Connect with us

Provinsi Gorontalo

Waktu dan Tuhan Yang Terabaikan

Published

on

Makmun Rasyid (Penulis Buku-Buku Islami) | Foto arlankpakaya/barakati.id

Oleh: Makmun Rasyid (Penulis Buku-Buku Islami)

Setiap kali berpindah dari tahun ke tahun. Langit kerap diterangkan oleh ragam warna dan bunyi yang imanen. Yang dimainkan dan diperagakan manusia dengan penuh antusiasme yang tinggi lagi berbunga-bunga. Manusia-manusia di saat itu hanya disibukkan berbicara tentang ragam acara di puncak penghujung tahun. Nihilnya, dialog dan percakapan eksitensi yang bersifat imanen dan transendel, terlupakan oleh rayuan serba fatamorgana.

Dalam kontruksi beragama, proporsi mayoritas dan minoritas masih saja ada yang menampilkan sisi kodrat hewaninya yang buas dan merusak. Sisi ini tidak lagi terkait informasi keagamaan yang dimiliki seseorang, melainkan sisi pendalaman dan penghayatan yang menuju kepada ‘kebaikan tertinggi’ dalam beragama. Sisi hewaninya inilah yang menjadi sorotan tajam dalam buku “Crowds and Power” yang memuat rekam jejak manusia yang walaupun ilmu pengetahuan maju, filsafat berkembang dan teknologi yang kian canggih, tapi naluri-naluri hewaniyah yang sering kali brutal tetap diproduksi orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas kepemilikan ilmunya.

Habibat manusia yang diciptakan-Nya sebagai makluk fitri, kerap meneledorkan manusia dari adanya pengaruh perintah luar yang diinternalisasikan dan kemudian mengendap di dalam pikiran dan diri, kemudian menguak menjadi reaksi negatif, dan mengesampingkan “suara Tuhan” dengan bukti-bukti keputusan-keputusan yang diambil dalam hidup. Kesakralan waktu pun ikut terabaikan. Lebih-lebih berbahaya lagi jika Tuhan terabaikan oleh aktivitas yang terpampang di kalender yang bersifat imanen.

Waktu—dalam paradigma Qur’an—dipahami sebagai sesuatu yang aktif. “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan (mematikan) kita kecuali masa (waktu)…” (Qs. al-Jatsiyah [45]: 24). Ayat ini erat kaitannya antara manusia dengan waktu. Waktu yang menyimpan mortalitas dan “finitude” haruslah dimanfaatkan oleh manusia ke dalam aksi-aksi bermartabat dan berkeprimanusiaan.

Persiapan demi persiapan menuju ruang yang “infinitude”—menurut paparan Qur’an, “sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (Qs. Al-Al’Ala [87]: 17), sebagaimana proyeki Tuhan pada manusia bersifat keberlanjutan dan harus diisi oleh kebaikan-kebaikan tertinggi dalam agama dan negara. Karena esensi waktu akan berakhir saat seseorang telah dipanggil keharibaan-Nya, entah kepergiaannya dalam membawa setumpuk kebaikan ataukah setumpuk keburukan!.

Dari paradigma itulah, pengabaian waktu yang dilakukan oleh manusia, sejatinya telah mengabaikan perintah Tuhan. Namun tidak selamanya pengefektifan waktu di atas sajadah. Namun yang harus dipastikan, semuanya harus terkorelasikan secara vertikal yang berujung pada ruang dan dimensi horizontal.

Keterhubungan itu yang mendasarkan firman-Nya selalu bersumpah atas nama waktu. “Demi Duha”, “Demi Fajar” dan demi-demi lainnya. Kebermaknaan waktu berkonsekuensi pada kehidupan manusia, yang harus memanfaatkannya semaksimal mungkin. Oleh sebab itu, kita kerap mendengar sebuah sabda, “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia merugi, yaitu sehat dan kosong”. Disnilah waktu tidak saja dapat diukut secara materil, tapi juga sesuatu yang bersifat hakiki dan ukhrawi.

Lebih jauh lagi untuk membuktikan bahwa “Tuhan terabaikan” oleh kita adalah saat waktu dibagi menjadi sesuatu yang objektif dan subjektif. Subjektivitas yang bersumber dari batin, diaktualisasikan dan dipresentasikan secara beragam, satu manusia dengan manusia lainnya. Adapun objektif, sesuatu yang tertera di dalam kalender.

Seseorang yang seharusnya “bercengkrama” dengan Tuhan dengan waktu sejam, layaknya memikul gunung. Sedangkan “bercengkrama” dengan kekasih dengan waktu sejam, ibarat telah melalui beberapa hari dengan ungkapan penuh kebahagiaan. Perbedaan yang amat berbeda itu dan cara mengungkapkannya, membuktikan bahwa masih ada manusia yang tidak menafsirkan waktu secara baik. Disinilah terjadi ketersambungan antara waktu dengan kedirian manusia itu sendiri.

Dalam Filsafat Timur, waktu selalu dilihat sebagai persepsi manusia. Dan Qur’an menginginkan manusia untuk menafsirkan waktu sebagai sumber daya yang bisa habis. Saat waktu dan dayanya habis, maka ia tidak bisa dikembalikan ke sedia kala. Walaupun jalinan masih terus terhubung, namun tafsiran dan pemaknaannya berbeda. Sesuatu yang telah dilalui, yang menjelma menjadi ingatan dan bayang-bayang kehidupan harus disikapi secara bijaksana. Sebab, keberlanjutan hidup harus dilanjutkan dan tidak boleh berhenti oleh ketakutan akan ingatan masa lalu, sebab yang ada masa kini dan saat ini.

Pengaktifan waktu kepada sesuatu yang bermanfaat menjadi keniscayaan. Jangan sampai, berbuat sesuatu berdasarkan tanggal yang imanen. Inilah yang dikritik oleh para filsuf dengan mengistilahkannya sebagai “masturbasi budaya”. Kebaikan yang dilakukan harus bersifat keberlanjutan dengan wujud yang berbeda-beda, sesuai kadar dan kemampuan setiap orang. Pengaktifan ini sebagai bentuk perlawanan seseorang dalam membuang dan mematikan sifat banalitas dan hewani, baik dalam beragama dan bernegara.

Momentum awal tahun baru harus kembali menyadarkan kita bahwa kehidupan dunia akan berakhir dan menuju kepada ruang dan waktu yang “finitude”. Memupuk kebaikan dengan memanfaatkan waktu dan menghadirkan Tuhan dalam keseharian menjadi bukti kongkrit pelaksanaan beragama kita dengan baik. Selamat mengawali tahun baru penuh kebahagiaan!

Daerah

Respon Dampak Buruk El nino! Laskar Gerindra Gorut Langsung Gerak Cepat

Published

on

GORONTALO UTARA — Usai merampungkan agenda Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) beberapa hari lalu, Laskar Gerindra Gorontalo Utara (Gorut) langsung diterjunkan ke lapangan untuk melayani masyarakat. Melalui instruksi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Gorontalo Utara, para kader menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah desa yang tengah dilanda kekeringan ekstrem di Kecamatan Kwandang.

Aksi sosial ini menyasar wilayah yang terdampak krisis pasokan air bersih, dimulai dari Desa Ombulodata dan Desa Pontolo Atas. Penyaluran bantuan air bersih ini dipastikan akan terus berlanjut secara bertahap ke desa-desa lain yang membutuhkan di seluruh wilayah Kecamatan Kwandang.

Koordinator Laskar Gerindra Gorontalo Utara, Febriyan Mohu, menegaskan bahwa aksi tanggap darurat ini merupakan bentuk pengabdian nyata para kader pasca-pelatihan.

“Laskar Gerindra tidak hanya dididik untuk memiliki kedisiplinan internal, tetapi juga diajarkan untuk peka dan hadir di tengah kesulitan rakyat. Begitu selesai mengikuti pendidikan dan pelatihan, kami langsung bergerak ke lapangan menyalurkan air bersih bagi warga yang mengalami krisis air. Langkah awal kami mulai dari Desa Ombulodata dan Desa Pontolo Atas, dan akan terus berlanjut ke desa-desa lain se-Kecamatan Kwandang yang membutuhkan,” tegas Febriyan Mohu.

Krisis air bersih yang melanda wilayah Gorontalo Utara tidak terlepas dari fenomena iklim El Niño Godzilla—sebuah fenomena pemanasan suhu permukaan laut tingkat kuat yang memicu musim kemarau ekstrem. Dampak fenomena ini menyebabkan penipisan cadangan air tanah, mengeringnya sumber-sumber air bersih warga, serta lumpuhnya pasokan air bersih di berbagai kawasan pemukiman.

Di tengah kondisi darurat pasokan air akibat fenomena cuaca ekstrem tersebut, Laskar Gerindra Gorut berkomitmen untuk terus siaga memfasilitasi kebutuhan mendasar masyarakat hingga pasokan air warga kembali normal.

Continue Reading

Daerah

Sinyal Untuk 2029! Diklat Laskar Gerindra Gorontalo Mulai Panaskan Mesin Tempur Partai

Published

on

GORONTALO — Gelaran Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Laskar Gerindra Pertama yang diselenggarakan oleh DPD Partai Gerindra Provinsi Gorontalo selama tiga hari, sejak Jumat hingga Minggu (27/09/2026), di Bumi Perkemahan Bongohulawa, Kabupaten Gorontalo, menyisakan pesan politik yang cukup kuat. Agenda kaderisasi yang diikuti oleh ratusan kader utusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) kabupaten/kota se-Gorontalo ini menjadi penanda jelas bahwa mesin tempur Partai Gerindra di Gorontalo sudah resmi dipanaskan sejak dini guna menghadapi Pemilu 2029.

Selama tiga hari menginap di tenda-tenda perkemahan, para peserta digembeleng secara intensif meliputi latihan kedisiplinan fisik, ketahanan mental, wawasan kebangsaan, hingga pemantapan ideologi partai. Kehadiran ratusan kader muda utusan DPC tersebut memperlihatkan bahwa Gerindra Gorontalo tidak ingin menunda konsolidasi organisasi pasca-agenda politik nasional.

Sekretaris DPD Partai Gerindra Provinsi Gorontalo, M. Nasir Madjid, menegaskan bahwa pelaksanaan Diklat Laskar Pertama ini memang dirancang sebagai start awal untuk memanaskan mesin partai secara sistematis hingga ke tingkat tapak.

“Diklat Laskar Pertama ini adalah bukti konkret bahwa Gerindra Gorontalo tidak ingin membuang waktu. Ini bukan sekadar agenda seremoni rutin, melainkan sinyal tegas bahwa mesin tempur partai sudah mulai kami panaskan dari sekarang untuk menyambut Pemilu 2029,” ujar M. Nasir Madjid di lokasi kegiatan, Minggu (27/09/2026).

M. Nasir Madjid menambahkan, penguatan kapasitas kader sejak jauh-jauh hari merupakan kunci utama agar jaringan partai di daerah selalu berada dalam kondisi siap tempur kapan pun dibutuhkan.

“Kami ingin memastikan seluruh jaringan kader, mulai dari DPD, DPC, hingga pengurus anak cabang di akar rumput, memiliki kedisiplinan, militansi, dan kesiapan yang sama. Lewat Diklat Laskar ini, para kader tidak hanya dilatih tangguh secara fisik di alam terbuka, tetapi juga dipersiapkan menjadi motor penggerak partai yang mampu mengawal program-program kerakyatan sekaligus memenangkan kepercayaan masyarakat Gorontalo menuju 2029,” lanjutnya.

Strategi penyiapan Laskar Gerindra sebagai tulang punggung mesin partai menuju Pemilu 2029 ini sejajar dengan arah kebijakan kaderisasi nasional Partai Gerindra. Sebagaimana diberitakan media nasional Detikcom dan RRI, gelombang Diklat Laskar Gerindra yang digelar secara masif di berbagai daerah—seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, hingga Jawa Tengah—merupakan bentuk investasi politik jangka panjang. Media-media besar tersebut mencatat bahwa konsolidasi Laskar Gerindra difokuskan untuk menjaga soliditas barisan, memperkuat jangkauan partai ke pemilih muda, serta memastikan para kader di daerah mampu menjadi penyambung lidah program-program strategis Presiden Prabowo Subianto di tengah masyarakat.

Dengan tuntasnya Diklat Laskar Perdana di Bumi Perkemahan Bongohulawa ini, DPD Partai Gerindra Provinsi Gorontalo menegaskan kesiapannya untuk melangkah lebih cepat dalam mengonsolidasikan kekuatan politik partai hingga ke pelosok desa di seluruh wilayah Gorontalo.

Continue Reading

Daerah

Muda, Disiplin, dan Militan! Gemblengan Kaderisasi khas Hambalang Hadir di Diklat Laskar Gerindra Gorontalo

Published

on

GORONTALO — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Gorontalo resmi menuntaskan gelaran Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Laskar Gerindra Pertama. Kegiatan kaderisasi bereputasi tinggi yang berlangsung selama tiga hari, sejak Jumat hingga Minggu (27/09/2026), dipusatkan di Bumi Perkemahan Bongohulawa, Kabupaten Gorontalo.

Penyelenggaraan Diklat Laskar di tingkat daerah ini terasa istimewa karena menerapkan kurikulum dan pola pelatihan yang diadopsi secara persis dari pusat pendidikan kader DPP Partai Gerindra di Padepokan Garuda Yaksa, Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Model pendidikan yang digagas langsung oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tersebut kini diturunkan dan direplikasi sepenuhnya di daerah-daerah untuk menjaga standar kualitas kaderisasi partai.

Kegiatan perdana ini diikuti oleh ratusan kader terpilih yang merupakan utusan resmi dari setiap Dewan Pimpinan Cabang (DPC) kabupaten dan kota se-Provinsi Gorontalo. Meskipun dihadapkan pada jadwal latihan yang padat serta penggemblengan fisik dan mental di alam terbuka, seluruh peserta tampak sangat gembira, antusias, dan bersemangat mengarungi setiap tahapan pelatihan.

Bendahara DPD Partai Gerindra Provinsi Gorontalo sekaligus Ketua Panitia Kegiatan, N. Syamsu Panna, menegaskan bahwa penerapan pola Hambalang dalam Diklat Laskar Gorontalo bertujuan untuk membentuk postur kader yang memiliki kedisiplinan tinggi, loyalitas tanpa ragu, serta wawasan kebangsaan yang kuat.

“Pola pelatihan yang kami terapkan di Bumi Perkemahan Bongohulawa ini dibuat sama persis dengan sistem pendidikan kader DPP Partai Gerindra di Bukit Hambalang. Kami menghadirkan atmosfer Hambalang ke Gorontalo agar seluruh kader di tingkat DPC merasakan langsung bagaimana nilai-nilai kedisiplinan, militansi, dan kebersamaan ditanamkan. Kami sangat bangga melihat ratusan peserta tetap tersenyum gembira dan bersemangat tinggi mengikuti seluruh instruksi pembina dari awal hingga akhir,” ujar N. Syamsu Panna di lokasi kegiatan, Minggu (27/09/2026).

N. Syamsu Panna menambahkan bahwa Diklat Laskar Pertama ini menjadi pijakan awal konsolidasi kaderisasi berkelanjutan di Provinsi Gorontalo. Melalui pelatihan ini, partai memastikan seluruh jajaran struktur hingga akar rumput berada dalam satu komando perjuangan.

Secara nasional, model pendidikan kader di Bukit Hambalang telah lama dikenal sebagai “kawah candradimuka” utama Partai Gerindra. Berdasarkan informasi, pusat pelatihan Garuda Yaksa Hambalang memadukan materi kepemimpinan, wawasan kebangsaan, ideologi partai, hingga latihan disiplin fisik semi-militer. Sistem pendidikan terpusat ini terbukti menjadi instrumen efektif partai dalam melahirkan kader-kader yang tahan banting, memiliki jiwa patriotisme tinggi, serta siap diterjunkan dalam berbagai kegiatan sosial maupun kepemimpinan politik di tengah masyarakat.

Dengan suksesnya Diklat Laskar Gerindra Pertama di Bumi Perkemahan Bongohulawa ini, ratusan kader lulusan diharapkan dapat membawa energi dan standar kedisiplinan khas Hambalang ke daerah masing-masing untuk terus bergerak bersama dan hadir memberikan solusi bagi masyarakat Gorontalo.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler