Ruang Literasi
Menuju Langit Kebahagiaan
Published
6 years agoon
Oleh : Muhammad Makmun Rasyid
Allah menuntun yang Dia kehendaki ke dalam cahaya-Nya. Kehendak-Nya itu harus diusahakan dengan penuh kegigihan. Kebahagiaan tidak terletak pada sisi materi yang dimiliki, melainkan berkenaan dengan kondisi spiritual. Al-Ghazali menyebutnya sebagai manifestasi berharga, lebih-lebih saat berada di puncak ketakwaan. Disini kebahagiaan yang menempel pada aspek duniawi merupakan pantulan dari sedikit cahaya-Nya yang menempel pada seseorang. Maksudnya, asbab adanya keyakinan diri akan hakikat segala yang ada bersumber dari-Nya (kondisi hati yang prima), kemudian melahirkan ketenangan pikiran.
Seseorang yang diberikan kelebihan segala sesuatu dalam aspek duaniwi tidak menjamin kebahagiaan menyertai dirinya. Dalam darasnya kaum bijak bestari bahwa puncak kebahagiaan adalah berjumpa dengan-Nya dan diberikan keteguhan menjalankan ibadah dalam bentuk dan ritual apapun.
Segala perbuatan manusia dalam kehidupannya, sangat tergantung dari ketenangan pikiran dan penerimaan hatinya. Sebab itu, suatu hari Buya Hamka melontarkan pertanyaan kepada muridnya, “apalah gunanya pena emas bagi orang yang tak pandai menulis? Apalah harga intan bagi orang gila?” Pertanyaan ini sedang menyimpan penjelasan akan keterhubungan akal pikiran yang jernih dan aktif.
Dalam ramadan ini, daras yang penting untuk diraih adalah kembalinya diri ke langit kebahagiaan dan menuju kampung surgawi. Tuhan, sesekali bertanya pada orang-orang yang hidupnya hanya bergumul pada materi, “fa aina tazhabûn?” atau “hendak kemana engkau pergi (pulang)?”. Juga menegur orang-orang yang hilang dari realitas kehidupan di dunia; hanya menyibukkan urusan vertikal (hubungan manusia dengan-Nya).
Lalu apa yang sebenarnya apa yang diinginkan-Nya? Keseimbangan dalam hidup selama di dunia. Setiap orang perlu menggunakan semua kekuatan akalnya untuk mencapai semua keinginan. Setelah dicapai, maka kebahagiaan akan didapatkan. Tapi Dia mengatakan, kebahagiaan hakiki adalah bermesraan antara kamu dan Aku. Sebab itu, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan akan dibalas oleh-Nya. Misalnya, “surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai dan kekal di dalamnya” (Qs. al-Nisâ’ [4]: 57. Upaya mendapatkan balasan itu dibutuhkan konsistensi.
Di bulan puasa ini, setidaknya kita belajar untuk konsisten dalam beribadah dan bersosial. Kondisi hati itu tidak boleh dipengaruhi oleh keadaan hidup yang enak maupun tengah dipenuhi onak; sedang lapang maupun sulit; sedang tenang atau gundah. Apapun kondisinya tidak mengubah bening dan jernihnya seseorang dalam mengabdi kepada Tuhan. Dinyatakan dalam sebuah hadis qudsi, “siapa yang tidak bersabar atas bala-Ku, tidak bersyukur atas ragam nikmat-Ku dan tidak ridha dengan keputusan-Ku, hendaklah dia keluar dari bawah langit-Ku dan carilah Tuhan selain Aku.”
Hadis qudsi itu sebagai teguran untuk mereka yang hanya mendekat pada-Nya dikala nestapa menimpanya. Penulis kitab “Al-Hikam”, Ibnu ‘Atha’illah menyatakan, “siapa yang tidak mengampiri-Nya dengan pemberian-Nya yang halus akan diseret kepada-Nya dengan rantai ujian”. Kita bisa belajar dari keteladanan Nabi Muhammad walau dijamin masuk surga, tapi tetap konsisten salat malam hingga kakinya bengkak dan tangis beliau yang membuat dada dan punggung berguncang terdengar jelas. Katanya, “masak aku tidak menjadi hamba yang bersyukur?”
Nabi terus mendekati Tuhan lewat bersyukur. Pada aspek ini saja, kita sebagai manusia yang mendapat jaminan masih mengalami pasang surut. Yang terbanyak adalah bersyukur kalau mendapat sesuatu yang memiliki takaran banyak. Lewat ungkapan itu, Nabi mengajarkan kepada ummatnya: melepas belenggu yang mengikat diri dan menjadi penghalang untuk bersyukur. Namun ingat, bersyukur yang dipraktikkan Nabi bukan pasrah tanpa ikhtiar dan usaha memenuhi kebutuhan akal dan hati.
Pelajaran berikutnya, seseorang harus mengibaratkan dirinya laksana supir. Seorang pengemudi yang memandang lalu lintas, tidak akan teralihkan oleh keadaan sekitarnya atau perangkat keindahan yang terdapat dalam mobilnya. Kaca yang berada di kiri-kanan pun hanya sesekali ia lihat. Begitulah perjalanan menuju Ilahi Rabbi. Ia terus merendahkan hatinya dengan menyakini bahwa perjalanan ini diperjalankan oleh-Nya. Karena diperjalankan, maka bersyukur pada-Nya adalah kepastian.
Penempuh jalan kebenaran melaluinya dengan penuh kewajaran. Apapun yang menempel di tubuhnya, baik pangkat dan jabatan tidak membuatnya silau. Ia teguh pada prinsip, semuanya hanyalah titipan-Nya. Dunia bagi salik, bukan untuk dijauhi, sebab itu semua bisa menjadi kendaraan menuju puncak kebahagiaan hakiki. Tuhan berharap, manusia tidak terjebak dalam membangun istana pasir yang tidak lekang oleh gelombang pasang yang melanda tepian pantai.
Memang, seseorang perlu sesekali melihat alam realitas. Di dunia ini, Allah telah memberikan contoh nyata melalui orang yang tersesat di gurun pasir dan terperdaya oleh fatamorgana; seorang membeli buku, namun sesampainya di rumah pesanannya, ia kecewa. Contoh nyata ini akibat dalam perjalanan menuju kebahagiaan hakiki terpesona oleh tampilan lahiriyah. Orang-orang yang mabuk akan agamanya dan bangga akan ibadahnya kerap terjebak pada simbol dan lambang kesalihan dan kesucian.
Obatnya itu hanya satu, sebagaimana tujuan puasa: mengekang nafsu. Jadi, kalau berpuasa dan mengaji agar tampak salih, maka orang tersebut belum melebur ke dalam Ramadan. Kenapa? Pengembaraan dalam Ramadan ini, khususnya menjelang malam-malam seribu bulan adalah pengembaraan dari luar ke dalam; dari yang tertangkap indera kasar menuju yang sangat amat halus dan lembut.
Maka tak heran, para penceramah kerap mendengungkan bahwa puasa adalah olah batin. Disini maksudnya adalah mengasah rasa. Rumi pernah berujar, “jika rahasia makrifat hendak kau capai; buanglah huruf, ambillah makna”. Bait tersebut menuntun siapa saja yang masuk ke dalam Ramadan harus menyebrangi ragam bentuk lahiriyah; menuju ke kedalaman untuk menemukan yang tersamar dalam ragam simbol dan bentuk.
Dalam Al-Qur’an sangat jelas. Perintahnya, “perhatikan apa yang ada di langit” bukan “lihatlah langit”. Kenapa? Ini perintah dari-Nya agar siapa saja tidak berhenti pada wujud materi belaka. Ia harus menyingkap tabir di balik materi itu. Kalau kita misalkan dengan al-Qur’an, ia ibarat sebuah permata yang memancarkan cahaya berbeda-beda sesuai dengan sudur si penglihat atau pembacanya. Sebab itu, Qur’an kerap disebut sebagai lautan tak bertepi, sumur tanpa dasar. Setiap yang diciptakan-Nya meniadakan makna tunggal.
Setidaknya, kita mulai menyicil semaksimal mungkin: membenahi sisi batiniyah tanpa melupakan aspek lahiriyah. Dengan begitu, setelah berpuasa, kita tidak dalam keadaan, apa yang saya sebut masih adanya lubang yang menganga teramat dalam dengan bara yang menjilat-jilat dada. Hal ini sebagai penggambaran akan keadaan manusia yang jiwanya gersang dan jauh dari-Nya. Harapan kita semua, setelah ramadan pergi, kita pun bersih dari kotoran dan menuju-Nya penuh kebahagiaan tanpa mengada-ngada.
