan informasi, dan mereka juga tidak mengetahui kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah itu sendiri” ujar Aldy Ibura, Kamis (28/5).

Aldy mengatakan hal ini harus segera disikapi secara serius oleh pemerintah desa. Pasalnya, proses pembagian yang tidak merata akan menimbulkan kecemburuan sosial di antara masyarakat.

“Terkonfirmasi masyarakat desa bendungan atas nama Ramdin Pomontolo belum mendapatkan bantuan baik itu BLT, PKH, BANSOS, dll. Setelah dikonfirmasi pada kepala desa, yang bersangkutan langsung diberikan bantuan jenis BLPD pada Rabu 27 Mei 2020 kemarin, serta dua nama lainya Risman Mohamad dan Ramin Kodiu masih dalam tahap pengecekan,” jelas Aldy.

Kedepan, Aldy meminta pemerintah desa lebih intens melakukan pemahaman kepada masyarakat dalam mengklasifikasi pemberian bantuan, sehingga masyarakat yang dinyatakab tak berhak tidak menaruh harapan.

Advertorial

Gebrakan Kampus Merah Maron: Rektor Eduart Tantang Mahasiswa UNG Lulus Lewat Jalur Prestasi

Published

on

UNG – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi di ekosistem pendidikan tinggi. Salah satu terobosan progresif yang kini tengah digencarkan adalah membuka peluang bagi mahasiswa untuk lulus tanpa harus menyusun skripsi. Syaratnya, mahasiswa wajib menghasilkan karya fenomenal atau menorehkan prestasi gemilang yang dinilai ekuivalen (setara) dengan bobot tugas akhir.

Kebijakan strategis ini merupakan bagian dari upaya Kampus Merah Maron beradaptasi dengan dinamika perubahan zaman. Sekaligus, langkah ini dirancang untuk mencetak lulusan yang tidak sekadar mumpuni secara teoretis akademik, tetapi juga memiliki rekam jejak kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menegaskan bahwa pihak kampus memberikan ruang kebebasan seluas-luasnya bagi para mahasiswa untuk mengeksplorasi potensi diri melalui karya-karya yang inovatif. Menurutnya, capaian prestasi tingkat tinggi maupun karya aplikatif yang berdampak langsung bagi lingkungan dapat diakui sebagai substitusi atau alternatif dari skripsi konvensional.

“Mahasiswa didorong untuk tidak hanya terpaku pada pola pikir penyelesaian skripsi semata, tetapi juga tertantang menghasilkan karya fenomenal yang bisa memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ungkap Prof. Eduart saat memberikan amanat pada prosesi Sidang Terbuka Senat Wisuda ke-60, beberapa waktu lalu.

Melalui payung kebijakan ini, UNG menaruh harapan besar agar semakin banyak mahasiswa yang terpacu untuk berinovasi, melahirkan karya kreatif, hingga merebut prestasi membanggakan di berbagai ajang kompetisi, baik pada level nasional maupun internasional.

Prof. Eduart menyebutkan bahwa kebijakan ini bukanlah sekadar wacana. Hal tersebut telah sukses dibuktikan oleh salah satu lulusan dari Fakultas Kedokteran UNG, Taufiqullah Dzaki Baruwadi, S.Ked.

“Lulus tanpa skripsi ini sudah dibuktikan oleh Taufiqullah Dzaki Baruwadi yang baru saja dikukuhkan pada Wisuda ke-60. Ia berhasil lulus tanpa jalur skripsi karena memiliki portofolio karya dan prestasi yang telah diakui setara dengan tugas akhir. Kami berharap, langkah brilian ini dapat diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya,” terang Rektor UNG dua periode tersebut.

Gebrakan ini sekaligus mengirimkan sinyal kuat terkait perubahan paradigma pendidikan tinggi di Gorontalo—beralih dari sekadar ritual penyelesaian tugas administratif menuju penciptaan karya yang aplikatif dan berdampak luas. Dengan bekal tersebut, para lulusan UNG kelak tidak hanya mengantongi secarik ijazah dan gelar sarjana, melainkan juga membawa rekam jejak pengabdian dan inovasi yang siap diuji di dunia profesional.

Continue Reading

Advertorial

Tancap Gas! UNG Targetkan 55 Persen Program Studi Terakreditasi “Unggul” di Tahun 2026

Published

on

UNG – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menargetkan lompatan besar dalam upaya peningkatan mutu pendidikannya. Kampus kebanggaan masyarakat Gorontalo ini mematok target ambisius, yakni membidik 55 persen dari total program studi (prodi) meraih predikat akreditasi “Unggul” pada tahun 2026.

Komitmen tersebut dipastikan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan wujud nyata keseriusan institusi dalam memberikan layanan pendidikan tinggi kelas wahid bagi masyarakat. Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., memaparkan bahwa langkah untuk mendongkrak kualitas akademik ini telah menunjukkan hasil yang sangat signifikan dalam kurun waktu enam tahun terakhir.

Berkat kerja keras dan sinergi dari seluruh elemen sivitas akademika, Kampus Merah Maron sukses melipatgandakan persentase prodi terakreditasi Unggul, dari yang semula hanya 11 persen, kini telah menembus angka 30 persen.

“Daya upaya seluruh sivitas akademika UNG dalam meningkatkan kualitas yang diwujudkan melalui akreditasi itu tidak main-main. Kita sudah berhasil melipatgandakan capaian, namun kita tidak akan berhenti sampai di sini,” tegas Prof. Eduart saat memberikan sambutan pada Sidang Terbuka Senat Wisuda ke-60 di Auditorium UNG, Selasa (14/4/2026).

Memasuki tahun 2026, UNG langsung mengambil langkah akselerasi dengan mematok target 55 persen prodi terakreditasi Unggul. Rektor menekankan bahwa misi besar tersebut tidak dirancang semata-mata demi mengejar reputasi institusi, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan pertanggungjawaban akademik kepada publik.

“Target besar tersebut bukan untuk kepentingan UNG semata. Namun, ini adalah upaya nyata kami dalam memberikan layanan akademik terbaik yang memenuhi standar kualitas nasional. Kami ingin memberikan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi yang lebih luas untuk seluruh masyarakat pada program studi yang kualitasnya diakui secara nasional,” terangnya.

Mewujudkan target kenaikan akreditasi hingga 25 persen dalam waktu yang relatif singkat tentu membutuhkan komitmen yang kokoh. Oleh karena itu, Rektor berharap agar seluruh elemen sivitas akademika—mulai dari jajaran dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa—serta dukungan penuh dari masyarakat Gorontalo dapat terus bersinergi, sehingga visi besar tersebut dapat direalisasikan secara maksimal oleh UNG.

Continue Reading

Advertorial

Kabar Gembira Mahasiswa: Publikasi Jurnal SINTA Kini Bisa Direkognisi Gantikan Skripsi!

Published

on

UNG – Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo (FIP UNG) mengambil langkah taktis untuk memperkuat iklim akademik mahasiswanya. Pada Selasa (14/4/2026), FIP UNG secara resmi membuka program pelatihan bertajuk Sinta Ready Class Batch #1: Scientific Writing for SINTA Journal Tahun 2026.

Acara pembukaan yang berlangsung di Aula FIP UNG tersebut dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan fakultas, para ketua jurusan, hingga pimpinan program studi di lingkungan FIP.

Program ini merupakan inisiatif strategis fakultas dalam meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa, khususnya dalam teknik penulisan karya ilmiah yang berorientasi pada publikasi di jurnal terindeks SINTA. Peserta pelatihan dikhususkan bagi mahasiswa aktif semester 8 yang telah lulus tahap seminar proposal dan memiliki data penelitian konkret, serta telah memenuhi sejumlah persyaratan administratif maupun akademik.

Dekan FIP UNG, Prof. Dr. Arwildayanto, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa program pendampingan ini adalah wujud langkah nyata fakultas untuk membangun rekam jejak akademik mahasiswa sejak dini. Menurutnya, di era kompetisi saat ini, lulusan perguruan tinggi tidak cukup jika hanya mengandalkan nilai akademik di atas kertas, tetapi juga harus membuktikan diri melalui nilai tambah berupa karya publikasi ilmiah.

“Melalui program ini, mahasiswa didorong untuk memiliki diferensiasi dan nilai jual lebih dibandingkan lulusan lainnya. Salah satunya melalui rekam jejak publikasi di jurnal SINTA. Bahkan, capaian publikasi pada tingkat tertentu dapat direkognisi sebagai pengganti tugas akhir atau skripsi dengan bobot SKS yang setara,” tegas Prof. Arwildayanto.

Lebih jauh, Prof. Arwildayanto menekankan pentingnya kepemilikan identitas akademik bagi kaum intelektual muda, seperti skor SINTA dan ID Scopus. Hal tersebut dinilai sebagai bekal kesiapan mahasiswa untuk memasuki dunia akademik maupun profesional, sekaligus menjadi salah satu indikator penting dalam proses seleksi calon dosen di masa mendatang.

Untuk memastikan target tercapai, peserta diwajibkan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara penuh selama lima hari. Mahasiswa diminta untuk membawa gawai kerja (laptop) dan menyiapkan draf artikel atau naskah skripsi yang siap diolah. Mereka juga diikat dengan komitmen untuk melakukan submit (pengiriman) artikel segera setelah masa pendampingan berakhir.

Adapun rangkaian kegiatan intensif ini berlangsung dari tanggal 14 hingga 20 April 2026. Tahapannya mencakup agenda pembukaan dan materi pelatihan (14 April), writing workshop (15 April), pendampingan intensif bersama pembimbing (16–17 April), reviu artikel (18–19 April), hingga bermuara pada tahap finalisasi dan penutupan (20 April).

Hadirnya program Sinta Ready Class ini diharapkan tidak sekadar memoles kualitas karya ilmiah mahasiswa, tetapi juga menjadi pijakan awal dalam membudayakan literasi dan riset akademik yang kuat di lingkungan FIP UNG. Dengan bekal tersebut, lulusan FIP UNG diproyeksikan mampu bersaing secara global dan memiliki keunggulan kompetitif di bidang pendidikan maupun penelitian ilmiah.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler