Connect with us

Ruang Literasi

OSIS Wadah Pembentuk Jiwa Pemimpin Nasionalis

Published

on

Normawati S. Adjunu mahasiswa FIP UNG

Oleh : Normawati S. Adjunu

Sekarang kita hidup di zaman reformasi. Berbagai macam perubahan tata
kehidupan terjadi dan mengarah pada kemajuan dan modernisasi di berbagai bidang.

Hal ini sangat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, baik sikap, perilaku, maupun nilai-nilai moral yang ada di masyarakat. Khususnya generasi muda penerus bangsa. Generasi yang akan memberi warna dan wajah baru Indonesia dengan sikap kepemimpinannya.

Tentunya peran berbagai pihak dalam memberikan ksempatan kepada pemuda sangat diperlukan. Dukungan yang dimaksud adalah sarana yang relevan dan mendukung ketercapaian menjadi kader muda bangsa yang dibekali skill, pelatihan IQ, EQ, dan SQ untuk melanjutkan dan mewujudkan cita-cita bangsa dan negara sesuai dengan ideologi Pancasila.

Namun, patut kita sadari bersama, walaupun anak-anak mengenyam
pendidikan di sekolah, pola pikir mereka belum tentu sejalan dengan apa yang diajarkan di sekolah. Apalagi para siswa yang berada pada tingkatan SMP dan SMA.

Mereka cenderung ingin mencari jati diri sendiri, memiliki rasa ingin tahu
yang lebih besar, bahkan rentan mengarah pada hal-hal yang dilarang dalam norma agama, norma hukum dan adat istiadat yang ada di masyarakatnya, seperti merokok, tawuran, bully, bahkan sex bebas atau semua masalah-masalah dalam pergaulan yang menjadi tantangan berat bagi anak-anak bangsa.

Sehingga mereka yang masih dalam proses pendewasaan, cenderung mengalami sanksi sosial yang akan mempengaruhi psikologi siswa. Dampaknya pun akan berimbas pada negara kita sendiri.

Oleh karena itu, untuk mengalihkan mereka dari hal-hal yang negatif, peranan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sangat dibutuhkan dalam
melakukan pendekatan secara mendalam atau menjadi sosok tutor sebaya untuk mengarahkan dan merubah pola pikir yang lebih baik. Dan dengan adanya OSIS di sekolah, secara tidak langsung tugas para guru dalam mendidik siswa akan sedikit terbantukan.

OSIS merupakan organisasi yang ada di setiap sekolah, khususnya pada jenjang SMP dan SMA. Organisasi ini menjadi salah satu wadah bagi para siswa dalam menyalurkan segala aspirasi, potensi, minat dan bakat mereka. Semua dilakukan untuk membangun dan menciptakan generasi muda sebagai kader pemimpin Indonesia Emas.

Selain itu, fungsi OSIS juga sebagai perpanjangan tangan kepala sekolah untuk melakukan pendekatan secara mendalam dengan para siswa, dan untuk membangkitkan serta meningkatkan kesadaran berbangsa, bernegara dan cinta tanah air melalui kegiatan-kegiatan yang terprogram dengn baik sehingga melahirkan siswa-siswa yang memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Artinya, Organisasi Siswa Intra Sekolah sangat berperan penting dalam membangun siswa menjadi seorang pemimpin yang selalu mengutamakan kepentingan orang banyak dan memiliki jiwa nasionalisme.

Seperti yang kita ketahui bersama, jiwa nasionalisme merupakan rasa cinta tanah air yang terpatri dalam diri, sehingga memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang nantinya berujung pada upaya pembaruan Indonesia. Pembaruan melalui program-program kerja OSIS akan membentuk jiwa generasi muda yang lebih baru, kreatif, inovatif serta
mampu bersaing di kancah global. Lantas, program seperti apa yang dapat
menjadikan siswa memiliki jiwa kepemimpinan yang nasionalis? Berdasarkan Ketetapan MPR nomor IV/MPR/1978 dan Kep. Mendikbud nomor 0323/U/1978 tentang empat jalur pembinaan kesiswaan, yang terdiri dari:
1. Organisasi kesiswaan
2. Latihan dasar kepemimpinan
3. Kegiatan ekstrakurikuler
4. Kegiatan wawasan wiyatamandala

Melalui empat jalur pembinaan kesiswaaan ini, program kerja OSIS akan terwujud, apalagi ditambah dengan beberapa program yang memang khusus di buat oleh OSIS itu sendiri, dengan melihat segala aspek permasalahan yang memang ada di sekolah masing-masing. Program yang dimaksud, seperti :

1. Latihan Dasar Kepemimpinan

Latihan Dasar Kepemimpinan atau LDK merupakan program kerja paten. Melalui LDK semangat dan jiwa kepemimpinan para siswa akan dibangkitkan. Kegiatan ini dilakukan setelah terbentuk kepengurusan OSIS yang baru. Hal ini dilakukan, agar pengurus bisa mengenal lebih dalam apa fungsi dan tujuan OSIS sebenarnya, serta membentuk jiwa
kepemimpinan dalam diri setiap pengurus OSIS. Karena setiap orang
merupakan pemimpin, maka jiwa kepemimpinannya perlu digali dan
dikembangkan hingga menjadi sosok pemimpin yang baik, apalagi dalam
kepengurusan terdapat variasi mental dan pemikiran yang berbeda. Oleh
sebab itu, setiap siswa yang tergabung dalam OSIS haruslah mengikuti LDK.

Setelah mengikuti kegiatan ini, maka semangat untuk membangun dan jiwa kepemimpinan itu akan mulai diaplikasikan dalam kepengurusannya dan dengan sendirinya mereka akan mensugestikan diri menjadi seperti apa yang telah didapatkan dalam pelatihan, karena merasa tergugah dengan hal-hal yang baru dan menantang.

Nah, secara tidak langsung, melalui OSIS lah rasa kepemimpinan itu akan
diperlihatkan kepada siswa yang tidak tergabung dalam OSIS. Maka, OSIS
telah mengambil peran penting dalam hal memberikan keteladanan kepada semua siswa, untuk menjadi seperti yang telah dicontohkan oleh pengurus OSIS.

Lantas, apa saja sikap yang dapat diteladani dari seorang yang
berjiwa kepemimpinan? Sikap yang dapat diteladani, seperti menjadi
seorang motivator kepada siswa lainnya yang tidak memiliki rasa percaya
diri dalam melakukan suatu hal, disiplin, cepat dan tanggap dalam situasi
apapun, mampu mengayomi siswa lainnya, dan mengajak ke hal-hal yang
lebih positif. Dan semua sikap ini hanya dimiliki oleh pengurus OSIS.
Selain itu, sikap-sikap seperti ini akan terbawa ke lingkungannya, sehingga
berpengaruh pada masyarakat sekitarnya.

Maka, mulailah gelombang pembaruan, penangkal hal-hal negatif pada perkembangan zaman modernisasi. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan melalui OSIS lah akan terjadi perubahan kepada siswa lainnya. Bukan hanya kepada siswa di sekolahnya, tetapi juga di lingkungan tempat tinggalnya. Atas dasar itulah, OSIS memiliki peran penting dalam meningkatkan kehidupan berbangsa, bernegara dan cinta tanah air. Gerakan OSIS pun merupakan salah satu gerakan masyarakat menuju kehidupan yang madani.

2. Kegiatan ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan diluar Kegiatan
Belajar Mengajar(KBM). Kegiatan ini bertujuan untuk mencari potensi,
minat dan bakat siswa melalui kegiatan-kegiatan di berbagai bidang.
Kegiatan ini merupakan wadah bagi para siswa dalam menyalurkan segala
espresi dirinya untuk mendapatkan peningkatan dalam setiap potensi, minat dan bakat dirinya. Tentu saja, Organisasi Siswa Intra Sekolah sangat
berperan dalam hal ini. Karena, OSIS menjadi salah satu pihak yang ikut
mendukung berjalannya kegiatan ekstrakurikuler ini. Ini membuktikan,
bahwa OSIS sangat berperan penting dalam setiap kegiatan yang
dilaksanakan di sekolah.

3. Pentas seni

Pentas seni merupakan kegiatan khusus yang diselenggarakan oleh
Organisasi Siswa Intra Sekolah(OSIS). Dalam hal, menindaklanjuti dari
kegiatan ekstrakurikuler. Pentas seni ini diselenggarakan untuk
menciptakan daya saing diantara para siswa dengan segala potensi, dan
bakat dalam diri setiap siswa. Disinilah ajang pembuktian diri ditampilkan.
Sehingga menjadikan setiap siswa lebih percaya diri dan meyakini kemampuan dalam dirinya.

Melalui kegiatan ini, segala apresiasi dan penghargaan akan diberikan kepada siswa yang memang layak. Tak cukup sampai disini, melalui kegiatan ini pula, maka semangat dan jiwa kepemimpinan akan bangkit dan terus meningkat. Sehingga mampu memberikan terobosan terbaru bagi angsa dan negara.

Peran Organisasi Siswa Intra Sekolah bukan hanya berkisar pada tiga kegiatan yang saya jelaskan di atas. Masih banyak kegiatan-kegiatan yang membangun dan mencerminkan peranan penting OSIS. Dari point-point penting yang telah dijabarkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa Organisasi Siswa Intra Sekolah(OSIS) sangat berperan penting dalam pembangunan bangsa dan negara. OSIS menjadi salah satu wadah yang memperbaiki nilai-nilai dan moral generasi muda penerus bangsa. Peranannya yang berkelanjutan, mampu menjadikan generasi muda penerus bangsa menjadi generasi emas.

Apalagi, contoh-contoh keteladanan yang telah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka lahirlah generasi muda penerus bangsa yang memiliki jiwa pemimpin yang nasionalis.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Menggugah Kembali Naluri Belajar yang Meredup: Reformasi Pedagogi di Era Distraksi Digital

Published

on

Oleh: [Merrisa Monoarfa_TSMP]

Dosen dan Peneliti Bidang Pendidikan

Teknologi Pendidikan UNM

 

Dunia pendidikan saat ini sedang berhadapan dengan sebuah realitas yang mencemaskan: fenomena terdistraknya motivasi peserta didik di dalam ruang kelas. Para pendidik di berbagai jenjang sedang berhadapan dengan betapa cepatnya peserta didik merasa bosan dan kehilangan fokus saat proses pembelajaran berlangsung. Tantangan ini bersumber dari kontradiksi metodologis. Di satu sisi, metode instruksional di ruang kelas sebagian besar masih bersifat konvensional dan searah. Di sisi lain, ketika keluar dari ruang kelas, pikiran peserta didik terus dibombardir oleh stimulasi instan dari algoritma media sosial dan teknologi digital yang adiktif.

Pendidikan sejatinya adalah fondasi kemajuan bangsa. Ketika gairah belajar berada di titik kemunduran, maka masa depan generasi emas terancam rapuh. Menghadapi situasi ini, para pendidik tidak bisa lagi bertahan pada zona nyaman metode ceramah satu arah yang monoton. Diperlukan sebuah langkah progresif untuk mereformasi gaya mengajar dan menyelaraskannya dengan karakteristik psikologis generasi digital asli (digital natives).

Pergeseran Paradigma: Dari Teoretis-Kognitif Menuju Emosional-Afektif

Mayoritas literatur dan riset pendidikan terdahulu cenderung terjebak pada reduksionisme akademik, yakni hanya berfokus mengukur keberhasilan belajar dari capaian angka kognitif seperti nilai ujian. dimensi afektif peserta didik kadang terabaikan, seperti motivasi intrinsik dan keterikatan emosional (emotional engagement) mereka selama proses belajar.

Melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) terhadap berbagai studi eksperimental terbaru, ditemukan korelasi linier yang kuat antara pembaruan model mengajar dengan meningkatnya motivasi peserta didik. Salah satu strategi paling efektif untuk menjawab fenomena dan tantangan ini adalah menerapkan pembelajaran agar berpusat pada peserta didik (student-centered learning) melalui integrasi media interaktif dan model Problem-Based Learning (PBL).

Menjinakkan Distraksi dengan Gamifikasi dan Augmented Reality

Beberapa data empiris menunjukkan bahwa pemanfaatan media digital interaktif, animasi, hingga teknologi Augmented Reality (AR) mampu menurunkan beban kognitif (cognitive load) peserta didik dalam mencerna materi pelajaran yang kompleks dan abstrak. Menjelaskan struktur anatomi biologi atau rumus matematika yang rumit akan jauh lebih mudah dipahami secara visual melalui grafis 3D interaktif ketimbang sekadar narasi verbal.

Menerapkan elemen permainan atau gamifikasi ke dalam aplikasi pembelajaran yang diterapkan pendidik terbukti mampu menumbuhkan iklim kompetisi yang sehat. Adanya sistem real-time feedback (umpan balik langsung) dalam platform permainan digital tidak hanya memicu motivasi yang meningkatkan kesenangan belajar, tetapi juga membangun kepercayaan diri peserta didik. Mereka tidak lagi memiliki ketakutan psikologis untuk melakukan kesalahan (fear of making mistakes) karena proses belajar diteraokan dalam bentuk tantangan yang menyenangkan.

Menghidupkan Nalar Kritis Melalui PBL dan Media

Transformasi tidak hanya terjadi di ranah digital. Di ruang kelas konvensional, penerapan model Problem-Based Learning (PBL) terbukti mampu mengubah peran peserta didik dari sekadar pembelajar yang pasif menjadi agen pemecah masalah yang aktif dan kritis. Melalui PBL, peserta didik dihadapkan pada realitas masalah kontekstual sehari-hari, yang memaksa mereka berkolaborasi dalam tim, berdiskusi, dan merumuskan solusi mandiri.

Bagi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar, stimulasi digital perlu diimbangi dengan pendekatan emosi yang mendalam. Pemanfaatan alat media—seperti kotak pintar, papan jari, kalkulator bilangan, hingga poster bergambar—memegang peranan krusial. Karakteristik psikologi perkembangan anak usia dini menuntut proses belajar yang bersifat konkret. Ketika mereka dapat menyentuh, memanipulasi, dan menyusun alat peraga tersebut, ketegangan akademis di dalam kelas mencair menjadi pengalaman bermain yang bermakna (meaningful play).

Secara komparatif, efektivitas berbagai media dan strategi kontemporer ini dapat dipetakan sebagai berikut:

Strategi & Media Pembelajaran Bentuk Stimulasi Antusiasme Tingkat Efektivitas & Dampak
Media Digital Interaktif Kuis tantangan, komunikasi dua arah, umpan balik instan Sangat Tinggi (Paling mendominasi motivasi belajar)
Animasi & Augmented Reality (AR) Visualisasi 3D objek abstrak, grafis hidup, audio imersif Tinggi (Sangat efektif mengunci fokus durasi lama)
Problem Based Learning (PBL) Kerja sama tim, resolusi konflik masalah riil/nyata Sangat Tinggi (Membentuk nalar kritis dan analitis)
Alat Peraga Fisik (Taktil) Manipulasi objek langsung, keindahan visual Signifikan (Efektif memperkuat memori motorik anak)

Tantangan Struktural dan Pmbelajaran Masa Depan

Integrasi teknologi dan model ajar modern saat ini menjanjikan akselerasi kualitas pendidikan, namun implementasinya di lapangan masih membentur tembok realitas. Hambatan utama yang sering dihadapi para pendidik di Indonesia adalah kesenjangan media digital, keterbatasan akses internet di daerah terpencil, serta tingginya beban kerja guru untuk mendesain media ajar kreatif yang menyita waktu istirahat mereka.

Oleh karena itu, transformasi ini memerlukan komitmen bersama, bukan sekadar beban moral pendidik semata. Target pendidikan ke depan harus diarahkan pada konsep blended learning (pembelajaran bauran) yang mengombinasikan keunggulan teknologi digital dengan kearifan lokal (local wisdom) serta media yang murah dan mudah diakses.

Bagi akademisi dan peneliti pendidikan nantinya, tantangan besar menanti untuk menguji efektivitas metode ini melalui penelitian eksperimen murni (true-experimental) berskala nasional untuk memotret kesenjangan antara sekolah perkotaan dan perdesaan. Berbagai riset juga mendesak untuk dilakukan guna memastikan apakah peningkatan motivasi belajar ini bersifat permanen atau sekadar efek kebaruan sesaat (novelty effect).

Pada akhirnya, mengubah gaya mengajar bukan lagi sekadar pilihan inovasi, melainkan sebuah keharusan yang konsisten. Menempatkan peserta didik sebagai subjek utama pembelajaran adalah kunci utama untuk mengembalikan perhatian peserta didik, menciptakan suasana kelas, dan memotivasi semangat belajar demi mencetak generasi masa depan yang kompetitif.

Continue Reading

Ruang Literasi

Perempuan di Garda Depan: Makna Hari Kebebasan Pers bagi Wartawan Perempuan

Published

on

Penulis

Penulis : Jurnalis Perempuan S.Amu

Hari Kebebasan Pers menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran jurnalis dalam menjaga demokrasi, transparansi, dan hak publik atas informasi. Namun di balik semangat itu, ada satu kelompok yang kerap menghadapi tantangan berlapis: wartawan perempuan.

Di tengah dinamika dunia jurnalistik yang terus berkembang, perempuan tidak lagi sekadar pelengkap di ruang redaksi. Mereka hadir sebagai reporter lapangan, editor, hingga pemimpin media. Meski demikian, perjalanan mereka tidak selalu mudah.

Selain menghadapi tekanan profesional seperti tuntutan kecepatan dan akurasi berita, wartawan perempuan juga kerap berhadapan dengan risiko kekerasan berbasis gender, diskriminasi, hingga stereotip yang masih melekat.

Hari Kebebasan Pers menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi harus inklusif dan menjamin keamanan bagi semua jurnalis, tanpa terkecuali perempuan.

Dalam menjalankan tugasnya, wartawan perempuan seringkali berada di garis depan meliput isu-isu sensitif seperti konflik sosial, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga praktik korupsi. Keberanian mereka tidak hanya memperkaya perspektif pemberitaan, tetapi juga membuka ruang empati yang lebih luas bagi masyarakat.

Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa perlindungan terhadap wartawan perempuan masih perlu diperkuat. Kasus pelecehan saat peliputan, intimidasi di ruang digital, hingga minimnya kebijakan redaksi yang sensitif gender menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Oleh karena itu, peringatan Hari Kebebasan Pers harus menjadi momentum untuk mendorong media, pemerintah, dan masyarakat sipil agar menciptakan ekosistem jurnalistik yang aman dan setara.

Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kapasitas dan kepemimpinan perempuan di dunia pers. Representasi perempuan dalam posisi strategis akan mendorong kebijakan yang lebih adil dan memperhatikan perspektif gender dalam pemberitaan.

Di era digital saat ini, suara wartawan perempuan semakin kuat dan luas jangkauannya. Melalui berbagai platform, mereka tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Hari Kebebasan Pers bukan sekadar perayaan, melainkan panggilan untuk memastikan bahwa setiap jurnalis perempuan dapat bekerja dengan aman, bebas, dan bermartabat.

Karena pada akhirnya, kebebasan pers yang sejati adalah ketika semua suara termasuk suara perempuan dapat didengar tanpa rasa takut. Selamat Hari Kebebasan Pers.

Continue Reading

News

Fakta Mengejutkan: Tanpa Pengawasan, 66 Persen Penggunaan Gadget Berdampak Buruk pada Anak

Published

on

Foto Ilustrasi AI

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di abad ke-21 telah membawa transformasi besar pada alat komunikasi. Kondisi ini membuat penggunaan gadget (gawai) semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, tak terkecuali bagi anak-anak usia dini.

Menyikapi fenomena tersebut, sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa pengawasan ketat dari orang tua menjadi kunci utama agar penggunaan perangkat digital tidak berdampak buruk pada proses tumbuh kembang anak.

Fakta ini terungkap dalam sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti Indian Sunita dan Eva Mayasari. Penelitian ini berfokus pada analisis pengawasan orang tua terhadap dampak penggunaan gadget pada anak usia dini di lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK Taruna Islam, Kota Pekanbaru.

Dalam laporannya, para peneliti menjelaskan bahwa anak-anak kini telah bergeser menjadi konsumen aktif berbagai produk teknologi. Jika dahulu gawai lebih banyak dimanfaatkan oleh kalangan profesional, kini perangkat cerdas seperti smartphone, tablet, iPad, hingga laptop lekat dengan aktivitas harian balita.

Berdasarkan survei awal yang dilakukan di PAUD dan TK Taruna Islam Pekanbaru, tercatat sebanyak 74 siswa telah mengenal dan berinteraksi aktif dengan gawai. Angka tersebut terdiri dari 12 anak di tingkat PAUD dan 62 anak di tingkat TK.

“Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui penyebaran kuesioner, yang bertujuan untuk mengetahui secara pasti hubungan antara tingkat pengawasan orang tua dengan dampak penggunaan gawai terhadap perkembangan anak,” tulis laporan penelitian tersebut.

Dari hasil pengumpulan data, penggunaan gawai sebenarnya mampu memberikan dampak positif sebesar 62 persen jika dikelola dengan baik, sementara dampak negatifnya berada di angka 38 persen.

Namun, penelitian ini juga menemukan korelasi yang tajam terkait peran pengawasan. Hasilnya menunjukkan bahwa pengawasan orang tua yang baik (ketat) berbanding lurus dengan dampak positif sebesar 78,1 persen. Sebaliknya, pengawasan yang longgar atau kurang baik berujung pada dampak negatif sebesar 66,7 persen. Melalui uji statistik, ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengawasan orang tua dan dampak gawai pada anak, dengan nilai p-value 0,05.

Para peneliti menggarisbawahi, meski ada sisi positif, penggunaan gawai yang berlebihan tanpa kontrol akan memicu rentetan dampak buruk bagi anak. Risiko tersebut meliputi menurunnya kemampuan membaca dan menulis, gangguan bersosialisasi di dunia nyata, rentan terpapar konten negatif, gangguan pola tidur, risiko obesitas, hingga memicu ketidakstabilan emosional.

Sebagai kesimpulan, riset ini menegaskan bahwa orang tua memegang peran paling esensial. Pembatasan jam layar (screen time) sesuai kebutuhan usia anak mutlak dilakukan. Selain itu, orang tua diimbau untuk lebih aktif mengarahkan anak pada kegiatan yang bersifat edukatif fisik dan interaksi sosial yang sehat.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler