Ruang Literasi
Menjamu Hidangan-Nya
Published
6 years agoon
Oleh : Mohamad Makmun Rasyid – Penulis
Bulan puasa kembali hadir menyeruak di tengah badai pandemik. Ujian dalam berpuasa pun semakin bertambah. Dinyatakan dalam hadis qudsi, “siapa yang tidak bersabar atas bala-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak ridha atas keputusan-Ku, hendaknya dia keluar dari bawah langit-Ku dan carilah Tuhan selain Aku!”. Apakah Allah marah kepada mereka yang tidak menerima keadaan? Tidak.
Setelah sebelas bulan lamanya kita bergemilang dosa; badan telah tertaburi makan-makanan “syubhat” bahkan haram; mata memandang hal-hal yang mengundang murka-Nya; telinga mendengarkan bunyian yang berbau maksiat; tangan dipergunakan untuk menindas, memeras, memukul dan menyebarkan berita bohong, kini tiba ‘hidangan Allah’ yang tidak semua manusia menggumulinya. Marahkah Allah pada kita?
Begitu sayang dan kasihnya Dia kepada kita, meski berjuta noda menumpuk dan serangkaian pengkhianatan pada-Nya, dan janji antara ruh (kita) dengan-Nya diingkari dan dilanggar secara berkali-kali, tapi Allah tidak bosa menyapa dan menyayangi kita. Terkhusus sapaannya dengan puasa Ramadan.
Lagi, begitu kasihnya Dia. Dia menaburkan kenikmatan setiap saat tapi setiap hari pula malaikat mengantarkan catatan buruk pada-Nya. Marahkah Dia? Tidak. Segudang perbuatan maksiat kita lakukan tiada henti, tapi ampunan Allah pun tidak henti. Ia terus mengucurkan kepada manusia, walau manusia tidak menyadari. Beruntunglah kita semua, sebab masih diberikan kenikmatan untuk mencicipi dan menikmati ‘hidangan-Nya’ tahun ini.
Dalam buku saya, “Ramadan (Dari Kesalihan Pribadi Menuju Kesalihan Sosial)” tertulis bahwa puasa ini ibarat ‘sepotong surga’ yang dihadiahi-Nya pada kita. Tujuannya? Membasuh diri dan membersihkan jiwa dari daki-daki. Ibarat hidangan (yang) termahal, puasa ini hidangan dari-Nya yang diantar oleh bidadari-bidadari tercantik milik-Nya. Ambillah hidangan termahal ini dan jangan sia-siakan.
Saat masuk dan menikmati hidangan-Nya, Tuhan pun menyediakan sebuah cermin. Fungsinya, kita membersihkan karat yang melekat di permukaan cermin. Ketika cerminan bersih, Anda bisa melihat jelas dosa-dosa, kekurangan dan sifat alpa. Cermin itu, menurut KH. Hasyim Muzadi, bagaikan sepotong kolam yang berair tenang hingga kita dapat melihat diri kita sejelas-jelasnya. Hapuslah secara perlahan-lahan dan bangunlah ketulusan serta mendekat pada-Nya.
Dalam melihat ke cermin, Imam Ali bertutur, jika perangaimu indah dan bagus, anggaplah buruk karena telah engkau coreng oleh perbuatan buruk; dan jika buruk, anggaplah buruk karena memang engkau menggabungkan kedua keburukan; buruk rupa dan amal. Disini kita mengambil pelajaran, kelemahan manusia atas-Nya jangan sampai membangga-banggakan kelebihan. Saat kelebihan itu dimunculkan, secara tak sadar Allah menutup keburukan yang telah diperbuat.
Dalam proses mendekat pada-Nya, maka kewajiban utama Muslim adalah membangun ketulusan sebagai buah tangan yang engkau jinjing untuk-Nya tanpa mengharapkan imbalan atau oleh-oleh dari-Nya. Dan perlu diingat! Sisihkan jenis-jenis yang berat dalam pendakian ke dalam. Sebab, Tuhan “lebih dekat kepada manusia ketimbang urat lehernya sendiri” (Qs. Qâf [50]: 16). Maka perjalanan menuju-Nya sendiri harus dibayangkan dengan mudah, ringan dan menyenangkan. Sampai tahap bahwa perintah-Nya adalah kebutuhan bukan pelepas seremonial belaka.
Cukuplah bagi siapa pun untuk menanam dan merawat dengan tekun keyakinan bahwa Dia amat dekat dengan siapa pun. Peralihan dari keterpaksaan menuju-Nya akan menjadi kenikmatan dan kesyahduan. Adalah kisah seorang salih dari Qazwin kala mengajar kepada santri-santrinya, ia mewejangkan “ketuklah pintu terus menerus, pada akhirnya pintu akan terbuka”. Mendengar ucapan ini, Rabi’ah Al-Adawiyah—sufi perempuan—menukas, “Hei! Kapankah pintu itu pernah ditutup-Nya?”
Pintu itu terus dibuka-Nya, sadar atau tidak. Dan puasa salah satunya. Maka pembagian dalam Ramadan berupa rahmat, ampunan dan keterlepasan dari siksaan haruslah ditempuh dengan penuh kenyamanan. Ibarat bertamu ke kediaman seseorang, maka puasa pun seperti kita berkunjung ke “kediaman”-Nya. Adapun tamu yang baik, bukanlah mengharapkan apa yang diberikan oleh tuan rumah, sedari awal keberangkatannya. Tapi menyajikan yang terbaik bagi tuan rumah yang dikunjunginya.
Maksudnya, kita persembahkan amal terbaik kita pada-Nya dan serahkanlah pada-Nya. Karena kita menghadap-Nya tidak sedang membawa proposal seperti kepada atasan kantor; yang bisa ditawar dan dilobi. Kita harus mengosongkan diri dari ragam pengharapan sambil berbuat yang terbaik pada-Nya. Pasca pembangunan ketulusan dan kenosis (pengosongan diri) dari kekeyangan dan kejumudan, maka berikanlah ruang demi masuk dan meresapnya cahaya dalam hati. Pada posisi inilah, horison penglihatan meluas. Dari semula yang tampak hanya pernik-pernik eksistensi, pasca masuknya cahaya akan tampak eksistensi kosmik yang tak terhingga.
Upaya kenosis ini merupakan pangkal pemulihan adi-krisis yang menimpa kita. Menyeruaknya basis spiritual di sana-sini. Sebab itu, Tuhan menyajikan pada kita, cukup sebulan di antara sebelas bulan dalam setiap tahun. Sebulan sungguh cukup lagi berat; menarik diri dari rutinitas duniawi demi memulihkan realitas dunia, dan memulihkan keadaan yang tidak subur akan kasih sayang, perdamaian dan kelemah lembutan.
Tidakkah engkau menyaksikan, betapa indah dan menakjubkan pohon yang dibonsai? Ada satu hal yang membuatnya sampai tampak indah dipandang: ia bersedia diatur, dirawat dan dibentuk dari hari ke hari oleh pemiliknya. Dan puasa inilah, cara Tuhan merawat diri dan jiwa kita agar kelak setelah keluar dari perawatan ini, kita kembali ke fitri (suci). Maka, pengosongan diri dalam rangka menunjukkan kesediaan untuk diubah dan dibentuk oleh-Nya.
You may like
-
Tanggapi Pernyataan Jasin Mohammad, Ketua OC Tegaskan Muprov Kadin Gorontalo Ditunda Murni Karena Arahan Pusat, Bukan Masalah Finansial
-
Kecaman Keras Pemred: Barakati.id Kutuk Dugaan Intimidasi Wartawan di Tambang Pohuwato
-
Akar Kriminalitas: Wali Kota Gorontalo Sebut KDRT hingga Perkelahian Dipicu oleh Miras
-
Buka Ruang Aduan: Wali Kota Adhan Dambea Sebar Nomor HP Pribadi ke Warga Wongkaditi
-
Target Standar Nasional: FOK UNG Matangkan Kesiapan Gedung OSCE Center untuk Ujian Apoteker
-
Sasar Akreditasi Unggul: FEB UNG Matangkan Penguatan Dokumen SPMI 2026
Ruang Literasi
Perempuan di Garda Depan: Makna Hari Kebebasan Pers bagi Wartawan Perempuan
Published
3 weeks agoon
04/05/2026
Penulis : Jurnalis Perempuan S.Amu
Hari Kebebasan Pers menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran jurnalis dalam menjaga demokrasi, transparansi, dan hak publik atas informasi. Namun di balik semangat itu, ada satu kelompok yang kerap menghadapi tantangan berlapis: wartawan perempuan.
Di tengah dinamika dunia jurnalistik yang terus berkembang, perempuan tidak lagi sekadar pelengkap di ruang redaksi. Mereka hadir sebagai reporter lapangan, editor, hingga pemimpin media. Meski demikian, perjalanan mereka tidak selalu mudah.
Selain menghadapi tekanan profesional seperti tuntutan kecepatan dan akurasi berita, wartawan perempuan juga kerap berhadapan dengan risiko kekerasan berbasis gender, diskriminasi, hingga stereotip yang masih melekat.
Hari Kebebasan Pers menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi harus inklusif dan menjamin keamanan bagi semua jurnalis, tanpa terkecuali perempuan.
Dalam menjalankan tugasnya, wartawan perempuan seringkali berada di garis depan meliput isu-isu sensitif seperti konflik sosial, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga praktik korupsi. Keberanian mereka tidak hanya memperkaya perspektif pemberitaan, tetapi juga membuka ruang empati yang lebih luas bagi masyarakat.
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa perlindungan terhadap wartawan perempuan masih perlu diperkuat. Kasus pelecehan saat peliputan, intimidasi di ruang digital, hingga minimnya kebijakan redaksi yang sensitif gender menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Oleh karena itu, peringatan Hari Kebebasan Pers harus menjadi momentum untuk mendorong media, pemerintah, dan masyarakat sipil agar menciptakan ekosistem jurnalistik yang aman dan setara.
Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kapasitas dan kepemimpinan perempuan di dunia pers. Representasi perempuan dalam posisi strategis akan mendorong kebijakan yang lebih adil dan memperhatikan perspektif gender dalam pemberitaan.
Di era digital saat ini, suara wartawan perempuan semakin kuat dan luas jangkauannya. Melalui berbagai platform, mereka tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Hari Kebebasan Pers bukan sekadar perayaan, melainkan panggilan untuk memastikan bahwa setiap jurnalis perempuan dapat bekerja dengan aman, bebas, dan bermartabat.
Karena pada akhirnya, kebebasan pers yang sejati adalah ketika semua suara termasuk suara perempuan dapat didengar tanpa rasa takut. Selamat Hari Kebebasan Pers.
News
Fakta Mengejutkan: Tanpa Pengawasan, 66 Persen Penggunaan Gadget Berdampak Buruk pada Anak
Published
3 weeks agoon
30/04/2026
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di abad ke-21 telah membawa transformasi besar pada alat komunikasi. Kondisi ini membuat penggunaan gadget (gawai) semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, tak terkecuali bagi anak-anak usia dini.
Menyikapi fenomena tersebut, sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa pengawasan ketat dari orang tua menjadi kunci utama agar penggunaan perangkat digital tidak berdampak buruk pada proses tumbuh kembang anak.
Fakta ini terungkap dalam sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti Indian Sunita dan Eva Mayasari. Penelitian ini berfokus pada analisis pengawasan orang tua terhadap dampak penggunaan gadget pada anak usia dini di lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK Taruna Islam, Kota Pekanbaru.
Dalam laporannya, para peneliti menjelaskan bahwa anak-anak kini telah bergeser menjadi konsumen aktif berbagai produk teknologi. Jika dahulu gawai lebih banyak dimanfaatkan oleh kalangan profesional, kini perangkat cerdas seperti smartphone, tablet, iPad, hingga laptop lekat dengan aktivitas harian balita.
Berdasarkan survei awal yang dilakukan di PAUD dan TK Taruna Islam Pekanbaru, tercatat sebanyak 74 siswa telah mengenal dan berinteraksi aktif dengan gawai. Angka tersebut terdiri dari 12 anak di tingkat PAUD dan 62 anak di tingkat TK.
“Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui penyebaran kuesioner, yang bertujuan untuk mengetahui secara pasti hubungan antara tingkat pengawasan orang tua dengan dampak penggunaan gawai terhadap perkembangan anak,” tulis laporan penelitian tersebut.
Dari hasil pengumpulan data, penggunaan gawai sebenarnya mampu memberikan dampak positif sebesar 62 persen jika dikelola dengan baik, sementara dampak negatifnya berada di angka 38 persen.
Namun, penelitian ini juga menemukan korelasi yang tajam terkait peran pengawasan. Hasilnya menunjukkan bahwa pengawasan orang tua yang baik (ketat) berbanding lurus dengan dampak positif sebesar 78,1 persen. Sebaliknya, pengawasan yang longgar atau kurang baik berujung pada dampak negatif sebesar 66,7 persen. Melalui uji statistik, ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengawasan orang tua dan dampak gawai pada anak, dengan nilai p-value 0,05.
Para peneliti menggarisbawahi, meski ada sisi positif, penggunaan gawai yang berlebihan tanpa kontrol akan memicu rentetan dampak buruk bagi anak. Risiko tersebut meliputi menurunnya kemampuan membaca dan menulis, gangguan bersosialisasi di dunia nyata, rentan terpapar konten negatif, gangguan pola tidur, risiko obesitas, hingga memicu ketidakstabilan emosional.
Sebagai kesimpulan, riset ini menegaskan bahwa orang tua memegang peran paling esensial. Pembatasan jam layar (screen time) sesuai kebutuhan usia anak mutlak dilakukan. Selain itu, orang tua diimbau untuk lebih aktif mengarahkan anak pada kegiatan yang bersifat edukatif fisik dan interaksi sosial yang sehat.
News
Didaftarkan Sejak Bayi, Siswa SMP ‘Syafina’ Lolos Jadi Jemaah Haji Termuda Tahun Ini
Published
4 weeks agoon
23/04/2026
Mata Syafina Marwa berbinar-binar di tengah hiruk pikuk Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Rabu (22/4/2026). Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, remaja asal Tangerang, Banten ini sudah mengenakan seragam kebanggaan calon jemaah haji Indonesia. Syafina tergabung dalam kloter pertama Embarkasi Banten, menjadikannya salah satu jemaah termuda di musim haji tahun ini.
Duduk di bangku kelas 2 SMP, Syafina tak menampik bahwa ada gejolak perasaan yang sulit dijabarkan saat langkah kakinya makin dekat dengan pesawat yang akan membawanya ke Tanah Suci.
“Deg-degan, seneng, campur aduk lah,” ucap Syafina dengan senyum simpul saat ditemui sebelum keberangkatan.
Kabar keberangkatannya menuju Makkah tak ayal menjadi perbincangan hangat di lingkungan sekolahnya di Bogor, Jawa Barat. Banyak dari kawan-kawannya yang menitipkan doa dan ikut berbahagia. “Seneng sih, pada kaget juga,” tutur Syafina mengingat reaksi teman-temannya.
Menghadapi ibadah fisik dan spiritual yang berat, Syafina menyadari bahwa persiapan materi tak akan cukup. Karena itu, ia membekali dirinya dengan ketahanan psikologis yang kuat. “Iya, (siapin) mental,” singkatnya.
Keberangkatan Syafina di usia belia ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan matang sang ayah, Tommy Hartoyo (46). Lelaki tersebut telah mendaftarkan putri bungsunya jauh sebelum Syafina mengerti apa itu ibadah haji.
“Dari kurang lebih nggak nyampe (usia) satu tahun ya. Karena dia kan kelahiran 2012. Begitu di awal 2013 kalau nggak salah (didaftarin),” ucap Tommy mengenang momen belasan tahun silam.
“Umur mau satu tahun,” tambahnya menegaskan.
Menurut penuturan Tommy, sistem regulasi pendaftaran haji di masa lalu masih memungkinkan anak bayi didaftarkan tanpa batasan usia minimal seperti saat ini.
“Iya, kalau dulu itu nggak ada kena peraturan yang kayak sekarang. Kalau sekarang kan harus nunggu anak di usia 12 tahun baru bisa daftar. Nah, yang dulu-dulu belum tuh. Jadi alhamdulillah bisa lolos,” ucap Tommy penuh syukur. Ia juga memaparkan bahwa waktu antrean saat ia mendaftarkan Syafina masih berada di kisaran belasan tahun. “Regulasi yang tahun 2013 itu nunggunya 13 tahun,” tambahnya.
Niat tulus Tommy mendaftarkan anaknya sejak bayi didasari oleh keinginan sederhana namun mendalam sebagai seorang ayah Muslim. “Ya sempet terpikir aja, biar menjalankan rukun Islam,” tutur Tommy. Ia juga bersyukur karena seluruh anggota inti keluarganya, termasuk istri, kakak perempuan Syafina, dan kerabat lainnya bisa berangkat bersama di tahun yang sama. “Ini mumpung ada orang tuanya,” tambahnya.
Sejarah Baru Embarkasi Banten
Momen keberangkatan Syafina dan keluarganya terasa semakin istimewa karena mencetak sejarah baru bagi Provinsi Banten. Berdasarkan data yang dihimpun dari Tempo dan Kompas, tahun ini merupakan pertama kalinya Embarkasi Banten yang berlokasi di Grand Elhaj Cipondoh difungsikan sebagai titik pemberangkatan, bukan sekadar titik kepulangan.
Gubernur Banten Andra Soni mencatat, akan ada lebih dari 9.000 jemaah asal Banten yang menunaikan ibadah haji tahun ini. Prosesi pelepasan kloter pertama ini sendiri dihadiri oleh deretan tokoh penting, di antaranya Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, serta Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, yang turut menyapa langsung Syafina dan para jemaah lainnya sebelum menaiki pesawat menuju Madinah.
Tanggapi Pernyataan Jasin Mohammad, Ketua OC Tegaskan Muprov Kadin Gorontalo Ditunda Murni Karena Arahan Pusat, Bukan Masalah Finansial
Kecaman Keras Pemred: Barakati.id Kutuk Dugaan Intimidasi Wartawan di Tambang Pohuwato
Akar Kriminalitas: Wali Kota Gorontalo Sebut KDRT hingga Perkelahian Dipicu oleh Miras
Buka Ruang Aduan: Wali Kota Adhan Dambea Sebar Nomor HP Pribadi ke Warga Wongkaditi
Target Standar Nasional: FOK UNG Matangkan Kesiapan Gedung OSCE Center untuk Ujian Apoteker
Masyarakat Apresiasi Peran Adhan Dambea dalam Mendukung Program Kampung Nelayan Presiden di Leato Selatan
Sentil Gubernur Gusnar! Wali Kota Adhan Kecewa Pemisahan Disparpora Mangkrak di Pemprov
Nyanyian Bos Tambang: Bayar Puluhan Juta Tapi Tak Diberi Akses, Daeng Muding Minta Uang Kembali
Total Hadiah Rp60 Juta: Turnamen Catur Pohuwato Cup 2026 Resmi Dimulai
MBG Butuh 700 Juta Telur, Kadin Indonesia Gaet Pengusaha China
PKK GELAR JAMBORE PKK TINGKAT KABUPATEN GORUT
Kota Gorontalo Peringkat kedua Internet Paling Ngebutt se-Indonesia
PIMPIN RAPAT PENYERAPAN PROGRAM, BUPATI PUAS HASIL EVALUASI
PEMKAB GORUT BERIKAN BANTUAN RP. 1 JUTA/ORANG UNTUK JAMAAH CALON HAJI
Dua Kepala Desa Di copot Bupati
Terpopuler
-
Daerah2 weeks agoMasyarakat Apresiasi Peran Adhan Dambea dalam Mendukung Program Kampung Nelayan Presiden di Leato Selatan
-
Gorontalo2 months agoTak Tinggal Diam! Dugaan Pelecehan dan Pelanggaran Kerja Alfamidi Dilaporkan ke Disnaker
-
Gorontalo2 months agoViral di Medsos: Dalih Tugas Intelijen, Oknum Polisi Pohuwato Pamer Transaksi Emas Miliaran
-
Gorontalo3 months agoNamanya Dicatut Media, Wakil Dewan Pengawas KUD Dharma Tani Angkat Bicara
-
Advertorial3 months agoDari Popayato Barat, Pemkab Pohuwato Awali Safari Ramadan 1447 H
-
Gorontalo3 months agoTujuan Mulia Tersandung Kritik, MBG Gorontalo Ramai Dikeluhkan di Medsos
-
Advertorial3 months agoLangkah Berani Pohuwato: MoU Daur Ulang Plastik dan Konservasi Bentang Alam Resmi Diteken
-
Advertorial3 months agoRamadan Semakin Hidup! Wali Kota Adhan Gaungkan Tadarus Al-Qur’an di Seluruh Kota Gorontalo
