Ruang Literasi
Menuju Langit Kebahagiaan
Published
6 years agoon
Oleh : Muhammad Makmun Rasyid
Allah menuntun yang Dia kehendaki ke dalam cahaya-Nya. Kehendak-Nya itu harus diusahakan dengan penuh kegigihan. Kebahagiaan tidak terletak pada sisi materi yang dimiliki, melainkan berkenaan dengan kondisi spiritual. Al-Ghazali menyebutnya sebagai manifestasi berharga, lebih-lebih saat berada di puncak ketakwaan. Disini kebahagiaan yang menempel pada aspek duniawi merupakan pantulan dari sedikit cahaya-Nya yang menempel pada seseorang. Maksudnya, asbab adanya keyakinan diri akan hakikat segala yang ada bersumber dari-Nya (kondisi hati yang prima), kemudian melahirkan ketenangan pikiran.
Seseorang yang diberikan kelebihan segala sesuatu dalam aspek duaniwi tidak menjamin kebahagiaan menyertai dirinya. Dalam darasnya kaum bijak bestari bahwa puncak kebahagiaan adalah berjumpa dengan-Nya dan diberikan keteguhan menjalankan ibadah dalam bentuk dan ritual apapun.
Segala perbuatan manusia dalam kehidupannya, sangat tergantung dari ketenangan pikiran dan penerimaan hatinya. Sebab itu, suatu hari Buya Hamka melontarkan pertanyaan kepada muridnya, “apalah gunanya pena emas bagi orang yang tak pandai menulis? Apalah harga intan bagi orang gila?” Pertanyaan ini sedang menyimpan penjelasan akan keterhubungan akal pikiran yang jernih dan aktif.
Dalam ramadan ini, daras yang penting untuk diraih adalah kembalinya diri ke langit kebahagiaan dan menuju kampung surgawi. Tuhan, sesekali bertanya pada orang-orang yang hidupnya hanya bergumul pada materi, “fa aina tazhabûn?” atau “hendak kemana engkau pergi (pulang)?”. Juga menegur orang-orang yang hilang dari realitas kehidupan di dunia; hanya menyibukkan urusan vertikal (hubungan manusia dengan-Nya).
Lalu apa yang sebenarnya apa yang diinginkan-Nya? Keseimbangan dalam hidup selama di dunia. Setiap orang perlu menggunakan semua kekuatan akalnya untuk mencapai semua keinginan. Setelah dicapai, maka kebahagiaan akan didapatkan. Tapi Dia mengatakan, kebahagiaan hakiki adalah bermesraan antara kamu dan Aku. Sebab itu, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan akan dibalas oleh-Nya. Misalnya, “surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai dan kekal di dalamnya” (Qs. al-Nisâ’ [4]: 57. Upaya mendapatkan balasan itu dibutuhkan konsistensi.
Di bulan puasa ini, setidaknya kita belajar untuk konsisten dalam beribadah dan bersosial. Kondisi hati itu tidak boleh dipengaruhi oleh keadaan hidup yang enak maupun tengah dipenuhi onak; sedang lapang maupun sulit; sedang tenang atau gundah. Apapun kondisinya tidak mengubah bening dan jernihnya seseorang dalam mengabdi kepada Tuhan. Dinyatakan dalam sebuah hadis qudsi, “siapa yang tidak bersabar atas bala-Ku, tidak bersyukur atas ragam nikmat-Ku dan tidak ridha dengan keputusan-Ku, hendaklah dia keluar dari bawah langit-Ku dan carilah Tuhan selain Aku.”
Hadis qudsi itu sebagai teguran untuk mereka yang hanya mendekat pada-Nya dikala nestapa menimpanya. Penulis kitab “Al-Hikam”, Ibnu ‘Atha’illah menyatakan, “siapa yang tidak mengampiri-Nya dengan pemberian-Nya yang halus akan diseret kepada-Nya dengan rantai ujian”. Kita bisa belajar dari keteladanan Nabi Muhammad walau dijamin masuk surga, tapi tetap konsisten salat malam hingga kakinya bengkak dan tangis beliau yang membuat dada dan punggung berguncang terdengar jelas. Katanya, “masak aku tidak menjadi hamba yang bersyukur?”
