Connect with us

News

Sosialisasi di Lokotoy, Tuty Hamid Janji Bayar Lahan Warga yang Digusur Pemerintah

Published

on

BALUT-Kasus pembebasan lahan masyarakat untuk pelebaran jalan dan pembangunan jalur dua di Desa Lokotoy, Kecamatan Banggai Utara, Kabupaten Banggai Laut, Sulteng, beberapa tahun silam, mengemuka dalam sosialisasi calon bupati dan wakil bupati Balut Tuty Hamid-Richard Manuas di Lokotoy tadi malam (18/8).

Bakal Calon Bupati Balut Tuty Hamid saat menyampaikan orasi politik mengaku akan membayar kerugian masyarakat jika terpilih bupati. Perempuan yang kini masih menjabat sebagai wakil bupati Balut itu menyebut ada perampasan hak-hak warga pada proses pembebasan lahan masyarakat waktu itu. Sehingga di hadapan masyarakat yang hadir, dirinya mengaku siap mengganti kerugian yang dialami warga.

Menurut Tuty ada cara yang bisa ditempuh agar hak-hak masyarakat itu bisa ditunaikan.

“Saya akan ganti kerugian masyarakat jika saya terpilih sebagai bupati nanti. Catat kata-kata saya,” ujar Tuty

Di kesempatan itu juga Tuty mengatakan bahwa, selama menjabat wakil bupati dirinya kurang dilibatkan utamanya dalam kebijakan-kebijakan penting daerah.

Hadir dalam sosialisasi Ketua Tim Pemenangan pasangan Tuty-Richard, Moh. Tanjung Pawara, Sekretaris DPC Demokrat Balut Patwan Kuba, serta Ketua DPD Partai PPP Balut Kasim Hamid. Sosialisasi itu juga dipadati masyarakat dan sejumlah simpatisan.

News

82,47% Jajak Pendapat Publik Ingin Kepala BGN Dicopot: Peringatan Serius bagi Tata Kelola MBG!

Published

on

News – Program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), tengah diterpa badai ketidakpuasan. Kinerja Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai eksekutor utama dipertanyakan, berujung pada desakan kuat agar Dadan Hindayana segera meletakkan jabatannya sebagai Kepala BGN.

Ketidakpuasan ini terekam jelas dalam sebuah jajak pendapat berskala masif yang diinisiasi oleh sembilan jaringan media di bawah payung Metropolitan Grup (seperti Pojoksatu, Radar Bandung, hingga Radar Bekasi). Melibatkan platform media sosial raksasa yakni TT, Instagram, dan Facebook, polling ini membentang dari Senin (13/4/2026) hingga Rabu (15/4/2026).

Dari pantauan yang menjaring 989.954 tayangan, sebanyak 54.421 warganet turun gunung memberikan suaranya. Ketika disodorkan pertanyaan tunggal mengevaluasi kinerja sang Kepala BGN, hasilnya sangat telak: 82,47 persen atau 44.883 responden dengan tegas memilih opsi agar Dadan Hindayana “Patut Diganti”. Sebaliknya, hanya segelintir yang bertepuk tangan; 15,63 persen (8.504 akun) merasa memuaskan, dan sisa 1,9 persen menilai kinerjanya mengecewakan namun tidak secara eksplisit memilih opsi pergantian.

Ketua Forum Pemred Metropolitan Grup, Azam Munawar, memaparkan alasan mengapa media sosial dijadikan ujung tombak untuk mengukur suhu publik.

“Media sosial saat ini menjadi salah satu platform yang mendominasi dalam semua kegiatan publik. Perkembangannya juga sudah sangat pesat,” ungkap Azam. Ia juga menegaskan komitmen jaringannya untuk terus memotret realitas sosial melalui metode ini ke depannya. “Kami gelar setiap pekan dengan mengangkat isu-isu yang sedang ramai dan hasilnya bisa dilihat langsung oleh publik,” tegasnya.

Rentetan Kasus yang Mengikis Kepercayaan Publik

Desakan masif agar Kepala BGN dicopot ini sejatinya bukan tanpa dasar. Mengutip data penelusuran dari SINDOnews, reputasi BGN sempat babak belur akibat rentetan kasus keracunan massal yang membayangi program MBG. Tercatat, sepanjang tahun lalu saja terdapat puluhan Kejadian Luar Biasa (KLB) dari ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang didirikan di berbagai daerah.

Tak berhenti di situ, sorotan tajam juga pernah dicatat oleh CNN Indonesia menyusul temuan memprihatinkan di SD Inpres 3 Waingapu, Sumba Timur. Di lokasi tersebut, siswa SD mendapati menu ayam goreng yang disajikan masih mentah dan berdarah pada bagian dalamnya. Dadan Hindayana kala itu berkilah bahwa persoalan tersebut lebih bersifat teknis akibat kurangnya pengalaman pihak katering.

Beban berat kini ada di pundak pemerintah pusat untuk mengevaluasi BGN. Hasil polling 82,47 persen ini adalah alarm keras bahwa tata kelola gizi nasional bukan sekadar perihal distribusi logistik, melainkan menyangkut nyawa dan kesehatan masa depan anak bangsa yang tidak boleh ditoleransi atas kesalahan teknis semata.

Continue Reading

News

Didaftarkan Sejak Bayi, Siswa SMP ‘Syafina’ Lolos Jadi Jemaah Haji Termuda Tahun Ini

Published

on

Mata Syafina Marwa berbinar-binar di tengah hiruk pikuk Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Rabu (22/4/2026). Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, remaja asal Tangerang, Banten ini sudah mengenakan seragam kebanggaan calon jemaah haji Indonesia. Syafina tergabung dalam kloter pertama Embarkasi Banten, menjadikannya salah satu jemaah termuda di musim haji tahun ini.

Duduk di bangku kelas 2 SMP, Syafina tak menampik bahwa ada gejolak perasaan yang sulit dijabarkan saat langkah kakinya makin dekat dengan pesawat yang akan membawanya ke Tanah Suci.

“Deg-degan, seneng, campur aduk lah,” ucap Syafina dengan senyum simpul saat ditemui sebelum keberangkatan.

Kabar keberangkatannya menuju Makkah tak ayal menjadi perbincangan hangat di lingkungan sekolahnya di Bogor, Jawa Barat. Banyak dari kawan-kawannya yang menitipkan doa dan ikut berbahagia. “Seneng sih, pada kaget juga,” tutur Syafina mengingat reaksi teman-temannya.

Menghadapi ibadah fisik dan spiritual yang berat, Syafina menyadari bahwa persiapan materi tak akan cukup. Karena itu, ia membekali dirinya dengan ketahanan psikologis yang kuat. “Iya, (siapin) mental,” singkatnya.

Keberangkatan Syafina di usia belia ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan matang sang ayah, Tommy Hartoyo (46). Lelaki tersebut telah mendaftarkan putri bungsunya jauh sebelum Syafina mengerti apa itu ibadah haji.

“Dari kurang lebih nggak nyampe (usia) satu tahun ya. Karena dia kan kelahiran 2012. Begitu di awal 2013 kalau nggak salah (didaftarin),” ucap Tommy mengenang momen belasan tahun silam.

“Umur mau satu tahun,” tambahnya menegaskan.

Menurut penuturan Tommy, sistem regulasi pendaftaran haji di masa lalu masih memungkinkan anak bayi didaftarkan tanpa batasan usia minimal seperti saat ini.

“Iya, kalau dulu itu nggak ada kena peraturan yang kayak sekarang. Kalau sekarang kan harus nunggu anak di usia 12 tahun baru bisa daftar. Nah, yang dulu-dulu belum tuh. Jadi alhamdulillah bisa lolos,” ucap Tommy penuh syukur. Ia juga memaparkan bahwa waktu antrean saat ia mendaftarkan Syafina masih berada di kisaran belasan tahun. “Regulasi yang tahun 2013 itu nunggunya 13 tahun,” tambahnya.

Niat tulus Tommy mendaftarkan anaknya sejak bayi didasari oleh keinginan sederhana namun mendalam sebagai seorang ayah Muslim. “Ya sempet terpikir aja, biar menjalankan rukun Islam,” tutur Tommy. Ia juga bersyukur karena seluruh anggota inti keluarganya, termasuk istri, kakak perempuan Syafina, dan kerabat lainnya bisa berangkat bersama di tahun yang sama. “Ini mumpung ada orang tuanya,” tambahnya.

Sejarah Baru Embarkasi Banten
Momen keberangkatan Syafina dan keluarganya terasa semakin istimewa karena mencetak sejarah baru bagi Provinsi Banten. Berdasarkan data yang dihimpun dari Tempo dan Kompas, tahun ini merupakan pertama kalinya Embarkasi Banten yang berlokasi di Grand Elhaj Cipondoh difungsikan sebagai titik pemberangkatan, bukan sekadar titik kepulangan.

Gubernur Banten Andra Soni mencatat, akan ada lebih dari 9.000 jemaah asal Banten yang menunaikan ibadah haji tahun ini. Prosesi pelepasan kloter pertama ini sendiri dihadiri oleh deretan tokoh penting, di antaranya Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, serta Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, yang turut menyapa langsung Syafina dan para jemaah lainnya sebelum menaiki pesawat menuju Madinah.

Continue Reading

News

Pertama dalam Sejarah Indonesia, Setiap Murid TK Dapat Bantuan PIP Sebesar Rp 450.000 Per Tahun

Published

on

NEWS – Dunia pendidikan anak usia dini di Indonesia akhirnya mengukir sejarah baru. Tahun 2026 ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membuat gebrakan nyata dengan menyalurkan dana Program Indonesia Pintar (PIP) ke jenjang Taman Kanak-Kanak (TK). Kini, subsidi pendidikan senilai Rp 450.000 per tahun siap dicairkan demi menunjang kelancaran belajar para murid prasekolah di nusantara.

Langkah progresif ini diluncurkan bertepatan dengan momen peringatan Hari Kartini, menjadikannya kado istimewa bagi para orang tua. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengumumkan kebijakan tersebut secara langsung saat meresmikan sekolah revitalisasi di TK Negeri 10 Manado pada Selasa (21/4/2026). Di sela-sela sambutannya, ia menyempatkan diri memberikan penghormatan khusus kepada kaum perempuan.

“Untuk ibu-ibu, saya mengucapkan selamat Hari Kartini. Semoga semangat Ibu Kartini dalam memajukan pendidikan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” tutur Abdul Mu’ti.

Merujuk pada data lintas media terpercaya seperti Tribunnews dan Metro TV, penyaluran perdana ini dialokasikan kepada 888.000 murid TK secara nasional. Kebijakan ini merupakan bagian krusial dari penerapan Wajib Belajar 13 Tahun yang mensyaratkan intervensi pendidikan sejak usia dini (PAUD). Sasaran utama penerima manfaat adalah peserta didik dari kelompok keluarga rentan ekonomi yang telah valid tercatat di dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) serta basis data DTKS milik kementerian.

Selain dukungan finansial langsung, pemerintah turut menggenjot standar infrastruktur belajar. Abdul Mu’ti menekankan bahwa efisiensi pengelolaan sekolah harus berjalan beriringan dengan standar bangunan yang aman, nyaman, dan berwawasan lingkungan. Akselerasi pemerataan fasilitas ini pun terus diupayakan agar menjangkau titik-titik pedesaan.

“Target kami sesuai dengan MoU dengan Kementerian Desa, satu desa minimal ada satu TK,” tegasnya di hadapan para hadirin.

Kebijakan terintegrasi ini diharapkan sanggup meringankan beban operasional pendidikan di tingkat keluarga sekaligus mengokohkan pondasi kecerdasan generasi muda. Para orang tua diimbau untuk secara proaktif berkoordinasi dengan pihak satuan pendidikan masing-masing guna memastikan kelengkapan dan sinkronisasi data anak sebagai syarat pencairan dana bantuan.

Continue Reading

Facebook

Terpopuler