UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
Provinsi Gorontalo Yang Mencemaskan
Published
3 years agoon
Oleh : Funco Tanipu (Founder The Gorontalo Institute)
“Di sini kami berdiri di ambang subuh jaman baru, jaman yang akan membawakan terang ke seluruh tanah air. Dan sekali jaman itu terbit, akan lebih banyak dituntut perjuangan, penderitaan, berperang dan memenangkannya”
——- Kartini, Een Gouverneur-Generaalsdag
Surat Kartini begitu tepat. Ia telah mengerjakan sesuatu yang begitu berharga bagi bangsa ini. Ia menubuahkan adanya kebebasan, sebuah yang lapang. Kartini adalah seonggok sejarah yang menjadi inspirasi kita untuk merdeka, tepatnya bebas.
Kronik Provinsi
Tepat 5 Desember 2000, inspirasi dari ambang subuh jaman baru Kartini telah berbuah hasil. Provinsi ini genap berusia 21 tahun. Banyak hal yang telah terjadi, banyak hal yang telah dilakukan. Di samping itu, banyak pula kenangan dan kepahitan yang telah kita lalui bersama. Kita, dan sebagian besar rakyat Gorontalo telah berada dalam strip kebebasan yang telah lama kita nantikan. Kebebasan yang juga kemerdekaan, adalah tanah air dan laut semua suara, kata Toto Sudarto Bachtiar.
Kita, di 23 tahun yang lalu pernah bersama melahirkan ‘ambang subuh jaman baru’. Di tengah kepedihan himpitan kolonial baik koloni sesama maupun koloni asing. Kita, melewati “ambang subuh jaman baru” ini dengan penuh lebam. Semenjak era Matoduladaa, Eyato, Botutihe, hingga Nani Wartabone, telah banyak pejuang tanah ini dipenjarakan, hilang tak tentu rimbanya, atau diterjang peluru tajam karena berpikir merdeka, mereka saling genggam tangan, coba satukan suara dan pikiran, lalu melangkah maju. Mereka berjuang hingga berkalang tanah. Ketika Orde Lama yang durjana kita lewati, kita mempererat genggaman jari. Pun dimana kita mesti melewati Orde Baru yang penuh dusta, kita dengan keyakinan menjanjikan bahwa ‘tirani harus tumbang!’.
Telah 23 tahun yang lalu sejak kemerdekaan “administratif” ini dipekikkan, sejak banyak ibu relakan uang beli susu anaknya untuk membayar ongkos pembentukan Provinsi, sejak derap kaum muda (Presnas, KP3G, HPMIG, HMI, PMII, IMM, GMNI dan berbagai organisasi kaum muda dan masyarakat) menggetarkan jalan-jalan utama dengan ‘bergerak dan bersatu, mendirikan Gorontalo baru’.
Dan di 23 tahun yang silam, kita pernah buka paksa gembok jeruji pagar RRI untuk menyiarkan kemerdekaan ini. Kita kuasai ruang-ruang terbuka dan penuhi mereka dengan impian dan harapan kita tentang Provinsi Gorontalo. Kita berkejaran dengan aparat. Kita ditelikung politisi oportunis (yang ingin menggagalkan Provinsi) dan jengkal demi jengkal mereka terdesak ke pinggir.
Di lubuk hati terdalam kita percaya bahwa Tuhan berpihak pada kemanusiaan dan demokrasi. Dan, seketika itulah Gorontalo secara administratif mampu menjejakkan identitas di negeri yang bernama Indonesia. Kita membukukan sejarah pemekaran tanpa tumpahan darah. Kita melalui itu dengan sungguh hati dan tekad yang kuat.
Mencemaskan Gorontalo
Tentu, saya tidak sedang mengajak Anda sekadar bernostalgia. Kronik yang baru saya sampaikan mengandung pertanyaan tak terhingga. Kita baru sadar bahwa saat ini kita sedang ditelikung oleh kekuatan-kekuatan yang memanfaatkan sepenuhnya ruang-ruang yang sudah kita buka dengan susah payah, kekuatan-kekuatan yang selalu berniat memenjarakan pikiran dan tubuh kita.
Bagi kita sekalian, proses selama 23 tahun tak bisa dilewatkan begitu saja. Ada banyak peristiwa, ada kisah, ada memori, ada darah dan juga air mata. 23 tahun bukan usia yang singkat. Ada 4 kali Pemilu, ada 4 kali pilgub, ada belasan kali pilkada di tingkat kabupaten/kota. Ada beberapa Gubernur dan Wakil Gubernur, ada beberapa Bupati dan Wakil Bupati serta puluhan hingga ratusan anggota legislatif yang dilahirkan dalam kurun waktu 23 tahun ini. Ada puluhan Profesor dan ratusan Doktor serta ribuan Master dan puluhan ribu Sarjana yang lahir setelah 23 tahun berjalan.
Dalam kurun waktu itu, ada puluhan triliun yang mengalir dan membasahi tanah ini. Tanah ini dikunjungi berkali kali oleh Presiden dan Wakil Presiden Indonesia dan ratusan kali kunjungan Mentri. Pun ada ribuan studi banding Pemerintah Daerah ke jazirah ini. Hingga puluhan dan bahkan ratusan ribu manusia datang ke Gorontalo baik sebagai wisatawan maupun urusan lainnya. Selama ini pula, Gorontalo telah memproduksi jutaan ton beras dan jagung serta hasil bumi lainnya. Gorontalo juga telah memproduksi banyak hasil ternak, juga jutaan ton hasil laut.
Pada 23 tahun yang berjalan ini , bermilyar milyar paket data internet dan pulsa yang telah dihabiskan, jutaan daya lisrik yang telah terpakai, hingga milyaran meter kubir air yang telah habis untuk segala keperluan. Di sisi lain, ada ratusan ribu hektar hutan telah dikonversi menjadi areal perkebunan sawit, tambang dan tanaman industri lainnya.
Pada saat yang sama, selama kurun waktu ini, ribuan anak berada dalam kondisi gizi buruk, puluhan ribu anak yang putus sekolah, ratusan ribu anak yang tidak menikmati pendidikan yang berkualitas. Dalam pada itu, ribuan remaja mengkonsumsi narkoba, ribuan remaja melakukan seks bebas, puluhan hingga ratusan ribu lainnya dengan gaya hidup yang mengkhawatirkan.
Lebih miris lagi jika kita membaca data mengenai puluhan milyar kerugian keuangan negara yang hangus dibakar nafsu, hingga ribuan orang terlibat kasus korupsi. Selama ini pula, ratusan orang kehilangan nyawa, ribuan lainnya harus masuk tahanan karena kasus kriminal. Serta puluhan ribu liter minuman keras yang telah membasahi tenggorokan manusia Gorontalo. Hingga pada titik 23 tahun berjalan, jumlah jamaah masjid berkurang drastis, jumlah yang menghadiri majelis taklim pun makin turun. Perayaan Dikili dan Meeraji pun hanya dihadiri kalangan uzur.
Setelah 23 tahun, sepertinya banyak kisah dan peristiwa yang telah kita lalui. Banyak lorong kehidupan yang kita lewati, baik gelap maupun terang. Semua bercampur keharuan dalam menjalani 23 tahun Provinsi Gorontalo. Setelah 23 tahun ini, banyak hal yang bisa kita banggakan, tapi hampir setara dengan apa yang membuat kesal.
Tentu, saya tidak sedang mengajak anda sekadar bernostalgia. Kronik yang baru saya sampaikan mengandung kenyataan dan pertanyaan tak terhingga. Kita baru sadar bahwa saat ini kita sedang ditelikung oleh kekuatan-kekuatan yang memanfaatkan sepenuhnya ruang-ruang yang sudah kita buka dengan susah payah, kekuatan-kekuatan yang selalu berniat memenjarakan pikiran dan tubuh kita.
Saya mengajukan kenyataan ini karena saya melihat bahwa gagasan-gagasan yang kita tawarkan dalam proyek masa depan Gorontalo berbenturan dengan sikap curang sebagian orang yang hendak memperdagangkan apa yang kita cita-citakan dulu. Mereka menelikung kita di tikungan administrasi, prosedur demokrasi. Mereka membabat harapan kita dengan kekuatan modal yang bergelimang. Kita, secara tidak langsung telah membiarkan mereka mengoyak-ngoyak kain renda masa depan tanah ini. Sekelompok manusia bengis memanfaatkan kesusahan kita membuka jeruji kebebasan ini.
Saya mengajukan ini di tengah kecemasan yang melanda. Masa depan Provinsi ini cukup mencemaskan. Bukankah hanya dengan mencemaskan kita bisa melakukan refleksi akan kekurangan, keteledoran dan kebingungan kita selama 23 tahun ini? Saya cukup cemas dengan Provinsi ini. Di 23 tahun yang telah lalu, Gubernur dan Bupati di negeri ini tak pernah dipilih langsung. Kini, kita bisa memilih mereka secara terbuka. Kini pula kita hanya bisa cemas mobilisasi kapital telah merusak akar nurani politik lokal. Uang telah menjadi alat jual beli dalam praktik demokrasi.
Kita juga mahfum bahwa Provinsi tidak menjanjikan adanya kesempurnaan. Provinsi tentu bukan untuk menyempurnakan segala sesuatu. Provinsi adalah keinginan untuk memperbaiki diri selalu. Provinsi dimulai dari kekurangan. Kita akui bahwa 23 tahun ini belumlah ada yang sempurna. Provinsi ini kita lahirkan untuk membuka jalan ke arah perbaikan yang damai dan teratur. Dan sesungguhnya bukan untuk melahirkan kesempurnaan. Dan saya kira itu yang sedang terjadi sekarang.
Namun, angin kecemasan mesti ditiupkan. Mesti ada semangat kecemasan. Tetap perlu ada orang yang mengeluh. Keadaan tidak akan sempurna, memang. Seperti sekarang, Pemerintah Daerah abai dengan kekurangan yang selama ini terjadi. Mereka salah karena tidak antisipasi. Tapi menyalahkannya pada Pemerintah Daerah sepenuhnya? Tidak bisa. Dengan kata lain, Gorontalo yang sekarang masuk dalam satu arena yang berbeda, tidak bisa dibandingkan dengan daerah yang telah berdiri lebih dulu. Tapi tak berarti kita tidak salah.
Kita menikmati angin segar desentralisasi, yang juga merupakan revolusi diam-diam dari Indonesia. Provinsi ini berubah, tapi orang tidak sadar kalau itu perubahan besar. Kalau dibilang 23 tahun itu tidak menghasilkan, itu tidak benar. “jangan kutuk kegelapan, nyalakan lilin”. Tetapi, harapan kita jangan pula seperti lilin, awalnya terang, ujungnya padam dan meleleh. Memang, dunia tak akan berubah drastis. Tapi, dunia kan memang tidak pernah berubah drastis.
Saya ingin menegaskan bahwa ancaman yang kita hadapi saat ini bukanlah Gorontalo yang baik atau buruk. Kita seharusnya tidak terjebak dalam perang wacana itu, karena sekali lagi Provinsi yang kita perjuangkan adalah proses menuju yang lebih baik. Yang kita hadapi adalah pertarungan politik dan kultural. Kita sedang berebut ruang dan pengaruh untuk menentukan rambu-rambu kekuasaan politik dan merumuskan ke-Gorontalo-an.
Dalam arena pertarungan ini kita perlu membangun gerakan kebudayaan yang memungkinkan tumbuhnya imajinasi tentang dunia baru yang kita dambakan dengan cita-cita politik yang jelas. Kita tidak bisa bertahan dengan posisi-posisi anti a atau b sebagai reaksi terhadap provokasi ‘pihak sana’. Kita tidak boleh membiarkan gerak kita ditentukan oleh manuver-manuver yang mereka rancang untuk mengacak-acak kesatuan dan keteraturan derap kita. Kita harus tegaskan posisi kita terhadap hal-hal fundamental yang menjadi landasan dan kerangka tegaknya Provinsi ini.
Sekali lagi, kita bukan makhluk lemah yang tak berakal-budi. Kita bukan obyek penerima amplop sedekah dan tindakan karitatif lainnya untuk dukungan politik sempit. Kita mesti tolak mereka mulai menghancurkan urat nadi demokrasi yang telah kita buka paksa di sepuluh tahun silam.
Sepanjang sejarah peradaban manusia Gorontalo, kita selalu punya cara untuk bertahan, melawan dan mencari celah-celah pembebasan. Kalau tidak, kita sudah punah sebagai spesies. Minimal, perlawanan yang terbaik adalah melawan lupa. Bahwa kita tidak melupakan Provinsi ini didirikan diatas nurani dan setumpuk keyakinan pada tegaknya kemanusiaan Gorontalo.
You may like
-
Sejarah Baru! RS Aloei Saboe Sukses Gelar Operasi Jantung Terbuka Pertama di Gorontalo
-
Momentum Bersejarah! DPRD Provinsi Gorontalo Peringati HUT ke-25 dengan Capaian Mengesankan
-
Langkah Serius! KPK dan DPRD Provinsi Gorontalo Soroti Dugaan Ketidakadilan di Perkebunan Sawit
-
Tutup Peran Saka Nasional Pakai Batik, Adhan: Gubernur Bikin Malu Daerah
-
DPRD-Gubernur Gorontalo Teken Nota KUA-PPAS, Siap Ajukan RAPBD Lebih Awal
-
SIAPA YANG BERPELUANG MEMENANGKAN PSU GORUT?
Gorontalo
Gandeng Taufan Ntobuo Sebagai Sekretaris: Langkah Taktis Dr Cecy Karim Kebut Program Kerja IKA UNDIP
Published
1 week agoon
25/06/2026
Gorontalo – Barisan intelektual alumni Universitas Diponegoro di Provinsi Gorontalo resmi memiliki nakhoda baru. Pengurus Daerah Ikatan Alumni (IKA) UNDIP Provinsi Gorontalo resmi dilantik dalam sebuah prosesi khidmat yang berlangsung pada Minggu (21/06/2026).
Dalam pengukuhan struktur kepengurusan periode baru tersebut, dr. Cecy Rahma Karim, Sp.GK resmi dilantik sebagai Ketua IKA UNDIP Gorontalo. Ia akan mengomandoi organisasi ini bersama Taufan Ntobuo, S.Pi., M.Si. yang dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris.
Prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) IKA UNDIP Abdul Kadir Karding. Agenda strategis tersebut turut dihadiri oleh puluhan alumni lintas angkatan, sejumlah tokoh sosiopolitik lokal, serta jajaran tamu undangan regional.
Dalam pidato arahannya, Abdul Kadir Karding melayangkan ucapan selamat sekaligus menaruh ekspektasi tinggi terhadap gerbong kepengurusan baru ini. Ia menegaskan bahwa status sebagai alumni kampus legendaris asal Semarang tersebut memikul tanggung jawab sosial yang tidak boleh terputus meski masa studi telah usai.
“Kami berharap, walaupun sudah tidak lagi berkuliah di kampus UNDIP, marwah akademik dan semangat mengabdi tetap dijaga. Para alumni harus terus memberikan kemanfaatan nyata serta sumbangsih pemikiran yang konstruktif bagi kemaslahatan masyarakat luas,” ujar Abdul Kadir Karding.
Mantan legislator nasional yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Karantina Indonesia tersebut menguraikan, jajaran alumni memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk mengawal integrasi sosial, menjaga persatuan bangsa, serta menyokong keberlanjutan agenda pembangunan nasional.
“Kita semua adalah anak kandung bangsa. Menjadi tugas kolektif kita bersama untuk menjaga kedaulatan negara ini agar tetap utuh, memastikan akselerasi pembangunan terus berlanjut, dan menjamin hasil-hasil pembangunan tersebut dapat didistribusikan secara berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat,” katanya tegas.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberadaan struktur regional IKA UNDIP di berbagai wilayah wajib memposisikan diri sebagai mitra strategis (strategic partner) bagi pemerintah daerah guna merumuskan solusi atas berbagai problem publik.
“Saya instruksikan agar IKA UNDIP Gorontalo secara proaktif mengambil peran sebagai mitra solutif bagi pemerintah dalam mendorong akselerasi pembangunan nasional maupun daerah,” tambahnya.
Momentum pelantikan kepengurusan baru ini diproyeksikan menjadi katalisator penting untuk merekatkan kembali jejaring komunikasi antaralumni di bumi Serambi Madinah. Sinergitas internal ini akan dikonsentrasikan pada penguatan multi-sektor, mulai dari intervensi kualitas pendidikan, peningkatan derajat kesehatan masyarakat, penguatan ekonomi kreatif, hingga pemantapan program pemberdayaan warga.
Di bawah komando Dr. dr. Cecy Rahma Karim, Sp.GK bersama Sekretaris Taufan Ntobuo, S.Pi., M.Si., IKA UNDIP Gorontalo diharapkan tampil lebih progresif dalam meluncurkan program kerja taktis yang memberikan dampak instan bagi daerah. Wadah kolaborasi ini disiapkan untuk menyalurkan keahlian, pengalaman, dan pemikiran para alumni di berbagai sektor demi menyokong percepatan pembangunan dan eskalasi kesejahteraan masyarakat Gorontalo.
Advertorial
Tindak Lanjuti Rekomendasi Dewas: UNG Kebut Pemutakhiran Akun Belanja BLU 2026
Published
1 week agoon
24/06/2026
UNG – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memantapkan komitmennya dalam merestrukturisasi sistem keuangan lembaga demi mewujudkan iklim transparansi dan akuntabilitas yang tinggi. Langkah strategis ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Sosialisasi Pemutakhiran Kodefikasi Segmen Akun Belanja dan Standar Operasional Prosedur (SOP) Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) Tahun Anggaran 2026 di Gedung The Gade Creative Lounge, Rabu (24/06/2026).
Agenda penyamaan persepsi ini dikonsentrasikan penuh bagi jajaran tim kerja bidang keuangan, para bendahara pengeluaran maupun penerimaan, serta tim perumus Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) dari seluruh unit kerja di lingkungan kampus Merah Maron. Akselerasi pemahaman ini dinilai krusial guna menjamin proses tata kelola keuangan universitas berjalan lebih tertib, efektif, dan patuh terhadap regulasi terkini.
Ketua Tim Kerja Keuangan UNG Mukmin Dunggio, S.T., M.T. menjelaskan bahwa implementasi sosialisasi ini merupakan langkah konkret intervensi regulasi guna menindaklanjuti rekomendasi dari Dewan Pengawas (Dewas) BLU yang disampaikan dalam kunjungan kerja beberapa waktu lalu.
Menurut Mukmin, pembaruan ini bertransformasi menjadi bagian dari mitigasi risiko fiskal sekaligus penguatan sistem pengendalian internal (SPI) kampus demi menyokong ambisi UNG sebagai perguruan tinggi unggul dan berdaya saing global.
“Pemutakhiran kodefikasi segmen akun belanja serta penguatan anatomi SOP keuangan merupakan kebutuhan mendesak. Hal ini guna memastikan seluruh lalu lintas penyerapan anggaran berjalan lebih terstruktur, presisi, akurat, dan memiliki landasan hukum yang kuat,” urai Mukmin Dunggio.
Di tempat yang sama, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Perencanaan (BAKP) UNG Darman, S.Kom., M.Ap. menegaskan bahwa perubahan nomenklatur akun menuntut keseragaman pemahaman di antara para pengelola anggaran. Baginya, akurasi persepsi menjadi kunci utama agar pos pencatatan, pelaporan performa keuangan, hingga eksekusi program di lapangan tidak menyimpang dari standar akuntansi pemerintahan yang berlaku.
“Arsitektur pengelolaan keuangan yang sehat wajib ditopang oleh pemahaman regulasi yang linier di setiap unit kerja. Sinergitas inilah yang akan mengunci ketercapaian nilai transparansi, akuntabilitas, serta efisiensi penggunaan ruang fiskal kampus secara optimal,” jabar Darman.
Melalui internalisasi sistem baru ini, rektorat mengharapkan seluruh pilar pengelola keuangan di tingkat fakultas hingga lembaga dapat segera beradaptasi dengan pembaruan sistem elektronik yang diterapkan. Langkah pembenahan tata laksana ini diproyeksikan mampu mengantarkan tata kelola keuangan BLU UNG menuju ekosistem yang lebih profesional, modern, serta berorientasi penuh pada eskalasi mutu pelayanan institusi.
Advertorial
Cetak Sejarah Baru di FIP: Prodi Psikologi UNG Sukses Meluluskan Tiga Sarjana Perdana
Published
1 week agoon
24/06/2026
UNG – Program Studi (Prodi) Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) resmi menorehkan tonggak sejarah baru. Untuk pertama kalinya sejak didirikan, program studi tersebut sukses menggelar sidang skripsi dan yudisium perdana guna melahirkan lulusan bergelar Sarjana Psikologi (S.Psi.) dari angkatan pertamanya.
Tiga mahasiswi yang berhasil menuntaskan seluruh rangkaian kewajiban akademik tepat waktu dalam kurun empat tahun tersebut adalah Siti Bidaria Paputungan, S.Psi., Ika Prawesti Andini, S.Psi., dan Maghfira Nazelin Butolo, S.Psi. Ketiganya mencatatkan nama sebagai pionir lulusan perdana dalam buku sejarah perkembangan prodi tersebut.
Koordinator Prodi Psikologi UNG Irvan Usman, S.Psi., M.Si. melayangkan rasa bangga yang mendalam atas dedikasi serta konsistensi performa yang ditunjukkan anak didiknya. Menurut Irvan, indikator keberhasilan para kelulusan perdana ini tidak sekadar diukur dari aspek kecepatan waktu kelulusan, melainkan juga dari kualitas luaran riset serta kompetensi global yang melekat pada diri mereka.
“Ketiga mahasiswi ini memiliki modalitas potensi yang luar biasa. Mereka mampu merampungkan seluruh kurikulum dengan capaian indeks prestasi yang membanggakan. Bahkan, beberapa hari menjelang ujian skripsi, mereka masih sempat berkompetisi di panggung internasional di Malaysia dan berhasil membawa pulang penghargaan. Ini adalah validasi riil bahwa output mahasiswa Psikologi FIP UNG memiliki daya saing regional yang tinggi,” papar Irvan Usman, Rabu (24/06/2026).
Pihak fakultas menilai, kombinasi kematangan teoretis di ruang kelas dan keaktifan menjemput prestasi di luar negeri menjadi bukti bahwa mahasiswa UNG mampu menyeimbangkan keterampilan keras (hard skills) dan keterampilan lunak (soft skills) yang krusial untuk bersaing di dunia profesional modern.
Di tempat terpisah, Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Ir. Abdul Hafidz Olii, M.Si. mengapresiasi pencapaian historis ini. Ia menegaskan kelulusan tiga sarjana baru ini menjadi bukti sahih bahwa sistem tata kelola, kurikulum, serta iklim pembelajaran di Prodi Psikologi berjalan efektif dari hulu hingga ke hilir.
“Kehadiran lulusan angkatan pertama ini membuktikan ke publik bahwa institusi kami mampu mencetak SDM bidang psikologi yang siap diserap oleh pasar kerja atau melanjutkan ke jenjang profesi secara presisi,” tutur Prof. Abdul Hafidz Olii.
Lebih lanjut, Wakil Rektor menguraikan bahwa momentum kelulusan ini bernilai taktis dalam mendukung cetak biru penguatan kelembagaan ke depan. Kehadiran alumni perdana ini memenuhi salah satu instrumen penilaian paling krusial dalam borang reakreditasi program studi. Dengan terpenuhinya indikator kuantitatif tersebut, Prodi Psikologi FIP UNG kini mengantongi fondasi kokoh untuk membidik predikat akreditasi yang lebih unggul.
Sukses Cetak Rekor 13 Kali Beruntun: Pemkab Pohuwato Kembali Sabet Opini WTP dari BPK RI
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Sultan Amai Gorontalo Luncurkan “Manjonongki”, Aplikasi Karya Anak Daerah dari Riset Kampus
Sebut Tim Pemeriksa Masih Bekerja: Jawaban Diplomatis Rektor Universitas Gorontalo Soal Kisruh Keuangan
Diduga Tembus Rp1,3 Miliar: Skandal Penggelapan Dana Mahasiswa Guncang Kampus Universitas Gorontalo
Murni Hasil Gotong Royong Kolektif: Taufan Ntobuo Puji Solidaritas Finansial Alumni Angkatan 2001
Diduga Tembus Rp1,3 Miliar: Skandal Penggelapan Dana Mahasiswa Guncang Kampus Universitas Gorontalo
Menggugah Kembali Naluri Belajar yang Meredup: Reformasi Pedagogi di Era Distraksi Digital
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Sultan Amai Gorontalo Luncurkan “Manjonongki”, Aplikasi Karya Anak Daerah dari Riset Kampus
Tembus Jurnal SINTA 2: Mahasiswa BK UNG Alwi Hasan Temukan Solusi Atasi Academic Burnout
Nyaris Setengah Miliar: Omzet Pedagang Street Food Jilid II Gorontalo Meledak dalam 3 Hari
PKK GELAR JAMBORE PKK TINGKAT KABUPATEN GORUT
Kota Gorontalo Peringkat kedua Internet Paling Ngebutt se-Indonesia
PIMPIN RAPAT PENYERAPAN PROGRAM, BUPATI PUAS HASIL EVALUASI
PEMKAB GORUT BERIKAN BANTUAN RP. 1 JUTA/ORANG UNTUK JAMAAH CALON HAJI
Dua Kepala Desa Di copot Bupati
Terpopuler
-
Daerah2 months agoMasyarakat Apresiasi Peran Adhan Dambea dalam Mendukung Program Kampung Nelayan Presiden di Leato Selatan
-
Gorontalo3 months agoViral di Medsos: Dalih Tugas Intelijen, Oknum Polisi Pohuwato Pamer Transaksi Emas Miliaran
-
Gorontalo3 months agoMeresahkan Pelanggan! Paket Ditahan Berhari-hari, Layanan Shopee Express Kembali Disorot Tajam
-
Daerah2 months agoSentil Gubernur Gusnar! Wali Kota Adhan Kecewa Pemisahan Disparpora Mangkrak di Pemprov
-
Gorontalo2 months agoNyanyian Bos Tambang: Bayar Puluhan Juta Tapi Tak Diberi Akses, Daeng Muding Minta Uang Kembali
-
News2 months agoKronologi Kasus Toni Aji, Pembuat Website Desa Rp 5,7 Juta yang Jadi Terpidana Korupsi
-
Gorontalo3 months agoMati Lampu Lagi, PLN Marisa Konfirmasi Pemadaman Listrik Akibat Pengurangan Beban
-
Advertorial3 months agoTak Ada Ampun: Abaikan Peringatan, Lapak Semipermanen Sepanjang 89 Meter Ditertibkan