Nabi terus mendekati Tuhan lewat bersyukur. Pada aspek ini saja, kita sebagai manusia yang mendapat jaminan masih mengalami pasang surut. Yang terbanyak adalah bersyukur kalau mendapat sesuatu yang memiliki takaran banyak. Lewat ungkapan itu, Nabi mengajarkan kepada ummatnya: melepas belenggu yang mengikat diri dan menjadi penghalang untuk bersyukur. Namun ingat, bersyukur yang dipraktikkan Nabi bukan pasrah tanpa ikhtiar dan usaha memenuhi kebutuhan akal dan hati.
Pelajaran berikutnya, seseorang harus mengibaratkan dirinya laksana supir. Seorang pengemudi yang memandang lalu lintas, tidak akan teralihkan oleh keadaan sekitarnya atau perangkat keindahan yang terdapat dalam mobilnya. Kaca yang berada di kiri-kanan pun hanya sesekali ia lihat. Begitulah perjalanan menuju Ilahi Rabbi. Ia terus merendahkan hatinya dengan menyakini bahwa perjalanan ini diperjalankan oleh-Nya. Karena diperjalankan, maka bersyukur pada-Nya adalah kepastian.
Penempuh jalan kebenaran melaluinya dengan penuh kewajaran. Apapun yang menempel di tubuhnya, baik pangkat dan jabatan tidak membuatnya silau. Ia teguh pada prinsip, semuanya hanyalah titipan-Nya. Dunia bagi salik, bukan untuk dijauhi, sebab itu semua bisa menjadi kendaraan menuju puncak kebahagiaan hakiki. Tuhan berharap, manusia tidak terjebak dalam membangun istana pasir yang tidak lekang oleh gelombang pasang yang melanda tepian pantai.
Memang, seseorang perlu sesekali melihat alam realitas. Di dunia ini, Allah telah memberikan contoh nyata melalui orang yang tersesat di gurun pasir dan terperdaya oleh fatamorgana; seorang membeli buku, namun sesampainya di rumah pesanannya, ia kecewa. Contoh nyata ini akibat dalam perjalanan menuju kebahagiaan hakiki terpesona oleh tampilan lahiriyah. Orang-orang yang mabuk akan agamanya dan bangga akan ibadahnya kerap terjebak pada simbol dan lambang kesalihan dan kesucian.
Obatnya itu hanya satu, sebagaimana tujuan puasa: mengekang nafsu. Jadi, kalau berpuasa dan mengaji agar tampak salih, maka orang tersebut belum melebur ke dalam Ramadan. Kenapa? Pengembaraan dalam Ramadan ini, khususnya menjelang malam-malam seribu bulan adalah pengembaraan dari luar ke dalam; dari yang tertangkap indera kasar menuju yang sangat amat halus dan lembut.
Maka tak heran, para penceramah kerap mendengungkan bahwa puasa adalah olah batin. Disini maksudnya adalah mengasah rasa. Rumi pernah berujar, “jika rahasia makrifat hendak kau capai; buanglah huruf, ambillah makna”. Bait tersebut menuntun siapa saja yang masuk ke dalam Ramadan harus menyebrangi ragam bentuk lahiriyah; menuju ke kedalaman untuk menemukan yang tersamar dalam ragam simbol dan bentuk.
Dalam Al-Qur’an sangat jelas. Perintahnya, “perhatikan apa yang ada di langit” bukan “lihatlah langit”. Kenapa? Ini perintah dari-Nya agar siapa saja tidak berhenti pada wujud materi belaka. Ia harus menyingkap tabir di balik materi itu. Kalau kita misalkan dengan al-Qur’an, ia ibarat sebuah permata yang memancarkan cahaya berbeda-beda sesuai dengan sudur si penglihat atau pembacanya. Sebab itu, Qur’an kerap disebut sebagai lautan tak bertepi, sumur tanpa dasar. Setiap yang diciptakan-Nya meniadakan makna tunggal.
Setidaknya, kita mulai menyicil semaksimal mungkin: membenahi sisi batiniyah tanpa melupakan aspek lahiriyah. Dengan begitu, setelah berpuasa, kita tidak dalam keadaan, apa yang saya sebut masih adanya lubang yang menganga teramat dalam dengan bara yang menjilat-jilat dada. Hal ini sebagai penggambaran akan keadaan manusia yang jiwanya gersang dan jauh dari-Nya. Harapan kita semua, setelah ramadan pergi, kita pun bersih dari kotoran dan menuju-Nya penuh kebahagiaan tanpa mengada-ngada.
You may like
-
Tekan Angka Kriminalitas Malam! Polsek Kota Utara Sita Puluhan Liter Miras di Sipatana
-
Harumkan Nama Indonesia di Kancah Asia! Mahasiswa dan Alumni FOK UNG Sabet Medali Asian Games 2026
-
Menjaga Jiwa Serambi Madinah: Bukti Nyata Perhatian Pemerintah Kota Gorontalo Terhadap Kebudayaan
-
Sentil Isu Viral di Samsat, Legislator PKS Minta Kapolda Baru Usut Tuntas Kasus Pelayanan
-
Sejajar Perguruan Tinggi Terbaik Nasional! S1 Kesmas dan D3 Farmasi UNG Raih Akreditasi Unggul
-
Lawan SK Bupati Cacat Prosedur! HMI Bone Bolango Geruduk Ombudsman Kawal Kasus Kades Toto Utara
Ruang Literasi
Menjaga Jiwa Serambi Madinah: Bukti Nyata Perhatian Pemerintah Kota Gorontalo Terhadap Kebudayaan
Published
5 hours agoon
08/10/2026
Penulis : Dr. Zefrin, M.Pd
Pembangunan sebuah daerah kerap kali terjebak pada megahnya infrastruktur fisik semata, hingga mengabaikan aspek paling mendasar dari suatu peradaban yakni identitas kebudayaan. Di tengah gempuran modernisasi yang masif, Pemerintah Kota Gorontalo justru menunjukkan arah kebijakan yang kontras dan menyejukkan. Melalui sinergi pendidikan, penanaman nilai moral, serta penguatan ingatan sejarah, pemerintah kota membuktikan komitmennya untuk tumbuh maju tanpa pernah mencabut akar tradisi tanah kelahirannya.
Langkah strategis ini diawali dari ruang-ruang kelas lewat program inovatif bertajuk “Satu Sekolah Satu Budaya”. Dijalankan oleh Dinas Pendidikan Kota Gorontalo, program ini mendorong seluruh satuan pendidikan mulai dari TK, SD, hingga SMP untuk mengimplementasikan tradisi dan seni lokal secara berkelanjutan (RRI.co.id, 2026). Setiap sekolah diajak mengadopsi serta menampilkan kebudayaan khas Gorontalo secara konsisten. Kebijakan ini mengubah fungsi sekolah bukan lagi sekadar tempat menimba ilmu akademis, melainkan ruang panggung hidup bagi lahirnya generasi muda yang cerdas sekaligus berakar kuat pada kearifan lokal.
Tidak berhenti pada sektor pendidikan formal, perhatian pemerintah kota juga merambah pada pembinaan moral dan spiritual remaja melalui tradisi Momeati. Pemerintah Kota Gorontalo secara aktif menggelar pembinaan dan pembeatan massal tradisi adat ini bagi para peserta didik dan remaja putri (YouTube Mimoza TV, 2025). Pelaksanaan ritus sakral yang memadukan nilai adat dan ajaran spiritual ini menjadi benteng pembentukan karakter menuju kedewasaan. Langkah kebijakan ini sejalan dengan temuan ilmiah Hinta dan Lamusu (2018), yang menegaskan bahwa prosesi adat Momeati mengandung makna simbolis dan nilai edukasi moral yang efektif membentuk karakter serta kesucian spiritual remaja putri Gorontalo di tengah dinamika zaman.
Puncak dari komitmen penataan identitas daerah ini diwujudkan melalui penguatan memori kolektif masyarakat. Pemerintah Kota Gorontalo mengoptimalkan alokasi dana apresiasi daerah untuk memperkuat pembangunan Museum 23 Januari guna mengabadikan sejarah perjuangan lokal (hargo.co.id, 2026). Museum yang didedikasikan untuk memperingati Hari Patriotik 23 Januari 1942 ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sarana edukasi publik yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Seperti yang ditekankan oleh Ismail (2020) dalam kajiannya, penguatan museum bersejarah lokal sangat efektif sebagai sarana edukasi dan pembentukan rasa nasionalisme generasi muda melalui artikulasi peristiwa sejarah daerah.
Keberhasilan Kota Gorontalo dalam merajut program pendidikan, pembinaan adat, dan pelestarian sejarah menjadi bukti sahih bahwa modernisasi tidak harus mengorbankan akar tradisi. Pemerintah Kota Gorontalo telah membuktikan keberaniannya untuk tidak sekadar menjadi penonton di tengah derasnya arus globalisasi, melainkan bertindak sebagai benteng utama yang aktif menjaga jiwa daerahnya. Langkah ini menegaskan sebuah pesan kuat kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari tingginya gedung yang dibangun, tetapi juga dari seberapa kokoh masyarakatnya menggenggam nilai-nilai luhur para leluhur.
Komitmen utuh ini adalah investasi jangka panjang yang meletakkan kebudayaan sebagai kompas pembangunan masa depan. Dengan memastikan generasi muda Gorontalo tumbuh cerdas, berkarakter mulia, dan bangga akan identitasnya, pemerintah kota sedang menyiapkan fondasi peradaban yang berdaya saing tinggi sekaligus berkepribadian tangguh. Gorontalo pun melangkah mantap menyongsong era baru sebuah kota modern yang senantiasa hidup, bernapas, dan bertumbuh dalam kehangatan budaya serta tradisinya sendiri.
Visi besar ini makin mempertegas posisi Gorontalo yang berambisi melaju kencang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik di kawasan timur, tanpa sedikit pun melepaskan baju adatnya. Transformasi perkotaan yang diusung bukan sekadar mengejar angka kemajuan teknokratis, melainkan menciptakan ruang hidup modern yang berjiwa. Di kota ini, teknologi, digitalisasi, dan infrastruktur modern akan berdiri berdampingan secara harmonis dengan nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kota Gorontalo sedang membuktikan sebuah formulasi ideal kota masa depan maju dalam peradaban, namun tetap berakar kuat pada tradisi. Melalui kepemimpinan yang peduli dan kebijakan kebudayaan yang terarah, Gorontalo dipastikan tumbuh menjadi daerah yang tidak hanya berdaya saing tinggi di tingkat nasional, tetapi juga menjadi benteng kebudayaan yang disegani. Inilah legacy berharga yang sedang diukir Pemerintah Kota Gorontalo menjadikan tanah Serambi Madinah ini sebagai kota modern yang bangga akan jati diri dan kearifan lokalnya.
Daerah
Respon Dampak Buruk El nino! Laskar Gerindra Gorut Langsung Gerak Cepat
Published
1 week agoon
29/09/2026
GORONTALO UTARA — Usai merampungkan agenda Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) beberapa hari lalu, Laskar Gerindra Gorontalo Utara (Gorut) langsung diterjunkan ke lapangan untuk melayani masyarakat. Melalui instruksi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Gorontalo Utara, para kader menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah desa yang tengah dilanda kekeringan ekstrem di Kecamatan Kwandang.
Aksi sosial ini menyasar wilayah yang terdampak krisis pasokan air bersih, dimulai dari Desa Ombulodata dan Desa Pontolo Atas. Penyaluran bantuan air bersih ini dipastikan akan terus berlanjut secara bertahap ke desa-desa lain yang membutuhkan di seluruh wilayah Kecamatan Kwandang.
Koordinator Laskar Gerindra Gorontalo Utara, Febriyan Mohu, menegaskan bahwa aksi tanggap darurat ini merupakan bentuk pengabdian nyata para kader pasca-pelatihan.
“Laskar Gerindra tidak hanya dididik untuk memiliki kedisiplinan internal, tetapi juga diajarkan untuk peka dan hadir di tengah kesulitan rakyat. Begitu selesai mengikuti pendidikan dan pelatihan, kami langsung bergerak ke lapangan menyalurkan air bersih bagi warga yang mengalami krisis air. Langkah awal kami mulai dari Desa Ombulodata dan Desa Pontolo Atas, dan akan terus berlanjut ke desa-desa lain se-Kecamatan Kwandang yang membutuhkan,” tegas Febriyan Mohu.
Krisis air bersih yang melanda wilayah Gorontalo Utara tidak terlepas dari fenomena iklim El Niño Godzilla—sebuah fenomena pemanasan suhu permukaan laut tingkat kuat yang memicu musim kemarau ekstrem. Dampak fenomena ini menyebabkan penipisan cadangan air tanah, mengeringnya sumber-sumber air bersih warga, serta lumpuhnya pasokan air bersih di berbagai kawasan pemukiman.
Di tengah kondisi darurat pasokan air akibat fenomena cuaca ekstrem tersebut, Laskar Gerindra Gorut berkomitmen untuk terus siaga memfasilitasi kebutuhan mendasar masyarakat hingga pasokan air warga kembali normal.
Ruang Literasi
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Sultan Amai Gorontalo Luncurkan “Manjonongki”, Aplikasi Karya Anak Daerah dari Riset Kampus
Published
3 months agoon
01/07/2026
GORONTALO, 1 Juli 2026 — Kabar membanggakan datang dari dunia digital daerah. Hari ini, sebuah aplikasi kasir dan manajemen kafe-restoran bernama Manjonongki resmi diluncurkan dan mulai dipasarkan ke publik. Yang membuatnya istimewa: aplikasi ini adalah karya asli anak daerah Gorontalo, digagas oleh seorang dosen, dan lahir dari sebuah proses penelitian akademis.
Di balik Manjonongki ada nama Fandli Supandi, M.Kom, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Sultan Amai Gorontalo yang sekaligus bertindak sebagai founder. Baginya, Manjonongki bukan sekadar produk teknologi, melainkan jawaban atas persoalan nyata yang selama ini ia amati di lapangan.
Berawal dari Keresahan yang Nyata, Bukan Sekadar Tren
Berbeda dari kebanyakan aplikasi yang dibuat mengejar tren, Manjonongki berangkat dari masalah lapangan yang konkret. Bagi banyak pemilik warung kopi, kafe, dan rumah makan di Gorontalo, ceritanya nyaris seragam: pesanan dicatat di kertas, uang kas kerap selisih, stok bahan habis tanpa disadari, dan laporan keuangan hanya “kira-kira”.
“Persoalan pelaku UMKM kuliner kita bukan soal kurang semangat, tapi soal alat bantu yang belum berpihak pada mereka,” ujar Fandli Supandi. “Riset ini kami dasari dari keresahan itu — bagaimana teknologi bisa hadir sederhana, terjangkau, dan benar-benar menjawab kebutuhan usaha di daerah.”
Bekerja Diam-diam di Balik Layar, Menyajikan Angka yang Sudah Matang
Kekuatan sesungguhnya Manjonongki justru tak selalu terlihat — ia bekerja diam-diam di balik layar. Setiap kali kasir mencatat pesanan, dapur menyiapkan menu, atau pelanggan membayar, sistem langsung mengolah semuanya menjadi data yang rapi. Pesanan mengalir real-time ke layar dapur dan bar lewat Kitchen Display System, stok bahan terpotong otomatis begitu penjualan terjadi, dan setiap transaksi tercatat tanpa perlu dicatat dua kali.
Yang membuat pemilik usaha bernapas lega adalah bagian analisisnya. Owner tak lagi perlu duduk berjam-jam dengan kalkulator dan buku tebal di penghujung hari. Manjonongki menghitungkan semuanya secara otomatis: omzet, laba bersih, pajak, hingga total pengeluaran tersaji lengkap dan langsung terbaca. Aplikasi bahkan mampu memilah penjualan per metode bayar, menampilkan menu terlaris, memantau modal dan selisih kas di setiap sesi kasir, sampai menghitung gaji dan potongan absensi karyawan hingga ke slip gaji digital — semuanya tanpa satu pun rumus yang harus diketik sendiri.
Dengan kata lain, pemilik cukup membuka satu aplikasi dari ponselnya, dan seluruh cerita bisnisnya — dari pesanan pertama pagi hari sampai laba akhir bulan — sudah tersaji dalam angka yang matang, detail, dan siap dijadikan dasar keputusan. Teknologi yang rumit dikerjakan mesin; pemilik usaha tinggal fokus pada hal yang benar-benar penting: melayani pelanggan dan membesarkan usahanya.
Ketika Kampus Turun ke Pasar
Sebagai dosen di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fandli memadukan dua dunia yang kerap dianggap berjauhan: ketajaman analisis akademis dan kebutuhan praktis pelaku usaha. Manjonongki pun menjadi contoh nyata hilirisasi riset — penelitian yang tidak berhenti di jurnal atau lemari perpustakaan, tetapi menjelma menjadi produk yang dipakai masyarakat.
Semangat ini sejalan dengan arah perguruan tinggi masa kini: menjadikan kampus bukan menara gading, melainkan mitra nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah — khususnya sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi Gorontalo.
Kebanggaan Anak Daerah yang Kini Menyapa Publik
Di saat banyak talenta digital memilih hijrah ke kota besar, kehadiran Manjonongki menjadi bukti bahwa inovasi kelas nasional bisa lahir dan berakar di Gorontalo. Dengan peluncuran resminya hari ini, aplikasi ini kini terbuka bagi publik luas — termasuk dapat diakses melalui aplikasi Android.
“Kami ingin menunjukkan bahwa anak Gorontalo mampu membangun produk teknologi yang tidak kalah dengan buatan luar,” tegas Fandli. “Dan yang terpenting, produk ini kembali untuk memberdayakan pelaku usaha di kampung halaman sendiri.”
Harapannya sederhana namun berdampak besar: semakin banyak kafe, warung kopi, dan restoran di Gorontalo — dan kelak di seluruh Indonesia — yang naik kelas berkat pengelolaan yang lebih rapi, cerdas, dan modern.
Dari sebuah keresahan kecil di meja kasir, tumbuh sebuah karya yang membawa nama daerah dan almamater. Manjonongki membuktikan satu hal: solusi terbaik kadang tidak datang dari jauh, melainkan lahir dari orang yang paling memahami masalahnya.
Tekan Angka Kriminalitas Malam! Polsek Kota Utara Sita Puluhan Liter Miras di Sipatana
Harumkan Nama Indonesia di Kancah Asia! Mahasiswa dan Alumni FOK UNG Sabet Medali Asian Games 2026
Menjaga Jiwa Serambi Madinah: Bukti Nyata Perhatian Pemerintah Kota Gorontalo Terhadap Kebudayaan
Sentil Isu Viral di Samsat, Legislator PKS Minta Kapolda Baru Usut Tuntas Kasus Pelayanan
Sejajar Perguruan Tinggi Terbaik Nasional! S1 Kesmas dan D3 Farmasi UNG Raih Akreditasi Unggul
Respon Dampak Buruk El nino! Laskar Gerindra Gorut Langsung Gerak Cepat
Muda, Disiplin, dan Militan! Gemblengan Kaderisasi khas Hambalang Hadir di Diklat Laskar Gerindra Gorontalo
Resmi Dilantik! Erna Giasi Siap Nakhodai GOW Kabupaten Pohuwato Periode 2026–2031
Bayar Tagihan Tapi Air Mati! Warga Pohuwato Keluhkan Pelayanan PDAM
Naungi 21 Organisasi Wanita, Erna Nento Giasi Pimpin GOW Pohuwato Lima Tahun Ke Depan
PKK GELAR JAMBORE PKK TINGKAT KABUPATEN GORUT
Kota Gorontalo Peringkat kedua Internet Paling Ngebutt se-Indonesia
PIMPIN RAPAT PENYERAPAN PROGRAM, BUPATI PUAS HASIL EVALUASI
PEMKAB GORUT BERIKAN BANTUAN RP. 1 JUTA/ORANG UNTUK JAMAAH CALON HAJI
Dua Kepala Desa Di copot Bupati
Terpopuler
-
Gorontalo1 month agoTampil Memukau, MIN 1 Pohuwato Sabet Gelar Juara 1 Umum Hulonthalo Marching Festival 2026
-
Gorontalo3 months agoFakta Menarik: Anak Muda Gorontalo Bikin Platform Tiket Digital Pesaing Nasional
-
Gorontalo2 months agoSalurkan 150 Bantuan Pendidikan di Bonepantai, Aserval: Ini langkah Awal
-
Gorontalo1 month agoSalurkan Paket Bantuan Pendidikan, IAC: Jangan Sampai Anak Berhenti Sekolah karena Tak Punya Sepatu
-
kabupaten boalemo1 month agoPolemik Kopdes: Pj Kades Bendungan Diduga Enggan Teken Surat Hibah Lahan, Ada Apa?
-
Gorontalo1 month agoBerani! Tolak PT Celebes Bone Mineral, Camat Bonepantai Siap Pertaruhkan Jabatan
-
Daerah1 week agoRespon Dampak Buruk El nino! Laskar Gerindra Gorut Langsung Gerak Cepat
-
Gorontalo2 months agoKurang dari 1×24 Jam: Tim URC Jatanras Polresta Gorontalo Kota Ringkus Pembobol Konter HP