You may like
-
Cetak 250 Sarjana Baru: Bupati Saipul Mbuinga Tantang Lulusan UNIPO Kuasai Pasar Kerja
-
Genggam Komitmen Pertanian Modern: Bupati Saipul Mbuinga Perpanjang MoU Dengan Polbangtan Malang
-
Gencarkan Sistem Coretax: Dikbud Pohuwato Sabet Penghargaan dari Kementerian Keuangan
-
Kumpulkan Seluruh Kepala OPD: Siasat Inspektorat Pohuwato Kunci Celah Korupsi Lewat SPIP
-
Targetkan Cetak Ratusan Doktor: Rektor Eduart Wolok Pacu Dosen Muda UNG Segera Studi Lanjut
-
Empat Bulan Digodok Ketat: Bupati Saipul Mbuinga Resmi Lantik 41 Pejabat Baru Pohuwato
News
Menggugah Kembali Naluri Belajar yang Meredup: Reformasi Pedagogi di Era Distraksi Digital
Published
2 weeks agoon
06/06/2026
Oleh: [Merrisa Monoarfa_TSMP]
Dosen dan Peneliti Bidang Pendidikan
Teknologi Pendidikan UNM
Dunia pendidikan saat ini sedang berhadapan dengan sebuah realitas yang mencemaskan: fenomena terdistraknya motivasi peserta didik di dalam ruang kelas. Para pendidik di berbagai jenjang sedang berhadapan dengan betapa cepatnya peserta didik merasa bosan dan kehilangan fokus saat proses pembelajaran berlangsung. Tantangan ini bersumber dari kontradiksi metodologis. Di satu sisi, metode instruksional di ruang kelas sebagian besar masih bersifat konvensional dan searah. Di sisi lain, ketika keluar dari ruang kelas, pikiran peserta didik terus dibombardir oleh stimulasi instan dari algoritma media sosial dan teknologi digital yang adiktif.
Pendidikan sejatinya adalah fondasi kemajuan bangsa. Ketika gairah belajar berada di titik kemunduran, maka masa depan generasi emas terancam rapuh. Menghadapi situasi ini, para pendidik tidak bisa lagi bertahan pada zona nyaman metode ceramah satu arah yang monoton. Diperlukan sebuah langkah progresif untuk mereformasi gaya mengajar dan menyelaraskannya dengan karakteristik psikologis generasi digital asli (digital natives).
Pergeseran Paradigma: Dari Teoretis-Kognitif Menuju Emosional-Afektif
Mayoritas literatur dan riset pendidikan terdahulu cenderung terjebak pada reduksionisme akademik, yakni hanya berfokus mengukur keberhasilan belajar dari capaian angka kognitif seperti nilai ujian. dimensi afektif peserta didik kadang terabaikan, seperti motivasi intrinsik dan keterikatan emosional (emotional engagement) mereka selama proses belajar.
Melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) terhadap berbagai studi eksperimental terbaru, ditemukan korelasi linier yang kuat antara pembaruan model mengajar dengan meningkatnya motivasi peserta didik. Salah satu strategi paling efektif untuk menjawab fenomena dan tantangan ini adalah menerapkan pembelajaran agar berpusat pada peserta didik (student-centered learning) melalui integrasi media interaktif dan model Problem-Based Learning (PBL).
Menjinakkan Distraksi dengan Gamifikasi dan Augmented Reality
Beberapa data empiris menunjukkan bahwa pemanfaatan media digital interaktif, animasi, hingga teknologi Augmented Reality (AR) mampu menurunkan beban kognitif (cognitive load) peserta didik dalam mencerna materi pelajaran yang kompleks dan abstrak. Menjelaskan struktur anatomi biologi atau rumus matematika yang rumit akan jauh lebih mudah dipahami secara visual melalui grafis 3D interaktif ketimbang sekadar narasi verbal.
Menerapkan elemen permainan atau gamifikasi ke dalam aplikasi pembelajaran yang diterapkan pendidik terbukti mampu menumbuhkan iklim kompetisi yang sehat. Adanya sistem real-time feedback (umpan balik langsung) dalam platform permainan digital tidak hanya memicu motivasi yang meningkatkan kesenangan belajar, tetapi juga membangun kepercayaan diri peserta didik. Mereka tidak lagi memiliki ketakutan psikologis untuk melakukan kesalahan (fear of making mistakes) karena proses belajar diteraokan dalam bentuk tantangan yang menyenangkan.
Menghidupkan Nalar Kritis Melalui PBL dan Media
Transformasi tidak hanya terjadi di ranah digital. Di ruang kelas konvensional, penerapan model Problem-Based Learning (PBL) terbukti mampu mengubah peran peserta didik dari sekadar pembelajar yang pasif menjadi agen pemecah masalah yang aktif dan kritis. Melalui PBL, peserta didik dihadapkan pada realitas masalah kontekstual sehari-hari, yang memaksa mereka berkolaborasi dalam tim, berdiskusi, dan merumuskan solusi mandiri.
Bagi peserta didik pada jenjang pendidikan dasar, stimulasi digital perlu diimbangi dengan pendekatan emosi yang mendalam. Pemanfaatan alat media—seperti kotak pintar, papan jari, kalkulator bilangan, hingga poster bergambar—memegang peranan krusial. Karakteristik psikologi perkembangan anak usia dini menuntut proses belajar yang bersifat konkret. Ketika mereka dapat menyentuh, memanipulasi, dan menyusun alat peraga tersebut, ketegangan akademis di dalam kelas mencair menjadi pengalaman bermain yang bermakna (meaningful play).
Secara komparatif, efektivitas berbagai media dan strategi kontemporer ini dapat dipetakan sebagai berikut:
| Strategi & Media Pembelajaran | Bentuk Stimulasi Antusiasme | Tingkat Efektivitas & Dampak |
| Media Digital Interaktif | Kuis tantangan, komunikasi dua arah, umpan balik instan | Sangat Tinggi (Paling mendominasi motivasi belajar) |
| Animasi & Augmented Reality (AR) | Visualisasi 3D objek abstrak, grafis hidup, audio imersif | Tinggi (Sangat efektif mengunci fokus durasi lama) |
| Problem Based Learning (PBL) | Kerja sama tim, resolusi konflik masalah riil/nyata | Sangat Tinggi (Membentuk nalar kritis dan analitis) |
| Alat Peraga Fisik (Taktil) | Manipulasi objek langsung, keindahan visual | Signifikan (Efektif memperkuat memori motorik anak) |
Tantangan Struktural dan Pmbelajaran Masa Depan
Integrasi teknologi dan model ajar modern saat ini menjanjikan akselerasi kualitas pendidikan, namun implementasinya di lapangan masih membentur tembok realitas. Hambatan utama yang sering dihadapi para pendidik di Indonesia adalah kesenjangan media digital, keterbatasan akses internet di daerah terpencil, serta tingginya beban kerja guru untuk mendesain media ajar kreatif yang menyita waktu istirahat mereka.
Oleh karena itu, transformasi ini memerlukan komitmen bersama, bukan sekadar beban moral pendidik semata. Target pendidikan ke depan harus diarahkan pada konsep blended learning (pembelajaran bauran) yang mengombinasikan keunggulan teknologi digital dengan kearifan lokal (local wisdom) serta media yang murah dan mudah diakses.
Bagi akademisi dan peneliti pendidikan nantinya, tantangan besar menanti untuk menguji efektivitas metode ini melalui penelitian eksperimen murni (true-experimental) berskala nasional untuk memotret kesenjangan antara sekolah perkotaan dan perdesaan. Berbagai riset juga mendesak untuk dilakukan guna memastikan apakah peningkatan motivasi belajar ini bersifat permanen atau sekadar efek kebaruan sesaat (novelty effect).
Pada akhirnya, mengubah gaya mengajar bukan lagi sekadar pilihan inovasi, melainkan sebuah keharusan yang konsisten. Menempatkan peserta didik sebagai subjek utama pembelajaran adalah kunci utama untuk mengembalikan perhatian peserta didik, menciptakan suasana kelas, dan memotivasi semangat belajar demi mencetak generasi masa depan yang kompetitif.
Ruang Literasi
Perempuan di Garda Depan: Makna Hari Kebebasan Pers bagi Wartawan Perempuan
Published
2 months agoon
04/05/2026
Penulis : Jurnalis Perempuan S.Amu
Hari Kebebasan Pers menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran jurnalis dalam menjaga demokrasi, transparansi, dan hak publik atas informasi. Namun di balik semangat itu, ada satu kelompok yang kerap menghadapi tantangan berlapis: wartawan perempuan.
Di tengah dinamika dunia jurnalistik yang terus berkembang, perempuan tidak lagi sekadar pelengkap di ruang redaksi. Mereka hadir sebagai reporter lapangan, editor, hingga pemimpin media. Meski demikian, perjalanan mereka tidak selalu mudah.
Selain menghadapi tekanan profesional seperti tuntutan kecepatan dan akurasi berita, wartawan perempuan juga kerap berhadapan dengan risiko kekerasan berbasis gender, diskriminasi, hingga stereotip yang masih melekat.
Hari Kebebasan Pers menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi harus inklusif dan menjamin keamanan bagi semua jurnalis, tanpa terkecuali perempuan.
Dalam menjalankan tugasnya, wartawan perempuan seringkali berada di garis depan meliput isu-isu sensitif seperti konflik sosial, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga praktik korupsi. Keberanian mereka tidak hanya memperkaya perspektif pemberitaan, tetapi juga membuka ruang empati yang lebih luas bagi masyarakat.
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa perlindungan terhadap wartawan perempuan masih perlu diperkuat. Kasus pelecehan saat peliputan, intimidasi di ruang digital, hingga minimnya kebijakan redaksi yang sensitif gender menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Oleh karena itu, peringatan Hari Kebebasan Pers harus menjadi momentum untuk mendorong media, pemerintah, dan masyarakat sipil agar menciptakan ekosistem jurnalistik yang aman dan setara.
Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kapasitas dan kepemimpinan perempuan di dunia pers. Representasi perempuan dalam posisi strategis akan mendorong kebijakan yang lebih adil dan memperhatikan perspektif gender dalam pemberitaan.
Di era digital saat ini, suara wartawan perempuan semakin kuat dan luas jangkauannya. Melalui berbagai platform, mereka tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Hari Kebebasan Pers bukan sekadar perayaan, melainkan panggilan untuk memastikan bahwa setiap jurnalis perempuan dapat bekerja dengan aman, bebas, dan bermartabat.
Karena pada akhirnya, kebebasan pers yang sejati adalah ketika semua suara termasuk suara perempuan dapat didengar tanpa rasa takut. Selamat Hari Kebebasan Pers.
News
Fakta Mengejutkan: Tanpa Pengawasan, 66 Persen Penggunaan Gadget Berdampak Buruk pada Anak
Published
2 months agoon
30/04/2026
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di abad ke-21 telah membawa transformasi besar pada alat komunikasi. Kondisi ini membuat penggunaan gadget (gawai) semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, tak terkecuali bagi anak-anak usia dini.
Menyikapi fenomena tersebut, sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa pengawasan ketat dari orang tua menjadi kunci utama agar penggunaan perangkat digital tidak berdampak buruk pada proses tumbuh kembang anak.
Fakta ini terungkap dalam sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti Indian Sunita dan Eva Mayasari. Penelitian ini berfokus pada analisis pengawasan orang tua terhadap dampak penggunaan gadget pada anak usia dini di lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK Taruna Islam, Kota Pekanbaru.
Dalam laporannya, para peneliti menjelaskan bahwa anak-anak kini telah bergeser menjadi konsumen aktif berbagai produk teknologi. Jika dahulu gawai lebih banyak dimanfaatkan oleh kalangan profesional, kini perangkat cerdas seperti smartphone, tablet, iPad, hingga laptop lekat dengan aktivitas harian balita.
Berdasarkan survei awal yang dilakukan di PAUD dan TK Taruna Islam Pekanbaru, tercatat sebanyak 74 siswa telah mengenal dan berinteraksi aktif dengan gawai. Angka tersebut terdiri dari 12 anak di tingkat PAUD dan 62 anak di tingkat TK.
“Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui penyebaran kuesioner, yang bertujuan untuk mengetahui secara pasti hubungan antara tingkat pengawasan orang tua dengan dampak penggunaan gawai terhadap perkembangan anak,” tulis laporan penelitian tersebut.
Dari hasil pengumpulan data, penggunaan gawai sebenarnya mampu memberikan dampak positif sebesar 62 persen jika dikelola dengan baik, sementara dampak negatifnya berada di angka 38 persen.
Namun, penelitian ini juga menemukan korelasi yang tajam terkait peran pengawasan. Hasilnya menunjukkan bahwa pengawasan orang tua yang baik (ketat) berbanding lurus dengan dampak positif sebesar 78,1 persen. Sebaliknya, pengawasan yang longgar atau kurang baik berujung pada dampak negatif sebesar 66,7 persen. Melalui uji statistik, ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengawasan orang tua dan dampak gawai pada anak, dengan nilai p-value 0,05.
Para peneliti menggarisbawahi, meski ada sisi positif, penggunaan gawai yang berlebihan tanpa kontrol akan memicu rentetan dampak buruk bagi anak. Risiko tersebut meliputi menurunnya kemampuan membaca dan menulis, gangguan bersosialisasi di dunia nyata, rentan terpapar konten negatif, gangguan pola tidur, risiko obesitas, hingga memicu ketidakstabilan emosional.
Sebagai kesimpulan, riset ini menegaskan bahwa orang tua memegang peran paling esensial. Pembatasan jam layar (screen time) sesuai kebutuhan usia anak mutlak dilakukan. Selain itu, orang tua diimbau untuk lebih aktif mengarahkan anak pada kegiatan yang bersifat edukatif fisik dan interaksi sosial yang sehat.
Cetak 250 Sarjana Baru: Bupati Saipul Mbuinga Tantang Lulusan UNIPO Kuasai Pasar Kerja
Genggam Komitmen Pertanian Modern: Bupati Saipul Mbuinga Perpanjang MoU Dengan Polbangtan Malang
Gencarkan Sistem Coretax: Dikbud Pohuwato Sabet Penghargaan dari Kementerian Keuangan
Kumpulkan Seluruh Kepala OPD: Siasat Inspektorat Pohuwato Kunci Celah Korupsi Lewat SPIP
Targetkan Cetak Ratusan Doktor: Rektor Eduart Wolok Pacu Dosen Muda UNG Segera Studi Lanjut
Tak Tinggal Diam! DPC Gerindra Gorut Salurkan Bantuan Darurat untuk Korban Banjir Biau
Menggugah Kembali Naluri Belajar yang Meredup: Reformasi Pedagogi di Era Distraksi Digital
Tanggapi Pernyataan Jasin Mohammad, Ketua OC Tegaskan Muprov Kadin Gorontalo Ditunda Murni Karena Arahan Pusat, Bukan Masalah Finansial
TUNTUTAN KONTROVERSIAL! Empat Oknum TNI Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Hanya Dituntut 2,5 Tahun BUI
Viral! Baling-baling Wings Air Diikat Kabel Ties Sebelum Terbang dari Bali, Begini Kata Lion Air Group
PKK GELAR JAMBORE PKK TINGKAT KABUPATEN GORUT
Kota Gorontalo Peringkat kedua Internet Paling Ngebutt se-Indonesia
PIMPIN RAPAT PENYERAPAN PROGRAM, BUPATI PUAS HASIL EVALUASI
PEMKAB GORUT BERIKAN BANTUAN RP. 1 JUTA/ORANG UNTUK JAMAAH CALON HAJI
Dua Kepala Desa Di copot Bupati
Terpopuler
-
Daerah1 month agoMasyarakat Apresiasi Peran Adhan Dambea dalam Mendukung Program Kampung Nelayan Presiden di Leato Selatan
-
Gorontalo3 months agoViral di Medsos: Dalih Tugas Intelijen, Oknum Polisi Pohuwato Pamer Transaksi Emas Miliaran
-
Gorontalo3 months agoMeresahkan Pelanggan! Paket Ditahan Berhari-hari, Layanan Shopee Express Kembali Disorot Tajam
-
Daerah2 months agoSentil Gubernur Gusnar! Wali Kota Adhan Kecewa Pemisahan Disparpora Mangkrak di Pemprov
-
Gorontalo2 months agoNyanyian Bos Tambang: Bayar Puluhan Juta Tapi Tak Diberi Akses, Daeng Muding Minta Uang Kembali
-
Gorontalo3 months agoTuntut Transparansi: Massa Desak Inspektorat Tak “Main Mata” dalam Kasus Mafia Obat
-
Advertorial3 months agoSikat Pungli: Wali Kota Adhan Dambea Polisikan Oknum AH Terkait Pungutan UMKM
-
Gorontalo3 months agoTegak Lurus Instruksi Prabowo: Beranikah Polda dan Korem Gorontalo Sikat “Orang Kuat” di Peti Gorontalo
