Connect with us

Advertorial

Sukses Sebagai Tuan Rumah MTQ ke-IX Tingkat Provinsi, Bupati Gorut: Ini Berkat Dukungan Semua Pihak

Published

on

GORUT-Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-IX tingkat Provinsi Gorontalo di Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut) berjalan dengan baik dan sukses. Sampai ditutupnya kegiatan tersebut tidak pernah ada keluhan dari kafilah-kafilah yang ada.

Bupati Gorut Indra Yasin mengatakan kesuksesan ini tentunya berkat dukungan dari seluruh panitia, masyarakat dan tentu juga dukungan dari kabupaten kota sebagai kafilah.

“Dan Alhamdulillah selama pelaksanaan kurang lebih 5 hari sampai hari ini kami tidak mendengar ada keluhan dari kafilah meskipun kotak untuk aduan ada untuk bagi yang kekurangan apa semua itu, tapi tidak ada yang masuk. Mungkin ada, kami sadari pasti ada, tapi mungkin tidak terlalu besar sehingga tidak di besar-besarkan,” ujar Indra Yasin, usai mengikuti penutupan MTQ ke-IX yang dipusatkan di Lapangan depan Kantor Bupati Gorut, Senin (14/09/2020).

Tidak sampai disitu, dirinya juga mengungkapkan kegembirannya, dan mengucapkan terima kasih kepada masyarakat karena telah menerima para kafilah dengan baik dan juga memberikan dukungan kepada para kafilah.

“Kami merasa gembira kepada masyarakat, khususnya yang pemondokan. Mereka telah menerima para kafilah dengan senang hati dan juga memberikan dukungan kepada para kafilah, sehingga mereka merasa senang dan gembira. Tentu ini harapan kami” sambungnya.

Selain itu dirinya juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada panitia pelaksana dan juga dewan hakim karena telah bersama-sama, bekerja keras mensukseskan kegiatan MTQ Ke-IX.

“Kepada panitia juga kami lihat bekerja keras siang dan malam mereka bekerja semalam pun menghadapi penutupan kami cek juga di lapangan mereka bekerja, tentu ini sesuai tanggung jawab yang diberikan kepada teman – teman. Begitu juga dewan hakim bekerja dengan maksimal karena kami lihat, pantau langsung di lapangan dan memberikan yang terbaik untuk daerah ini” Ucap Indra Yasin.

“Tentu hasil penilaian karena yang dipilih disini bukan untuk Kabupaten kita saja tapi ini nanti yang mewakili ke tingkat nasional oleh sebab itu penilaiannya harus akurat, karena siapapun yang keluar dari sana itu mewakili provinsi. jangan sampai karena Gorut tuan rumah dia harus juara, tidak sepeti itu” tutupnya.

Advertorial

Mahasiswa KKN UNG Lakukan Program Siaga Covid di Pohuwato

Published

on

UNG-Mahasiswa peserta KKN Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Desa Maleo, Kabupaten Pohuwato melaksanakan program pemberdayaan siaga Covid – 19 di tengah pandemik. Program ini dalam rangka menstimulus Gerakan Masyarakat Sadar Stunting (Gemasting) untuk mengedukasi masyarakat tentang kesadaran dan penanggulangan bahaya stunting.

Para peserta KKN melakukan pendataan dan pengukuran status gizi ke ibu-ibu hamil, menyusui, serta pada bayi dan balita. kemudian di lanjutkan dengan beberapa agenda berupa pemberian informasi tentang stunting dan Covid 19 yang di barengi dengan pelatihan pembuatan makanan pendamping ASI kepada ibu ibu Desa Maleo.

Dosen Pembimbing Lapangan Lia Amalia, S.KM., M.Kes. dannYasir Mokodompis, S.KM., M.Kes. mengungkapkan kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan serta memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat tentang kesadaran penanggulangan Stunting di masa pandemic covid 19 dan juga meningkatkan kreativitas masyarakat dalam upaya pencegahan stunting melalui pengolahan bahan pangan bergizi berbasis sumber daya pangan lokal.

”mahasiswa KKN yang berjumlah 29 orang juga melakukan beberapa program tambahan antara lain edukasi tentang penggunaan antibiotik pada masyarakat”,

“sosialiasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada masyarakat dan siswa sekolah dasar dengan tetap mematuhi protokol Kesehatan dan pembuatan sofa ecobricks” Jelas Lia Amalia.

Antusias masyarakat beserta beberapa stakeholder yang hadir turut serta dan berpartisipasi dalam menyukseskan pelaksanaan kegiatan tersebut hingga selesai.

Turut juga diserahkan buku panduan tentang Gemasting kepada pihak kecamatan, desa dan masyarakat setempat sebagai bentuk edukasi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

KKN ini dilaksanakan selama 45 hari terhitung sejak tanggal 3 September – 18 Oktober 2020.

Continue Reading

Advertorial

Wisuda Drive Thru, Rektor: Mahasiswa Harus Memahami Kesarjanaan Sebagai Manifestasi Kualitas Diri

Published

on

Foto Istimewa

GORONTALO., Momen wisuda merupakan sebuah pencapaian yang paling ditunggu oleh mahasiswa di akhir-akhir masa studi mereka. Sebagaimana kaitannya dengan hal tersebut, hari ini, Sabtu 26 September 2020, sebanyak 300 mahasiswa diwisuda oleh Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Dr. Eduart Wolok, S.T., M.T., secara Drive Thru. 300 wisudawan ini adalah bagian dari 1473 calon wisudawan yang akan diwisuda dalam beberapa tahap.

Dari total akumulasi tersebut, 5 di antaranya menyandang gelar doktor (S3); 45 dengan gelar magister (S2); 248 bergelar sarjana, dan sisanya 2 lagi bergelar Diploma III (D3).

Bagi Eduart, meskipun momen wisuda kali ini berbeda, namun pelaksanaannya harus tetap dimaknai sebagai sebuah pencapaian. “Menjadi sarjana ada impian paling besar setiap mahasiswa ketika menginjakkan kaki ke dunia kampus. Ada jam tidur, waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekat yang harus dikorbankan demi menyelesaikan studi akhir”, jelasnya. Untuk itu, bagi rektor, usaha dan upaya mereka harus diapresiasi.

Di dalam pidatonya, Eduart menyinggung tentang pentingnya memahami proporsi kesarjanaan. Sebab sarjana, ungkap sang rektor, merupakan sebuah manifestasi kualitasi diri, alih-alih status sosial. “Sebagai status sosial, kesarjanaan dipandang sebagai sebuah formalitas belaka, berhenti pada nama-nama yang ditulis di dalam surat undangan; atau disuarakan di dalam perhelatan dan sambutan-sambutan. Sedang sebagai kualitas diri, kesarjanaan harus dipandang sebagai sebuah tanggung jawab terhadap masyarakat.”

Secara substansial, isi pidato Eduart itu menyinggung bahwa seorang sarjana, adalah mereka yang memiliki kompetensi, nalar yang cakap, penguasaan bidang ilmu, hingga kemampuan untuk bekerja dengan baik sesuai bidang ilmunya.

Selain itu, Eduart juga berkata bahwa sarjana harus betul-betul memikirkan bahwa dunia mereka saat ini telah berubah begitu jauh, sehingga membutuhkan inovasi yang radikal. Itu sebabnya, Eduart menekankan bahwa para sarjana harus terus belajar dan berinovasi, sembari mawas diri bahwa kesarjanaan mereka itu harus digunakan untuk menjawab tantangan sosial-budaya dan ekonomi di tengah-tengah masyarakat.

Sehingga, ada harapan besar bagi seluruh civitas akademika Universitas Negeri Gorontalo agar momen wisuda menjadi sebuah upaya untuk mengingatkan kembali kepada para sarjana bahwa keberadaan mereka sangat berarti agar dapat menjadi perpanjangan tangan dari Universitas Negeri Gorontalo, dalam memberikan kontribusi yang positif untuk masyarakat.

Continue Reading

Advertorial

Pesan ke Wisudawan, Rektor Ingatkan UNG sebagai Kampus Kerakyatan

Published

on

Foto Istimewa

GORONTALO., Di dalam perayaan momen wisuda 300 orang mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo, Rektor Dr. Eduart Wolok, S.T., M.T., kembali menekankan pentingnya kampus UNG sebagai “Kampus Kerakyatan”. Sebagai sebuah adagium, kampus kerakyatan merepresentasikan bahwa saat ini, komitmen Universitas Negeri Gorontalo haruslah berada sangat dekat dengan rakyat. “kampus tidak boleh lagi berada di atas awan, kita harus turun di bumi. Kita tidak boleh mengulang citra pelik kampus sebagai bangunan pendidikan yang bercorak elit dengan segudang riset yang hanya berakhir di rak-rak perpustakaan; riset harus benar-benar dirasakan manfaatnya.

Wisuda yang berlangsung pada hari Sabtu, 26 September 2020, ini dilakukan secara Drive Thru. Proses pelaksanaannya dilakukan secara bergilir, dan tentu saja dengan memperhatikan seluruh protokol kesehatan yang ada. Dari total akumulasi 300 mahasiswa yang diwisuda, 5 di antaranya menyandang gelar doktor (S3); 45 dengan gelar magister (S2); 248 bergelar sarjana, dan sisanya 2 lagi bergelar Diploma III (D3). 300 wisudawan ini adalah bagian dari 1473 calon wisudawan yang akan diwisuda dalam beberapa tahap.

Di dalam pidatonya, rektor menganggap menguraikan beberapa pencapaian yang merepresentasikan UNG sebagai “Kampus Kerakyatan” yang, di antaranya adalah Desa Berinovasi yang dilaksanakan untuk memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25. Bersama Kementrian Desa, Pembangnan Daerah Tertinggal dan Trasnmigrasi (Kemendes PDTT), desa berinovasi ini pertama kali dilaunching pada tanggal 10 Agustus 2020 di Dusun Tumba, Desa Tamaila Utara, Kabupaten Gorontalo oleh Wakil Presiden Indonesia, Prof. Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin.

Salah satu alasan mengapa Tumba dijadikan sebagai proyek pertama, adalah karena sebuaha sebuah daerah yang memiliki potensi alam yang melimpah, dusun tersebut seakan terisolir. Selama puluhan tahun, jangankan internet, bahkan listrik dan jaringa telepon pun tidak ada sama sekali. Namun ketik pycohydro, sebuah mesin karya kolaboratif dari anak-anak mahasiswa Teknik Elektro, UNG, menyala dan mengalirkan listrik ke mesjid dan beberapa rumah warga, serta jaringan internet yang mulai terpasang, maka warga Dusun Tumba langsung berbahagia.

“Kini,” ujar Eduart “untuk sekedar bertanya harga rempah di pasar, warga Dusun Tumba tidak perlu turun berkilo-kilo lagi. Kini, untuk belajar, anak-aaknya tidak perlu pergi memanjat pohon atua mendaki tempat yang tinggi karena mereka dapat melakukannya setiap saat”.

Program lainnya yang disinggung Eduart di dalam pidato kuncinya adalah kegiatan Forum Pemuka Masyarakat Cinta Desa (Forpeace) yang dilaksanakan berdasarkan kerja-kerja kolaboratif antara UNG, Kemendes, PDTT, BPIP dan BNPT. Ini merupakan program yang diinisasi bersama demi melaksanakan tujuan inti dari poin 16 dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, atau SDGs Desa yang, intinya, berusaha untuk meminimalisir potensi konflik, menciptakan kerukunan, serta berupaya untuk melahirkan desa tangguh yang dibangun berdasarkan fondasi kearifan lokal untuk menjawab tantangan ekonomi dan sosial budaya.

Di dalam momen perayaan wisuda tersebut, Eduart juga mengingatkan bahwa representasi UNG sebagai kampus kerakyatan inilah yang mesti dimaknai oleh para wisudawan bahwa, keberadaan mereka setelah memperoleh gelar sarjana ini, adalah sepenuhnya untuk terlibat dengan masyarakat agar dapat menyelesaikan problem-problem yang dihadapi mereka.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler