Connect with us

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

Senat UNG Laksanakan Focus Grup Discussion

Published

on

Foto Istimewa ll Rektor UNG Eduart Wolok Beserta Ketua Senat Universitas Rauf Hatu

UNG – Dalam rangka penyelarasan statuta dan organisasi tata kelola Universitas, Senat Universitas Negeri Gorontalo menggelar Focus Grup Discussion, dengan melibatkan pihak internal maupun eksternal kampus, (25/2/2021).

Ketua Senat Universitas Rauf A. Hatu mengatakan, hal ini dilakukan karena perubahan nomenklatur dari Kemenristekdikti yang beralih ke Kemendikbud, untuk dilakukan perbaikan sebagai upaya penyempurnaan berdasarkan penyesuaian kondisi lokal Institusi.

Sambungnya, setelah dilakukan penyelarasan nanti hasilnya akan disampaikan ke Fakultas yang ada di UNG dengan sara sosialisasi.

“Penyelarasan melibatkan sejumlah stakeholder, yang dapat memberikan berbagai masukan penting dalam penyempurnaan penyelarasan statuta dan OTK,” jelasnya.

“Dari masing-masing Fakultas kemudian akan dilakukan rapat pleno melalui Senat Universitas. Jika sudah dilakukan finalisasi selanjutnya akan disampaikan kepada pihak Kementerian untuk kemudian dapat disahkan,” kata Rauf.

Sementara itu, Rektor Eduart Wolok mengatakan, penyusunan statuta harus disesuaikan dengan kondisi internal lembaga, yang tentunya harus disusun dengan tidak bertentangan dengan regulasi perundang-undangan.

“OTK harus menyeleraskan dengan pihak Kementerian terkait, karena OTK merupakan segala sesuatu yang diatur dengan menggunakan APBN. Sehingga kita harus teliti dalam menyelaraskan keduanya,” Eduart.

Rektor meminta seluruh pihak terkait untuk dapat mengevaluasi pelaksanaan statuta yang saat ini karena masin banyak ruang-ruang yang dapat menimbulkan perdebatan.

“Untuk OTK pun demikian harus segera diatur dan disesuaikan dengan kebijakan terkait. OTK harus menyelaraskan dengan pihak Kementerian, karena OTK merupakan segala sesuatu yang diatur dengan menggunakan APBN,” Tutup Eduart.

Advertorial

Kawal Ketat UTBK 2026! UNG Kumpulkan Seluruh Pengawas Ujian untuk Samakan Persepsi

Published

on

UNG – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus mematangkan berbagai persiapan teknis dan sumber daya manusia (SDM) menjelang pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer – Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) tahun 2026. Sebagai salah satu langkah strategis, panitia lokal UNG menggelar kegiatan penyamaan persepsi khusus bagi seluruh perangkat pengawas ujian yang dipusatkan di Aula Rektorat UNG, Sabtu (18/4/2026).

Kegiatan pembekalan ini ditujukan untuk menyatukan pemahaman seluruh petugas pengawas terkait mekanisme, Standar Operasional Prosedur (SOP), dan ketegasan pengawasan UTBK-SNBT. Langkah ini dinilai krusial agar pelaksanaan ujian berskala nasional tersebut dapat berjalan tertib sesuai dengan ketentuan pusat yang telah ditetapkan.

Humas Tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) UNG, Wahidun Usulu, S.Pd., M.Ap., menjelaskan bahwa penyamaan persepsi merupakan kunci utama dalam memastikan seluruh perangkat pengawas memiliki frekuensi pandangan, pengetahuan, dan kesiapan mental yang sama di lapangan.

“Dengan pemahaman dan persepsi yang seragam, para pengawas diharapkan mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal, serta bertindak profesional sesuai dengan prosedur yang berlaku selama proses ujian berlangsung,” ujar Wahidun.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si., menegaskan pentingnya kesiapan matang dari seluruh perangkat pendukung ujian. Ia menekankan bahwa penyamaan persepsi bertujuan agar tidak ada celah perbedaan interpretasi antar-pengawas saat menghadapi situasi atau kendala tak terduga di dalam ruang ujian.

Prof. Hafidz mengingatkan bahwa peran pengawas sangat strategis dan memikul tanggung jawab besar, terutama dalam menjaga integritas, objektivitas, dan kelancaran proses seleksi penerimaan mahasiswa baru.

“Pelaksanaan UTBK-SNBT ini merupakan momen dan kesempatan yang sangat berharga bagi para calon mahasiswa yang saling berkompetisi ketat untuk memperebutkan kursi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Karena itu, pengawas memegang peranan vital untuk memastikan ujian berjalan bersih sesuai prosedur dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran,” tegas Prof. Hafidz.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa keberhasilan dan kelancaran pelaksanaan UTBK-SNBT di daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab kepanitiaan inti, melainkan wujud komitmen bersama. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa UNG siap menjawab kepercayaan penuh yang diberikan oleh pemerintah pusat sebagai salah satu sentra lokasi pelaksanaan ujian di kawasan timur Indonesia.

“Melalui berbagai persiapan yang terus kami matangkan ini, UNG sangat optimistis pelaksanaan UTBK-SNBT 2026 di Gorontalo dapat berjalan sukses, tertib, dan berintegritas tinggi. Kami juga berkomitmen memberikan pengalaman ujian yang nyaman dan representatif bagi seluruh peserta,” pungkasnya.

Continue Reading

Advertorial

Siap Tempur! 5.504 Calon Mahasiswa Baru Bakal Ikuti UTBK-SNBT 2026 di Universitas Negeri Gorontalo

Published

on

UNG – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali mendapat kepercayaan sebagai pusat pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer – Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) tahun 2026 untuk wilayah Provinsi Gorontalo. Mulai esok hari, Selasa (21/4/2026) hingga 26 April mendatang, sebanyak 5.504 calon mahasiswa baru dijadwalkan akan memperebutkan kursi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di ‘Kampus Kerakyatan’ tersebut.

Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Abdul Hafidz Olii, mengungkapkan bahwa pihak rektorat telah mematangkan kesiapan infrastruktur pendukung guna mengakomodasi ribuan peserta selama enam hari pelaksanaan ujian.

“Sebanyak 26 laboratorium komputer telah disiapkan sebagai lokasi ujian. Laboratorium ini tersebar di Kampus Utama UNG serta kampus cabang di Kabupaten Bone Bolango. Seluruh ruangan tersebut dilengkapi dengan total 600 unit komputer, baik perangkat utama maupun cadangan, yang telah disesuaikan dengan standar ketat dari panitia pusat,” ungkap Prof. Hafidz.

Selain ketersediaan perangkat keras, optimalisasi infrastruktur pendukung lainnya turut menjadi fokus utama. UNG memastikan stabilitas jaringan internet, kelayakan perangkat operasional, hingga kenyamanan tata letak ruang ujian agar para peserta dapat fokus dan optimal dalam mengerjakan soal.

“Seluruh persiapan teknis dan non-teknis telah dilakukan secara maksimal untuk menjamin kelancaran pelaksanaan UTBK-SNBT di Gorontalo,” tambahnya.

Sebagai salah satu titik sentral pelaksanaan UTBK-SNBT di kawasan timur Indonesia, UNG berkomitmen penuh untuk memberikan layanan penyelenggaraan terbaik. Kesiapan ini dinilai selaras dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan oleh Tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) pusat, guna memastikan proses seleksi berjalan secara transparan, adil, objektif, dan nyaman.

“Dengan dukungan fasilitas yang memadai dan persiapan kepanitiaan yang matang, UNG sangat optimistis pelaksanaan UTBK-SNBT 2026 di Gorontalo dapat berlangsung lancar, aman, dan sukses bagi seluruh peserta,” pungkas Prof. Hafidz.

Continue Reading

Advertorial

Riset Dosen UNG Tembus Jurnal Scopus Q1 Bahas Tantangan Penerjemah di Era AI

Published

on

(Ilustrasi: gemini.google.com)

UNG – Dua akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Novriyanto Napu dan Usman Pakaya, kembali mencetak prestasi gemilang di kancah akademik internasional. Keduanya mempublikasikan kajian riset ilmiah terbaru yang mengupas tuntas terkait tantangan model penilaian kompetensi penerjemahan (translation competence) di era disrupsi kecerdasan buatan (AI).

Artikel ilmiah yang bertajuk “From Foundational Frameworks to Future Frontiers: Critical Perspectives of Translation Competence Assessment Models and Emerging Challenges” tersebut sukses menembus jurnal internasional bereputasi tinggi, Current Issues in Language Planning, yang terindeks Scopus Q1 pada tahun 2026.

Riset inovatif ini menyoroti pergeseran paradigma bahwa kompetensi penerjemahan kini bukan sekadar perkara penguasaan linguistik atau bahasa semata. Lebih jauh, penerjemahan adalah sebuah gabungan kompleks yang melibatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional. Selama ini, instrumen penilaian kemampuan penerjemah cenderung berfokus pada hasil akhir terjemahan (berbasis produk). Namun, studi UNG ini membuktikan bahwa pendekatan usang tersebut tak lagi cukup untuk memotret kemampuan riil seorang penerjemah.

Melalui analisis komprehensif terhadap berbagai publikasi ilmiah dalam satu dekade terakhir, duo peneliti UNG ini menemukan adanya lompatan signifikan dalam metode penilaian. Dunia pendidikan dan industri penerjemahan kini dituntut untuk beralih menuju pendekatan yang holistik, yakni menggabungkan proses, refleksi, serta bukti kinerja secara nyata.

Metode penilaian mandiri seperti penyusunan portofolio serta komentar reflektif kini menjadi instrumen krusial. Tujuannya adalah untuk menilai secara mendalam bagaimana pola pikir, logika, dan proses pengambilan keputusan seorang penerjemah saat bekerja.

Fokus tajam penelitian ini juga mengarah pada besarnya pengaruh teknologi, khususnya kehadiran Neural Machine Translation (NMT) berbasis AI seperti Google Translate dan sejenisnya. Kehadiran teknologi ini dinilai membawa tantangan fundamental. Pasalnya, hasil terjemahan modern tidak lagi murni mencerminkan kemampuan individu. Oleh karena itu, sistem penilaian masa kini dituntut harus mampu membedakan dengan presisi antara buah pemikiran manusia dan kontribusi bantuan mesin cerdas.

Di sisi lain, kajian ini turut membedah persoalan pelik yang masih memicu perdebatan. Mulai dari bagaimana menyeimbangkan pola kerja kolaboratif dengan tanggung jawab individu, persoalan kesenjangan antara materi pembelajaran di perguruan tinggi dengan kebutuhan riil industri, hingga implementasi metode penilaian yang terbukti belum merata di berbagai institusi pendidikan.

Sebagai solusi dan kontribusi ilmiah nyata, Napu dan Pakaya menawarkan sebuah kerangka konseptual baru. Kerangka ini dirancang secara khusus untuk membantu pengembangan sistem penilaian yang jauh lebih adaptif dan relevan dengan tantangan masa depan. Keduanya menekankan urgensi pendekatan yang tidak hanya mengkalkulasi hasil akhir, tetapi juga mengevaluasi proses, etika penggunaan teknologi, serta daya kritis mahasiswa.

Riset ini hadir pada momentum yang krusial, di mana pesatnya perkembangan teknologi dan tingginya tuntutan industri global mengharuskan lulusan penerjemahan tidak hanya mahir secara linguistik, tetapi juga adaptif, kritis, dan profesional. Tembusnya artikel ini di jurnal Scopus Q1 sekaligus memperkokoh eksistensi serta kontribusi Universitas Negeri Gorontalo dalam memajukan diskursus ilmu linguistik terapan di panggung dunia.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler